Sepasang Garuda Putih ; Bagian 50


Tidak enak sekali! Karena hatinya mendongkol, setelah nasi itu dimakan habis dan melihat pemuda itu masih saja memperhatikan dia dan Jayawijaya, Joko Waras memandang kepadanya kemudian mengedipkan sebelah matanya seperti memberi isarat dengan kedip-kedipan. Melihat mata Joko Waras berkedip-kedip kepadanya, pemuda gagah itu terbelalak lalu alisnya berkerut dan matanya menyinarkan kemarahan. Akan tetapi Joko Waras hanya tersenyum kepadanya.
"Semua berapa, nimas ayu ?" tanya Joko Waras dan sengaja meninggikan suaranya sehingga terdengar semua orang.
Saritem yang disebut nimas ayu itu tersenyum semringah.
"Tidak ditambah tehnya, kakangmas?" tanya Saritem dengan suaranya yang merdu ditambah kerling tajam dan senyum memikat.
"Bagiku sudah cukup, nimas. Ah tehmu manis sekali, semanis penjualnya. Akan tetapi entah kalau kakang Jaya ingin minta tambah air tehnya.”
"Aku juga sudah cukup," kata Jayawijaya yang segera bangkit dan mengambil uang receh dari saku bajunya dan membayar harga makanan dan minuman.
"Aih, kakangmas bisa saja memuji orang. Air teh buatan dusun begini mana bisa lezat dan manis," kata Saritem agak genit sambil tersenyum.
"Sungguh mati, nasi lodehnya hangat pulen dan gurih, air tehnya hangat sedap dan manis. Andika bukan saja cantik jelita dan manis, akan tetapi juga amat pandai memasak. Beruntunglah kelak orang yang menjadi suamimu, nimas ayu!" Joko Waras kembali memuji, kini agak berlebihan karena dia melihat betapa pemuda tadi memandangnya dengan mata mengandung kemarahan dan bahkan kini telah bangkit berdiri dari tempat duduknya.

Ucapan Joko Waras itupun terdengar oleh para pemuda lainnya dan empat orang pemuda yang duduk di luar warung tertawa-tawa mendengar ini.
"Wah, Saritem tentu berkembang cuping hidungnya mendengar pujian setinggi langit itu!”
"Ha-ha, ia memang pantas mendapat pujian!”
"Siapa yang tidak akan memujinya? Ia cantik, manis dan dagangannya juga serba enak dan murah!”
"Aku sendiri kalau sehari saja tidak jajan di sini rasanya kangen sekali!”
Pemuda yang seperti Raden Gatutkaca itu melompat dari tempat duduknya dan sudah tiba di luar warung. Sekali dia menggerakkan kakinya, meja yang dihadapi empat orang itu terbang terlempar jauh.
"Babo-babo! Siapa berani main-main dengan Saritem? Apakah kalian berempat hendak menantangku? Majulah kalian berempat, keroyoklah aku, aku tidak takut menghadapi kalian untuk mempertahankan kehormatan Saritem kekasihku!”
Empat orang pemuda itu tampak ketakutan dan seorang diantara mereka berkata,
"Saptoko, kenapa engkau marah-marah? Bukankah kita semua adalah kawan-kawan sedusun? Kalau kami memuji-muji Saritem, hal itu bukan karena kami ingin kurang ajar, melainkan memuji dengan wajar. Siapa orangnya tidak memuji kecantikan Saritem?”
"Aku melarang kalian sembarangan memuji Saritem seperti hendak mempermainkannya. Kalian semua harus menghormatinya atau kalian boleh berantem melawan aku!" kata pemuda yang bernama Saptoko itu dengan bertolak pinggang, akan tetapi matanya kini menatap ke arah Joko Waras.
Seorang pemuda tinggi besar, seorang di antara empat orang pemuda tadi melangkah maju menghampiri Saptoko,
"Saptoko, jangan bersikap seperti itu. Saritem membuka warung nasi dan kami semua adalah langganannya yang baik, suka memuji-mujinya akan tetapi tidak ada yang pernah berkurang ajar kepadanya. Kenapa engkau marah-marah? Kalau tidak ingin Saritem dipuji orang, jangan perbolehkan ia membuka warung dan biarkan ia bersembunyi terus di dalam rumahnya.”

Saptoko maju dan sekali mendorong dengan tangan kanannya, pemuda yang bertubuh tinggi besar dan tampak kuat itu terdorong mundur sampai terjengkang.
"Pendeknya, aku melarang siapa saja yang berani main-main dengan Saritem, termasuk pemuda yang asing dan berdiri di sana itu!" katanya sambil menudingkan telunjuknya kepada Joko Waras.
Joko Waras terbelalak dan mengerutkan alisnya. Dengan lincahnya dia melompat dan menghampiri Saptoko.
"Eh, ki sanak. Kenapa engkau menuding-nuding aku? Apa salahku kepadamu, heh?"
Saptoko marah sekali dan menudingkan telunjuknya ke arah Joko Waras.
"Andika tadi berani memuji-muji dan menyebut Saritem nimas ayu, berarti engkau menantangku!" Saptoko membuka kancing bajunya dan memperlihatkan dadanya yang kokoh dan bidang.
"Eh-eh, apa-apaan ini? Aku menyebut nimas ayu Saritem, sedangkan orangnya merasa senang dan tidak marah, kenapa engkau mencak-mencak seperti orang kebakaran kumis? Aku datang dan membeli makanan minuman, beramah-tamah dengan penjualnya, dengan sopan dan tidak melanggar kesusilaan, apa perdulimu?”
"Apa perduliku? Saritem adalah kekasihku, calon isteriku!" bentak Saptoko.
"Kalau engkau tidak ingin ia bicara dengan orang lain, kenapa memperbolehkan berjualan nasi? Suruh ia bersembunyi dikamarnya seperti kata saudara tadi."
"Kakang Saptoko, jangan begitu, kakang!" Saritem kini keluar dari warungnya dan berdiri di depan Saptoko dengan alis berkerut dan mulut cemberut.
"Engkau ini ada apakah, tiada hujan tiada angin mengamuk seperti orang tidak waras?"
Orang tinggi besar yang tadi didorong jatuh, karena merasa tidak senang lalu berkata,
"Kalau saja Ki Blekok yang datang mengganggu, tentu dia tidak berani apa-apa.”
Saptoko menjadi semakin marah mendengar ini.
"Aku memang kalah oleh Ki Blekok, akan tetapi terhadap pemuda cilik ini, siapa takut? Kalau dia berani banyak cakap, akan kurobek mulutnya!" Marah benar Saptoko ini sehingga mengeluarkan ancaman yang demikian mengerikan.

Joko Waras juga menjadi marah. Siapa tidak akan marah mendengar mulutnya akan dirobek orang? Dia melompat lagi dan tiba di hadapan Saptoko.
”Apa kau bilang? Engkau mau merobek mulutku? Aku berani bertaruh bahwa sebelum engkau mampu menyentuh mulutmu yang akan lebih dulu robek!”
Saptoko menjadi semakin marah. Dia mengepal kedua tangannya dan bersikap hendak menyerang. Akan tetapi Saritem menghalanginya dan memegangi tangannya.
"Kakang Saptoko, jangan berkelahi. Aku akan bersedih kalau engkau seperti ini dan berkelahi dengan orang lain. Kakangmas ini sama sekali tidak bersalah, jangan pukul dia!"
Jayawijaya yang melihat Saptoko hendak menyerang Joko Waras, juga maju menghalangi.
"Ki sanak, bersabarlah. Adi Joko Waras ini tidak mempunyai niat buruk. Tenangkanlah hatimu.”
Akan tetapi Saptoko mengira bahwa Jayawijaya hendak mengeroyok, maka dia memegang tangan Jayawijaya dan menariknya dengan sentakan. Tubuh Jayawijaya terhuyung dan dia tentu akan tersungkur jatuh kalau Joko Waras tidak cepat memegang tangannya dan menahannya.
"Kakang Saptoko, aku akan marah kepadamu!" teriak Saritem.
"Aih, Saritem, setidaknya berilah kesempatan kepadaku untuk melindungimu dari godaan pria lain!”
Joko Waras sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi. Boleh jadi Saptoko bukan orang jahat, melainkan hanya seorang kekasih yang pencemburu, akan tetapi laki-laki kasar seperti itu pantas dihajar.
"Saptoko, masihkah engkau ada keberanian untuk bertanding dengan aku? Tanpa keroyokan?”
"Aku seorang laki-laki! Tidak sudi aku melakukan pengeroyokan.”
"Kakang Saptoko …!"
“Saritem, berilah aku kesempatan untuk menandingi pemuda ini," pinta Saptoko kepada Saritem dengan suara minta dikasihani. Terhadap gadis itu suara pemuda gagah ini begitu lembut dan merayu.

Saritem kini menghadapi Joko Waras.
"Kakangmas, harap jangan layani Kakang Saptoko. Dia memang keras hati, akan tetapi hatinya baik sekali. Engkau akan kalah kalau melawan dia. Dia seorang kuat dan digdaya, kakangmas.”
Joko Waras tersenyum.
"Saritem, jangan khawatir. Aku tidak akan merobek mulut pemuda kasar ini, hanya akan membuktikan kepadanya bahwa di dunia ini masih terdapat banyak orang yang lebih pandai dari pada dia. Hayolah, Saptoko. Majulah dan lawanlah aku!" Joko Waras menantang.
"Baik, sambut seranganku ini!”
Saptoko lalu menyerang dengan pukulan tangan kanannya. Pukulannya itu dilakukan dengan mantap dan cepat menurut ilmu pencak silat yang baik. Namun, gerakan itu masih terlampau lamban bagi Joko Waras dan dengan gerakan indahnya dia menangkis sambil memutar tubuh dan tangan kirinya menampar ke arah kepala lawan.
Saptoko dapat mengelak pula dan kembali dia menyerang dengan secepat dan sekuatnya. Namun, semua serangannya dapat dielakkan oleh Joko Waras. Sampai belasan jurus Saptoko menyerang, namun tanpa hasil. Semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis oleh Joko Waras.
"Adi Joko Waras, jangan lukai orang!” kata Jayawijaya yang menonton pertandingan itu dengan sikap tenang. Dia sudah maju, bahwa Joko Waras adalah seorang pemuda yang digdaya, dapat mengalahkan belasan orang perajurit Blambangan, maka dia dapat menduga bahwa Saptoko bukanlah lawanya dan dia khawatir kalau-kalau Joko Waras akan melukainya.

Semua orang muda yang berada di situ kini membentuk lingkaran dan menonton pertandingan itu. Semua orang terkagum-kagum kepada Joko Waras. Pemuda yang tampaknya masih remaja itu ternyata mampu menandingi Saptoko, pemuda dusun itu yang dianggap paling jagoan. Setelah belasan jurus dan Saptoko belum mampu menyentuh ujung baju Joko Waras yang memperlihatkan kegesitannya seperti seekor burung srikatan, tiba-tiba Saptoko menggerakkan kaki kanannya menendang dengan sekuat tenaga.
"Wuuuuttt....!" Kaki kanan itu menyambar akan tetapi dengan enaknya Joko Waras mengelak dan sebelum Saptoko menarik kembali kakinya yang menendang, kaki itu telah dapat ditangkap oleh Joko Waras dan didorong ke atas lalu dilontarkan!
Tubuh Saptoko melayang ke atas dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh itu terbanting jatuh dan sialnya, dia jatuh telungkup sehingga ketika dia bangkit kembali, bibirnya yang ujung pecah mengeluarkan darah! Saptoko berdiri dengan kedua kaki terpentang. Dia masih belum sadar benar apa yang telah terjadi dengan dirinya. Baru dia menyadari ketika para pemuda di situ bertepuk tangan memuji Joko Waras yang berdiri di depannya sambil tersenyum manis.
"Bagaimana, Saptoko. Apakah engkau masih penasaran?" tanya Joko Waras.
"Aku bukan musuh, akan tetapi kalau engkau menantangku, tentu akan kulayani. Minta berkelahi sampai berapa hari akan kulayani!”
Saptoko tercengang dan kini teringatlah dia akan perkelahian tadi. Baru tiga hari yang lalu, ketika orang yang menamakan dirinya Ki Blekok menggoda Saritem secara kurang ajar lalu berkelahi dengannya, dia dikalahkan oleh Ki Blekok. Akan tetapi dia kalah setelah melalui perkelahian yang ramai dan seru. Biarpun dia kalah akan tetapi setidaknya dia dapat mengimbangi kedigdayaan Ki Blekok yang katanya merupakan jagoan dari dusun di lereng bukit. Sedangkan apa yang dia baru saja alami amatlah mengherankan. Dia sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh Joko Waras bagian manapun juga, apa lagi hendak merobek mulutnya! Dan tadi ketika dia mengirim tendangan, sebuah ilmu serangan yang biasanya tidak pernah gagal, tendangan itu luput dan tiba-tiba saja tubuhnya terlempar ke atas dan jatuh, terbanting keras! Saptoko adalah seorang yang berjiwa gagah, dan tahu diri. Dia tahu pada saatnya dia kalah berhadapan dengan orang yang lebih kuat, hanya yang membuat dia penasaran, mengapa dia kalah oleh seorang perjaka tanggung seperti Joko Waras!
"Aku mengaku kalah!" katanya sambil melangkah lebar keluar dari lingkaran orang-orang itu, memasuki malam yang hampir tiba.
"Kakang Saptoko .......!" Saritem keluar dari warungnya dan mengejar, memanggil. Akan tetapi Saptoko hanya menengok sebentar dan berkata singkat.
"Aku telah kalah dua kali. Aku tidak ada gunanya, Saritem!" dan diapun melanjutkan langkahnya yang lebar.

Saritem terisak, tak kembali ke dalam warungnya. Para pemuda yang makan di warung itu ikut merasa tidak enak dan setelah membayar harga makanan dan minuman, mereka meninggalkan tempat itu, agaknya merasa curiga dan tidak nyaman bersama dua orang pemuda asing yang telah mengalahkan jagoan mereka itu.
Joko Waras dan Jayawijaya berdua tinggal di warung.
"Saritem, sebetulnya siapakah Saptoko itu? Dia itu kekasih hatimu, calon suamimu?”
"Dahulu memang begitu, kakangmas. Aku mengharapkan dia untuk menjadi suamiku karena dia baik budi dan mencintaiku, walaupun wataknya jujur dan kasar. Akan tetapi semenjak muncul Ki Blekok itu, hubungan kami terganggu karena dia merasa telah dikalahkan Ki Blekok dan tidak akan mampu merebut aku dari tangan Ki Blekok.”
"Hemmm, dan siapa itu Ki Blekok?" tanya Joko Waras penasaran.

<<< Bagian 49                                                                                          Bagian 51 >>>

No comments:

Post a Comment