Tidak enak sekali! Karena hatinya mendongkol, setelah nasi itu dimakan habis dan melihat pemuda itu masih saja memperhatikan dia dan Jayawijaya, Joko Waras memandang kepadanya kemudian mengedipkan sebelah matanya seperti memberi isarat dengan kedip-kedipan. Melihat mata Joko Waras berkedip-kedip kepadanya, pemuda gagah itu terbelalak lalu alisnya berkerut dan matanya menyinarkan kemarahan. Akan tetapi Joko Waras hanya tersenyum kepadanya.
"Semua
berapa, nimas ayu ?" tanya Joko Waras dan sengaja meninggikan suaranya
sehingga terdengar semua orang.
Saritem yang
disebut nimas ayu itu tersenyum semringah.
"Tidak
ditambah tehnya, kakangmas?" tanya Saritem dengan suaranya yang merdu
ditambah kerling tajam dan senyum memikat.
"Bagiku
sudah cukup, nimas. Ah tehmu manis sekali, semanis penjualnya. Akan tetapi
entah kalau kakang Jaya ingin minta tambah air tehnya.”
"Aku juga
sudah cukup," kata Jayawijaya yang segera bangkit dan mengambil uang receh
dari saku bajunya dan membayar harga makanan dan minuman.
"Aih,
kakangmas bisa saja memuji orang. Air teh buatan dusun begini mana bisa lezat
dan manis," kata Saritem agak genit sambil tersenyum.
"Sungguh
mati, nasi lodehnya hangat pulen dan gurih, air tehnya hangat sedap dan manis.
Andika bukan saja cantik jelita dan manis, akan tetapi juga amat pandai
memasak. Beruntunglah kelak orang yang menjadi suamimu, nimas ayu!" Joko
Waras kembali memuji, kini agak berlebihan karena dia melihat betapa pemuda
tadi memandangnya dengan mata mengandung kemarahan dan bahkan kini telah
bangkit berdiri dari tempat duduknya.
Ucapan Joko
Waras itupun terdengar oleh para pemuda lainnya dan empat orang pemuda yang
duduk di luar warung tertawa-tawa mendengar ini.
"Wah,
Saritem tentu berkembang cuping hidungnya mendengar pujian setinggi langit
itu!”
"Ha-ha,
ia memang pantas mendapat pujian!”
"Siapa
yang tidak akan memujinya? Ia cantik, manis dan dagangannya juga serba enak dan
murah!”
"Aku
sendiri kalau sehari saja tidak jajan di sini rasanya kangen sekali!”
Pemuda yang
seperti Raden Gatutkaca itu melompat dari tempat duduknya dan sudah tiba di
luar warung. Sekali dia menggerakkan kakinya, meja yang dihadapi empat orang
itu terbang terlempar jauh.
"Babo-babo!
Siapa berani main-main dengan Saritem? Apakah kalian berempat hendak
menantangku? Majulah kalian berempat, keroyoklah aku, aku tidak takut
menghadapi kalian untuk mempertahankan kehormatan Saritem kekasihku!”
Empat orang
pemuda itu tampak ketakutan dan seorang diantara mereka berkata,
"Saptoko,
kenapa engkau marah-marah? Bukankah kita semua adalah kawan-kawan sedusun?
Kalau kami memuji-muji Saritem, hal itu bukan karena kami ingin kurang ajar,
melainkan memuji dengan wajar. Siapa orangnya tidak memuji kecantikan Saritem?”
"Aku
melarang kalian sembarangan memuji Saritem seperti hendak mempermainkannya.
Kalian semua harus menghormatinya atau kalian boleh berantem melawan aku!"
kata pemuda yang bernama Saptoko itu dengan bertolak pinggang, akan tetapi
matanya kini menatap ke arah Joko Waras.
Seorang pemuda
tinggi besar, seorang di antara empat orang pemuda tadi melangkah maju
menghampiri Saptoko,
"Saptoko,
jangan bersikap seperti itu. Saritem membuka warung nasi dan kami semua adalah
langganannya yang baik, suka memuji-mujinya akan tetapi tidak ada yang pernah
berkurang ajar kepadanya. Kenapa engkau marah-marah? Kalau tidak ingin Saritem
dipuji orang, jangan perbolehkan ia membuka warung dan biarkan ia bersembunyi
terus di dalam rumahnya.”
Saptoko maju
dan sekali mendorong dengan tangan kanannya, pemuda yang bertubuh tinggi besar
dan tampak kuat itu terdorong mundur sampai terjengkang.
"Pendeknya,
aku melarang siapa saja yang berani main-main dengan Saritem, termasuk pemuda
yang asing dan berdiri di sana itu!" katanya sambil menudingkan
telunjuknya kepada Joko Waras.
Joko Waras
terbelalak dan mengerutkan alisnya. Dengan lincahnya dia melompat dan
menghampiri Saptoko.
"Eh, ki
sanak. Kenapa engkau menuding-nuding aku? Apa salahku kepadamu, heh?"
Saptoko marah
sekali dan menudingkan telunjuknya ke arah Joko Waras.
"Andika
tadi berani memuji-muji dan menyebut Saritem nimas ayu, berarti engkau
menantangku!" Saptoko membuka kancing bajunya dan memperlihatkan dadanya
yang kokoh dan bidang.
"Eh-eh,
apa-apaan ini? Aku menyebut nimas ayu Saritem, sedangkan orangnya merasa senang
dan tidak marah, kenapa engkau mencak-mencak seperti orang kebakaran kumis? Aku
datang dan membeli makanan minuman, beramah-tamah dengan penjualnya, dengan
sopan dan tidak melanggar kesusilaan, apa perdulimu?”
"Apa
perduliku? Saritem adalah kekasihku, calon isteriku!" bentak Saptoko.
"Kalau
engkau tidak ingin ia bicara dengan orang lain, kenapa memperbolehkan berjualan
nasi? Suruh ia bersembunyi dikamarnya seperti kata saudara tadi."
"Kakang
Saptoko, jangan begitu, kakang!" Saritem kini keluar dari warungnya dan
berdiri di depan Saptoko dengan alis berkerut dan mulut cemberut.
"Engkau
ini ada apakah, tiada hujan tiada angin mengamuk seperti orang tidak
waras?"
Orang tinggi
besar yang tadi didorong jatuh, karena merasa tidak senang lalu berkata,
"Kalau
saja Ki Blekok yang datang mengganggu, tentu dia tidak berani apa-apa.”
Saptoko
menjadi semakin marah mendengar ini.
"Aku
memang kalah oleh Ki Blekok, akan tetapi terhadap pemuda cilik ini, siapa
takut? Kalau dia berani banyak cakap, akan kurobek mulutnya!" Marah benar
Saptoko ini sehingga mengeluarkan ancaman yang demikian mengerikan.
Joko Waras
juga menjadi marah. Siapa tidak akan marah mendengar mulutnya akan dirobek
orang? Dia melompat lagi dan tiba di hadapan Saptoko.
”Apa kau
bilang? Engkau mau merobek mulutku? Aku berani bertaruh bahwa sebelum engkau
mampu menyentuh mulutmu yang akan lebih dulu robek!”
Saptoko
menjadi semakin marah. Dia mengepal kedua tangannya dan bersikap hendak menyerang.
Akan tetapi Saritem menghalanginya dan memegangi tangannya.
"Kakang
Saptoko, jangan berkelahi. Aku akan bersedih kalau engkau seperti ini dan
berkelahi dengan orang lain. Kakangmas ini sama sekali tidak bersalah, jangan
pukul dia!"
Jayawijaya
yang melihat Saptoko hendak menyerang Joko Waras, juga maju menghalangi.
"Ki
sanak, bersabarlah. Adi Joko Waras ini tidak mempunyai niat buruk. Tenangkanlah
hatimu.”
Akan tetapi
Saptoko mengira bahwa Jayawijaya hendak mengeroyok, maka dia memegang tangan Jayawijaya
dan menariknya dengan sentakan. Tubuh Jayawijaya terhuyung dan dia tentu akan
tersungkur jatuh kalau Joko Waras tidak cepat memegang tangannya dan
menahannya.
"Kakang
Saptoko, aku akan marah kepadamu!" teriak Saritem.
"Aih,
Saritem, setidaknya berilah kesempatan kepadaku untuk melindungimu dari godaan
pria lain!”
Joko Waras
sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi. Boleh jadi Saptoko bukan orang
jahat, melainkan hanya seorang kekasih yang pencemburu, akan tetapi laki-laki
kasar seperti itu pantas dihajar.
"Saptoko,
masihkah engkau ada keberanian untuk bertanding dengan aku? Tanpa keroyokan?”
"Aku
seorang laki-laki! Tidak sudi aku melakukan pengeroyokan.”
"Kakang
Saptoko …!"
“Saritem,
berilah aku kesempatan untuk menandingi pemuda ini," pinta Saptoko kepada
Saritem dengan suara minta dikasihani. Terhadap gadis itu suara pemuda gagah
ini begitu lembut dan merayu.
Saritem kini
menghadapi Joko Waras.
"Kakangmas,
harap jangan layani Kakang Saptoko. Dia memang keras hati, akan tetapi hatinya
baik sekali. Engkau akan kalah kalau melawan dia. Dia seorang kuat dan digdaya,
kakangmas.”
Joko Waras
tersenyum.
"Saritem,
jangan khawatir. Aku tidak akan merobek mulut pemuda kasar ini, hanya akan
membuktikan kepadanya bahwa di dunia ini masih terdapat banyak orang yang lebih
pandai dari pada dia. Hayolah, Saptoko. Majulah dan lawanlah aku!" Joko
Waras menantang.
"Baik,
sambut seranganku ini!”
Saptoko lalu
menyerang dengan pukulan tangan kanannya. Pukulannya itu dilakukan dengan
mantap dan cepat menurut ilmu pencak silat yang baik. Namun, gerakan itu masih
terlampau lamban bagi Joko Waras dan dengan gerakan indahnya dia menangkis
sambil memutar tubuh dan tangan kirinya menampar ke arah kepala lawan.
Saptoko dapat
mengelak pula dan kembali dia menyerang dengan secepat dan sekuatnya. Namun,
semua serangannya dapat dielakkan oleh Joko Waras. Sampai belasan jurus Saptoko
menyerang, namun tanpa hasil. Semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis
oleh Joko Waras.
"Adi Joko
Waras, jangan lukai orang!” kata Jayawijaya yang menonton pertandingan itu
dengan sikap tenang. Dia sudah maju, bahwa Joko Waras adalah seorang pemuda
yang digdaya, dapat mengalahkan belasan orang perajurit Blambangan, maka dia
dapat menduga bahwa Saptoko bukanlah lawanya dan dia khawatir kalau-kalau Joko
Waras akan melukainya.
Semua orang
muda yang berada di situ kini membentuk lingkaran dan menonton pertandingan
itu. Semua orang terkagum-kagum kepada Joko Waras. Pemuda yang tampaknya masih
remaja itu ternyata mampu menandingi Saptoko, pemuda dusun itu yang dianggap
paling jagoan. Setelah belasan jurus dan Saptoko belum mampu menyentuh ujung
baju Joko Waras yang memperlihatkan kegesitannya seperti seekor burung
srikatan, tiba-tiba Saptoko menggerakkan kaki kanannya menendang dengan sekuat
tenaga.
"Wuuuuttt....!"
Kaki kanan itu menyambar akan tetapi dengan enaknya Joko Waras mengelak dan
sebelum Saptoko menarik kembali kakinya yang menendang, kaki itu telah dapat
ditangkap oleh Joko Waras dan didorong ke atas lalu dilontarkan!
Tubuh Saptoko
melayang ke atas dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuh itu terbanting jatuh dan
sialnya, dia jatuh telungkup sehingga ketika dia bangkit kembali, bibirnya yang
ujung pecah mengeluarkan darah! Saptoko berdiri dengan kedua kaki terpentang.
Dia masih belum sadar benar apa yang telah terjadi dengan dirinya. Baru dia
menyadari ketika para pemuda di situ bertepuk tangan memuji Joko Waras yang
berdiri di depannya sambil tersenyum manis.
"Bagaimana,
Saptoko. Apakah engkau masih penasaran?" tanya Joko Waras.
"Aku
bukan musuh, akan tetapi kalau engkau menantangku, tentu akan kulayani. Minta
berkelahi sampai berapa hari akan kulayani!”
Saptoko
tercengang dan kini teringatlah dia akan perkelahian tadi. Baru tiga hari yang
lalu, ketika orang yang menamakan dirinya Ki Blekok menggoda Saritem secara
kurang ajar lalu berkelahi dengannya, dia dikalahkan oleh Ki Blekok. Akan
tetapi dia kalah setelah melalui perkelahian yang ramai dan seru. Biarpun dia
kalah akan tetapi setidaknya dia dapat mengimbangi kedigdayaan Ki Blekok yang
katanya merupakan jagoan dari dusun di lereng bukit. Sedangkan apa yang dia
baru saja alami amatlah mengherankan. Dia sama sekali tidak mampu menyentuh
tubuh Joko Waras bagian manapun juga, apa lagi hendak merobek mulutnya! Dan
tadi ketika dia mengirim tendangan, sebuah ilmu serangan yang biasanya tidak
pernah gagal, tendangan itu luput dan tiba-tiba saja tubuhnya terlempar ke atas
dan jatuh, terbanting keras! Saptoko adalah seorang yang berjiwa gagah, dan
tahu diri. Dia tahu pada saatnya dia kalah berhadapan dengan orang yang lebih
kuat, hanya yang membuat dia penasaran, mengapa dia kalah oleh seorang perjaka
tanggung seperti Joko Waras!
"Aku
mengaku kalah!" katanya sambil melangkah lebar keluar dari lingkaran
orang-orang itu, memasuki malam yang hampir tiba.
"Kakang
Saptoko .......!" Saritem keluar dari warungnya dan mengejar, memanggil.
Akan tetapi Saptoko hanya menengok sebentar dan berkata singkat.
"Aku
telah kalah dua kali. Aku tidak ada gunanya, Saritem!" dan diapun
melanjutkan langkahnya yang lebar.
Saritem terisak,
tak kembali ke dalam warungnya. Para pemuda yang makan di warung itu ikut
merasa tidak enak dan setelah membayar harga makanan dan minuman, mereka
meninggalkan tempat itu, agaknya merasa curiga dan tidak nyaman bersama dua
orang pemuda asing yang telah mengalahkan jagoan mereka itu.
Joko Waras dan
Jayawijaya berdua tinggal di warung.
"Saritem,
sebetulnya siapakah Saptoko itu? Dia itu kekasih hatimu, calon suamimu?”
"Dahulu
memang begitu, kakangmas. Aku mengharapkan dia untuk menjadi suamiku karena dia
baik budi dan mencintaiku, walaupun wataknya jujur dan kasar. Akan tetapi
semenjak muncul Ki Blekok itu, hubungan kami terganggu karena dia merasa telah
dikalahkan Ki Blekok dan tidak akan mampu merebut aku dari tangan Ki Blekok.”
"Hemmm,
dan siapa itu Ki Blekok?" tanya Joko Waras penasaran.
<<< Bagian 49 Bagian 51 >>>
No comments:
Post a Comment