Sepasang Garuda Putih ; Bagian 51


"Dia jagoan dari dusun Benang di lereng bukit itu, orangnya berusia empatpuluh tahun, galak sombong dan mata keranjang. Tiga hari yang lalu dia makan di sini dan langsung saja dia melamarku. Aku menolak dan kakang Saptoko marah sehingga terjadi perkelahian antara kakang Saptoko dan Ki Blekok. Akan tetapi kakang Saptoko kalah dan Ki Blekok pergi setelah berkata bahwa seminggu lagi dia akan datang untuk memboyongku ke dusunnya."
"Dan engkau mau?”
"Aku tidak sudi, kakangmas. Akan tetapi apa dayaku? Aku hanya hidup berdua dengan ibuku yang sudah janda. Ibu juga tidak mampu berbuat sesuatu. Kami hanya mengandalkan perlindungan kakang Saptoko, akan tetapi kakang Saptoko bahkan tadi kalah olehmu. Harga dirinya tentu telah terpukul parah dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan nanti kalau Ki Blekok muncul.” Gadis manis itu lalu menangis sesenggukan.
”Jangan menangis, Saritem, dan jangan khawatir. Kalau Ki Blekok datang dan hendak memaksamu menjadi isterinya di luar kehendakmu, aku yang akan mencegah dan menegurnya. Tidak ada aturan yang membenarkan seseorang memaksa seorang wanita untuk menjadi isterinya diluar kehendaknya!" kata Jayawijaya dengan suaranya yang lembut dan ucapan ini tentu saja merupakan hiburan besar bagi Saritem.
"Benarkah andika akan melakukan hal itu, kakangmas? Ah, terima kasih sekali!" kata gadis itu dengan girang.
"Tentu saja kakang Jayawijaya akan melakukan hal itu. Dia seorang laki-laki sejati yang sekali berjanji pasti akan dipenuhi. Perkenalkanlah, Saritem. Dia ini kakang Jayawijaya dan aku adalah Joko Waras. Pekerjaan kami berdua memang menegakkan yang lurus dan meluruskan yang bengkok, membela kebenaran dan keadilan dan menentang yang tidak benar.”
"Ah ... ah ... terima kasih, kakangmas berdua. Sekarang aku akan menutup warung ini dan segera menemui kakang Saptoko untuk memberitahu kepadanya agar hatinya ikut pula menjadi tenang.”
"Mari kami bantu, Saritem!" kata Joko Waras dan diapun segera membantu tanpa diminta.

Melihat ini, Jayawijaya terpaksa membantu juga. Pada mulanya Jayawijaya merasa tidak senang menyaksikan Joko Waras seperti bermanis muka dan merayu si gadis manis itu, akan tetapi melihat kesungguhan hatinya untuk membantu gadis itu dan kekasihnya, rasa tidak senangnyapun hilang. Dia percaya lagi bahwa teman barunya itu bukan golongan pemuda yang mata keranjang dan suka mengganggu wanita cantik. Suara suling itu mengalun naik turun. Lengkingannya yang merdu itu mendendangkan tembang Megatruh yang mengiris kalbu dan mendatangkan rasa trenyuh bagi siapa yang mendengarnya. Suara suling bambu yang mendayu-dayu itu datang dari sebuah gubuk yang berdiri di tengah sawah yang padinya sedang tumbuh dengan suburnya, menjelang berbunga dan berbuah. Suara itu seperti rintihan yang memanggil-manggil jiwa Saritem. Gadis ini tahu belaka siapa peniup suling bambu itu. Ia sudah mengenal benar tiupan suling itu. Siapa lagi kalau bukan Saptoko yang pandai menyuling seperti itu. Lengkingan suara suling seperti mempercepat larinya di sepanjang pematang sawah, menuju ke gubuk yang diterangi sebuah-lampu minyak kelapa yang kecil. Akhirnya tibalah ia di dekat gubuk itu dan dengan hati penuh perasaan iba ia memandang sesosok tubuh yang rebah telentang di atas gubuk sambil meniup suling bambu. Saptoko yang sedang asyik dibuai perasaannya sendiri yang hanyut oleh tiupan sulingnya, tidak mendengar dan tidak tahu bahwa gubuknya dihampiri orang. Dia meniup terus sampai selesai memainkan tembang Megatruh yang mendayu-dayu itu. Setelah selesai memainkan tembang itu, dia bangkit duduk dan hendak meniup lagi tembang yang lain. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara merdu memanggilnya.
"Kakang Saptoko ... !”
Saptoko menaruh sulingnya di dalam gubuk dan dia meloncat turun, menyambut gadis yang baru tiba.
"Saritem! Kenapa engkau menyusulku ke sini?”
"Kakang, engkau pergi begitu terpukul, aku harus menemuimu dan membicarakan sesuatu denganmu." Saritem lalu menghampiri dan iapun naik ke dalam gubuk dan duduk di sebelahnya.
“Saritem, apa yang dapat dibicarakan lagi? Aku telah dikalahkan Ki Blekok, tidak berhasil melindungimu dan aku tidak tahu bagaimana aku harus melindungi nanti kalau Ki Blekok muncul. Aku seorang laki-laki sejati, Saritem, dan aku akan mempertahankan kehormatanmu biarpun aku harus mati di tangan Ki Blekok. Akan tetapi apa yang terjadi? Hari ini aku kalah pula oleh seorang pemuda remaja yang berani menggodamu. Ah, sudahlah, apa lagi yang dapat dibicarakan? Aku siap mati nanti kalau Ki Blekok muncul! Hanya jiwa dan kematianku yang dapat kupersembahkan kepadamu sebagai bukti cintaku.”
"Kakang Saptoko ... !!" Saritem merangkul leher pemuda itu dengan kedua tangannya dan menjatuhkan mukanya di dadanya. Saptoko memeluknya dengan hati terasa sebesar gunung.
"Kakang Saptoko, terima kasih atas cintamu yang demikian besar kepadaku, akan tetapi dengarlah dulu, jangan putus asa seperti itu, kakang. Dengarlah, orang yang kaukira menggodaku itu, pemuda yang masih remaja itu, dia adalah kakangmas Waras dan sahabatnya bernama kakangmas Jayawijaya. Mereka sama sekali bukan orang jahat atau orang kurang ajar, kakang. Bahkan aku telah menceritakan semua tentang halnya Ki Blekok dan mereka berdua sudah berjanji bahwa mereka yang akan menanggulangi kalau Ki Blekok datang hendak memboyongku ke dusunnya!"
"Saritem, bagaimana aku dapat menerima bantuan itu? Apa akan kata orang kalau aku mengandalkan dua orang asing untuk membantuku menghadapi Ki Blekok? Kehormatan dan harga diriku akan amblas, Saritem. Tidak, aku terpaksa menolak uluran tangan kedua orang asing itu dan aku harus dengan kaki tanganku sendiri menghadapi Ki Blekok sebagai seorang laki-laki sejati yang melindungi dan mempertahankan kekasihnya!”

Terdengar tepuk tangan menyambut ucapan yang gagah ini.
"Waduh gagahnya, seperti Raden Gatutkaca saja! Hebat andika, Saptoko. Akan tetapi apa arti semua kegagahan itu kalau tidak ada isinya? Apa artinya semua pengorbananmu, bahkan nyawamu, kalau akhirnya Saritem diboyong dan dipaksa menjadi isteri Ki Blekok? Harga diri dan kehormatan itu memang perlu bagi seorang laki-laki sejati, akan tetapi kalau keterlaluan lalu menjadi semacam keangkuhan yang sama sekali tidak ada manfaatnya bahkan merugikan diri sendiri!”
Saptoko melompat turun dari atas gubuknya dan dia berhadapan dengan Joko Waras dan Jayawijaya.
"Apa yang dikatakan adi Joko Waras itu benar, ki sanak. Pengorbananmu itu tidak ada artinya kalau kekasihmu tetap akan dipaksa menikah dengan orang lain," kata Jayawijaya dengan suaranya yang lembut.
"Akan tetapi bagaimana aku dapat menentang orang yang mengganggu Saritem dengan minta bantuan dua orang asing? Itu akan merendahkan kehormatanku.”
"Saptoko yang angkuh!" kata Joko Waras.
"Baiklah, kalau engkau merasa direndahkan kalau kami membantumu, kami tidak akan membantumu sama sekali. Kalau jahanam Ki Blekok itu berani datang di dusun ini, kami yang akan mengusirnya, tanpa menyebut namamu. Kami akan membuat dia bertaubat dan tidak akan berani memaksakan kehendaknya lagi. Dan ada lain jalan yang tidak akan menyinggung harga dirimu yang demikian mahal, yaitu kalau besuk pagi-pagi engkau mau datang ke gubuk ini, aku akan menunggumu dan aku akan mengajarkan semacam ilmu yang dapat kau pergunakan untuk menundukkan Ki Blekok. Bagaimana pendapatmu?"
"Kakang! Aku sudah bilang. Mereka ini adalah ksatria-ksatria yang berbudi. Terimalah penawarannya itu, kakang, demi aku!”
"Hemm, jalan itu memang baik sekali. Dan alangkah baiknya kalau aku sendiri yang dapat mengalahkan Ki Blekok. Baiklah, Joko Waras. Aku terima uluran tanganmu dan besuk pagi-pagi aku akan berada di tempat ini.”
"Bagus! Sekarang, kami akan pergi mencari tempat menginap!" Joko Waras menggandeng tangan Jayawijaya.
"Mari kakang Jaya, kita pergi dan jangan mengganggu keasyikan mereka!" kata Joko Waras dengan sikap jenaka sehingga sepasang muda-mudi yang ditinggalkan itu tersipu dan menjadi merah mukanya.

Malam itu dengan mudah Joko Waras dan Jayawijaya mendapatkan tempat untuk bermalam, di rumah kepala dusun yang sudah mendengar akan sepak terjang mereka. Kepala dusun sendiri merasa cemas dengan ancaman Ki Blekok dan diapun tidak berani menghadapi Ki Blekok yang jagoan, maka mendengar bahwa ada dua orang pemuda asing yang dating ke dusun itu dan bersedia menolong dengan senang hati dia menawarkan tempat untuk bermalam bagi kedua orang pemuda itu.
"Kakang Jayawijaya, aku mempunyai kebiasan buruk sekali yang sudah kubiasakan sejak kecil, yaitu aku tidak dapat tidur sepembaringan dengan orang lain. Karena itu, biarlah engkau tidur di pembaringan itu dan aku akan tidur di lantai saja.”
Jayawijaya yang lembut hati itu tentu saja menolak dengan keras.
"Tidak, adi, Joko. Aku yang lebih tua, maka sudah sepatutnya aku yang mengalah. Aku sudah terbiasa tidur di tempat dingin. Di Tengger sana, aku dapat tidur di lantai tanah, apalagi di sini yang hawanya tidak begitu dingin. Tidurlah di atas, adi Joko dan aku akan tidur di bawah.”
"Terima kasih, kakang Jaya, engkau memang seorang kakak yang baik hati sekali." Joko Waras memberi hadiah senyuman yang manis.
Pada keesokan harinya, Jayawijaya menyentuh kaki Joko Waras dan mengguncang tubuhnya.
"Adi Joko, ayam telah berkokok. Ingat akan janjimu kepada Saptoko!”
Joko Waras menggeliat seperti seekor kucing lalu bangkit dan tersenyum.
"Enak sekali tidurku semalam," katanya dan ia lalu cepat pergi ke sumur di belakang rumah untuk membersihkan diri dan sudah siap berangkat.
Tanpa mengganggu keluarga Lurah mereka berdua lalu meninggalkan rumah itu dan menuju ke sawah di luar dusun. Di gubuk yang semalam, mereka menemukan Saptoko telah duduk menanti dan dia segera meloncat turun ketika melihat mereka berdua.
“Ilmu apa yang akan andika ajarkan kepadaku, adimas Joko Waras?" tanya Saptoko dengan sikap ramah setelah semalam dia mempertimbangkan segalanya dan disadarkan oleh Saritem bahwa dia telah bersikap terburu nafsu terhadap dua orang muda penolong itu.
"Adi Joko yang akan mengajarkan ilmu kepadamu, aku sendiri tidak bisa apa-apa," kata Jayawijaya.
"Kakang Saptoko, sebelum aku menentukan ilmu apa yang kuajarkan, aku ingin tanya dulu sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Ki Blekok itu. Bagaimana kalau dibandingkan dengan ilmu silatmu?”
Saptoko tersipu.
"Sebetulnya selisihnya tidak berapa banyak, hanya aku kalah dalam hal tenaga, juga kecepatan. Pertandingan kami berlangsung seru akan tetapi akhirnya aku kalah.”
Joko Waras tersenyum.
”Ah, sepele kalau begitu. Hanya menang sedikit di atas tingkat Saptoko. Dan apakah dia menggunakan Senjata?"
"Ketika bertanding denganku dia tidak menggunakan senjata, akan tetapi andaikata dia yang terdesak tentu dia akan mencabut kerisnya yang besar dan panjang."
"Bagus! Kalau begitu aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana untuk melawan kerisnya dan mengalahkannya.”
Saptoko tertegun.
"Mengalahkan kerisnya? Dengan senjata apa?”
"Senjatamu yang paling ampuh, ialah sulingmu itu. Mana sulingmu yang kemarin sore engkau tiup dengan indahnya itu?”
Saptoko semakin heran.
"Sulingku? Akan tetapi, adimas. Sulingku itu hanya sebatang suling bambu. Bertemu tangan saja dapat patah dan remuk, apa lagi bertemu keris!”
"Hemm, engkau agaknya masih belum percaya padaku. Ambil sulingmu!”
Saptoko mengambil suling itu dari dalam gubuk dan menyerahkannya kepada Joko Waras. Sebatang suling bamboo yang panjangnya setengah lengan.
"Apakah engkau memiliki senjata tajam di sini?"
Saptoko menggeleng kepala.
"Bukan senjata, hanya sebatang arit.”
"Bagus, ambillah arit itu.”
Arit diambil dan Joko Waras lalu berkata,
"Sekarang pergunakan arit itu untuk menyerangku, akan kuperlihatkan bagaimana sebatang suling bambu dapat mengalahkan sebatang arit!”

Karena masih belum dapat percaya, Saptoko lalu mau mencobanya.
"Lihat seranganku!" teriaknya sambil mengayun arit itu menyerang, dengan cepat dan kuatnya karena ia memperhitungkan kalau pemuda remaja itu menangkis dengan suling, tentu suling bambu itu akan hancur diterjang aritnya.
Akan tetapi arit itu hanya mengenai tempat kosong dan tiba-tiba saja suling meluncur, ujungnya mengenai sambungan siku kanan dan seketika tangannya menjadi kaku dan arit itupun terlepas!
"Nah, kaulihat?" Joko Waras meyakinkan.
Saptoko menjadi bengong akan tetapi dia masih belum puas.
"Kekalahanku demikian mudah karena aku yang lengah. Kalau aku berhati-hati sehingga sikuku tidak terkena sodokan suling, tentu aku belum kalah dan kalau suling itu menangkis arit, tentu sulingnya yang remuk," katanya.

<<< Bagian 50                                                                                         Bagian 52 >>>

No comments:

Post a Comment