"Dia jagoan dari dusun Benang di lereng bukit itu, orangnya berusia empatpuluh tahun, galak sombong dan mata keranjang. Tiga hari yang lalu dia makan di sini dan langsung saja dia melamarku. Aku menolak dan kakang Saptoko marah sehingga terjadi perkelahian antara kakang Saptoko dan Ki Blekok. Akan tetapi kakang Saptoko kalah dan Ki Blekok pergi setelah berkata bahwa seminggu lagi dia akan datang untuk memboyongku ke dusunnya."
"Dan
engkau mau?”
"Aku
tidak sudi, kakangmas. Akan tetapi apa dayaku? Aku hanya hidup berdua dengan
ibuku yang sudah janda. Ibu juga tidak mampu berbuat sesuatu. Kami hanya
mengandalkan perlindungan kakang Saptoko, akan tetapi kakang Saptoko bahkan
tadi kalah olehmu. Harga dirinya tentu telah terpukul parah dan aku tidak tahu
apa yang harus kulakukan nanti kalau Ki Blekok muncul.” Gadis manis itu lalu
menangis sesenggukan.
”Jangan
menangis, Saritem, dan jangan khawatir. Kalau Ki Blekok datang dan hendak
memaksamu menjadi isterinya di luar kehendakmu, aku yang akan mencegah dan
menegurnya. Tidak ada aturan yang membenarkan seseorang memaksa seorang wanita
untuk menjadi isterinya diluar kehendaknya!" kata Jayawijaya dengan suaranya
yang lembut dan ucapan ini tentu saja merupakan hiburan besar bagi Saritem.
"Benarkah
andika akan melakukan hal itu, kakangmas? Ah, terima kasih sekali!" kata
gadis itu dengan girang.
"Tentu
saja kakang Jayawijaya akan melakukan hal itu. Dia seorang laki-laki sejati
yang sekali berjanji pasti akan dipenuhi. Perkenalkanlah, Saritem. Dia ini
kakang Jayawijaya dan aku adalah Joko Waras. Pekerjaan kami berdua memang
menegakkan yang lurus dan meluruskan yang bengkok, membela kebenaran dan
keadilan dan menentang yang tidak benar.”
"Ah ...
ah ... terima kasih, kakangmas berdua. Sekarang aku akan menutup warung ini dan
segera menemui kakang Saptoko untuk memberitahu kepadanya agar hatinya ikut
pula menjadi tenang.”
"Mari
kami bantu, Saritem!" kata Joko Waras dan diapun segera membantu tanpa
diminta.
Melihat ini,
Jayawijaya terpaksa membantu juga. Pada mulanya Jayawijaya merasa tidak senang
menyaksikan Joko Waras seperti bermanis muka dan merayu si gadis manis itu,
akan tetapi melihat kesungguhan hatinya untuk membantu gadis itu dan
kekasihnya, rasa tidak senangnyapun hilang. Dia percaya lagi bahwa teman
barunya itu bukan golongan pemuda yang mata keranjang dan suka mengganggu
wanita cantik. Suara suling itu mengalun naik turun. Lengkingannya yang merdu
itu mendendangkan tembang Megatruh yang mengiris kalbu dan mendatangkan rasa
trenyuh bagi siapa yang mendengarnya. Suara suling bambu yang mendayu-dayu itu
datang dari sebuah gubuk yang berdiri di tengah sawah yang padinya sedang
tumbuh dengan suburnya, menjelang berbunga dan berbuah. Suara itu seperti
rintihan yang memanggil-manggil jiwa Saritem. Gadis ini tahu belaka siapa
peniup suling bambu itu. Ia sudah mengenal benar tiupan suling itu. Siapa lagi
kalau bukan Saptoko yang pandai menyuling seperti itu. Lengkingan suara suling
seperti mempercepat larinya di sepanjang pematang sawah, menuju ke gubuk yang
diterangi sebuah-lampu minyak kelapa yang kecil. Akhirnya tibalah ia di dekat
gubuk itu dan dengan hati penuh perasaan iba ia memandang sesosok tubuh yang
rebah telentang di atas gubuk sambil meniup suling bambu. Saptoko yang sedang
asyik dibuai perasaannya sendiri yang hanyut oleh tiupan sulingnya, tidak
mendengar dan tidak tahu bahwa gubuknya dihampiri orang. Dia meniup terus
sampai selesai memainkan tembang Megatruh yang mendayu-dayu itu. Setelah
selesai memainkan tembang itu, dia bangkit duduk dan hendak meniup lagi tembang
yang lain. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara merdu memanggilnya.
"Kakang
Saptoko ... !”
Saptoko
menaruh sulingnya di dalam gubuk dan dia meloncat turun, menyambut gadis yang
baru tiba.
"Saritem!
Kenapa engkau menyusulku ke sini?”
"Kakang,
engkau pergi begitu terpukul, aku harus menemuimu dan membicarakan sesuatu
denganmu." Saritem lalu menghampiri dan iapun naik ke dalam gubuk dan
duduk di sebelahnya.
“Saritem, apa
yang dapat dibicarakan lagi? Aku telah dikalahkan Ki Blekok, tidak berhasil
melindungimu dan aku tidak tahu bagaimana aku harus melindungi nanti kalau Ki
Blekok muncul. Aku seorang laki-laki sejati, Saritem, dan aku akan
mempertahankan kehormatanmu biarpun aku harus mati di tangan Ki Blekok. Akan
tetapi apa yang terjadi? Hari ini aku kalah pula oleh seorang pemuda remaja
yang berani menggodamu. Ah, sudahlah, apa lagi yang dapat dibicarakan? Aku siap
mati nanti kalau Ki Blekok muncul! Hanya jiwa dan kematianku yang dapat
kupersembahkan kepadamu sebagai bukti cintaku.”
"Kakang
Saptoko ... !!" Saritem merangkul leher pemuda itu dengan kedua tangannya
dan menjatuhkan mukanya di dadanya. Saptoko memeluknya dengan hati terasa
sebesar gunung.
"Kakang
Saptoko, terima kasih atas cintamu yang demikian besar kepadaku, akan tetapi
dengarlah dulu, jangan putus asa seperti itu, kakang. Dengarlah, orang yang
kaukira menggodaku itu, pemuda yang masih remaja itu, dia adalah kakangmas
Waras dan sahabatnya bernama kakangmas Jayawijaya. Mereka sama sekali bukan
orang jahat atau orang kurang ajar, kakang. Bahkan aku telah menceritakan semua
tentang halnya Ki Blekok dan mereka berdua sudah berjanji bahwa mereka yang
akan menanggulangi kalau Ki Blekok datang hendak memboyongku ke dusunnya!"
"Saritem,
bagaimana aku dapat menerima bantuan itu? Apa akan kata orang kalau aku
mengandalkan dua orang asing untuk membantuku menghadapi Ki Blekok? Kehormatan
dan harga diriku akan amblas, Saritem. Tidak, aku terpaksa menolak uluran
tangan kedua orang asing itu dan aku harus dengan kaki tanganku sendiri
menghadapi Ki Blekok sebagai seorang laki-laki sejati yang melindungi dan
mempertahankan kekasihnya!”
Terdengar
tepuk tangan menyambut ucapan yang gagah ini.
"Waduh
gagahnya, seperti Raden Gatutkaca saja! Hebat andika, Saptoko. Akan tetapi apa
arti semua kegagahan itu kalau tidak ada isinya? Apa artinya semua
pengorbananmu, bahkan nyawamu, kalau akhirnya Saritem diboyong dan dipaksa
menjadi isteri Ki Blekok? Harga diri dan kehormatan itu memang perlu bagi
seorang laki-laki sejati, akan tetapi kalau keterlaluan lalu menjadi semacam
keangkuhan yang sama sekali tidak ada manfaatnya bahkan merugikan diri
sendiri!”
Saptoko
melompat turun dari atas gubuknya dan dia berhadapan dengan Joko Waras dan
Jayawijaya.
"Apa yang
dikatakan adi Joko Waras itu benar, ki sanak. Pengorbananmu itu tidak ada
artinya kalau kekasihmu tetap akan dipaksa menikah dengan orang lain,"
kata Jayawijaya dengan suaranya yang lembut.
"Akan
tetapi bagaimana aku dapat menentang orang yang mengganggu Saritem dengan minta
bantuan dua orang asing? Itu akan merendahkan kehormatanku.”
"Saptoko
yang angkuh!" kata Joko Waras.
"Baiklah,
kalau engkau merasa direndahkan kalau kami membantumu, kami tidak akan
membantumu sama sekali. Kalau jahanam Ki Blekok itu berani datang di dusun ini,
kami yang akan mengusirnya, tanpa menyebut namamu. Kami akan membuat dia
bertaubat dan tidak akan berani memaksakan kehendaknya lagi. Dan ada lain jalan
yang tidak akan menyinggung harga dirimu yang demikian mahal, yaitu kalau besuk
pagi-pagi engkau mau datang ke gubuk ini, aku akan menunggumu dan aku akan
mengajarkan semacam ilmu yang dapat kau pergunakan untuk menundukkan Ki Blekok.
Bagaimana pendapatmu?"
"Kakang!
Aku sudah bilang. Mereka ini adalah ksatria-ksatria yang berbudi. Terimalah
penawarannya itu, kakang, demi aku!”
"Hemm,
jalan itu memang baik sekali. Dan alangkah baiknya kalau aku sendiri yang dapat
mengalahkan Ki Blekok. Baiklah, Joko Waras. Aku terima uluran tanganmu dan
besuk pagi-pagi aku akan berada di tempat ini.”
"Bagus!
Sekarang, kami akan pergi mencari tempat menginap!" Joko Waras menggandeng
tangan Jayawijaya.
"Mari
kakang Jaya, kita pergi dan jangan mengganggu keasyikan mereka!" kata Joko
Waras dengan sikap jenaka sehingga sepasang muda-mudi yang ditinggalkan itu
tersipu dan menjadi merah mukanya.
Malam itu
dengan mudah Joko Waras dan Jayawijaya mendapatkan tempat untuk bermalam, di
rumah kepala dusun yang sudah mendengar akan sepak terjang mereka. Kepala dusun
sendiri merasa cemas dengan ancaman Ki Blekok dan diapun tidak berani
menghadapi Ki Blekok yang jagoan, maka mendengar bahwa ada dua orang pemuda
asing yang dating ke dusun itu dan bersedia menolong dengan senang hati dia
menawarkan tempat untuk bermalam bagi kedua orang pemuda itu.
"Kakang
Jayawijaya, aku mempunyai kebiasan buruk sekali yang sudah kubiasakan sejak
kecil, yaitu aku tidak dapat tidur sepembaringan dengan orang lain. Karena itu,
biarlah engkau tidur di pembaringan itu dan aku akan tidur di lantai saja.”
Jayawijaya
yang lembut hati itu tentu saja menolak dengan keras.
"Tidak,
adi, Joko. Aku yang lebih tua, maka sudah sepatutnya aku yang mengalah. Aku
sudah terbiasa tidur di tempat dingin. Di Tengger sana, aku dapat tidur di
lantai tanah, apalagi di sini yang hawanya tidak begitu dingin. Tidurlah di
atas, adi Joko dan aku akan tidur di bawah.”
"Terima
kasih, kakang Jaya, engkau memang seorang kakak yang baik hati sekali."
Joko Waras memberi hadiah senyuman yang manis.
Pada keesokan
harinya, Jayawijaya menyentuh kaki Joko Waras dan mengguncang tubuhnya.
"Adi
Joko, ayam telah berkokok. Ingat akan janjimu kepada Saptoko!”
Joko Waras
menggeliat seperti seekor kucing lalu bangkit dan tersenyum.
"Enak
sekali tidurku semalam," katanya dan ia lalu cepat pergi ke sumur di
belakang rumah untuk membersihkan diri dan sudah siap berangkat.
Tanpa
mengganggu keluarga Lurah mereka berdua lalu meninggalkan rumah itu dan menuju
ke sawah di luar dusun. Di gubuk yang semalam, mereka menemukan Saptoko telah
duduk menanti dan dia segera meloncat turun ketika melihat mereka berdua.
“Ilmu apa yang
akan andika ajarkan kepadaku, adimas Joko Waras?" tanya Saptoko dengan
sikap ramah setelah semalam dia mempertimbangkan segalanya dan disadarkan oleh
Saritem bahwa dia telah bersikap terburu nafsu terhadap dua orang muda penolong
itu.
"Adi Joko
yang akan mengajarkan ilmu kepadamu, aku sendiri tidak bisa apa-apa," kata
Jayawijaya.
"Kakang
Saptoko, sebelum aku menentukan ilmu apa yang kuajarkan, aku ingin tanya dulu
sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Ki Blekok itu. Bagaimana kalau
dibandingkan dengan ilmu silatmu?”
Saptoko
tersipu.
"Sebetulnya
selisihnya tidak berapa banyak, hanya aku kalah dalam hal tenaga, juga
kecepatan. Pertandingan kami berlangsung seru akan tetapi akhirnya aku kalah.”
Joko Waras
tersenyum.
”Ah, sepele
kalau begitu. Hanya menang sedikit di atas tingkat Saptoko. Dan apakah dia
menggunakan Senjata?"
"Ketika
bertanding denganku dia tidak menggunakan senjata, akan tetapi andaikata dia
yang terdesak tentu dia akan mencabut kerisnya yang besar dan panjang."
"Bagus!
Kalau begitu aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana untuk melawan kerisnya dan
mengalahkannya.”
Saptoko
tertegun.
"Mengalahkan
kerisnya? Dengan senjata apa?”
"Senjatamu
yang paling ampuh, ialah sulingmu itu. Mana sulingmu yang kemarin sore engkau
tiup dengan indahnya itu?”
Saptoko
semakin heran.
"Sulingku?
Akan tetapi, adimas. Sulingku itu hanya sebatang suling bambu. Bertemu tangan
saja dapat patah dan remuk, apa lagi bertemu keris!”
"Hemm,
engkau agaknya masih belum percaya padaku. Ambil sulingmu!”
Saptoko
mengambil suling itu dari dalam gubuk dan menyerahkannya kepada Joko Waras.
Sebatang suling bamboo yang panjangnya setengah lengan.
"Apakah
engkau memiliki senjata tajam di sini?"
Saptoko
menggeleng kepala.
"Bukan
senjata, hanya sebatang arit.”
"Bagus,
ambillah arit itu.”
Arit diambil
dan Joko Waras lalu berkata,
"Sekarang
pergunakan arit itu untuk menyerangku, akan kuperlihatkan bagaimana sebatang
suling bambu dapat mengalahkan sebatang arit!”
Karena masih
belum dapat percaya, Saptoko lalu mau mencobanya.
"Lihat
seranganku!" teriaknya sambil mengayun arit itu menyerang, dengan cepat
dan kuatnya karena ia memperhitungkan kalau pemuda remaja itu menangkis dengan
suling, tentu suling bambu itu akan hancur diterjang aritnya.
Akan tetapi
arit itu hanya mengenai tempat kosong dan tiba-tiba saja suling meluncur,
ujungnya mengenai sambungan siku kanan dan seketika tangannya menjadi kaku dan
arit itupun terlepas!
"Nah,
kaulihat?" Joko Waras meyakinkan.
Saptoko menjadi
bengong akan tetapi dia masih belum puas.
"Kekalahanku
demikian mudah karena aku yang lengah. Kalau aku berhati-hati sehingga sikuku
tidak terkena sodokan suling, tentu aku belum kalah dan kalau suling itu
menangkis arit, tentu sulingnya yang remuk," katanya.
<<< Bagian 50 Bagian 52 >>>
No comments:
Post a Comment