Sepasang Garuda Putih ; Bagian 52


"Engkau masih belum yakin bahwa sulingmu dapat mengalahkan keris lawan? Tidak baik sekali kalau engkau belum yakin, itu akan melemahkan dirimu sendiri. Sekarang coba lagi. Ambil aritmu dan serang lagi aku sesukamu.”
Saptoko mengambil aritnya dan kembali dia berseru,
"Awas serangan!" kini dia menyerang dengan hati-hati dan aritnya menyambar-nyambar ganas.
Namun Joko Waras dengan lincah mengelak ke sana sini dan sulingnya menyambar-nyambar dengan ganasnya dan kadang suling itu menangkis arit, mengeluarkan bunyi nyaring akan tetapi sama sekali tidak pecah atau rusak ketika bertemu arit, bahkan Saptoko merasa lengan kanannya tergetar hebat. Setelah lewat belasan jurus, tiba-tiba suling itu menotok dua kali, sekali mengenai pundak kanan Saptoko dan yang kedua kali mengenai lambung dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh Saptoko terpelanting jatuh, sekali lagi aritnya terlepas dari tangan.

Setelah untuk kedua kalinya kalah, Saptoko baru yakin bahwa ilmu silat dengan suling itu hebat sekali maka diapun bangkit dan membungkuk kepada Joko Waras.
"Waduh, hebat bukan main ilmu silat suling itu, adimas Joko. Akan tetapi apakah dalam beberapa hari ini saja aku akan dapat memainkannya dengan baik?"
"Tentu saja dapat asal engkau menaati semua pesanku," kata Joko Waras.
Dan di tempat itu mulailah Joko Waras mengajarkan ilmu silat dengan suling kepada Saptoko, juga cara dia menghimpun tenaga sakti sehingga gerakan sulingnya mengandung tenaga yang dahsyat. Memang pada dasarnya Saptoko memiliki bakat yang baik sekali dan dia telah memiliki dasar ilmu silat yang cukup tinggi maka tidak terlalu sukar bagi Joko Waras untuk menurunkan ilmu lagi kepadanya. Sementara itu, Jayawijaya hanya menonton saja dan dia merasa semakin kagum kepada Joko Waras yang masih demikian muda namun telah memiliki kedigdayaan yang tinggi. Jayawijaya sendiri tidak suka mempelajari aji kesaktian atau ilmu kedigdayaan. Sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya Tengger untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi segala sesuatu, melainkan menghadapinya dengan kelembutan dan kebijaksanaan. Kalau dia terancam bahaya dia merasa terlindungi oleh Kekuasaan Hyang Widhi dan dia selalu menyerah dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan. Baginya sudah menjadi kepercayaan yang bulat dan mendalam lahir batin bahwa tidak ada apapun atau siapapun akan dapat mecelakainya selama Hyang Widhi melindunginya. Dia seakan selalu berlindung di bawah bayangan Kekuasaan Hyang Widhi dengan penuh iman dan penyerahan sehingga selalu merasa aman dalam keadaan apapun, aman seperti bayi dalam gendongan Ibunya. Akan tetapi Jayawijaya kagum kepada Joko Waras karena pemuda remaja ini menggunakan semua aji kedigdayaan yang dimilikinya itu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan menentang yang jahat. Selama lima hari lima malam, hampir tidak pernah berhenti, Saptoko melatih dirinya dengan ilmu silat sulingnya di bawah bimbingan Joko Waras dan setelah lewat lima hari, hati Joko Waras telah merasa puas dan diam-diam dia memuji "muridnya" yang berbakat dan amat tekun itu.

Hari yang dinanti-nanti tiba. Pagi hari itu warung Saritem sudah penuh pemuda, bahkan yang tidak biasa jajan di situ, hari itu memerlukan datang untuk melihat apa yang akan dilakukan Ki Blekok terhadap gadis penjual nasi yang manis itu. Bahkan Ki lurah sendiri juga datang, hanya tidak langsung memasuki warung itu, melainkan menonton dari sebuah rumah penduduknya, tidak berapa jauh dari warung nasi itu. Setelah matahari naik tinggi dan semua orang yang datang ke warung nasi sudah sarapan pagi, muncullah orang yang ditunggu-wnggu, yaitu Ki Blekok! Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan jalannya seperti seekor singa kelaparan, sinar matanya tajam dan penuh keangkuhan, jenggotnya sekepal sebelah dan setiap gerak geriknya menunjukkan bahwa dia seorang jagoan tulen! Di pinggangnya terselip sebatang keris yang panjang dan besar dan kepalanya memakai ikat kepala wulung. Dengan sikap congkak dia berjalan di depan, pakaiannya serba baru dan di belakangnya dia diikuti oleh belasan orang yang di antaranya ada yang membawa sebuah joli. Agaknya dia benar-benar datang hendak mengangkut atau memboyong Saritem untuk dijadikan isterinya. Karena dia yang menjadi pimpinan berlagak sombong sekali, maka belasan orang bawahannya juga semua bersikap sombong.
Setelah tiba di depan warung nasi, Ki Blekok berteriak dari luar warung dengan suaranya yang parau dan lantang.
"Heii, diajeng Saritem, apakah engkau sudah siap untuk kuboyong ke Benang? Kenapa warung nasimu masih juga dibuka?”
Semua orang muda yang tadinya duduk di dalam warung sudah keluar semua dan mereka berdiri di tempat yang cukup aman. Mereka semua memandang kepada Ki Blekok dan rombongannya dengan sikap takut-takut. Karena tidak mendapatkan jawaban, Ki Blekok mengerutkan alisnya yang tebal dan dengan langkah tegap diapun menghampiri warung nasi itu dan memasukinya. Warung itu nampak sepi. Saritem duduk di belakang meja dagangannya seperti biasa dan ia hanya mengangkat muka memandang tanpa rasa takut sedikitpun kepada Ki Blekok! Dan di sebelah wanita cantik itu duduk seorang laki-laki yang bukan lain adalah Saptoko.
Tentu saja Ki Blekok menjadi marah. Dia sudah tahu bahwa Saptoko mengaku sebagai kekasih Saritem dan pernah pemuda itu dihajarnya. Sekarang pemuda itu masih berani duduk di samping Saritem dan tidak memperdulikan kedatangannya. Ki Blekok maju selangkah sehingga mendekati meja dagangan Saritem dan memandang kepada gadis itu dengan kumis bergerak-gerak dan mata terbelalak.
"Saritem! Hayo cepat keluar dan masuk ke joli yang sudah kusediakan untukmu!" bentaknya.
"Ki Blekok, sejak kapan engkau menganggap aku sebagai calon isterimu? Aku tidak pernah menerima pinanganmu dan aku tidak suka menjadi isterimu. Jangan ganggu aku dan pergilah dari sini," kata Saritem dan suaranya sedikitpun tidak menunjukkan sikap gentar.
"Brakk ... !" Ki Blekok menghantam meja dengan telapak tangannya dan ujung meja tebal itu menjadi remuk.
"Keluar dan masuk joli atau aku akan meruntuhkan warung nasi ini dan akan memaksamu dan menyeretmu keluar!”
"Hem, sungguh sikap yang amat tidak patut!" terdengar seruan halus.

Ki Blekok cepat memutar tubuhnya dan baru melihat bahwa di ujung bangku panjang di sebelahnya duduk dua orang pemuda, yang seorang pemuda remaja yang memandangnya dengan sikap mengejek dan senyum cengar-cengir, sedangkan yang menegurnya adalah seorang pemuda ganteng yang bersikap lembut.
"Apa katamu?" bentak Ki Blekok menghadapi dua orang pemuda yang masih duduk di bangku itu. Dia marah sekali melihat ada orang berani menegurnya.
"Ki sanak, aku mengatakan bahwa sikapmu ini sungguh tidak patut dan aku mengingatkanmu bahwa perbuatan yang tidak patut tentu akan berakibat buruk terhadap pelakunya sendiri. Engkau akan memetik buah dari pada pohon yang kau tanam sendiri, karena itu tanamlah pohon yang berguna dan baik demi kebaikanmu sendiri.”
"Apa perdulimu dengan perbuatanku? setan alas!" Ki Blekok memaki dan sekali tangannya bergerak, bangku yang diduduki dua orang pemuda itu telah ditendangnya.
Joko Waras dapat meloncat sebelum tendangan tiba, akan tetapi Jayawijaya terpelanting jatuh. Akan tetapi dia bangkit berdiri lagi dan menghadapi Ki Blekok dengan sikap sedikitpun tidak merasa takut.
"Ki sanak, kuperingatkan sekali lagi. Kalau engkau lanjutkan perbuatanmu memaksa Saritem menjadi isterinya, engkau akan menyesal kelak. Bertaubatlah sekarang sebelum terlambat!”
"Keparat kau! Sudah bosan hidup rupanya!" Ki Blekok mengepal tangan kanannya dan melontarkan pukulan yang keras sekali ke wajah Jayawijaya.
Akan tetapi pada saat itu, mangkok yang terisi penuh sambal pecel telah melayang dan tepat mengenai mukanya. Tentu saja ini perbuatan Joko Waras.
"Eh, aupp ... aduh pedas ... !" Ki Blekok megap-megap dan mendesis-desis karena matanya yang kemasukan sambal pecel terasa pedas dan panas bukan main.

Sambil meraba-raba dia keluar dari warung nasi itu. Teman-temannya segera datang menolongnya. Ada yang membersihkan mukanya dari sambal pecel dan ada pula yang mencari air bersih untuk mencuci muka dan matanya. Akhirnya Ki Blekok dapat melihat lagi. Mukanya menjadi kemerahan dan dia sudah bertolak pinggang dan mengamangkan kerisnya ke arah warung sambil membentak.
"Eh, ki sanak yang berada di warung. Kalau memang engkau laki-laki, keluarlah dan tandingilah aku, Ki Blekok dari dusun Benang! Jangan berbuat curang seperti seorang perempuan!”
Suasana menjadi tegang dan hening setelah dia mengeluarkan tantangan itu dan semua mata ditujukan ke arah warung itu untuk melihat siapa yang akan keluar melawan Ki Blekok yang sudah mencabut kerisnya itu. Semua orang terbelalak heran dan juga khawatir ketika melihat Saptoko keluar dari warung itu dengan langkah satu-satu dan sikapnya tenang sekali, sebatang suling bamboo terselip di pinggangnya. Di belakangnya, agak jauh, keluar pula Joko Waras dan Jayawijaya, juga Saritem ikut keluar dan memandang dengan sinar mata-penuh kekhawatiran kepada kekasihnya.
"Ki Blekok! Kalau kedatanganmu untuk memaksa Saritem menjadi isterimu, akulah yang melarangmu dan akulah yang akan menandingimu!" kata Saptoko dengan kedua kaki dipentang lebar dan kedua lengan terlipat di depan dada, pandang matanya bersinar-sinar tertuju ke arah Ki Blekok.
Semua orang merasa heran dan juga khawatir. Sudah jelas bahwa beberapa hari yang lalu Saptoko tidak mampu melawan Ki Blekok dan dihajarnya, padahal ketika itu Ki Blekok hanya menggunakan tangan kosong belaka. Sekarang Ki Blekok memegang keris pusaka dan Saptoko hendak maju menandinginya? Seperti mencari mati!
"Hua-ha-ha-ha-ha! Andika yang bernama Saptoko itu, bukan? Tempo hari aku masih menaruh kasihan kepadamu dan tidak membunuhmu. Sekarang andika berani menantangku lagi? Ingat, baik-baik, orang muda. Aku adalah Ki Blekok, juara dari dusun Benang gemblengan yang sakti mandraguna. Kalau andika maju lagi sekali ini andika tentu akan mati karena aku tidak pernah mau memberi ampun untuk keduakalinya!”
"Wah-wah-wah, sumbarnya seperti dapat menggugurkan Mahameru! Padahal baru terkena sambal pecel saja sudah berkaok-kaok seperti kerbau disembelih. Ini yang namanya juara dan pendekar sambal pecel, sombongnya kepati-pati akan tetapi tidak ada artinya, gentong kosong dipukul nyaring!" tiba-tiba Joko Waras mengejeknya dan semua orang mau tidak mau tersenyum karena teringat akan peristiwa tadi ketika Ki Blekok disiram sambal pecel mukanya.
"Jahanam keparat! Jadi engkau anak kecil yang tadi melemparku dengan sambal pecel? Mari, kubunuh dulu engkau baru yang lain!" kata Ki Blekok dan dia sudah hendak mengejar Joko Waras. Akan tetapi Saptoko menghadangnya.
"Ki Blekok, karena urusanmu mengenai Saritem, maka tidak ada lain kecuali akulah lawanmu. Saritem adalah milikku, calon isteriku, dan akulah yang akan mempertahankan kehormatannya!”

Kini kemarahan Ki Blekok sudah mencapai puncaknya, apa lagi karena ejekan Joko Waras tadi. Keris di tangannya gemetar saking marahnya dan dia memandang Saptoko dengan mata seakan hendak menelannya bulat-bulat.
"Saptoko, sekarang engkau mampus!" Dia membentak dan seperti seekor biruang dia sudah menubruk dan menyerangkan kerisnya ke arah dada Saptoko.
Pemuda ini mengelak ke belakang sambil mencabut sulingnya dan sambil menggeser langkahnya ke samping dia sudah mengayun sulingnya menusuk ke arah leher lawan. Melihat pemuda itu menggunakan sebatang suling menusuk lehernya, Ki Blekok menyampok dengan tangan kirinya dan dia melangkah mundur sambil tertawa.
"Heh, Saptoko, apakah engkau sudah menjadi gila? Engkau melawan kerisku dengan sebatang suling bambu? Ha-ha-ha, engkau membuat aku menjadi malu! Gantilah senjatamu itu, aku segan membunuh orang yang tidak memegang senjata!”
"Babo-babo, Ki Blekok. Biarpun aku hanya menggunakan suling, akan tetapi jangan harap engkau akan dapat menang dariku. Majulah, aku akan menandingimu!”
"Hemm, jangan salahkan aku kalau lehermu kutebas berikut sulingmu!" bentak Ki Blekok dan diapun menyerang lagi, kini lebih hebat dari tadi, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkan saingannya ini secepat mungkin agar dia dapat segera memboyong Saritem ke dusunnya di mana sudah dipersiapkan pesta pengantin.
Akan tetapi, pemuda itu bergerak cepat mengelak dan kadang menangkis kerisnya dan suling itu sama sekali tidak remuk, atau patah. Bahkan belasan jurus kemudian ujung suling itu menyerempet urat nadinya, membuat dia hampir melepaskan kerisnya dan selagi dia kaget, sebuah tendangan kaki Saptoko mengenai perutnya.
"Bukk!!" Tubuh Ki Blekok terpental ke belakang akan tetapi dia tidak jatuh bahkan menyerang lebih dahsyat karena dia mendengar orang memuji kemenangan Saptoko itu.
Saptoko mainkan ilmu silat sulingnya seperti yang diajarkan Joko Waras. Akan tetapi karena dia baru berlatih selama lima hari, tentu saja gerakannya belum mahir benar. Melihat kekurangan ini, Joko Waras diam-diam mengambil sebuah batu kerikil dan sekali menyentil dengan batu kerikil itu, melesatlah kerikil itu dan tepat mengenai bawah telinga kiri Ki Blekok. Tak seorangpun mengetahui akan hal ini dan Ki Blekok tiba-tiba menjerit dan mengaduh lalu tubuhnya terhuyung.

<<< Bagian 51                                                                                          Bagian 53 >>>

No comments:

Post a Comment