"Engkau masih belum yakin bahwa sulingmu dapat mengalahkan keris lawan? Tidak baik sekali kalau engkau belum yakin, itu akan melemahkan dirimu sendiri. Sekarang coba lagi. Ambil aritmu dan serang lagi aku sesukamu.”
Saptoko
mengambil aritnya dan kembali dia berseru,
"Awas
serangan!" kini dia menyerang dengan hati-hati dan aritnya
menyambar-nyambar ganas.
Namun Joko
Waras dengan lincah mengelak ke sana sini dan sulingnya menyambar-nyambar
dengan ganasnya dan kadang suling itu menangkis arit, mengeluarkan bunyi
nyaring akan tetapi sama sekali tidak pecah atau rusak ketika bertemu arit,
bahkan Saptoko merasa lengan kanannya tergetar hebat. Setelah lewat belasan
jurus, tiba-tiba suling itu menotok dua kali, sekali mengenai pundak kanan
Saptoko dan yang kedua kali mengenai lambung dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh
Saptoko terpelanting jatuh, sekali lagi aritnya terlepas dari tangan.
Setelah untuk
kedua kalinya kalah, Saptoko baru yakin bahwa ilmu silat dengan suling itu
hebat sekali maka diapun bangkit dan membungkuk kepada Joko Waras.
"Waduh,
hebat bukan main ilmu silat suling itu, adimas Joko. Akan tetapi apakah dalam
beberapa hari ini saja aku akan dapat memainkannya dengan baik?"
"Tentu
saja dapat asal engkau menaati semua pesanku," kata Joko Waras.
Dan di tempat
itu mulailah Joko Waras mengajarkan ilmu silat dengan suling kepada Saptoko,
juga cara dia menghimpun tenaga sakti sehingga gerakan sulingnya mengandung
tenaga yang dahsyat. Memang pada dasarnya Saptoko memiliki bakat yang baik
sekali dan dia telah memiliki dasar ilmu silat yang cukup tinggi maka tidak
terlalu sukar bagi Joko Waras untuk menurunkan ilmu lagi kepadanya. Sementara
itu, Jayawijaya hanya menonton saja dan dia merasa semakin kagum kepada Joko
Waras yang masih demikian muda namun telah memiliki kedigdayaan yang tinggi.
Jayawijaya sendiri tidak suka mempelajari aji kesaktian atau ilmu kedigdayaan.
Sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya Tengger untuk tidak menggunakan
kekerasan dalam menghadapi segala sesuatu, melainkan menghadapinya dengan
kelembutan dan kebijaksanaan. Kalau dia terancam bahaya dia merasa terlindungi
oleh Kekuasaan Hyang Widhi dan dia selalu menyerah dengan penuh keikhlasan dan
kepasrahan. Baginya sudah menjadi kepercayaan yang bulat dan mendalam lahir
batin bahwa tidak ada apapun atau siapapun akan dapat mecelakainya selama Hyang
Widhi melindunginya. Dia seakan selalu berlindung di bawah bayangan Kekuasaan
Hyang Widhi dengan penuh iman dan penyerahan sehingga selalu merasa aman dalam
keadaan apapun, aman seperti bayi dalam gendongan Ibunya. Akan tetapi
Jayawijaya kagum kepada Joko Waras karena pemuda remaja ini menggunakan semua
aji kedigdayaan yang dimilikinya itu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan,
dan menentang yang jahat. Selama lima hari lima malam, hampir tidak pernah
berhenti, Saptoko melatih dirinya dengan ilmu silat sulingnya di bawah
bimbingan Joko Waras dan setelah lewat lima hari, hati Joko Waras telah merasa
puas dan diam-diam dia memuji "muridnya" yang berbakat dan amat tekun
itu.
Hari yang
dinanti-nanti tiba. Pagi hari itu warung Saritem sudah penuh pemuda, bahkan
yang tidak biasa jajan di situ, hari itu memerlukan datang untuk melihat apa
yang akan dilakukan Ki Blekok terhadap gadis penjual nasi yang manis itu.
Bahkan Ki lurah sendiri juga datang, hanya tidak langsung memasuki warung itu,
melainkan menonton dari sebuah rumah penduduknya, tidak berapa jauh dari warung
nasi itu. Setelah matahari naik tinggi dan semua orang yang datang ke warung
nasi sudah sarapan pagi, muncullah orang yang ditunggu-wnggu, yaitu Ki Blekok!
Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun, bertubuh tinggi
besar dan jalannya seperti seekor singa kelaparan, sinar matanya tajam dan
penuh keangkuhan, jenggotnya sekepal sebelah dan setiap gerak geriknya
menunjukkan bahwa dia seorang jagoan tulen! Di pinggangnya terselip sebatang
keris yang panjang dan besar dan kepalanya memakai ikat kepala wulung. Dengan
sikap congkak dia berjalan di depan, pakaiannya serba baru dan di belakangnya
dia diikuti oleh belasan orang yang di antaranya ada yang membawa sebuah joli.
Agaknya dia benar-benar datang hendak mengangkut atau memboyong Saritem untuk
dijadikan isterinya. Karena dia yang menjadi pimpinan berlagak sombong sekali,
maka belasan orang bawahannya juga semua bersikap sombong.
Setelah tiba
di depan warung nasi, Ki Blekok berteriak dari luar warung dengan suaranya yang
parau dan lantang.
"Heii,
diajeng Saritem, apakah engkau sudah siap untuk kuboyong ke Benang? Kenapa
warung nasimu masih juga dibuka?”
Semua orang
muda yang tadinya duduk di dalam warung sudah keluar semua dan mereka berdiri
di tempat yang cukup aman. Mereka semua memandang kepada Ki Blekok dan
rombongannya dengan sikap takut-takut. Karena tidak mendapatkan jawaban, Ki
Blekok mengerutkan alisnya yang tebal dan dengan langkah tegap diapun
menghampiri warung nasi itu dan memasukinya. Warung itu nampak sepi. Saritem
duduk di belakang meja dagangannya seperti biasa dan ia hanya mengangkat muka
memandang tanpa rasa takut sedikitpun kepada Ki Blekok! Dan di sebelah wanita
cantik itu duduk seorang laki-laki yang bukan lain adalah Saptoko.
Tentu saja Ki
Blekok menjadi marah. Dia sudah tahu bahwa Saptoko mengaku sebagai kekasih
Saritem dan pernah pemuda itu dihajarnya. Sekarang pemuda itu masih berani
duduk di samping Saritem dan tidak memperdulikan kedatangannya. Ki Blekok maju
selangkah sehingga mendekati meja dagangan Saritem dan memandang kepada gadis
itu dengan kumis bergerak-gerak dan mata terbelalak.
"Saritem!
Hayo cepat keluar dan masuk ke joli yang sudah kusediakan untukmu!"
bentaknya.
"Ki
Blekok, sejak kapan engkau menganggap aku sebagai calon isterimu? Aku tidak
pernah menerima pinanganmu dan aku tidak suka menjadi isterimu. Jangan ganggu
aku dan pergilah dari sini," kata Saritem dan suaranya sedikitpun tidak
menunjukkan sikap gentar.
"Brakk
... !" Ki Blekok menghantam meja dengan telapak tangannya dan ujung meja
tebal itu menjadi remuk.
"Keluar
dan masuk joli atau aku akan meruntuhkan warung nasi ini dan akan memaksamu dan
menyeretmu keluar!”
"Hem,
sungguh sikap yang amat tidak patut!" terdengar seruan halus.
Ki Blekok
cepat memutar tubuhnya dan baru melihat bahwa di ujung bangku panjang di
sebelahnya duduk dua orang pemuda, yang seorang pemuda remaja yang memandangnya
dengan sikap mengejek dan senyum cengar-cengir, sedangkan yang menegurnya
adalah seorang pemuda ganteng yang bersikap lembut.
"Apa
katamu?" bentak Ki Blekok menghadapi dua orang pemuda yang masih duduk di
bangku itu. Dia marah sekali melihat ada orang berani menegurnya.
"Ki
sanak, aku mengatakan bahwa sikapmu ini sungguh tidak patut dan aku
mengingatkanmu bahwa perbuatan yang tidak patut tentu akan berakibat buruk
terhadap pelakunya sendiri. Engkau akan memetik buah dari pada pohon yang kau
tanam sendiri, karena itu tanamlah pohon yang berguna dan baik demi kebaikanmu
sendiri.”
"Apa
perdulimu dengan perbuatanku? setan alas!" Ki Blekok memaki dan sekali
tangannya bergerak, bangku yang diduduki dua orang pemuda itu telah
ditendangnya.
Joko Waras
dapat meloncat sebelum tendangan tiba, akan tetapi Jayawijaya terpelanting
jatuh. Akan tetapi dia bangkit berdiri lagi dan menghadapi Ki Blekok dengan
sikap sedikitpun tidak merasa takut.
"Ki
sanak, kuperingatkan sekali lagi. Kalau engkau lanjutkan perbuatanmu memaksa
Saritem menjadi isterinya, engkau akan menyesal kelak. Bertaubatlah sekarang
sebelum terlambat!”
"Keparat
kau! Sudah bosan hidup rupanya!" Ki Blekok mengepal tangan kanannya dan
melontarkan pukulan yang keras sekali ke wajah Jayawijaya.
Akan tetapi
pada saat itu, mangkok yang terisi penuh sambal pecel telah melayang dan tepat
mengenai mukanya. Tentu saja ini perbuatan Joko Waras.
"Eh, aupp
... aduh pedas ... !" Ki Blekok megap-megap dan mendesis-desis karena
matanya yang kemasukan sambal pecel terasa pedas dan panas bukan main.
Sambil
meraba-raba dia keluar dari warung nasi itu. Teman-temannya segera datang
menolongnya. Ada yang membersihkan mukanya dari sambal pecel dan ada pula yang
mencari air bersih untuk mencuci muka dan matanya. Akhirnya Ki Blekok dapat
melihat lagi. Mukanya menjadi kemerahan dan dia sudah bertolak pinggang dan
mengamangkan kerisnya ke arah warung sambil membentak.
"Eh, ki
sanak yang berada di warung. Kalau memang engkau laki-laki, keluarlah dan
tandingilah aku, Ki Blekok dari dusun Benang! Jangan berbuat curang seperti
seorang perempuan!”
Suasana
menjadi tegang dan hening setelah dia mengeluarkan tantangan itu dan semua mata
ditujukan ke arah warung itu untuk melihat siapa yang akan keluar melawan Ki
Blekok yang sudah mencabut kerisnya itu. Semua orang terbelalak heran dan juga
khawatir ketika melihat Saptoko keluar dari warung itu dengan langkah satu-satu
dan sikapnya tenang sekali, sebatang suling bamboo terselip di pinggangnya. Di
belakangnya, agak jauh, keluar pula Joko Waras dan Jayawijaya, juga Saritem
ikut keluar dan memandang dengan sinar mata-penuh kekhawatiran kepada
kekasihnya.
"Ki
Blekok! Kalau kedatanganmu untuk memaksa Saritem menjadi isterimu, akulah yang
melarangmu dan akulah yang akan menandingimu!" kata Saptoko dengan kedua
kaki dipentang lebar dan kedua lengan terlipat di depan dada, pandang matanya
bersinar-sinar tertuju ke arah Ki Blekok.
Semua orang
merasa heran dan juga khawatir. Sudah jelas bahwa beberapa hari yang lalu
Saptoko tidak mampu melawan Ki Blekok dan dihajarnya, padahal ketika itu Ki
Blekok hanya menggunakan tangan kosong belaka. Sekarang Ki Blekok memegang
keris pusaka dan Saptoko hendak maju menandinginya? Seperti mencari mati!
"Hua-ha-ha-ha-ha!
Andika yang bernama Saptoko itu, bukan? Tempo hari aku masih menaruh kasihan
kepadamu dan tidak membunuhmu. Sekarang andika berani menantangku lagi? Ingat,
baik-baik, orang muda. Aku adalah Ki Blekok, juara dari dusun Benang gemblengan
yang sakti mandraguna. Kalau andika maju lagi sekali ini andika tentu akan mati
karena aku tidak pernah mau memberi ampun untuk keduakalinya!”
"Wah-wah-wah,
sumbarnya seperti dapat menggugurkan Mahameru! Padahal baru terkena sambal
pecel saja sudah berkaok-kaok seperti kerbau disembelih. Ini yang namanya juara
dan pendekar sambal pecel, sombongnya kepati-pati akan tetapi tidak ada
artinya, gentong kosong dipukul nyaring!" tiba-tiba Joko Waras mengejeknya
dan semua orang mau tidak mau tersenyum karena teringat akan peristiwa tadi
ketika Ki Blekok disiram sambal pecel mukanya.
"Jahanam
keparat! Jadi engkau anak kecil yang tadi melemparku dengan sambal pecel? Mari,
kubunuh dulu engkau baru yang lain!" kata Ki Blekok dan dia sudah hendak
mengejar Joko Waras. Akan tetapi Saptoko menghadangnya.
"Ki
Blekok, karena urusanmu mengenai Saritem, maka tidak ada lain kecuali akulah
lawanmu. Saritem adalah milikku, calon isteriku, dan akulah yang akan
mempertahankan kehormatannya!”
Kini kemarahan
Ki Blekok sudah mencapai puncaknya, apa lagi karena ejekan Joko Waras tadi.
Keris di tangannya gemetar saking marahnya dan dia memandang Saptoko dengan
mata seakan hendak menelannya bulat-bulat.
"Saptoko,
sekarang engkau mampus!" Dia membentak dan seperti seekor biruang dia
sudah menubruk dan menyerangkan kerisnya ke arah dada Saptoko.
Pemuda ini
mengelak ke belakang sambil mencabut sulingnya dan sambil menggeser langkahnya
ke samping dia sudah mengayun sulingnya menusuk ke arah leher lawan. Melihat
pemuda itu menggunakan sebatang suling menusuk lehernya, Ki Blekok menyampok
dengan tangan kirinya dan dia melangkah mundur sambil tertawa.
"Heh,
Saptoko, apakah engkau sudah menjadi gila? Engkau melawan kerisku dengan
sebatang suling bambu? Ha-ha-ha, engkau membuat aku menjadi malu! Gantilah
senjatamu itu, aku segan membunuh orang yang tidak memegang senjata!”
"Babo-babo,
Ki Blekok. Biarpun aku hanya menggunakan suling, akan tetapi jangan harap
engkau akan dapat menang dariku. Majulah, aku akan menandingimu!”
"Hemm,
jangan salahkan aku kalau lehermu kutebas berikut sulingmu!" bentak Ki
Blekok dan diapun menyerang lagi, kini lebih hebat dari tadi, mengerahkan
seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkan saingannya ini secepat
mungkin agar dia dapat segera memboyong Saritem ke dusunnya di mana sudah dipersiapkan
pesta pengantin.
Akan tetapi,
pemuda itu bergerak cepat mengelak dan kadang menangkis kerisnya dan suling itu
sama sekali tidak remuk, atau patah. Bahkan belasan jurus kemudian ujung suling
itu menyerempet urat nadinya, membuat dia hampir melepaskan kerisnya dan selagi
dia kaget, sebuah tendangan kaki Saptoko mengenai perutnya.
"Bukk!!"
Tubuh Ki Blekok terpental ke belakang akan tetapi dia tidak jatuh bahkan
menyerang lebih dahsyat karena dia mendengar orang memuji kemenangan Saptoko
itu.
Saptoko
mainkan ilmu silat sulingnya seperti yang diajarkan Joko Waras. Akan tetapi
karena dia baru berlatih selama lima hari, tentu saja gerakannya belum mahir
benar. Melihat kekurangan ini, Joko Waras diam-diam mengambil sebuah batu
kerikil dan sekali menyentil dengan batu kerikil itu, melesatlah kerikil itu
dan tepat mengenai bawah telinga kiri Ki Blekok. Tak seorangpun mengetahui akan
hal ini dan Ki Blekok tiba-tiba menjerit dan mengaduh lalu tubuhnya terhuyung.
<<< Bagian 51 Bagian 53 >>>
No comments:
Post a Comment