Sepasang Garuda Putih ; Bagian 53


Kesempatan ini dipergunakan oleh Saptoko untuk menotokkan ujung sulingnya pada tekukan siku dari lawan. Tak dapat dicegah lagi, keris itupun terlempar jatuh dan tangan kiri Saptoko, memukul, mengenai leher Ki Blekok dan betapapun kuatnya tubuh Ki Blekok, dia terjungkal juga. Terdengar sorak sorai para pemuda dusun Lentur yang bangkit kembali semangatnya melihat kemenangan mutlak Saptoko atas diri Ki Blekok sehingga timbul kembali keberanian mereka. Akan tetapi Ki Blekok merangkak bangun, mengambil kerisnya dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk mengeroyok Saptoko.
"Hei, jangan main keroyok. Itu tidak adil!" Teriak Jayawijaya.
Akan tetapi Joko Waras sudah melompat ke depan dan berkata kepada para pemuda dusun Lentur.
"Wahai para pemuda dusun Lentur! Apakah kalian akan tinggal diam saja melihat Kakang Saptoko dikeroyok? Hayo maju!" Dan dia sendiri sudah maju dan kaki tangannya bergerak merobohkan dua orang pengeroyok! Ketika dilihatnya Ki Blekok dengan keris di tangan hendak mengeroyok Saptoko pula, Joko Waras segera melompat ke depannya dan menjulurkan lidahnya.
“Ki Blekok pendekar sambal pecel, tidak malukah engkau mengeroyok?”
Melihat pemuda remaja ini mengejeknya, Ki Blekok lalu menubruk dengan kerisnya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Saptoko yang telah mengalahkannya adalah "murid" lima hari pemuda remaja ini. Tubrukannya mengenai tempat kosong dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, kerisnya sudah berpindah tangan karena tangan kanannya menjadi lumpuh. Joko Waras menggunakan keris itu untuk mencoret dua kali ke arah muka Ki Blekok. Ki Blekok menjerit. Mukanya digores ujung keris dua kali sehingga tergores dan berdarah. Kemudian, di depan matanya yang terbelalak ketakutan, dia melihat betapa pemuda remaja itu mematah-matahkan kerisnya dengan jari-jari tangannya yang kecil dan membuang patahan-patahan keris itu ke atas tanah. Dia melihat pula bahwa teman-temannya kini berbalik dikeroyok banyak sekali pemuda Lentur. Melihat pihaknya mengalami kekalahan, Ki Blekok lalu memekik sambil mendesis kesakitan karena mukanya terasa pedih sekali.
"Kawan-kawan, lari ... !”

Ki Blekok dan kawan-kawannya lari lintang pukang, meninggalkan jolinya yang segera dihancurkan para pemuda di situ. Para pemuda itu bersorak gembira melihat kemenangan di pihak mereka dan mereka memuji-muji Saptoko. Biarpun Saptoko merasa bangga dan harga dirinya seolah kembali terangkat, akan tetapi kini dia menyadari tiada gunanya berbangga diri, maka dia lalu berkata,
"Kawan-kawan, dengarkan dulu ceritaku!”
Suara gaduh dari semua orang itu terhenti dan semua orang memandang kepada Saptoko yang menggandeng tangan Saritem.
"Kawan-kawan, kalian tentu merasa heran mengapa sekarang aku dapat menang melawan Ki Blekok. Semua ini berkat pertolongan adimas Joko Waras dan kakangmas Jayawijaya, dua orang penolong dan penyelamat kita. Mari kita haturkan terima kasih kepada mereka!”
Akan tetapi, ke manapun mereka semua mencari-cari, dua orang pemuda itu telah menghilang. Agaknya Joko Waras telah dapat menduga apa yang akan dilakukan Saptoko, maka dia telah menarik tangan Jayawijaya dan diajak pergi secepatnya dari tempat itu tanpa diketahui siapapun. Biarpun kedua orang penolongnya itu sudah tidak ada, Saptoko menceritakan semua pengalamannya kepada mereka. Dia sekarang menjadi seorang yang rendah hati, tidak angkuh lagi dan semua orang makin menyukainya dan mengangkatnyaa sebagai pemimpin para pemuda. Dan sejak saat itu, dusun Lentur menjadi dusun yang terkenal kuat pemudanya, tidak mudah orang dari lain tempat berlaku sewenang-wenang di situ. Saritem juga segera menikah dengan Saptoko, dirayakan orang sedusun.

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon beringin yang besar dan amat tua. Jayawijaya menyusut keringat yang membasahi lehernya. Wajahnya yang tampan itu kemerahan karena sinar matahari yang sudah naik tinggi dan sinarnya mulai panas membakar. Joko Waras memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian dan keheranan?
"Eh, adimas Joko, mengapa engkau memandangi aku seperti itu?" kata Jayawijaya sambil balas memandang.
Joko Waras menghela napas panjang dan bertanya.
"Kakang Jayawiya, benarkah sejak dahulu engkau tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan dan aji kesaktian sama sekali?”
Jayawijaya menggeleng kepalanya.
"Menurut kata ayah, orang yang mempelajari aji kesaktian banyak yang tersesat, mengandalkan aji kesaktiannya untuk memaksakan kehendaknya. Karena itu, aku tidak suka mempelajarinya. Banyak macam ilmu yang lebih patut dipelajari, yakni ilmu-ilmu yang berguna, baik bagi orang lain mau pun bagi diri sendiri. Juga banyak ilmu yang memperindah kehidupan ini, seperti ilmu kesenian, seni tari, seni suara, seni rupa dan masih banyak lagi.”
"Akan tetapi tanpa menguasai seni bela diri engkau sudah diganggu dan dijahati orang, seperti halnya kakang Saptoko itu. Setelah dia mempelajari suatu ilmu silat dariku, baru dia dapat menghalau orang jahat yang hendak merampas Saritem. Kalau dia tidak mempelajari ilmu itu, tentu niat jahat Ki Blekok akan terlaksana dan ketidak adilan terjadi di dusun Lentur itu.”
"Aku tidak percaya akan terjadi hal itu. Buktinya, engkau muncul dan menolongnya. Kemunculanmu itulah yang menolong mereka dan kemunculanmu itulah bentuk perlindungan dari Hyang Widhi. Kalau Hyang Widhi tidak menghendaki suatu kejahatan terjadi, tentu ada saja jalan keluar untuk menanggulanginya.”
"Akan tetapi andaikata kita tidak kebetulan lewat di dusun itu?”
"Juga belum tentu kejahatan itu terjadi. Mungkin Sang Hyang Widhi akan memberikan perlindungan dalam bentuk lain, mungkin saja ada orang lain yang muncul untuk mencegah terjadinya kejahatan itu. Akan tetapi juga mungkin Sang Hyang Widhi sudah menghendaki hal itu terjadi maka pertolongan dari manapun juga tidak akan berhasil menggagalkan peristiwa itu.”
"Wah, kalau begitu sama halnya dengan Sang Hyang Widhi merestui perbuatan jahat!”
"Jangan dinilai demikian, adi Joko. Rencana dan keputusan Sang Hyang Widhi merupakan rahasia besar bagi kita. Kita hanya dapat tunduk dan menyerah dengan penuh kesadaran dan kepercayaan bahwa apapun yang dikehendaki Hyang Widhi pasti terjadi dan kejadian itu tidak dapat dinilai baik atau buruk, melainkan itulah kenyataan atau kebenaran yang bebas dari pada pendapat baik dan buruk, benar dan salah.”
"Walah, aku jadi pening kalau begini, kakang Jayawijaya. Sungguh banyak aku mendengar tentang ilmu kehidupan, akan tetapi seperti yang kau gambarkan tadi sungguh membingungkan hatiku. Katanya Gusti itu Maha Suci, Maha Murah dan Maha Adil. Akan tetapi kalau sampai membiarkan seorang laki-laki memaksa seorang wanita menjadi isterinya dan tidak ada yang menolong wanita itu, mana itu dapat dibilang adil?”
"Dalam hal keadilan pun, Keadilan Sang Hyang Widhi sama sekali tidak bisa diukur dengan keadilan anggapan manusia. Anggapan manusia itu selalu berpamrih. Manusia baru menganggap adil kalau keadilan itu menguntungkan dirinya, karena itu keadilan versi manusia ini di mana-mana bertabrakan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Keadilan Sang Hyang Widhi itu maha luas dan tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Karena itu, satu-satunya sikap kita adalah menerima bahwa segala sesuatu yang terjadi itu telah dikehendaki oleh Hyang Widhi dan itu sudah benar dan adil.”
"Kalau begitu, kita tinggal diam saja dan tidak melakukan apa-apa, menyerahkan saja kepada kekuasaan Tuhan untuk bertindak?”
"Sama sekali salah! Sang Hyang Widhi telah menciptakan kita dengan serba sempurna dan lengkap, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk mempergunakan segala kesempurnaan ini di dalam kehidupan. Untuk menjaga diri, untuk mempertahankan hidup ini, untuk menikmati kebahagiaan dalam kehidupan dan sudah menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk berusaha membela kebenaran dan keadilan umum untuk menentang tindak kejahatan."
"Jadi kita harus berusaha. Kalau usaha kita itu gagal, kita lalu menyerahkan kepada keputusan Sang Hyang Widhi?”
"Begitulah, adi Joko. Ada dongeng yang indah sekali tentang hal itu."
"Dongeng? Coba ceritakan kakang. Aku suka mendengar dongeng yang indah-indah.”

"Di jaman dahulu hidup seorang janda bersama seorang anaknya. Mereka hanya hidup berdua saja dan tidaklah aneh kalau janda itu amat mencinta puteranya. Janda itu hidup saleh dan beribadah, tak pernah lupa bersembahyang untuk mohon doa restu dari Sang Hyang Widhi. Pada suatu hari ketika ia sedang mencari kayu bakar bersama puteranya yang berusia lima tahun itu, muncul seekor harimau yang menerkam puteranya sehingga anak itu tewas dengan tubuh penuh luka. Janda itu merasa hancur hatinya dan ia merasa bahwa Hyang Widhi tidak adil. Mengapa bukan ia yang diterkam harimau, melainkan puteranya yang sama sekali belum mengenal dosa? Dengan tekad besar seorang ibu yang kehilangan anaknya iapun ke Suralaya, tempat tinggal para dewata untuk memohon agar diperkenankan menghadap Sang Hyang Widhi untuk menyampaikan protesnya, ia diterima oleh kepala dewa dan ketika janda itu menyampaikan permohonan dan ulasannya, kepala dewa berkata kepadanya,
“Nyi Rondo, tidak begitu mudah untuk dapat menghadap Sang Hyang Widhi. Sebelum andika menghadap beliau, marilah lebih dulu andika melihat layar masa depan, setelah itu baru andika tentukan apakah andika ingin menghadap Hyang Widhi ataukah tidak.”
"Janda itu menurut saja diajak ke sebuah taman. Dari taman yang letaknya tinggi itu ia dapat melihat kota-kota dan pedusunan terbentang luas di hadapannya. Kemudian, ia melihat seorang pemuda menunggang kuda dan pemuda itu dengan buasnya membunuhi banyak orang sambil merampasi barang-barang berharga. Pemuda itu kuat sekali, siapa yang maju melawannya tentu dibunuhnya dan dia tidak pandang bulu dalam pembunuhan yang semena-mena itu. Wanita dan kanak-kanak juga dibunuhnya secara kejam sekali, melihat ini, janda yang lembut hati itu tidak tega menyaksikan lebih lama lagi. Ia menutupi kedua matanya dan mengeluh,
“Aduh Gusti, untuk apa saya harus melihat segala kekejaman yang tiada taranya ini? Apa hubungannya dengan permohonan saya agar anak saya yang terkasih itu dihidupkan kembali.”
Kepala Dewa yang menyertainya segera menutup layar masa depan itu dan berkata,
“Nyi Rondo, ketahuilah bahwa anak muda itu bukan lain adalah puteramu sendiri setelah menjadi dewasa. Karena andika seorang yang hidup saleh dan beribadah amal, maka Sang Hyang Widhi tidak tega untuk menghancurkan perasaan hatimu menyaksikan apa yang akan terjadi dengan puteramu setelah dewasa. Karena itulah maka selagi masih kecil puteramu dimatikan, agar andika terbebas dari derita bathin yang maha hebat. Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah engkau masih ingin menghadap Sang Hyang Widhi untuk minta agar puteramu itu dihidupkan kembali?”
"Sambil bercucuran air mata, janda itu menggeleng kepalanya kuat-kuat dan menjerit,
"Tidak! Biarkan anak itu mati. Aku tidak ingin melihat dia menjadi dewasa dan jahat seperti itu. Kini mengertilah aku mengapa Sang Hyang Widhi mematikannya. Segala kehendak Sang Hyang Widhi terjadilah karena kehendakNya selalu benar!”

Jayawijaya berhenti mendongeng dan memandang kepada Joko Waras.
"Nah, demikianlah dongengnya, adi Joko. Banyak peristiwa di dunia ini terjadi yang tampak bagi pandangan manusia tidak adil sama sekali. Akan tetapi manusia tidak tahu apa yang tersembunyi di balik itu semua.”
Joko Waras menghela napas panjang.
"Ahhh, aku mengerti sekarang apa yang kau maksudkan, kakang Jaya. Jadi engkau dalam kehidupan ini berikhtiar sekuat tenagamu, dengan landasan penyerahan kepada kehendak Sang Hyang Widhi, dan akan menerima segala yang terjadi dengan ikhlas! Dan agaknya dengan bekal senjata seperti itu engkau berani menentang kejahatan dan berani pula menentang orang-orang sakti!”
"Aku bukan menentang orangnya, melainkan perbuatannya yang jahat. Tidak mungkin aku membiarkan perbuatan jahat dilakukan orang di depan mataku tanpa aku berusaha untuk mencegahnya.”
"Kakang Jayawijaya, kita sudah menjadi sahabat baik akan tetapi aku belum mengenal riwayatmu. Maukah engkau menceritakan, siapa orang tuamu dimana engkau tinggal dan sekarang ini engkau hendak pergi ke mana dan apa yang sedang dan hendak kaulakukan?”
Menghadapi hujan pertanyaan itu, wajah yang selalu lembut itu tersenyum.
"Adi Joko, engkau sudah tahu bahwa namaku adalah Jayawijaya. Aku berasal dari Tengger di mana ayahku menjadi sesepuh perkampungan Tengger. Ayah bernama Panji Kelana dan hidup di Tengger sebagai pertapa dan sesepuh. Banyak orang berguru kepada ayah, akan tetapi banyak pula yang kecewa karena ayah tidak mengajarkan apa-apa kecuali ilmu menyerah dengan mutlak kepada kekuasaan Hyang Widhi seperti yang kuterangkan kepadamu tadi. Ibuku sudah tiada dan aku meninggalkan Tengger atas perintah ayah agar aku mencari pengalaman hidup berkecimpung di dunia ramai. Akan tetapi ayah berpesan agar aku selalu membela kebenaran dan keadilan karena orang yang membela kebenaran dan keadilan, yang menentang tindak kejahatan adalah orang yang akan selalu dilindungi oleh kekuasaan Hyang Widhi. Dan orang yang merasa yakin bahwa dirinya dilindungi kekuasaan Hyang Widhi, tidak takut menghadapi ancaman yang bagaimanapun juga.”

<<< Bagian 52                                                                                         Bagian 54 >>>

No comments:

Post a Comment