Kesempatan ini dipergunakan oleh Saptoko untuk menotokkan ujung sulingnya pada tekukan siku dari lawan. Tak dapat dicegah lagi, keris itupun terlempar jatuh dan tangan kiri Saptoko, memukul, mengenai leher Ki Blekok dan betapapun kuatnya tubuh Ki Blekok, dia terjungkal juga. Terdengar sorak sorai para pemuda dusun Lentur yang bangkit kembali semangatnya melihat kemenangan mutlak Saptoko atas diri Ki Blekok sehingga timbul kembali keberanian mereka. Akan tetapi Ki Blekok merangkak bangun, mengambil kerisnya dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk mengeroyok Saptoko.
"Hei,
jangan main keroyok. Itu tidak adil!" Teriak Jayawijaya.
Akan tetapi
Joko Waras sudah melompat ke depan dan berkata kepada para pemuda dusun Lentur.
"Wahai
para pemuda dusun Lentur! Apakah kalian akan tinggal diam saja melihat Kakang
Saptoko dikeroyok? Hayo maju!" Dan dia sendiri sudah maju dan kaki
tangannya bergerak merobohkan dua orang pengeroyok! Ketika dilihatnya Ki Blekok
dengan keris di tangan hendak mengeroyok Saptoko pula, Joko Waras segera
melompat ke depannya dan menjulurkan lidahnya.
“Ki Blekok
pendekar sambal pecel, tidak malukah engkau mengeroyok?”
Melihat pemuda
remaja ini mengejeknya, Ki Blekok lalu menubruk dengan kerisnya. Tentu saja dia
tidak tahu bahwa Saptoko yang telah mengalahkannya adalah "murid"
lima hari pemuda remaja ini. Tubrukannya mengenai tempat kosong dan sebelum dia
tahu apa yang terjadi, kerisnya sudah berpindah tangan karena tangan kanannya
menjadi lumpuh. Joko Waras menggunakan keris itu untuk mencoret dua kali ke
arah muka Ki Blekok. Ki Blekok menjerit. Mukanya digores ujung keris dua kali
sehingga tergores dan berdarah. Kemudian, di depan matanya yang terbelalak
ketakutan, dia melihat betapa pemuda remaja itu mematah-matahkan kerisnya
dengan jari-jari tangannya yang kecil dan membuang patahan-patahan keris itu ke
atas tanah. Dia melihat pula bahwa teman-temannya kini berbalik dikeroyok
banyak sekali pemuda Lentur. Melihat pihaknya mengalami kekalahan, Ki Blekok
lalu memekik sambil mendesis kesakitan karena mukanya terasa pedih sekali.
"Kawan-kawan,
lari ... !”
Ki Blekok dan
kawan-kawannya lari lintang pukang, meninggalkan jolinya yang segera dihancurkan
para pemuda di situ. Para pemuda itu bersorak gembira melihat kemenangan di
pihak mereka dan mereka memuji-muji Saptoko. Biarpun Saptoko merasa bangga dan
harga dirinya seolah kembali terangkat, akan tetapi kini dia menyadari tiada
gunanya berbangga diri, maka dia lalu berkata,
"Kawan-kawan,
dengarkan dulu ceritaku!”
Suara gaduh
dari semua orang itu terhenti dan semua orang memandang kepada Saptoko yang
menggandeng tangan Saritem.
"Kawan-kawan,
kalian tentu merasa heran mengapa sekarang aku dapat menang melawan Ki Blekok.
Semua ini berkat pertolongan adimas Joko Waras dan kakangmas Jayawijaya, dua
orang penolong dan penyelamat kita. Mari kita haturkan terima kasih kepada
mereka!”
Akan tetapi,
ke manapun mereka semua mencari-cari, dua orang pemuda itu telah menghilang.
Agaknya Joko Waras telah dapat menduga apa yang akan dilakukan Saptoko, maka
dia telah menarik tangan Jayawijaya dan diajak pergi secepatnya dari tempat itu
tanpa diketahui siapapun. Biarpun kedua orang penolongnya itu sudah tidak ada, Saptoko
menceritakan semua pengalamannya kepada mereka. Dia sekarang menjadi seorang
yang rendah hati, tidak angkuh lagi dan semua orang makin menyukainya dan
mengangkatnyaa sebagai pemimpin para pemuda. Dan sejak saat itu, dusun Lentur
menjadi dusun yang terkenal kuat pemudanya, tidak mudah orang dari lain tempat
berlaku sewenang-wenang di situ. Saritem juga segera menikah dengan Saptoko,
dirayakan orang sedusun.
Mereka
berhenti di bawah sebatang pohon beringin yang besar dan amat tua. Jayawijaya
menyusut keringat yang membasahi lehernya. Wajahnya yang tampan itu kemerahan
karena sinar matahari yang sudah naik tinggi dan sinarnya mulai panas membakar.
Joko Waras memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian dan keheranan?
"Eh,
adimas Joko, mengapa engkau memandangi aku seperti itu?" kata Jayawijaya
sambil balas memandang.
Joko Waras
menghela napas panjang dan bertanya.
"Kakang
Jayawiya, benarkah sejak dahulu engkau tidak pernah mempelajari ilmu
kadigdayaan dan aji kesaktian sama sekali?”
Jayawijaya menggeleng
kepalanya.
"Menurut
kata ayah, orang yang mempelajari aji kesaktian banyak yang tersesat,
mengandalkan aji kesaktiannya untuk memaksakan kehendaknya. Karena itu, aku
tidak suka mempelajarinya. Banyak macam ilmu yang lebih patut dipelajari, yakni
ilmu-ilmu yang berguna, baik bagi orang lain mau pun bagi diri sendiri. Juga
banyak ilmu yang memperindah kehidupan ini, seperti ilmu kesenian, seni tari,
seni suara, seni rupa dan masih banyak lagi.”
"Akan
tetapi tanpa menguasai seni bela diri engkau sudah diganggu dan dijahati orang,
seperti halnya kakang Saptoko itu. Setelah dia mempelajari suatu ilmu silat
dariku, baru dia dapat menghalau orang jahat yang hendak merampas Saritem.
Kalau dia tidak mempelajari ilmu itu, tentu niat jahat Ki Blekok akan terlaksana
dan ketidak adilan terjadi di dusun Lentur itu.”
"Aku
tidak percaya akan terjadi hal itu. Buktinya, engkau muncul dan menolongnya.
Kemunculanmu itulah yang menolong mereka dan kemunculanmu itulah bentuk
perlindungan dari Hyang Widhi. Kalau Hyang Widhi tidak menghendaki suatu
kejahatan terjadi, tentu ada saja jalan keluar untuk menanggulanginya.”
"Akan
tetapi andaikata kita tidak kebetulan lewat di dusun itu?”
"Juga
belum tentu kejahatan itu terjadi. Mungkin Sang Hyang Widhi akan memberikan
perlindungan dalam bentuk lain, mungkin saja ada orang lain yang muncul untuk
mencegah terjadinya kejahatan itu. Akan tetapi juga mungkin Sang Hyang Widhi
sudah menghendaki hal itu terjadi maka pertolongan dari manapun juga tidak akan
berhasil menggagalkan peristiwa itu.”
"Wah,
kalau begitu sama halnya dengan Sang Hyang Widhi merestui perbuatan jahat!”
"Jangan
dinilai demikian, adi Joko. Rencana dan keputusan Sang Hyang Widhi merupakan
rahasia besar bagi kita. Kita hanya dapat tunduk dan menyerah dengan penuh
kesadaran dan kepercayaan bahwa apapun yang dikehendaki Hyang Widhi pasti
terjadi dan kejadian itu tidak dapat dinilai baik atau buruk, melainkan itulah
kenyataan atau kebenaran yang bebas dari pada pendapat baik dan buruk, benar
dan salah.”
"Walah,
aku jadi pening kalau begini, kakang Jayawijaya. Sungguh banyak aku mendengar
tentang ilmu kehidupan, akan tetapi seperti yang kau gambarkan tadi sungguh
membingungkan hatiku. Katanya Gusti itu Maha Suci, Maha Murah dan Maha Adil.
Akan tetapi kalau sampai membiarkan seorang laki-laki memaksa seorang wanita
menjadi isterinya dan tidak ada yang menolong wanita itu, mana itu dapat
dibilang adil?”
"Dalam
hal keadilan pun, Keadilan Sang Hyang Widhi sama sekali tidak bisa diukur
dengan keadilan anggapan manusia. Anggapan manusia itu selalu berpamrih.
Manusia baru menganggap adil kalau keadilan itu menguntungkan dirinya, karena
itu keadilan versi manusia ini di mana-mana bertabrakan sesuai dengan
kepentingan masing-masing. Keadilan Sang Hyang Widhi itu maha luas dan tidak terjangkau
oleh akal pikiran manusia. Karena itu, satu-satunya sikap kita adalah menerima
bahwa segala sesuatu yang terjadi itu telah dikehendaki oleh Hyang Widhi dan
itu sudah benar dan adil.”
"Kalau
begitu, kita tinggal diam saja dan tidak melakukan apa-apa, menyerahkan saja
kepada kekuasaan Tuhan untuk bertindak?”
"Sama
sekali salah! Sang Hyang Widhi telah menciptakan kita dengan serba sempurna dan
lengkap, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk mempergunakan
segala kesempurnaan ini di dalam kehidupan. Untuk menjaga diri, untuk
mempertahankan hidup ini, untuk menikmati kebahagiaan dalam kehidupan dan sudah
menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk berusaha membela kebenaran dan
keadilan umum untuk menentang tindak kejahatan."
"Jadi
kita harus berusaha. Kalau usaha kita itu gagal, kita lalu menyerahkan kepada
keputusan Sang Hyang Widhi?”
"Begitulah,
adi Joko. Ada dongeng yang indah sekali tentang hal itu."
"Dongeng?
Coba ceritakan kakang. Aku suka mendengar dongeng yang indah-indah.”
"Di jaman
dahulu hidup seorang janda bersama seorang anaknya. Mereka hanya hidup berdua
saja dan tidaklah aneh kalau janda itu amat mencinta puteranya. Janda itu hidup
saleh dan beribadah, tak pernah lupa bersembahyang untuk mohon doa restu dari
Sang Hyang Widhi. Pada suatu hari ketika ia sedang mencari kayu bakar bersama
puteranya yang berusia lima tahun itu, muncul seekor harimau yang menerkam
puteranya sehingga anak itu tewas dengan tubuh penuh luka. Janda itu merasa
hancur hatinya dan ia merasa bahwa Hyang Widhi tidak adil. Mengapa bukan ia
yang diterkam harimau, melainkan puteranya yang sama sekali belum mengenal
dosa? Dengan tekad besar seorang ibu yang kehilangan anaknya iapun ke Suralaya,
tempat tinggal para dewata untuk memohon agar diperkenankan menghadap Sang
Hyang Widhi untuk menyampaikan protesnya, ia diterima oleh kepala dewa dan
ketika janda itu menyampaikan permohonan dan ulasannya, kepala dewa berkata
kepadanya,
“Nyi Rondo,
tidak begitu mudah untuk dapat menghadap Sang Hyang Widhi. Sebelum andika
menghadap beliau, marilah lebih dulu andika melihat layar masa depan, setelah
itu baru andika tentukan apakah andika ingin menghadap Hyang Widhi ataukah
tidak.”
"Janda
itu menurut saja diajak ke sebuah taman. Dari taman yang letaknya tinggi itu ia
dapat melihat kota-kota dan pedusunan terbentang luas di hadapannya. Kemudian,
ia melihat seorang pemuda menunggang kuda dan pemuda itu dengan buasnya
membunuhi banyak orang sambil merampasi barang-barang berharga. Pemuda itu kuat
sekali, siapa yang maju melawannya tentu dibunuhnya dan dia tidak pandang bulu
dalam pembunuhan yang semena-mena itu. Wanita dan kanak-kanak juga dibunuhnya
secara kejam sekali, melihat ini, janda yang lembut hati itu tidak tega
menyaksikan lebih lama lagi. Ia menutupi kedua matanya dan mengeluh,
“Aduh Gusti,
untuk apa saya harus melihat segala kekejaman yang tiada taranya ini? Apa
hubungannya dengan permohonan saya agar anak saya yang terkasih itu dihidupkan
kembali.”
Kepala Dewa
yang menyertainya segera menutup layar masa depan itu dan berkata,
“Nyi Rondo,
ketahuilah bahwa anak muda itu bukan lain adalah puteramu sendiri setelah
menjadi dewasa. Karena andika seorang yang hidup saleh dan beribadah amal, maka
Sang Hyang Widhi tidak tega untuk menghancurkan perasaan hatimu menyaksikan apa
yang akan terjadi dengan puteramu setelah dewasa. Karena itulah maka selagi
masih kecil puteramu dimatikan, agar andika terbebas dari derita bathin yang
maha hebat. Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah engkau masih ingin
menghadap Sang Hyang Widhi untuk minta agar puteramu itu dihidupkan kembali?”
"Sambil
bercucuran air mata, janda itu menggeleng kepalanya kuat-kuat dan menjerit,
"Tidak!
Biarkan anak itu mati. Aku tidak ingin melihat dia menjadi dewasa dan jahat
seperti itu. Kini mengertilah aku mengapa Sang Hyang Widhi mematikannya. Segala
kehendak Sang Hyang Widhi terjadilah karena kehendakNya selalu benar!”
Jayawijaya
berhenti mendongeng dan memandang kepada Joko Waras.
"Nah,
demikianlah dongengnya, adi Joko. Banyak peristiwa di dunia ini terjadi yang
tampak bagi pandangan manusia tidak adil sama sekali. Akan tetapi manusia tidak
tahu apa yang tersembunyi di balik itu semua.”
Joko Waras
menghela napas panjang.
"Ahhh,
aku mengerti sekarang apa yang kau maksudkan, kakang Jaya. Jadi engkau dalam
kehidupan ini berikhtiar sekuat tenagamu, dengan landasan penyerahan kepada
kehendak Sang Hyang Widhi, dan akan menerima segala yang terjadi dengan ikhlas!
Dan agaknya dengan bekal senjata seperti itu engkau berani menentang kejahatan
dan berani pula menentang orang-orang sakti!”
"Aku
bukan menentang orangnya, melainkan perbuatannya yang jahat. Tidak mungkin aku
membiarkan perbuatan jahat dilakukan orang di depan mataku tanpa aku berusaha
untuk mencegahnya.”
"Kakang
Jayawijaya, kita sudah menjadi sahabat baik akan tetapi aku belum mengenal
riwayatmu. Maukah engkau menceritakan, siapa orang tuamu dimana engkau tinggal
dan sekarang ini engkau hendak pergi ke mana dan apa yang sedang dan hendak
kaulakukan?”
Menghadapi
hujan pertanyaan itu, wajah yang selalu lembut itu tersenyum.
"Adi
Joko, engkau sudah tahu bahwa namaku adalah Jayawijaya. Aku berasal dari
Tengger di mana ayahku menjadi sesepuh perkampungan Tengger. Ayah bernama Panji
Kelana dan hidup di Tengger sebagai pertapa dan sesepuh. Banyak orang berguru
kepada ayah, akan tetapi banyak pula yang kecewa karena ayah tidak mengajarkan
apa-apa kecuali ilmu menyerah dengan mutlak kepada kekuasaan Hyang Widhi
seperti yang kuterangkan kepadamu tadi. Ibuku sudah tiada dan aku meninggalkan
Tengger atas perintah ayah agar aku mencari pengalaman hidup berkecimpung di
dunia ramai. Akan tetapi ayah berpesan agar aku selalu membela kebenaran dan
keadilan karena orang yang membela kebenaran dan keadilan, yang menentang
tindak kejahatan adalah orang yang akan selalu dilindungi oleh kekuasaan Hyang
Widhi. Dan orang yang merasa yakin bahwa dirinya dilindungi kekuasaan Hyang
Widhi, tidak takut menghadapi ancaman yang bagaimanapun juga.”
<<< Bagian 52 Bagian 54 >>>
No comments:
Post a Comment