"Jadi engkau sekarang sedang dalam perjalanan merantau untuk meluaskan pengalaman hidupmu?”
"Benar,
adi Joko.”
"Wah,
kalau begitu tentu banyak sekali yang kaualami dan apakah engkau tidak pernah
bertemu dengan orang-orang jahat yang mencoba untuk mengganggumu?”
"Banyak
aku bertemu dengan orang-orang yang menjadi hamba nafsunya dan mereka berusaha
untuk mencelakai aku, akan tetapi berkat perlindungan kekuasaan Hyang Widhi,
selalu ada saja jalan keluar bagiku dan sehingga kini aku masih dalam keadaan
sehat dan selamat. Yang memprihatinkan hatiku adanya banyak orang jahat yang
hendak memaksa rakyat berganti agama sesat. Kalau hal ini dibiarkan, amat berbahaya
sekali. Rakyat diajar untuk menjadi bodoh dan menjadi hamba nafsu daya rendah
yang akan menyeret mereka ke jurang kegelapan.”
Joko Waras
membelalakkan matanya.
"Ah,
engkau tahu juga akan hal itu? Apakah engkau tahu juga bahwa para pimpinan
agama baru itu memimpin rakyat untuk membangun candi-candi Trimurti yang lama?
Apakah engkau tahu juga apakah agama baru itu?”
"Aku
mengerti. Aku pernah bertemu dengan Wasi Karangwolo yang memimpin pembuatan
candi yang menyembah Shiwa, Durga dan Kala. Aku pernah menegurnya karena dia
memaksakan agama baru kepada rakyat pedusunan.”
Joko Waras
tahu bahwa Wasi Karangwolo tentu seorang pemimpin agama baru yang sakti, maka
tanyanya,
"Dan apa
yang diperbuat olehnya kepadamu, kakang Jaya?"
“Dia berusaha
membunuhku, lalu menawanku, akan tetapi akhirnya aku dapat lolos juga, berkat
pertolongan seorang bibi yang sakti mandraguna."
"Siapa
nama bibi itu?" tanya Joko Waras ingin sekali tahu.
"Bibi itu
adalah Endang Patibroto, isteri Ki Patih Tejolaksono dari Kerajaan Panjalu.
Orangnya hebat sekali, cantik jelita, gagah perkasa dan sakti mandraguna. Akan
tetapi sayang ... ”
"Sayang?
Kenapa, kakang?" Tanya Joko Waras dengan jantung berdebar. Orang sedang
membicarakan ibu kandungnya!
"Sayang
bahwa dia terlalu ganas. Sepak terjangnya seperti seekor burung rajawali yang
tidak mengenal ampun. Aku ngeri menyaksikan sepak terjangnya.”
"Bagi
seorang ksatria, kalau bertemu dengan orang-orang jahat, dia tentu akan turun
tangan membasminya, kakang. Itu bukan ganas namanya, melainkan adil.”
"Hemm,
engkau boleh menganggap demikian, akan tetapi aku tidak, adi Joko. Betapa
jahatpun seorang manusia, dia harus diberi kesempatan untuk bertaubat dan
kembali menjadi orang baik-baik. Sekarang ganti engkau, adi Joko. Ceritakanlah
keadaan dirimu kepadaku. Aku merasa amat kagum dan juga heran melihat engkau,
adi Joko.”
"Mengapa
heran? Apakah keadaan diriku mengherankan dan aneh, kakang? Bukankah aku
seorang pemuda biasa seperti yang lain?”
"Sama
sekali tidak biasa! Engkau seorang pemuda remaja yang aneh sekali. Bayangkan
saja. Usiamu masih begini muda, paling banyak tujuhbelas tahun.”
"Walah!
Aku sudah duapuluh tahun, kakang!”
"Benarkah?
Akan tetapi engkau tampak jauh lebih muda dan semuda ini engkau telah memiliki
aji kesaktian yang hebat. Nah, ceritakanlah riwayatmu, adi Joko. Riwayatmu
tentu juga hebat sekali. Siapa orang tuamu? Siapa gurumu dari mana engkau
berasal dan hendak pergi ke mana?”
Joko Waras
tersenyum. Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa ia merasa begitu dekat
dengan pemuda ini. Perasaan hatinya begitu senang dan aman berdekatan dengan
Jayawijaya.
"Sudah
kukatakan, namaku Joko Waras dari pegunungan Kidul di barat sana. Kedua orang
tuaku masih hidup dan yang menjadi guruku adalah mendiang Nini Bumigarbo yang
tentu saja tidak kau kenal. Seperti juga engkau, aku pergi merantau untuk
menambah pengalaman dan pengetahuan, akan tetapi aku tidak pergi seorang diri.
Aku pergi berdua dengan seorang kakakku yang bernama Joko Slamet. Dalam
perjalanan kami selalu memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran dan
keadilan.”
Jayawijaya
memandang tajam, dan bertanya,
"Di mana
sekarang kakakmu itu? Dia tentu seorang yang sakti mandraguna pula.”
"Dibandingkan
dengan dia, maka kepandaianku tidak ada artinya, kakang. Kakakku itu selain
sakti mandraguna, juga bijaksana dan aku tanggung kalau bertemu dan
bercakap-cakap dengan dia, engkau tentu akan merasa akrab dan cocok sekali.
Banyak kemiripan di antara kalian berdua, hanya bedanya dia memiliki kesaktian
dan engkau tidak. Kami sengaja berpencar dan kami berdua memasuki kadipaten
Blambangan dengan mengambil jalan masing-masing untuk bertemu kelak di
Blambangan.”
Setelah
berkata demikian, Joko Waras memandang Jayawijaya dan melihat betapa pemuda itu
memejamkan kedua matanya seperti orang bersamadhi. Ia merasa heran, akan tetapi
mendiamkan saja, dan akhirnya menjadi kesal dan menegur,
"Kakang
Jayawijaya, aku bercerita seperti burung berkicau tiada hentinya, dan engkau
malah tertidur pulas!"
Jayawijaya
membuka matanya dan melihat Joko Waras marah-marah, dia tersenyum lalu berkata
dengan sabar dan lembut,
"Adi
Waras, aku sama sekali tidak tidur nyenyak, aku mendengarkan semua ceritamu.
Ceritamu mengingatkan aku kepada Bibi Endang Patibroto.”
"Ehh?
Kenapa engkau tiba-tiba teringat kepadanya, kakang Jaya?" Joko Waras menatap
tajam wajah pemuda itu, penuh selidik.
"Bibi
Endang Patibroto menceritakan kepadaku bahwa ia mencari kedua orang anaknya,
seorang laki-laki bernama Bagus Seta dan anak perempuan bernama Retna Wilis.
Menurut Bibi Endang Patibroto, kedua orang putera-puterinya itu memiliki
kesaktian, oleh karena itu, bertemu dengan andika dan mendengar tentang kakak
andika, aku teringat akan cerita Bibi Endang Patibroto itu. Alangkah cocoknya
kalau andika dan kakak andika menjadi anak-anaknya. Akan tetapi, menurut ceritanya,
kedua anaknya itu adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan, sedangkan
andika dan kakak andika keduanya laki-laki.”
Joko Waras
menelan ludahnya untuk menenteramkan hatinya yang sempat berdebar.
"Akan
tetapi engkau melihat sendiri bahwa aku dan kakakku keduanya adalah laki-laki,
kakang Jaya.”
"Itulah
yang membuat aku tadi seperti melamun karena menurut penilaianku, engkau dan
kakakmu itu sungguh pantas menjadi putera-putera Bibi Endang Patibroto."
"Sudahlah,
jangan membayangkan yang bukan-bukan, kakang Jaya. Sekarang aku hendak
bertanya, engkau hendak melanjutkan perjalanan ke mana, kakang?"
"Ke mana
saja hati dan kakiku membawanya, Adi Waras. Aku tertarik sekali mendengar
ceritamu tadi. Engkau dan kakakmu berpencar memasuki Blambangan. Kalau boleh
aku mengetahui, apa yang hendak kalian lakukan di Blambangan?”
"Kami
berdua hendak menyelidiki keadaan di Blambangan, kakang. Kami mendengar bahwa
Blambangan dan Nusabarung sedang menghimpun kekuatan untuk memusuhi Jenggala
dan Panjalu, dan juga kami telah melihat ada usaha untuk meracuni rakyat
Jenggala dengan pemujaan agama baru. Sebagai seorang kawula Panjalu, tentu saja
kami tidak rela melihat hal ini. Kami akan melakukan penyelidikan di Blambangan
untuk kemudian kami laporkan kepada Kerajaan Panjalu.”
"Wah,
kalau begitu andika adalah seorang telik sandi (mata-mata) yang dikirim Panjalu
untuk menyelidiki keadaan di Nusabarung dan Blambangan?”
"Bukan
telik sandi yang dikirimkan pemerintah. Kami kakak beradik tadinya hanya hendak
merantau dan meluaskan pengalaman menambah pengetahuan. Setelah tiba di sini
kami melihat kenyataan-kenyataan yang membahayakan Panjalu dan Jenggala. Maka,
secara suka rela kami melakukan penyelidikan, bukan sebagai utusan Panjalu atau
Jenggala.”
Jayawijaya
mengangguk-angguk.
"Aku
mengerti dan hal itu sungguh menarik hati sekali. Tujuan andika berdua amat
baik dan sekiranya andika tidak berkeberatan, aku-pun suka untuk memasuki
Blambangan dan ikut pula mencegah agar para pemuja Shiwa Durgo-Kala itu tidak
menyesatkan orang-orang dengan agama baru mereka.”
"Akan
tetapi perjalanan ini berbahaya sekali, kakang Jaya. Para pemimpin agama baru
itu merupakan orang-orang sakti yang tentu akan membunuhmu kalau mereka
mengetahui bahwa engkau menentang niat mereka.”
Jayawijaya
tersenyum.
"Sudah
kukatakan berkali-kali bahwa aku berlindung di dalam Kekuasaan Hyang Widhi, aku
tidak takut ancaman yang bagaimanapun juga. Kalau Gusti Yang Maha Kuasa telah
menentukan bahwa aku harus mati, akupun tidak akan berkeberatan atau menyesal.
Sebaliknya, kalau Yang Maha Kuasa belum menghendaki aku mati, ancaman dari
manapun juga datangnya tidak akan mampu membunuhku.”
"Begitu
tebalkah keyakinanmu, kakang?”
"Setebal
bumi, Adi Waras.”
"Baiklah
kalau begitu, Kakang Jaya. Semoga keyakinan dan imanmu akan benar-benar
mendatangkan perlindungan bagi dirimu dari Hyang Widhi, kalau-kalau aku tidak
mampu melindungimu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kita harus
berhati-hati karena ini sudah dekat dengan tapal batas Kadipaten Blambangan.”
Matahari telah
naik tinggi, tengah hari telah lewat ketika mereka tiba di perbatasan Kadipaten
Blambangan. Dari sebuah lereng bukit mereka melihat bahwa di depan terdapat
sebuah dusun, masih agak jauh hanya tampak gentengnya saja. Karena mereka
merasa haus, maka melihat dusun ini mendatangkan semangat kepada mereka
sehingga mereka berjalan lebih cepat agar segera tiba di dusun itu untuk
mencari minuman pelepas haus. Tiba-tiba saja muncul seorang kakek di depan
mereka, menghadang jalan. Joko Waras menahan langkahnya, diturut oleh Jayawijaya
dan mereka memandang kakek itu penuh perhatian. Dia seorang kakek yang usianya
kurang lebih enampuluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang sedang besarnya
itu tampak masih tegak dan kokoh. Walaupun gerak geriknya lembut, namun di
balik kelembutan itu bersembunyi kekuatan yang dahsyat. Dia memakai jubah
sederhana berwarna kuning seperti yang biasa dipakai para pendeta. Rambutnya
sudah berwarna dua, namun jenggot dan kumisnya sudah putih semua. Tangan
kirinya memegang sebatang tongkat berkepala naga yang panjangnya sama dengan
tinggi badannya. Melihat dua orang muda itu, kakek itu tersenyum lebar dan
mengangkat tangan kanannya ke atas kepala seperti orang melambai.
"Dua
orang muda, perlahan dulu! Siapakah andika berdua dan hendak memasuki wilayah
Blambangan ada keperluan apakah?”
Pertanyaan itu
dilakukan dengan suara halus. Akan tetapi Joko Waras yang melihat pendeta itu
dapat menduga bahwa dia bukanlah seorang pendeta yang hidup suci, dapat ia
lihat dari sinar matanya yang mengandung kekejaman. Maka, sebelum Jayawijaya
menjawab, dia mendahului,
"Kakek,
minggirlah dan beri kami jalan. Kami adalah orang-orang muda yang sedang
mengembara, tidak mempunyai urusan denganmu. Minggirlah!”
Akan tetapi
mendadak tampak sesosok bayangan berkelebat dan di dekat kakek itu berdiri
seorang kakek lain. Kakek ini usianya kurang lebih enampuluh dua tahun,
pakaiannya mewah dan dia pesolek sekali, rambutnya tersisir licin dan
berminyak, sikapnya kewanitaan. Dia melirik ke arah Jayawijaya lalu berkata
kepada kakek pertama,
"Kakang
Wasi, pemuda yang lebih tinggi itulah yang pernah kutemui bersama dengan Endang
Patibroto. Mereka berdua itu tentu telik sandi yang akan menyelidiki
Blambangan!”
Melihat kakek
ke dua ini, teringatlah Jayawijaya akan peristiwa yang dialaminya beberapa
pekan yang lalu. Kakek itu adalah Wasi Karangwolo yang dilihatnya membujuk
penduduk dusun untuk beralih agama baru di sertai ancaman. Bahkan dia telah
diserang oleh kakek itu dan kemudian muncul Endang Patibroto yang mengalahkan
kakek itu. Mendengar ucapan Wasi Karangwolo, Jayawijaya lalu berkata dengan
lembut, namun dengan suara mengandung penuh teguran.
"Mengapa
andika selalu mencari permusuhan dan keributan? Dulu aku melihat andika
membujuk dan memaksa rakyat untuk berganti agama, sekarang andika menghadang
perjalanan kami. Siapakah andika berdua dan ada maksud apakah menghadang
perjalanan kami?”
Ketika
mendengar keterangan Wasi Karangwolo bahwa pemuda itu pernah bersama Endang
Patibroto, Wasi Shiwamurti, yaitu kakek pertama tadi, mengelus jenggotnya dan
mengangguk-angguk.
"Bagus,
kiranya dia pernah bersama Endang Patibroto? Hei, orang muda. Ketahuilah bahwa
aku adalah Wasi Shiwamurti dan ini adalah adik seperguruanku bernama Wasi
Karangwolo yang menjadi penasihat Adipati Menak Sampar di Blambangan. Kalau
engkau menyayang nyawamu sendiri, mari ikut dengan kami dan tunjukkan di mana
adanya Endang Patibroto sekarang."
Joko Waras
yang sejak tadi hanya menonton dan mendengarkan saja, ketika melihat Wasi
Karangwolo segera mengenal kakek itu. Wasi Karangwolo itu bersama Wasi
Surengpati pernah mempergunakan sihir dan menawannya, setelah penyamarannya
sebagai Joko Wilis diketahui Dyah Candramanik puteri Adipati Nusabarung dan
oleh puteri itu dilaporkan kepada ayahnya. Untung kakaknya Bagus Seta
membebaskannya dari tempat tahanan dan ia mengamuk dan menyandera Adipati
Martimpang, yaitu Adipati Nusabarung sehingga dia dapat lolos dari kepungan
para prajurit dan senopati Nusabarung. Hatinya sudah menjadi marah sekali
melihat Wasi Karangwolo yang tidak mengenalnya sebagai Retna Wilis. Dia lalu
melangkah maju dan dengan suara lantang menegur dua orang kakek itu dengan
berani.
"Kalian
ini dua orang kakek tua bangka, lagi kalian adalah pendeta, seharusnya mencari
jalan terang untuk bekal kematian kalian. Akan tetapi kalian bahkan berbuat
jahat dan hendak memaksa orang. Pendeta macam apa kalian!”
<<< Bagian 53 Bagian 55 >>>
No comments:
Post a Comment