Sepasang Garuda Putih ; Bagian 54


"Jadi engkau sekarang sedang dalam perjalanan merantau untuk meluaskan pengalaman hidupmu?”
"Benar, adi Joko.”
"Wah, kalau begitu tentu banyak sekali yang kaualami dan apakah engkau tidak pernah bertemu dengan orang-orang jahat yang mencoba untuk mengganggumu?”
"Banyak aku bertemu dengan orang-orang yang menjadi hamba nafsunya dan mereka berusaha untuk mencelakai aku, akan tetapi berkat perlindungan kekuasaan Hyang Widhi, selalu ada saja jalan keluar bagiku dan sehingga kini aku masih dalam keadaan sehat dan selamat. Yang memprihatinkan hatiku adanya banyak orang jahat yang hendak memaksa rakyat berganti agama sesat. Kalau hal ini dibiarkan, amat berbahaya sekali. Rakyat diajar untuk menjadi bodoh dan menjadi hamba nafsu daya rendah yang akan menyeret mereka ke jurang kegelapan.”
Joko Waras membelalakkan matanya.
"Ah, engkau tahu juga akan hal itu? Apakah engkau tahu juga bahwa para pimpinan agama baru itu memimpin rakyat untuk membangun candi-candi Trimurti yang lama? Apakah engkau tahu juga apakah agama baru itu?”
"Aku mengerti. Aku pernah bertemu dengan Wasi Karangwolo yang memimpin pembuatan candi yang menyembah Shiwa, Durga dan Kala. Aku pernah menegurnya karena dia memaksakan agama baru kepada rakyat pedusunan.”

Joko Waras tahu bahwa Wasi Karangwolo tentu seorang pemimpin agama baru yang sakti, maka tanyanya,
"Dan apa yang diperbuat olehnya kepadamu, kakang Jaya?"
“Dia berusaha membunuhku, lalu menawanku, akan tetapi akhirnya aku dapat lolos juga, berkat pertolongan seorang bibi yang sakti mandraguna."
"Siapa nama bibi itu?" tanya Joko Waras ingin sekali tahu.
"Bibi itu adalah Endang Patibroto, isteri Ki Patih Tejolaksono dari Kerajaan Panjalu. Orangnya hebat sekali, cantik jelita, gagah perkasa dan sakti mandraguna. Akan tetapi sayang ... ”
"Sayang? Kenapa, kakang?" Tanya Joko Waras dengan jantung berdebar. Orang sedang membicarakan ibu kandungnya!
"Sayang bahwa dia terlalu ganas. Sepak terjangnya seperti seekor burung rajawali yang tidak mengenal ampun. Aku ngeri menyaksikan sepak terjangnya.”
"Bagi seorang ksatria, kalau bertemu dengan orang-orang jahat, dia tentu akan turun tangan membasminya, kakang. Itu bukan ganas namanya, melainkan adil.”
"Hemm, engkau boleh menganggap demikian, akan tetapi aku tidak, adi Joko. Betapa jahatpun seorang manusia, dia harus diberi kesempatan untuk bertaubat dan kembali menjadi orang baik-baik. Sekarang ganti engkau, adi Joko. Ceritakanlah keadaan dirimu kepadaku. Aku merasa amat kagum dan juga heran melihat engkau, adi Joko.”
"Mengapa heran? Apakah keadaan diriku mengherankan dan aneh, kakang? Bukankah aku seorang pemuda biasa seperti yang lain?”
"Sama sekali tidak biasa! Engkau seorang pemuda remaja yang aneh sekali. Bayangkan saja. Usiamu masih begini muda, paling banyak tujuhbelas tahun.”
"Walah! Aku sudah duapuluh tahun, kakang!”
"Benarkah? Akan tetapi engkau tampak jauh lebih muda dan semuda ini engkau telah memiliki aji kesaktian yang hebat. Nah, ceritakanlah riwayatmu, adi Joko. Riwayatmu tentu juga hebat sekali. Siapa orang tuamu? Siapa gurumu dari mana engkau berasal dan hendak pergi ke mana?”

Joko Waras tersenyum. Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa ia merasa begitu dekat dengan pemuda ini. Perasaan hatinya begitu senang dan aman berdekatan dengan Jayawijaya.
"Sudah kukatakan, namaku Joko Waras dari pegunungan Kidul di barat sana. Kedua orang tuaku masih hidup dan yang menjadi guruku adalah mendiang Nini Bumigarbo yang tentu saja tidak kau kenal. Seperti juga engkau, aku pergi merantau untuk menambah pengalaman dan pengetahuan, akan tetapi aku tidak pergi seorang diri. Aku pergi berdua dengan seorang kakakku yang bernama Joko Slamet. Dalam perjalanan kami selalu memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran dan keadilan.”
Jayawijaya memandang tajam, dan bertanya,
"Di mana sekarang kakakmu itu? Dia tentu seorang yang sakti mandraguna pula.”
"Dibandingkan dengan dia, maka kepandaianku tidak ada artinya, kakang. Kakakku itu selain sakti mandraguna, juga bijaksana dan aku tanggung kalau bertemu dan bercakap-cakap dengan dia, engkau tentu akan merasa akrab dan cocok sekali. Banyak kemiripan di antara kalian berdua, hanya bedanya dia memiliki kesaktian dan engkau tidak. Kami sengaja berpencar dan kami berdua memasuki kadipaten Blambangan dengan mengambil jalan masing-masing untuk bertemu kelak di Blambangan.”
Setelah berkata demikian, Joko Waras memandang Jayawijaya dan melihat betapa pemuda itu memejamkan kedua matanya seperti orang bersamadhi. Ia merasa heran, akan tetapi mendiamkan saja, dan akhirnya menjadi kesal dan menegur,
"Kakang Jayawijaya, aku bercerita seperti burung berkicau tiada hentinya, dan engkau malah tertidur pulas!"
Jayawijaya membuka matanya dan melihat Joko Waras marah-marah, dia tersenyum lalu berkata dengan sabar dan lembut,
"Adi Waras, aku sama sekali tidak tidur nyenyak, aku mendengarkan semua ceritamu. Ceritamu mengingatkan aku kepada Bibi Endang Patibroto.”
"Ehh? Kenapa engkau tiba-tiba teringat kepadanya, kakang Jaya?" Joko Waras menatap tajam wajah pemuda itu, penuh selidik.
"Bibi Endang Patibroto menceritakan kepadaku bahwa ia mencari kedua orang anaknya, seorang laki-laki bernama Bagus Seta dan anak perempuan bernama Retna Wilis. Menurut Bibi Endang Patibroto, kedua orang putera-puterinya itu memiliki kesaktian, oleh karena itu, bertemu dengan andika dan mendengar tentang kakak andika, aku teringat akan cerita Bibi Endang Patibroto itu. Alangkah cocoknya kalau andika dan kakak andika menjadi anak-anaknya. Akan tetapi, menurut ceritanya, kedua anaknya itu adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan, sedangkan andika dan kakak andika keduanya laki-laki.”

Joko Waras menelan ludahnya untuk menenteramkan hatinya yang sempat berdebar.
"Akan tetapi engkau melihat sendiri bahwa aku dan kakakku keduanya adalah laki-laki, kakang Jaya.”
"Itulah yang membuat aku tadi seperti melamun karena menurut penilaianku, engkau dan kakakmu itu sungguh pantas menjadi putera-putera Bibi Endang Patibroto."
"Sudahlah, jangan membayangkan yang bukan-bukan, kakang Jaya. Sekarang aku hendak bertanya, engkau hendak melanjutkan perjalanan ke mana, kakang?"
"Ke mana saja hati dan kakiku membawanya, Adi Waras. Aku tertarik sekali mendengar ceritamu tadi. Engkau dan kakakmu berpencar memasuki Blambangan. Kalau boleh aku mengetahui, apa yang hendak kalian lakukan di Blambangan?”
"Kami berdua hendak menyelidiki keadaan di Blambangan, kakang. Kami mendengar bahwa Blambangan dan Nusabarung sedang menghimpun kekuatan untuk memusuhi Jenggala dan Panjalu, dan juga kami telah melihat ada usaha untuk meracuni rakyat Jenggala dengan pemujaan agama baru. Sebagai seorang kawula Panjalu, tentu saja kami tidak rela melihat hal ini. Kami akan melakukan penyelidikan di Blambangan untuk kemudian kami laporkan kepada Kerajaan Panjalu.”
"Wah, kalau begitu andika adalah seorang telik sandi (mata-mata) yang dikirim Panjalu untuk menyelidiki keadaan di Nusabarung dan Blambangan?”
"Bukan telik sandi yang dikirimkan pemerintah. Kami kakak beradik tadinya hanya hendak merantau dan meluaskan pengalaman menambah pengetahuan. Setelah tiba di sini kami melihat kenyataan-kenyataan yang membahayakan Panjalu dan Jenggala. Maka, secara suka rela kami melakukan penyelidikan, bukan sebagai utusan Panjalu atau Jenggala.”
Jayawijaya mengangguk-angguk.
"Aku mengerti dan hal itu sungguh menarik hati sekali. Tujuan andika berdua amat baik dan sekiranya andika tidak berkeberatan, aku-pun suka untuk memasuki Blambangan dan ikut pula mencegah agar para pemuja Shiwa Durgo-Kala itu tidak menyesatkan orang-orang dengan agama baru mereka.”
"Akan tetapi perjalanan ini berbahaya sekali, kakang Jaya. Para pemimpin agama baru itu merupakan orang-orang sakti yang tentu akan membunuhmu kalau mereka mengetahui bahwa engkau menentang niat mereka.”
Jayawijaya tersenyum.
"Sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku berlindung di dalam Kekuasaan Hyang Widhi, aku tidak takut ancaman yang bagaimanapun juga. Kalau Gusti Yang Maha Kuasa telah menentukan bahwa aku harus mati, akupun tidak akan berkeberatan atau menyesal. Sebaliknya, kalau Yang Maha Kuasa belum menghendaki aku mati, ancaman dari manapun juga datangnya tidak akan mampu membunuhku.”
"Begitu tebalkah keyakinanmu, kakang?”
"Setebal bumi, Adi Waras.”
"Baiklah kalau begitu, Kakang Jaya. Semoga keyakinan dan imanmu akan benar-benar mendatangkan perlindungan bagi dirimu dari Hyang Widhi, kalau-kalau aku tidak mampu melindungimu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kita harus berhati-hati karena ini sudah dekat dengan tapal batas Kadipaten Blambangan.”

Matahari telah naik tinggi, tengah hari telah lewat ketika mereka tiba di perbatasan Kadipaten Blambangan. Dari sebuah lereng bukit mereka melihat bahwa di depan terdapat sebuah dusun, masih agak jauh hanya tampak gentengnya saja. Karena mereka merasa haus, maka melihat dusun ini mendatangkan semangat kepada mereka sehingga mereka berjalan lebih cepat agar segera tiba di dusun itu untuk mencari minuman pelepas haus. Tiba-tiba saja muncul seorang kakek di depan mereka, menghadang jalan. Joko Waras menahan langkahnya, diturut oleh Jayawijaya dan mereka memandang kakek itu penuh perhatian. Dia seorang kakek yang usianya kurang lebih enampuluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang sedang besarnya itu tampak masih tegak dan kokoh. Walaupun gerak geriknya lembut, namun di balik kelembutan itu bersembunyi kekuatan yang dahsyat. Dia memakai jubah sederhana berwarna kuning seperti yang biasa dipakai para pendeta. Rambutnya sudah berwarna dua, namun jenggot dan kumisnya sudah putih semua. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat berkepala naga yang panjangnya sama dengan tinggi badannya. Melihat dua orang muda itu, kakek itu tersenyum lebar dan mengangkat tangan kanannya ke atas kepala seperti orang melambai.
"Dua orang muda, perlahan dulu! Siapakah andika berdua dan hendak memasuki wilayah Blambangan ada keperluan apakah?”
Pertanyaan itu dilakukan dengan suara halus. Akan tetapi Joko Waras yang melihat pendeta itu dapat menduga bahwa dia bukanlah seorang pendeta yang hidup suci, dapat ia lihat dari sinar matanya yang mengandung kekejaman. Maka, sebelum Jayawijaya menjawab, dia mendahului,
"Kakek, minggirlah dan beri kami jalan. Kami adalah orang-orang muda yang sedang mengembara, tidak mempunyai urusan denganmu. Minggirlah!”
Akan tetapi mendadak tampak sesosok bayangan berkelebat dan di dekat kakek itu berdiri seorang kakek lain. Kakek ini usianya kurang lebih enampuluh dua tahun, pakaiannya mewah dan dia pesolek sekali, rambutnya tersisir licin dan berminyak, sikapnya kewanitaan. Dia melirik ke arah Jayawijaya lalu berkata kepada kakek pertama,
"Kakang Wasi, pemuda yang lebih tinggi itulah yang pernah kutemui bersama dengan Endang Patibroto. Mereka berdua itu tentu telik sandi yang akan menyelidiki Blambangan!”

Melihat kakek ke dua ini, teringatlah Jayawijaya akan peristiwa yang dialaminya beberapa pekan yang lalu. Kakek itu adalah Wasi Karangwolo yang dilihatnya membujuk penduduk dusun untuk beralih agama baru di sertai ancaman. Bahkan dia telah diserang oleh kakek itu dan kemudian muncul Endang Patibroto yang mengalahkan kakek itu. Mendengar ucapan Wasi Karangwolo, Jayawijaya lalu berkata dengan lembut, namun dengan suara mengandung penuh teguran.
"Mengapa andika selalu mencari permusuhan dan keributan? Dulu aku melihat andika membujuk dan memaksa rakyat untuk berganti agama, sekarang andika menghadang perjalanan kami. Siapakah andika berdua dan ada maksud apakah menghadang perjalanan kami?”
Ketika mendengar keterangan Wasi Karangwolo bahwa pemuda itu pernah bersama Endang Patibroto, Wasi Shiwamurti, yaitu kakek pertama tadi, mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk.
"Bagus, kiranya dia pernah bersama Endang Patibroto? Hei, orang muda. Ketahuilah bahwa aku adalah Wasi Shiwamurti dan ini adalah adik seperguruanku bernama Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat Adipati Menak Sampar di Blambangan. Kalau engkau menyayang nyawamu sendiri, mari ikut dengan kami dan tunjukkan di mana adanya Endang Patibroto sekarang."
Joko Waras yang sejak tadi hanya menonton dan mendengarkan saja, ketika melihat Wasi Karangwolo segera mengenal kakek itu. Wasi Karangwolo itu bersama Wasi Surengpati pernah mempergunakan sihir dan menawannya, setelah penyamarannya sebagai Joko Wilis diketahui Dyah Candramanik puteri Adipati Nusabarung dan oleh puteri itu dilaporkan kepada ayahnya. Untung kakaknya Bagus Seta membebaskannya dari tempat tahanan dan ia mengamuk dan menyandera Adipati Martimpang, yaitu Adipati Nusabarung sehingga dia dapat lolos dari kepungan para prajurit dan senopati Nusabarung. Hatinya sudah menjadi marah sekali melihat Wasi Karangwolo yang tidak mengenalnya sebagai Retna Wilis. Dia lalu melangkah maju dan dengan suara lantang menegur dua orang kakek itu dengan berani.
"Kalian ini dua orang kakek tua bangka, lagi kalian adalah pendeta, seharusnya mencari jalan terang untuk bekal kematian kalian. Akan tetapi kalian bahkan berbuat jahat dan hendak memaksa orang. Pendeta macam apa kalian!”

<<< Bagian 53                                                                                          Bagian 55 >>>

No comments:

Post a Comment