Sepasang Garuda Putih ; Bagian 55


Wasi Shiwamurti sampai terbelalak saking kaget, heran dan marahnya. Dia, seorang wasi yang disanjung-sanjung banyak orang, dipuja-puji seperti seorang dewa titisan Bathara Shiwa, kini dimaki-maki oleh seorang bocah! Saking marahnya dia sampai tidak dapat mengeluarkan kata-kata sampai beberapa lamanya. Dia merasa serba salah. Kalau meladeni seorang bocah yang tampaknya belum dewasa, berpakaian seperti bocah petani itu, sungguh merendahkan martabatnya. Akan tetapi kalau tidak dilayani dan dihajar, bocah ini sungguh menghina sekali.
"Keparat, engkau bocah masih ingusan berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kepadaku?”
"Mengapa tidak berani? Kalian memang pendeta-pendeta yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Sepantasnya kalian ini menjadi maling atau perampok!" kata Joko Waras.
Wasi Shiwamurti menahan kemarahannya dan membentak,
"Jangan kalian mati tanpa nama! Katakan siapa nama kalian?”
Jeko Waras mengacungkan jempolnya menunjuk ke arah dada sendiri, lalu menunjuk dengan jempolnya ke arah Jayawijaya sambil berkata,
"Aku bernama Joko Waras dan kakang ini bernama Jayawijaya. Agaknya kalian ini biang keladinya penyebaran agama baru yang menyesatkan rakyat. Benarkah itu?”
Wasi Shiwamurti mengeluarkan suara menggereng seperti seekor biruang terluka. Suara gerengannya menggetar-getar dengan amat kuatnya dan terdengarlah suaranya yang lantang dan mengandung wibawa kuat sekali. Ternyata dia telah mengerahkan kekuatan sihirnya.
”Joko Waras dan Jayawijaya, berlututlah kalian!”
Joko Waras terkejut bukan main karena ada dorongan yang luar biasa kuatnya memaksanya untuk menekuk kedua lututnya, ia tahu bahwa itu adalah gerengan ilmu sihir yang amat kuat. Ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan, namun ia kalah kuat dan tak dapat tertahankan lagi kedua lututnya tertekuk dan ia sudah jatuh berlutut di depan kakek itu. Akan tetapi Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh. Bentakan dan perintah itu lewat begitu saja seperti angin dan tidak mempengaruhinya, bahkan dia lalu mengangkat bangun Joko Waras sambil berkata.
"Adi Waras, tidak perlu berlutut di depan mereka. Bangunlah."

Dan seketika Joko Waras terlepas dari pengaruh yang memaksanya berlutut itu. Ia tidak sempat terheran-heran mengapa Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh oleh sihir itu bahkan dapat menyadarkan dan membebaskannya dari pengaruh sihir. Ia marah sekali kepada kakek yang menamakan dirinya Wasi Shiwamurti itu. Karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang wasi yang maha sakti, Joko Waras lalu membungkuk dan mencengkeram tanah berpasir itu dan ketika ia mengerahkan tenaga saktinya, segenggam tanah berpasir itu telah menjadi pasir sakti Pancaroba dan ia mengeluarkan bentakan sambil melontarkan pasir itu ke arah muka Wasi Shiwamurti. Sang Wasi terkejut juga melihat serangan dahsyat ini. Namun dengan tenang ia mengebutkan lengan jubahnya yang lebar dan pasir yang berbahaya dan mematikan itu runtuh semua ke atas tanah. Joko Waras tidak mau berhenti sampai di situ saja. Walau pun serangannya gagal, ia menerjang maju dan menyerang dengan Aji Wisolangking, pukulan yang mengandung racun berbahaya, yang dahulu merupakan ilmu andalan dari gurunya, yaitu Nini Bumigarbo!
Wasi Shiwamurti semakin terkejut melihat betapa "bocah ingusan" itu dapat menyerangnya dengan ilmu pukulan sedahsyat itu. Dia menggerakkan kedua tangan untuk menangkis.
"Wuuuttt ... desss ...!"' Dan wasi itu terdorong mundur sampai tiga langkah!
Hal ini terjadi karena dia masih memandang rendah sehingga ketika menangkis tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Akan tetapi akibat benturan dua tenaga sakti itu membuat dia mundur tiga langkah dan hal ini sungguh amat mengejutkan! Wasi Shiwamurti menjadi marah bukan main. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, lalu dia melontarkan tongkatnya ke atas.
"Wuss ... !" Tampak asap mengepul dan keluarlah dari angkasa seekor naga hitam yang menggiriskan.
Melihat ini Joko Waras terbelalak dan perasaan ngeri mencekamnya. Akan tetapi Jayawijaya mendorongkan kedua tangannya ke arah naga hitam itu sambil berkata lembut,
"Hong ... air boyo sedyo rahayu ... !"

Seketika naga hitam itu jatuh ke atas tanah dan berubah lagi menjadi tongkat berkepala naga milik Wasi Shiwamurti. Dapat dibayangkan betapa kagetnya sang wasi melihat ini. Ilmu sihirnya yang paling diandalkan itu begitu saja dipunahkan oleh pemuda itu! Joko Waras juga merasa heran dan girang sekali melihat ini, maka iapun menyerang lagi dengan Aji Wisolangking, mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah sang wasi itu. Melihat ini, sekarang Wasi Shiwamurti tidak berani memandang rendah dan dia mengerahkan seluruh tenaga, menggunakan tangan kanan menangkis pukulan itu dan tangan kirinya menyambar ke depan, tepat mengenai bawah pundak kanan bagian depan dari Joko Waras.
"Desss ... !" Joko Waras terpelanting dan sampai bergulingan saking hebatnya pukulan itu. Ia merasa betapa dada bagian atas di bawah pundak kanan itu nyeri bukan main.
“Jangan pukul Adi Waras!" teriak Jayawijaya ketika melihat Joko Waras dihantam sampai terguling-guling dan dia maju menghampiri Wasi Shiwamurti untuk mencegahnya menyerang lagi kepada Joko Waras.
Wasi Shiwamurti yang tadi melihat betapa ilmu sihirnya dipunahkan oleh Jayawijaya, menyangka bahwa pemuda itu tentu memiliki kesaktian yang tinggi. Maka melihat pemuda itu menghampirinya, dia lalu memapaki dengan pukulan yang menggunakan kedua tangannya didorongkan ke arah dada pemuda itu. Pukulan ini hebat sekali, lebih hebat dari pada pukulan tangan kiri yang merobohkan Joko Waras tadi. Kalau terkena pukulan dahsyat ini, tentu Jayawijaya akan remuk dadanya dan tewas seketika! Akan tetapi terjadi keanehan yang luar biasa. Ketika kedua tangan Wasi Shiwamurti dengan tenaga sepenuhnya mendorong ke depan, tiba-tiba wasi itu merasakan betapa kedua tangannya bertemu dengan hawa yang maha dahsyat dan demikian kuatnya hawa itu sehingga tubuhnya terjengkang roboh dan terbanting keras seolah-olah dia yang terkena pukulannya itu! Sebetulnya peristiwa ini adalah sederhana saja dan sama sekali tidak aneh atau mengherankan. Harus diketahui bahwa Jayawijaya adalah seorang pemuda yang sejak kecil sekali sudah diajarkan dan ditanamkan iman dan penyerahan yang total dan ikhlas kepada kekuasaan Tuhan sehingga kalau ada bahaya mengancamnya, seolah-olah dia selalu terlindungi oleh Kekuasaan yang maha kuat dan tidak tampak. Pukulan Wasi Shiwamurti memang hebat, terbentuk dari latihan dan penggunaan aji kesaktian, akan tetapi apa artinya semua ilmu kedigdayaan dan kesaktian yang dapat dipelajari manusia kalau dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan?? Joko Waras yang terkena pukulan hebat itu, walaupun menderita nyeri yang hebat namun ia masih sadar. Melihat Wasi Shiwamurti terjengkang, ia khawatir sekali kalau sampai sang wasi menyerang lagi dan membunuh Jayawijaya. Maka ia lalu melompat, menyambar tangan Jayawijaya dan ditariknya pemuda itu melarikan diri dari tempat berbahaya itu. Baru Wasi Shiwamurti saja sudah merupakan lawan yang terlalu tangguh, apa lagi kalau dibandingkan Wasi Karangmolo! Dengan pikiran ini, Joko Waras menahan rasa nyerinya dan terus mengajak lari Jayawijaya yang ditariknya itu memasuki sebuah hutan yang terdapat di lereng bukit itu.

Kedua tangannya siap untuk memukul, dan ia berkata dengan suara terputus-putus saking marahnya.
"Engkau ... kau ... " akan tetapi ia menahan diri dan melanjutkan,
"Kakang Jaya apa yang engkau lakukan ini?"
Sikap Jayawijaya tenang sekali akan tetapi kini pandang matanya terhadap Joko Waras menjadi lain, penuh kekaguman dan terheran-heran setelah mengetahui bahwa ‘pemuda’ yang sakti ini ternyata adalah seorang gadis!
“Dan ketika kau jatuh pingsan dan agaknya terluka pukulan di bawah pundak, maka aku berusaha untuk mengurut-urut bagian yang ada bekas pukulan itu dengan harapan mudah-mudahan bekas luka pukulan itu dapat disembuhkan. Kemudian karena itu aku telah melihat bagian… “ maka disambungnya dengan wajah yang kemerahan.
"Maafkan aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa andika adalah seorang wanita."
Joko Waras yang memang telah diketahui bahwa ia sebenarnya seorang gadis, meraba bagian dada yang terpukul dan menekannya. Tidak lagi terasa nyeri! Lalu diperiksanya. Warna kehitaman di dadanya yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melarikan diri, kinipun telah lenyap! Lukanya yang mengandung racun telah disembuhkan! Hawa beracun yang terkandung di dalamnya sudah bersih. Ia merasa takjub dan semakin tidak mengerti akan keadaan Jayawijaya. Tadi ketika ia berlutut karena pengaruh sihir, Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh! Bahkan kemudian ketika Wasi Shiwamurti yang amat sakti itu mengirim pukulan jarak jauhnya kepada Jayawijaya, sama sekali tidak bergeming, ia malah terjengkang sendiri. Dan lukanya hanya dengan urutan jari tangan pemuda itu telah menyembuhkan lukanya yang mengandung hawa beracun. Pemuda macam apakah ini? Ketika diajak untuk melarikan diri, terseret di belakangnya ternyata ia tidak dapat berlari cepat.
“Aku tahu dan bukan itu saja, aku bahkan dapat menebak bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang bernama Retna Wilis!" Dalam hatinya, Jayawijaya merasa agak rikuh ketika teringat akan ucapan Endang Patibroto yang hendak menjodohkan dia dengan Retna Wilis! Akan tetapi tentu saja hal ini tidak akan dikatakannya kepada gadis itu.
"Akan tetapi apakah sebelum ini andika tidak menduga bahwa aku seorang wanita?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya.
"Siapa yang dapat menduga? Selain penyamaranmu sempurna, juga siapa yang mengira bahwa orang muda yang sakti mandraguna itu seorang gadis ? Aku sendiri sukar untuk dapat mempercaya, akan tetapi ketika aku teringat bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang sakti mandraguna, aku menjadi tidak merasa heran lagi.”
Retna Wilis kembali meraba dadanya dan menggosok-gosok bagian yang tadi terkena pukulan Wasi Shiwamurti.
"Kakang Jaya, aku merasa heran sekali. Andika tidak berkepandaian, akan tetapi bagaimana dapat menyembuhkan luka pukulan ini demikian cepatnya?" Ia memandang dengan penuh selidik.
"Andika menggunakan ilmu apakah untuk menyembuhkan ini?"
Jayawijaya menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mempergunakan ilmu apapun juga. Aku hanya mengurut-urut dan berdoa semoga Yang Maha Kasih akan menyembuhkanmu. Akan tetapi sudahlah, adi ... eh, diajeng Retna. Kurasa sebaiknya andika tidak lagi menyamar sebagai seorang pemuda. Kalau engkau seorang wanita, tentu orang-orang itu tidak akan bersikap kejam kepadamu."
"Kaupikir begitukah, kakang? Agaknya engkau belum mengenal benar watak orang-orang jahat itu. Akan tetapi kalau engkau menghendaki, baiklah, aku akan berganti pakaian." Retna Wilis membawa buntalannya pergi ke balik semak belukar dan di situ ia berganti pakaian, yaitu pakaiannya yang seperti biasa ia pakai, pakaian serba putih yang sederhana namun membuat ia tampak cantik jelita dan agung.
Ketika ia muncul dari balik semak belukar, ternyata Jayawijaya berdiri membelakangi semak belukar itu. Retna Wilis tersenyum. Benar-benar seorang pemuda yang sopan dan luar biasa sekali. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang yang aneh seperti Jayawijaya ini yang sekaligus telah menarik hatinya dan menimbulkan kekagumannya. Bayangkan saja, seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki ilmu kanuragan, namun berani menentang para datuk besar, bahkan berani menentang seorang sakti mandraguna seperti Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya!
"Kakang Jaya ... !" Retna Wilis memanggil.

Jayawijaya memutar tubuhnya menghadapi Retna Wilis dan dia memandang dengan mata tidak berkedip, terpesona oleh apa yang dilihatnya! Dia melihat seorang gadis yang usianya sekitar duapuluh tahun, rambutnya hitam agak berombak dan panjang sampai ke pinggang, berpakaian putih bersih dan walaupun sederhana pakaian itu tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya dengan pinggang ramping dan padat berlekuk-lengkung sempurna. Sinom (anak rambut) melingkar-lingkar di dahinya dan depan telinganya, alisnya melengkung hitam matanya seperti sepasang kejora, mulutnya manis menggairahkan dengan bibir yang merah basah, dihias lesung pipit di kiri mulutnya, dagunya runcing dan lehernya panjang, hidungnya kecil mancung. Apa lagi ketika itu Retna Wilis memandangnya dengan senyum simpul dan kedua tangannya sedang berusaha untuk menggelung rambutnya yang panjang.
"Kaukah itu ... ? Benarkah engkau ... Adi Waras ... eh, diajeng Retna Wilis?" Tanya Jayawijaya agak tersendat-sendat karena apa yang dilihatnya benar-benar melebihi semua bayangannya tentang gadis itu. Begitu pandainya gadis itu menyamar sehingga tadi wajahnya agak kecoklatan, tidak seperti sekarang begitu putih kekuningan. Bahkan kedua matanya juga berbeda, kini demikian indahnya dan bersinar-sinar cemerlang dan bening.
"Aih, kakang Jaya, apakah engkau pangling? Aku Retna Wilis atau Joko Waras yang tadi."
"Engkau cantik jelita seperti seorang bidadari dari kahyangan, diajeng." Pujian itu demikian jujur dan polos, tidak mengandung rayuan.

<<< Bagian 54                                                                                         Bagian 56 >>>

No comments:

Post a Comment