Wasi Shiwamurti sampai terbelalak saking kaget, heran dan marahnya. Dia, seorang wasi yang disanjung-sanjung banyak orang, dipuja-puji seperti seorang dewa titisan Bathara Shiwa, kini dimaki-maki oleh seorang bocah! Saking marahnya dia sampai tidak dapat mengeluarkan kata-kata sampai beberapa lamanya. Dia merasa serba salah. Kalau meladeni seorang bocah yang tampaknya belum dewasa, berpakaian seperti bocah petani itu, sungguh merendahkan martabatnya. Akan tetapi kalau tidak dilayani dan dihajar, bocah ini sungguh menghina sekali.
"Keparat,
engkau bocah masih ingusan berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kepadaku?”
"Mengapa
tidak berani? Kalian memang pendeta-pendeta yang tidak tahu diri dan tidak tahu
malu. Sepantasnya kalian ini menjadi maling atau perampok!" kata Joko
Waras.
Wasi
Shiwamurti menahan kemarahannya dan membentak,
"Jangan
kalian mati tanpa nama! Katakan siapa nama kalian?”
Jeko Waras mengacungkan
jempolnya menunjuk ke arah dada sendiri, lalu menunjuk dengan jempolnya ke arah
Jayawijaya sambil berkata,
"Aku
bernama Joko Waras dan kakang ini bernama Jayawijaya. Agaknya kalian ini biang
keladinya penyebaran agama baru yang menyesatkan rakyat. Benarkah itu?”
Wasi
Shiwamurti mengeluarkan suara menggereng seperti seekor biruang terluka. Suara
gerengannya menggetar-getar dengan amat kuatnya dan terdengarlah suaranya yang
lantang dan mengandung wibawa kuat sekali. Ternyata dia telah mengerahkan kekuatan
sihirnya.
”Joko Waras
dan Jayawijaya, berlututlah kalian!”
Joko Waras
terkejut bukan main karena ada dorongan yang luar biasa kuatnya memaksanya
untuk menekuk kedua lututnya, ia tahu bahwa itu adalah gerengan ilmu sihir yang
amat kuat. Ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan, namun ia kalah
kuat dan tak dapat tertahankan lagi kedua lututnya tertekuk dan ia sudah jatuh
berlutut di depan kakek itu. Akan tetapi Jayawijaya sama sekali tidak
terpengaruh. Bentakan dan perintah itu lewat begitu saja seperti angin dan
tidak mempengaruhinya, bahkan dia lalu mengangkat bangun Joko Waras sambil
berkata.
"Adi
Waras, tidak perlu berlutut di depan mereka. Bangunlah."
Dan seketika
Joko Waras terlepas dari pengaruh yang memaksanya berlutut itu. Ia tidak sempat
terheran-heran mengapa Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh oleh sihir itu
bahkan dapat menyadarkan dan membebaskannya dari pengaruh sihir. Ia marah
sekali kepada kakek yang menamakan dirinya Wasi Shiwamurti itu. Karena maklum
bahwa ia berhadapan dengan seorang wasi yang maha sakti, Joko Waras lalu
membungkuk dan mencengkeram tanah berpasir itu dan ketika ia mengerahkan tenaga
saktinya, segenggam tanah berpasir itu telah menjadi pasir sakti Pancaroba dan
ia mengeluarkan bentakan sambil melontarkan pasir itu ke arah muka Wasi
Shiwamurti. Sang Wasi terkejut juga melihat serangan dahsyat ini. Namun dengan
tenang ia mengebutkan lengan jubahnya yang lebar dan pasir yang berbahaya dan
mematikan itu runtuh semua ke atas tanah. Joko Waras tidak mau berhenti sampai
di situ saja. Walau pun serangannya gagal, ia menerjang maju dan menyerang
dengan Aji Wisolangking, pukulan yang mengandung racun berbahaya, yang dahulu
merupakan ilmu andalan dari gurunya, yaitu Nini Bumigarbo!
Wasi
Shiwamurti semakin terkejut melihat betapa "bocah ingusan" itu dapat
menyerangnya dengan ilmu pukulan sedahsyat itu. Dia menggerakkan kedua tangan
untuk menangkis.
"Wuuuttt
... desss ...!"' Dan wasi itu terdorong mundur sampai tiga langkah!
Hal ini
terjadi karena dia masih memandang rendah sehingga ketika menangkis tidak
mengerahkan seluruh tenaganya. Akan tetapi akibat benturan dua tenaga sakti itu
membuat dia mundur tiga langkah dan hal ini sungguh amat mengejutkan! Wasi
Shiwamurti menjadi marah bukan main. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera,
lalu dia melontarkan tongkatnya ke atas.
"Wuss ...
!" Tampak asap mengepul dan keluarlah dari angkasa seekor naga hitam yang
menggiriskan.
Melihat ini
Joko Waras terbelalak dan perasaan ngeri mencekamnya. Akan tetapi Jayawijaya
mendorongkan kedua tangannya ke arah naga hitam itu sambil berkata lembut,
"Hong ...
air boyo sedyo rahayu ... !"
Seketika naga
hitam itu jatuh ke atas tanah dan berubah lagi menjadi tongkat berkepala naga
milik Wasi Shiwamurti. Dapat dibayangkan betapa kagetnya sang wasi melihat ini.
Ilmu sihirnya yang paling diandalkan itu begitu saja dipunahkan oleh pemuda
itu! Joko Waras juga merasa heran dan girang sekali melihat ini, maka iapun
menyerang lagi dengan Aji Wisolangking, mendorongkan kedua telapak tangannya ke
arah sang wasi itu. Melihat ini, sekarang Wasi Shiwamurti tidak berani
memandang rendah dan dia mengerahkan seluruh tenaga, menggunakan tangan kanan
menangkis pukulan itu dan tangan kirinya menyambar ke depan, tepat mengenai
bawah pundak kanan bagian depan dari Joko Waras.
"Desss
... !" Joko Waras terpelanting dan sampai bergulingan saking hebatnya
pukulan itu. Ia merasa betapa dada bagian atas di bawah pundak kanan itu nyeri
bukan main.
“Jangan pukul
Adi Waras!" teriak Jayawijaya ketika melihat Joko Waras dihantam sampai
terguling-guling dan dia maju menghampiri Wasi Shiwamurti untuk mencegahnya
menyerang lagi kepada Joko Waras.
Wasi
Shiwamurti yang tadi melihat betapa ilmu sihirnya dipunahkan oleh Jayawijaya,
menyangka bahwa pemuda itu tentu memiliki kesaktian yang tinggi. Maka melihat
pemuda itu menghampirinya, dia lalu memapaki dengan pukulan yang menggunakan
kedua tangannya didorongkan ke arah dada pemuda itu. Pukulan ini hebat sekali,
lebih hebat dari pada pukulan tangan kiri yang merobohkan Joko Waras tadi.
Kalau terkena pukulan dahsyat ini, tentu Jayawijaya akan remuk dadanya dan
tewas seketika! Akan tetapi terjadi keanehan yang luar biasa. Ketika kedua
tangan Wasi Shiwamurti dengan tenaga sepenuhnya mendorong ke depan, tiba-tiba
wasi itu merasakan betapa kedua tangannya bertemu dengan hawa yang maha dahsyat
dan demikian kuatnya hawa itu sehingga tubuhnya terjengkang roboh dan
terbanting keras seolah-olah dia yang terkena pukulannya itu! Sebetulnya
peristiwa ini adalah sederhana saja dan sama sekali tidak aneh atau
mengherankan. Harus diketahui bahwa Jayawijaya adalah seorang pemuda yang sejak
kecil sekali sudah diajarkan dan ditanamkan iman dan penyerahan yang total dan
ikhlas kepada kekuasaan Tuhan sehingga kalau ada bahaya mengancamnya,
seolah-olah dia selalu terlindungi oleh Kekuasaan yang maha kuat dan tidak
tampak. Pukulan Wasi Shiwamurti memang hebat, terbentuk dari latihan dan
penggunaan aji kesaktian, akan tetapi apa artinya semua ilmu kedigdayaan dan
kesaktian yang dapat dipelajari manusia kalau dibandingkan dengan kekuasaan
Tuhan?? Joko Waras yang terkena pukulan hebat itu, walaupun menderita nyeri
yang hebat namun ia masih sadar. Melihat Wasi Shiwamurti terjengkang, ia
khawatir sekali kalau sampai sang wasi menyerang lagi dan membunuh Jayawijaya. Maka
ia lalu melompat, menyambar tangan Jayawijaya dan ditariknya pemuda itu
melarikan diri dari tempat berbahaya itu. Baru Wasi Shiwamurti saja sudah
merupakan lawan yang terlalu tangguh, apa lagi kalau dibandingkan Wasi
Karangmolo! Dengan pikiran ini, Joko Waras menahan rasa nyerinya dan terus
mengajak lari Jayawijaya yang ditariknya itu memasuki sebuah hutan yang
terdapat di lereng bukit itu.
Kedua
tangannya siap untuk memukul, dan ia berkata dengan suara terputus-putus saking
marahnya.
"Engkau
... kau ... " akan tetapi ia menahan diri dan melanjutkan,
"Kakang
Jaya apa yang engkau lakukan ini?"
Sikap
Jayawijaya tenang sekali akan tetapi kini pandang matanya terhadap Joko Waras
menjadi lain, penuh kekaguman dan terheran-heran setelah mengetahui bahwa
‘pemuda’ yang sakti ini ternyata adalah seorang gadis!
“Dan ketika
kau jatuh pingsan dan agaknya terluka pukulan di bawah pundak, maka aku
berusaha untuk mengurut-urut bagian yang ada bekas pukulan itu dengan harapan
mudah-mudahan bekas luka pukulan itu dapat disembuhkan. Kemudian karena itu aku
telah melihat bagian… “ maka disambungnya dengan wajah yang kemerahan.
"Maafkan
aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa andika adalah seorang wanita."
Joko Waras
yang memang telah diketahui bahwa ia sebenarnya seorang gadis, meraba bagian
dada yang terpukul dan menekannya. Tidak lagi terasa nyeri! Lalu diperiksanya.
Warna kehitaman di dadanya yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melarikan diri,
kinipun telah lenyap! Lukanya yang mengandung racun telah disembuhkan! Hawa beracun
yang terkandung di dalamnya sudah bersih. Ia merasa takjub dan semakin tidak
mengerti akan keadaan Jayawijaya. Tadi ketika ia berlutut karena pengaruh
sihir, Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh! Bahkan kemudian ketika Wasi
Shiwamurti yang amat sakti itu mengirim pukulan jarak jauhnya kepada
Jayawijaya, sama sekali tidak bergeming, ia malah terjengkang sendiri. Dan
lukanya hanya dengan urutan jari tangan pemuda itu telah menyembuhkan lukanya
yang mengandung hawa beracun. Pemuda macam apakah ini? Ketika diajak untuk
melarikan diri, terseret di belakangnya ternyata ia tidak dapat berlari cepat.
“Aku tahu dan
bukan itu saja, aku bahkan dapat menebak bahwa andika adalah puteri Kanjeng
Bibi Endang Patibroto yang bernama Retna Wilis!" Dalam hatinya, Jayawijaya
merasa agak rikuh ketika teringat akan ucapan Endang Patibroto yang hendak
menjodohkan dia dengan Retna Wilis! Akan tetapi tentu saja hal ini tidak akan
dikatakannya kepada gadis itu.
"Akan
tetapi apakah sebelum ini andika tidak menduga bahwa aku seorang wanita?"
Jayawijaya
menggeleng kepalanya.
"Siapa
yang dapat menduga? Selain penyamaranmu sempurna, juga siapa yang mengira bahwa
orang muda yang sakti mandraguna itu seorang gadis ? Aku sendiri sukar untuk
dapat mempercaya, akan tetapi ketika aku teringat bahwa andika adalah puteri
Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang sakti mandraguna, aku menjadi tidak merasa
heran lagi.”
Retna Wilis
kembali meraba dadanya dan menggosok-gosok bagian yang tadi terkena pukulan
Wasi Shiwamurti.
"Kakang
Jaya, aku merasa heran sekali. Andika tidak berkepandaian, akan tetapi
bagaimana dapat menyembuhkan luka pukulan ini demikian cepatnya?" Ia
memandang dengan penuh selidik.
"Andika
menggunakan ilmu apakah untuk menyembuhkan ini?"
Jayawijaya
menggeleng kepalanya.
"Aku
tidak mempergunakan ilmu apapun juga. Aku hanya mengurut-urut dan berdoa semoga
Yang Maha Kasih akan menyembuhkanmu. Akan tetapi sudahlah, adi ... eh, diajeng
Retna. Kurasa sebaiknya andika tidak lagi menyamar sebagai seorang pemuda.
Kalau engkau seorang wanita, tentu orang-orang itu tidak akan bersikap kejam
kepadamu."
"Kaupikir
begitukah, kakang? Agaknya engkau belum mengenal benar watak orang-orang jahat
itu. Akan tetapi kalau engkau menghendaki, baiklah, aku akan berganti
pakaian." Retna Wilis membawa buntalannya pergi ke balik semak belukar dan
di situ ia berganti pakaian, yaitu pakaiannya yang seperti biasa ia pakai,
pakaian serba putih yang sederhana namun membuat ia tampak cantik jelita dan
agung.
Ketika ia
muncul dari balik semak belukar, ternyata Jayawijaya berdiri membelakangi semak
belukar itu. Retna Wilis tersenyum. Benar-benar seorang pemuda yang sopan dan
luar biasa sekali. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang yang
aneh seperti Jayawijaya ini yang sekaligus telah menarik hatinya dan
menimbulkan kekagumannya. Bayangkan saja, seorang pemuda yang sama sekali tidak
memiliki ilmu kanuragan, namun berani menentang para datuk besar, bahkan berani
menentang seorang sakti mandraguna seperti Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya!
"Kakang
Jaya ... !" Retna Wilis memanggil.
Jayawijaya
memutar tubuhnya menghadapi Retna Wilis dan dia memandang dengan mata tidak
berkedip, terpesona oleh apa yang dilihatnya! Dia melihat seorang gadis yang
usianya sekitar duapuluh tahun, rambutnya hitam agak berombak dan panjang
sampai ke pinggang, berpakaian putih bersih dan walaupun sederhana pakaian itu
tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya dengan pinggang ramping dan padat
berlekuk-lengkung sempurna. Sinom (anak rambut) melingkar-lingkar di dahinya
dan depan telinganya, alisnya melengkung hitam matanya seperti sepasang kejora,
mulutnya manis menggairahkan dengan bibir yang merah basah, dihias lesung pipit
di kiri mulutnya, dagunya runcing dan lehernya panjang, hidungnya kecil
mancung. Apa lagi ketika itu Retna Wilis memandangnya dengan senyum simpul dan
kedua tangannya sedang berusaha untuk menggelung rambutnya yang panjang.
"Kaukah
itu ... ? Benarkah engkau ... Adi Waras ... eh, diajeng Retna Wilis?"
Tanya Jayawijaya agak tersendat-sendat karena apa yang dilihatnya benar-benar
melebihi semua bayangannya tentang gadis itu. Begitu pandainya gadis itu
menyamar sehingga tadi wajahnya agak kecoklatan, tidak seperti sekarang begitu
putih kekuningan. Bahkan kedua matanya juga berbeda, kini demikian indahnya dan
bersinar-sinar cemerlang dan bening.
"Aih,
kakang Jaya, apakah engkau pangling? Aku Retna Wilis atau Joko Waras yang
tadi."
"Engkau
cantik jelita seperti seorang bidadari dari kahyangan, diajeng." Pujian
itu demikian jujur dan polos, tidak mengandung rayuan.
<<< Bagian 54 Bagian 56 >>>
No comments:
Post a Comment