Sepasang Garuda Putih ; Bagian 56


Mendengar ini, Retna Wilis tidak menjadi marah, bahkan mukanya yang putih mulus kulitnya itu kini menjadi kemerahan dan matanya mengerling tajam. Biasanya, pujian akan kecantikannya yang keluar dari mulut laki-laki mengandung rayuan, akan tetapi sekali ini sama sekali lain. Jayawijaya mengucapkannya dengan setulus hati penuh kejujuran dan tidak disembunyikan, terbuka dan polos.
"Terima kasih atas pujianmu, kakang Jayawijaya, akan tetapi ... ah, kukira ada orang-orang berdatangan!" kata Retna Wilis yang pendengarannya amat tajam terlatih.

Baru saja ia berkata demikian, tampak bayangan empat orang dan di situ telah berdiri Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda! Kiranya Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda juga berada bersama kedua orang Wasi tadi, hanya tadi belum memperlihatkan diri dan ketika mereka mengadakan pengejaran terhadap Jayawijaya dan Retna Wilis, kedua orang itupun ikut mengejar.
Wasi Shiwamurti tidak mengenal Retna Wilis, akan tetapi tiga orang yang lain segera mengenalnya. Wasi Karangwolo pernah bertanding melawan Retna Wilis, juga Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda pernah bentrok dengan gadis perkasa itu.
"Kakang Wasi Shiwamurti, inilah gadis puteri Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono dari Panjalu!" Kata Wasi Karangwolo kepada kakak seperguruannya.
"Ia bersama kakaknya yang bernama Bagus Seta yang telah menentang penyebaran agama kita, Kakangmas Wasi!" kata pula Ni Dewi Durgomala.
Melihat sikap mereka, Jayawijaya sudah melangkah maju dan melindungi Retna Wilis. Dia membusungkan dada, dengan penuh keberanian menentang pandang mata mereka dan berkata dengan suara nyaring.
"Kalian adalah orang-orang beragama, apakah tidak malu untuk mengganggu seorang gadis? Sepatutnya kalian bicara baik-baik, bukan menggunakan kekerasan seperti orang yang tidak mengenal sopan santun!"
Wasi Shiwamurti mengangkat tangan kirinya mencegah kawan-kawannya yang sudah siap untuk bergerak menyerang itu. Dia memandang Jayawijaya penuh selidik, juga agak gentar. Tadi dia sudah mengalami sendiri betapa hebatnya pemuda ini. Mampu menolak semua sihirnya, bahkan ketika dia menyerang dengan pukulan sakti jarak jauh, pemuda itu sama sekali tidak bergeming apa lagi roboh. Sebaliknya malah dia sendiri terjengkang karena tenaga dan hawa sakti pukulannya itu membalik dan menyerang dirinya sendiri. Kini melihat sikap pemuda seperti menasihati itu, dia menjadi semakin terheran-heran. Siapakah sesungguhnya pemuda yang memakai nama Jayawijaya ini? Dari perguruan mana? Tampaknya demikian lemah lembut dan tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi mengapa semua serangannya gagal? Dia tidak berani sembrono lagi dan mencegah kawan-kawannya untuk turun tangan.
"Heh, Jayawijaya. Kami melakukan kekerasan karena gadis ini berulang kali menentang kami. Demikian juga ibunya, Endang Patibroto selalu menentang dan memusuhi kami!"
"Tidak mungkin diajeng Retna Wilis memusuhi kalian kalau kalian tidak melakukan kesalahan dan kejahatan. Kalian memaksa penduduk untuk memeluk agama baru, tentu saja ia menentang kalian! Kalian yang memulai, bukan diajeng Retna Wilis!"
"Akan tetapi kami menyebarkan agama kami sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kalian !" bantah Wasi Shiwamurti.
"Penyebaran agama secara wajar tentu tidak akan menimbulkan pertentangan. Akan tetapi kalian menggunakan kekerasan, itulah persoalannya," kata pula Jayawijaya dan Retna Wilis mendengarkannya dengan heran. Pemuda ini mengajak orang-orang tersesat itu untuk bercakap-cakap dan agaknya Wasi Shiwamurti melayaninya, seolah mereka itu berbantahan dan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Padahal baru saja kakek itu berusaha keras untuk membunuh ia dan Jayawijaya.
"Hemm, kalau begitu, mari kita bicarakan hal ini dan menghadap Sang Adipati di Blambangan. Kita bicarakan dengan baik-baik seperti yang kaukehendaki," kata Wasi Shiwamurti dan teman-temannya juga memandang kepada Wasi itu dengan heran. Kenapa Wasi Shiwamurti bersikap seperti sahabat terhadap pemuda itu?

Tentu saja dalam hatinya Retna Wilis tidak sudi diundang menghadap Adipati Blambangan karena ia tahu bahwa hal itu sama saja dengan memasuki guha penuh dengan srigala yang buas. Akan tetapi Jayawijaya menyambut undangan itu dengan suara gembira!
"Begitulah seharusnya! Kalau kami diundang secara terhormat, tentu kami mau datang, akan tetapi kalau kalian menggunakan kekerasan, kami bahkan menolak. Kebetulan karena akupun ingin bicara dengan sang adipati, menasihatinya agar dia tidak menggunakan cara kekerasan dalam penyebaran agama, melainkan dengan halus dan kalau ada yang memasuki agama baru itu, dengan suka rela bukan dengan paksaan."
Retna Wilis terbelalak keheranan. Jayawijaya menerima undangan itu? Gila! Sama saja dengan memasuki perangkap! Akan tetapi ia tahu bahwa pada saat seperti itu, melawanpun tidak akan ada gunanya. Kedigdayaannya masih kalah jauh untuk melawan mereka. Baru melawan Wasi Shiwamurti seorang saja, ia sudah kalah. Apalagi kalau Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda ikut maju mengeroyok. Ia tentu akan tertawan juga. Dan kalau dipikir dan diperhitungkan, ikut sebagai tamu yang diundang dengan hormat jauh lebih baik dari pada ikut sebagai tawanan! Dan anehnya, hatinya tidak merasa khawatir. Entah mengapa, ia merasa aman bersama Jayawijaya, merasa tenang dan sama sekali tidak takut, bahkan yakin bahwa pemuda aneh itu tentu akan mampu melindunginya. Dekat dengan Jayawijaya ia merasa seperti kalau ia dekat dengan kakaknya, Bagus Seta. Teringat akan Bagus Seta, hatinya menjadi lebih besar lagi. Kakaknya tentu sudah memasuki Blambangan dan kalau terjadi sesuatu dengan dirinya, tentu kakaknya akan mengetahuinya dan akan menolongnya.
"Kalau begitu, kami undang kalian berdua untuk mengikuti kami, menghadap Sang Adipati Menak Sampar di Blambangan," kata Wasi Shiwamurti dan suaranya terdengar ramah dan halus!
"Kakang Jaya ... !" Retna Wilis hendak memrotes, akan tetapi Jayawijaya menggerakkan tangannya menenangkan gadis itu sambil berkata lembut dan tenang.
"Tidak mengapa, diajeng. Kita mendapat undangan dengan hormat dan karena kita tidak bersalah, Sang Hyang Widhi akan selalu melindungi kita."
"Kakang Wasi ... !" Wasi Karangwolo menegur kakak seperguruannya karena telah bersikap sehalus itu terhadap kedua orang muda yang dimusuhi itu. Akan tetapi Wasi Shiwamurti juga mengangkat tangan memberi isarat agar kawan-kawannya diam dan tidak membantah.

Demikianlah, Jayawijaya dan Retna Wilis dikawal oleh empat orang tokoh itu memasuki pintu gerbang kota kadipaten Blambangan. Para prajurit yang berjaga di situ juga terbelalak melihat betapa dua orang itu dikawal masuk dalam keadaan tenang dan sama sekali bukan sebagai tawanan. Wasi Shiwamurti segera menyuruh seorang perwira untuk melapor kepada Sang Adipati Menak Sampar bahwa mereka mohon menghadap. Adipati Menak Sampar sendiri terkejut mendengar bahwa Wasi Shiwamurti membawa dua orang muda, terutama Retno Wilis yang namanya menggiriskan itu, datang menghadapnya, bukan sebagai tawanan melainkan sebagai tamu! Dia merasa heran dan cepat bersiap siaga untuk menyambut mereka di Balai Agung. Karena Wasi Karangwolo berkedudukan sebagai penasihat Sang Adipati, dan tiga orang tokoh agama Shiwa-Durgo-Kala itu merupakan tamu-tamu terhormat, maka ketika menghadap Adipati Menak Sampar mereka tidak duduk di atas lantai, melainkan duduk di atas kursi yang telah disediakan. Juga disediakan dua kursi untuk Jayawijaya dan Retno Wilis sehingga mereka benar-benar dianggap sebagai tamu! Setelah diadakan tegur sapa resmi dan memberi penghormatan kepada sang adipati, Wasi Shiwamurti lalu melapor dengan suara lembut.
"Sang Adipati, kami datang membawa serta dua orang tamu ini. Mereka ini adalah Retna Wilis, puteri dari Kipatih Tejolaksono dari Panjalu, dan yang seorang lagi bernama Jayawijaya. Mereka datang untuk memperbincangkan tentang penyebaran agama baru di wilayah Blambangan."
Sang Adipati mengangguk dan memandang kepada dua orang muda itu dengan sinar mata penuh selidik. Ketika memandang kepada Retno Wilis, dia terpesona oleh kecantikan gadis itu, akan tetapi mendengar akan sepak terjang Retna Wilis, hatinya diliputi kengerian dan juga hamper tidak dapat percaya bahwa gadis cantik jelita seperti itu dapat menjadi seorang ganas dan sakti menakutkan.
"Hemm, Retna Wilis dan Jayawijaya, apakah yang andika berdua hendak sampaikan kepada kami mengenai penyebaran agama itu?" tanya Adipati Menak Sampar kepada dua orang muda itu dengam suara yang dibuat sewibawa mungkin. Akan tetapi suara itu sama sekali tidak menggetarkan atau menimbulkan rasa hormat kepada dua orang muda itu.

Retna Wilis hanya memandang dengan dingin dan tidak hendak menjawab karena ia ikut menjadi tamu itu sebetulnya hanya untuk mengikuti kehendak Jayawijaya saja. Ia membiarkan pemuda itu yang menjawabnya dan hal ini agaknya juga dimengerti oleh Jayawijaya. Dia menatap wajah sang Adipati dan dia lalu berkata.
"Sang adipati, sebetulnya bukan keinginan kami untuk datang ke sini, akan tetapi kami diundang oleh Wasi Shiwamurti untuk menghadap andika dan untuk bicara tentang penyebaran agama baru itu. Kami sungguh tidak setuju dengan cara penyebaran agama baru yang menggunakan paksaan dan kekerasan. Kami menentang itu karena hal itu sebetulnya menyalahi prikemanusiaan. Siapa saja boleh berganti agama sesuka hatinya asalkan agama yang baru itu tidak memaksakan kehendak para penyebarnya dengan ancaman. Karena kami sudah diundang ke sini, maka kebetulan sekali kami hendak menegur andika dengan cara penyebaran agama itu."
Ucapan itu tegas, tenang, tidak menjilat akan tetapi juga dengan cukup sopan. Muka sang adipati sudah mulai merah. Pemuda yang kelihatan seperti pemuda dusun walau pun wajahnya amat tampan itu menyebutnya dengan "andika" begitu saja. Padahal seluruh kawula Blambangan menyebutnya "paduka". Dia melirik ke arah puterinya yang hadir di situ. Puterinya itu adalah anak tunggalnya yang terkasih, bernama Dyah Ayu Kerti. Ibunya seorang puteri Bali dan Dyah Ayu Kerti yang berusia kurang lebih tujuh-belas tahun itu adalah seorang gadis yang teramat cantik jelita. Sejak tadi, Dyah Ayu Kerti memandang kepada dua orang tamu itu, terutama kepada Jayawijaya. Pandang matanya melekat kepada pemuda itu. Entah mengapa, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menarik hatinya dan membuatnya terpesona. Apalagi ketika pemuda itu sudah bicara, suaranya seperti menembus ke hatinya dan kata-katanya demikian menarik, membuat Dyah Ayu Kerti memandang tanpa berkedip. Pada saat itu, Jayawijaya sudah selesai bicara dan Adipati Menak Sampar melirik kepada puterinya. Melihat puterinya memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan mulut sedikit ternganga, Adipati Menak Sampar mengerutkan alisnya. Tidak sepantasnya kalau puterinya mendengarkan semua percakapan itu. Pula, nanti mungkin akan terjadi kekerasan di situ kalau dia memerintahkan agar para senopatinya menangkap dua orang muda itu. Dia tidak mau puterinya terlibat dalam kekerasan dan berada dalam bahaya. Maka diapun segera berkata kepada puterinya.
"Anakku Dyah Ayu Kerti, engkau sebaiknya masuk ke dalam dan menemani ibumu. Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku. Masuklah, nini."

Dyah Ayu Kerti memandang kepada ayahnya, lalu menengok dan memandang lagi kepada Jayawijaya. Akan tetapi biarpun ia tidak ingin meninggalkan tempat itu, ia tidak mau membantah perintah ayahnya. Ia Ialu menyembah dan mengundurkan diri, sebelum memasuki pintu tembusan, kembali ia mengerling ke arah Jayawijaya. Setelah puterinya masuk ke dalam, Adipati Menak Sampar lalu menjawab ucapan Jayawijaya tadi.
"Orang muda, sebetulnya semua ucapanmu tadi salah alamat. Ketahuilah bahwa Kadipaten Blambangan sama sekali tidak menyebar agama baru, akan tetapi yang menyebar adalah para pendeta dari Negeri Cola di dunia barat, yang dipimpin oleh Sang Wasi Shiwamurti. Bagaimana cara mereka menyebar agama adalah hak mereka, dan andika sama sekali tidak mempunyai hak untuk mencampuri. Apalagi kalau terjadi di daerah Blambangan, kami tidak ingin orang luar mencampurinya tanpa seijin kami!"
"Sang Adipati, kalau peristiwa itu terjadi di daerah Blambangan, tentu saja hal itu dapat dimengerti dan kamipun tidak akan mencampurinya. Akan tetapi banyak peristiwa pemaksaan memeluk agama baru itu terjadi di luar daerah Blambangan dan Nusabarung, bahkan menjalar ke daerah Panjalu dan Jenggala. Karena itu kami terpaksa menentangnya. Dan kami menegur kepada andika sama sekali bukan salah alamat, karena para penyebar agama itu menjadi tamu kadipaten Blambangan maka kadipaten Blambangan pula yang harus bertanggung-jawab!"
Retna Wilis merasa heran sekali akan kepandaian Jayawijaya untuk berdebat. Juga ia merasa lucu. Biasanya, menghadapi orang-orang seperti para wasi sesat ini, ia tidak perlu banyak cakap, melainkan tangan kaki yang bicara mengadu kesaktian. Akan tetapi Jayawijaya berdebat dengan mulut dan pemuda itu sedikitpun tidak merasa gentar! Diam-diam Retna Wilis bersikap waspada. Ia tidak dapat percaya terhadap kejujuran orang-orang seperti Wasi Shiwamurti dan Wasi Karangwolo.

<<< Bagian 55                                                                                          Bagian 57 >>>

No comments:

Post a Comment