Mendengar ini, Retna Wilis tidak menjadi marah, bahkan mukanya yang putih mulus kulitnya itu kini menjadi kemerahan dan matanya mengerling tajam. Biasanya, pujian akan kecantikannya yang keluar dari mulut laki-laki mengandung rayuan, akan tetapi sekali ini sama sekali lain. Jayawijaya mengucapkannya dengan setulus hati penuh kejujuran dan tidak disembunyikan, terbuka dan polos.
"Terima
kasih atas pujianmu, kakang Jayawijaya, akan tetapi ... ah, kukira ada
orang-orang berdatangan!" kata Retna Wilis yang pendengarannya amat tajam
terlatih.
Baru saja ia
berkata demikian, tampak bayangan empat orang dan di situ telah berdiri Wasi
Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda! Kiranya Ni
Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda juga berada bersama kedua orang Wasi tadi,
hanya tadi belum memperlihatkan diri dan ketika mereka mengadakan pengejaran
terhadap Jayawijaya dan Retna Wilis, kedua orang itupun ikut mengejar.
Wasi
Shiwamurti tidak mengenal Retna Wilis, akan tetapi tiga orang yang lain segera
mengenalnya. Wasi Karangwolo pernah bertanding melawan Retna Wilis, juga Ni
Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda pernah bentrok dengan gadis perkasa itu.
"Kakang
Wasi Shiwamurti, inilah gadis puteri Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono
dari Panjalu!" Kata Wasi Karangwolo kepada kakak seperguruannya.
"Ia
bersama kakaknya yang bernama Bagus Seta yang telah menentang penyebaran agama
kita, Kakangmas Wasi!" kata pula Ni Dewi Durgomala.
Melihat sikap
mereka, Jayawijaya sudah melangkah maju dan melindungi Retna Wilis. Dia
membusungkan dada, dengan penuh keberanian menentang pandang mata mereka dan
berkata dengan suara nyaring.
"Kalian
adalah orang-orang beragama, apakah tidak malu untuk mengganggu seorang gadis?
Sepatutnya kalian bicara baik-baik, bukan menggunakan kekerasan seperti orang
yang tidak mengenal sopan santun!"
Wasi
Shiwamurti mengangkat tangan kirinya mencegah kawan-kawannya yang sudah siap
untuk bergerak menyerang itu. Dia memandang Jayawijaya penuh selidik, juga agak
gentar. Tadi dia sudah mengalami sendiri betapa hebatnya pemuda ini. Mampu
menolak semua sihirnya, bahkan ketika dia menyerang dengan pukulan sakti jarak
jauh, pemuda itu sama sekali tidak bergeming apa lagi roboh. Sebaliknya malah
dia sendiri terjengkang karena tenaga dan hawa sakti pukulannya itu membalik
dan menyerang dirinya sendiri. Kini melihat sikap pemuda seperti menasihati
itu, dia menjadi semakin terheran-heran. Siapakah sesungguhnya pemuda yang
memakai nama Jayawijaya ini? Dari perguruan mana? Tampaknya demikian lemah
lembut dan tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi mengapa semua serangannya
gagal? Dia tidak berani sembrono lagi dan mencegah kawan-kawannya untuk turun
tangan.
"Heh,
Jayawijaya. Kami melakukan kekerasan karena gadis ini berulang kali menentang
kami. Demikian juga ibunya, Endang Patibroto selalu menentang dan memusuhi
kami!"
"Tidak
mungkin diajeng Retna Wilis memusuhi kalian kalau kalian tidak melakukan kesalahan
dan kejahatan. Kalian memaksa penduduk untuk memeluk agama baru, tentu saja ia
menentang kalian! Kalian yang memulai, bukan diajeng Retna Wilis!"
"Akan
tetapi kami menyebarkan agama kami sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan
kalian !" bantah Wasi Shiwamurti.
"Penyebaran
agama secara wajar tentu tidak akan menimbulkan pertentangan. Akan tetapi
kalian menggunakan kekerasan, itulah persoalannya," kata pula Jayawijaya
dan Retna Wilis mendengarkannya dengan heran. Pemuda ini mengajak orang-orang
tersesat itu untuk bercakap-cakap dan agaknya Wasi Shiwamurti melayaninya,
seolah mereka itu berbantahan dan tidak pernah terjadi apa-apa di antara
mereka. Padahal baru saja kakek itu berusaha keras untuk membunuh ia dan
Jayawijaya.
"Hemm,
kalau begitu, mari kita bicarakan hal ini dan menghadap Sang Adipati di
Blambangan. Kita bicarakan dengan baik-baik seperti yang kaukehendaki,"
kata Wasi Shiwamurti dan teman-temannya juga memandang kepada Wasi itu dengan
heran. Kenapa Wasi Shiwamurti bersikap seperti sahabat terhadap pemuda itu?
Tentu saja
dalam hatinya Retna Wilis tidak sudi diundang menghadap Adipati Blambangan
karena ia tahu bahwa hal itu sama saja dengan memasuki guha penuh dengan
srigala yang buas. Akan tetapi Jayawijaya menyambut undangan itu dengan suara gembira!
"Begitulah
seharusnya! Kalau kami diundang secara terhormat, tentu kami mau datang, akan
tetapi kalau kalian menggunakan kekerasan, kami bahkan menolak. Kebetulan
karena akupun ingin bicara dengan sang adipati, menasihatinya agar dia tidak
menggunakan cara kekerasan dalam penyebaran agama, melainkan dengan halus dan
kalau ada yang memasuki agama baru itu, dengan suka rela bukan dengan
paksaan."
Retna Wilis
terbelalak keheranan. Jayawijaya menerima undangan itu? Gila! Sama saja dengan
memasuki perangkap! Akan tetapi ia tahu bahwa pada saat seperti itu, melawanpun
tidak akan ada gunanya. Kedigdayaannya masih kalah jauh untuk melawan mereka.
Baru melawan Wasi Shiwamurti seorang saja, ia sudah kalah. Apalagi kalau Wasi
Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda ikut maju mengeroyok. Ia tentu
akan tertawan juga. Dan kalau dipikir dan diperhitungkan, ikut sebagai tamu
yang diundang dengan hormat jauh lebih baik dari pada ikut sebagai tawanan! Dan
anehnya, hatinya tidak merasa khawatir. Entah mengapa, ia merasa aman bersama
Jayawijaya, merasa tenang dan sama sekali tidak takut, bahkan yakin bahwa
pemuda aneh itu tentu akan mampu melindunginya. Dekat dengan Jayawijaya ia
merasa seperti kalau ia dekat dengan kakaknya, Bagus Seta. Teringat akan Bagus
Seta, hatinya menjadi lebih besar lagi. Kakaknya tentu sudah memasuki
Blambangan dan kalau terjadi sesuatu dengan dirinya, tentu kakaknya akan
mengetahuinya dan akan menolongnya.
"Kalau
begitu, kami undang kalian berdua untuk mengikuti kami, menghadap Sang Adipati
Menak Sampar di Blambangan," kata Wasi Shiwamurti dan suaranya terdengar
ramah dan halus!
"Kakang
Jaya ... !" Retna Wilis hendak memrotes, akan tetapi Jayawijaya
menggerakkan tangannya menenangkan gadis itu sambil berkata lembut dan tenang.
"Tidak
mengapa, diajeng. Kita mendapat undangan dengan hormat dan karena kita tidak
bersalah, Sang Hyang Widhi akan selalu melindungi kita."
"Kakang
Wasi ... !" Wasi Karangwolo menegur kakak seperguruannya karena telah
bersikap sehalus itu terhadap kedua orang muda yang dimusuhi itu. Akan tetapi
Wasi Shiwamurti juga mengangkat tangan memberi isarat agar kawan-kawannya diam
dan tidak membantah.
Demikianlah,
Jayawijaya dan Retna Wilis dikawal oleh empat orang tokoh itu memasuki pintu
gerbang kota kadipaten Blambangan. Para prajurit yang berjaga di situ juga
terbelalak melihat betapa dua orang itu dikawal masuk dalam keadaan tenang dan
sama sekali bukan sebagai tawanan. Wasi Shiwamurti segera menyuruh seorang
perwira untuk melapor kepada Sang Adipati Menak Sampar bahwa mereka mohon
menghadap. Adipati Menak Sampar sendiri terkejut mendengar bahwa Wasi
Shiwamurti membawa dua orang muda, terutama Retno Wilis yang namanya
menggiriskan itu, datang menghadapnya, bukan sebagai tawanan melainkan sebagai
tamu! Dia merasa heran dan cepat bersiap siaga untuk menyambut mereka di Balai
Agung. Karena Wasi Karangwolo berkedudukan sebagai penasihat Sang Adipati, dan
tiga orang tokoh agama Shiwa-Durgo-Kala itu merupakan tamu-tamu terhormat, maka
ketika menghadap Adipati Menak Sampar mereka tidak duduk di atas lantai,
melainkan duduk di atas kursi yang telah disediakan. Juga disediakan dua kursi
untuk Jayawijaya dan Retno Wilis sehingga mereka benar-benar dianggap sebagai
tamu! Setelah diadakan tegur sapa resmi dan memberi penghormatan kepada sang
adipati, Wasi Shiwamurti lalu melapor dengan suara lembut.
"Sang
Adipati, kami datang membawa serta dua orang tamu ini. Mereka ini adalah Retna
Wilis, puteri dari Kipatih Tejolaksono dari Panjalu, dan yang seorang lagi
bernama Jayawijaya. Mereka datang untuk memperbincangkan tentang penyebaran
agama baru di wilayah Blambangan."
Sang Adipati
mengangguk dan memandang kepada dua orang muda itu dengan sinar mata penuh
selidik. Ketika memandang kepada Retno Wilis, dia terpesona oleh kecantikan
gadis itu, akan tetapi mendengar akan sepak terjang Retna Wilis, hatinya
diliputi kengerian dan juga hamper tidak dapat percaya bahwa gadis cantik
jelita seperti itu dapat menjadi seorang ganas dan sakti menakutkan.
"Hemm,
Retna Wilis dan Jayawijaya, apakah yang andika berdua hendak sampaikan kepada
kami mengenai penyebaran agama itu?" tanya Adipati Menak Sampar kepada dua
orang muda itu dengam suara yang dibuat sewibawa mungkin. Akan tetapi suara itu
sama sekali tidak menggetarkan atau menimbulkan rasa hormat kepada dua orang
muda itu.
Retna Wilis
hanya memandang dengan dingin dan tidak hendak menjawab karena ia ikut menjadi
tamu itu sebetulnya hanya untuk mengikuti kehendak Jayawijaya saja. Ia
membiarkan pemuda itu yang menjawabnya dan hal ini agaknya juga dimengerti oleh
Jayawijaya. Dia menatap wajah sang Adipati dan dia lalu berkata.
"Sang
adipati, sebetulnya bukan keinginan kami untuk datang ke sini, akan tetapi kami
diundang oleh Wasi Shiwamurti untuk menghadap andika dan untuk bicara tentang
penyebaran agama baru itu. Kami sungguh tidak setuju dengan cara penyebaran
agama baru yang menggunakan paksaan dan kekerasan. Kami menentang itu karena
hal itu sebetulnya menyalahi prikemanusiaan. Siapa saja boleh berganti agama
sesuka hatinya asalkan agama yang baru itu tidak memaksakan kehendak para
penyebarnya dengan ancaman. Karena kami sudah diundang ke sini, maka kebetulan
sekali kami hendak menegur andika dengan cara penyebaran agama itu."
Ucapan itu
tegas, tenang, tidak menjilat akan tetapi juga dengan cukup sopan. Muka sang
adipati sudah mulai merah. Pemuda yang kelihatan seperti pemuda dusun walau pun
wajahnya amat tampan itu menyebutnya dengan "andika" begitu saja.
Padahal seluruh kawula Blambangan menyebutnya "paduka". Dia melirik
ke arah puterinya yang hadir di situ. Puterinya itu adalah anak tunggalnya yang
terkasih, bernama Dyah Ayu Kerti. Ibunya seorang puteri Bali dan Dyah Ayu Kerti
yang berusia kurang lebih tujuh-belas tahun itu adalah seorang gadis yang
teramat cantik jelita. Sejak tadi, Dyah Ayu Kerti memandang kepada dua orang
tamu itu, terutama kepada Jayawijaya. Pandang matanya melekat kepada pemuda
itu. Entah mengapa, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menarik hatinya dan
membuatnya terpesona. Apalagi ketika pemuda itu sudah bicara, suaranya seperti menembus
ke hatinya dan kata-katanya demikian menarik, membuat Dyah Ayu Kerti memandang
tanpa berkedip. Pada saat itu, Jayawijaya sudah selesai bicara dan Adipati
Menak Sampar melirik kepada puterinya. Melihat puterinya memandang kepada
pemuda itu dengan mata terbelalak dan mulut sedikit ternganga, Adipati Menak
Sampar mengerutkan alisnya. Tidak sepantasnya kalau puterinya mendengarkan
semua percakapan itu. Pula, nanti mungkin akan terjadi kekerasan di situ kalau
dia memerintahkan agar para senopatinya menangkap dua orang muda itu. Dia tidak
mau puterinya terlibat dalam kekerasan dan berada dalam bahaya. Maka diapun
segera berkata kepada puterinya.
"Anakku
Dyah Ayu Kerti, engkau sebaiknya masuk ke dalam dan menemani ibumu. Urusan ini
tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku. Masuklah, nini."
Dyah Ayu Kerti
memandang kepada ayahnya, lalu menengok dan memandang lagi kepada Jayawijaya.
Akan tetapi biarpun ia tidak ingin meninggalkan tempat itu, ia tidak mau
membantah perintah ayahnya. Ia Ialu menyembah dan mengundurkan diri, sebelum
memasuki pintu tembusan, kembali ia mengerling ke arah Jayawijaya. Setelah
puterinya masuk ke dalam, Adipati Menak Sampar lalu menjawab ucapan Jayawijaya
tadi.
"Orang
muda, sebetulnya semua ucapanmu tadi salah alamat. Ketahuilah bahwa Kadipaten
Blambangan sama sekali tidak menyebar agama baru, akan tetapi yang menyebar
adalah para pendeta dari Negeri Cola di dunia barat, yang dipimpin oleh Sang
Wasi Shiwamurti. Bagaimana cara mereka menyebar agama adalah hak mereka, dan
andika sama sekali tidak mempunyai hak untuk mencampuri. Apalagi kalau terjadi
di daerah Blambangan, kami tidak ingin orang luar mencampurinya tanpa seijin
kami!"
"Sang
Adipati, kalau peristiwa itu terjadi di daerah Blambangan, tentu saja hal itu
dapat dimengerti dan kamipun tidak akan mencampurinya. Akan tetapi banyak
peristiwa pemaksaan memeluk agama baru itu terjadi di luar daerah Blambangan
dan Nusabarung, bahkan menjalar ke daerah Panjalu dan Jenggala. Karena itu kami
terpaksa menentangnya. Dan kami menegur kepada andika sama sekali bukan salah
alamat, karena para penyebar agama itu menjadi tamu kadipaten Blambangan maka
kadipaten Blambangan pula yang harus bertanggung-jawab!"
Retna Wilis
merasa heran sekali akan kepandaian Jayawijaya untuk berdebat. Juga ia merasa lucu.
Biasanya, menghadapi orang-orang seperti para wasi sesat ini, ia tidak perlu
banyak cakap, melainkan tangan kaki yang bicara mengadu kesaktian. Akan tetapi
Jayawijaya berdebat dengan mulut dan pemuda itu sedikitpun tidak merasa gentar!
Diam-diam Retna Wilis bersikap waspada. Ia tidak dapat percaya terhadap
kejujuran orang-orang seperti Wasi Shiwamurti dan Wasi Karangwolo.
<<< Bagian 55 Bagian 57 >>>
No comments:
Post a Comment