Orang-orang seperti itu biasanya berhati palsu, tidak pantang melakukan kecurangan dan kekerasan dalam bentuk apapun juga. Ia merasa bahwa mereka berada di dalam sarang harimau yang penuh binatang buas dan keadaan mereka berbahaya sekali. Bagaimana kalau sang adipati itu memerintahkan para punggawanya untuk menangkap mereka berdua? Kalau Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Nini Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda turun tangan terhadap mereka, apa yang dapat ia lakukan? Melawan mereka pasti ia akan kalah dan Jayawijaya biarpun memiliki pengaruh mujijat, belum dapat diandalkan untuk menundukkan mereka karena pemuda itu tidak dapat dan tidak mau berkelahi! Ia teringat akan pengalamannya di Nusabarung ketika ia dikeroyok banyak punggawa Nusabarung dan keadaannya berada dalam bahaya. Ia mampu meloloskan diri dengan menangkap Adipati Martimpang dan menjadikannya sebagai sandera. Ingatan ini yang menimbulkan pikiranya untuk berbuat yang sama di kadipaten Blambangan itu. Kalau terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan ia dan Jayawijaya, ia akan menawan Adipati Menak Sampar dan menyanderanya agar ia dan Jayawijaya dapat lolos dari tempat itu! Diam-diam Retna Wilis sudah siap sedia, seluruh urat syarafnya menegang, siap untuk bergerak. ‘Dengan sekali loncatan saja ia akan dapat tiba di dekat adipati itu dan menyanderanya,’ demikian pikirnya.
Ketika Adipati
Menak Sampar mendengar bantahan Jayawijaya, wajahnya yang biasanya sudah merah
itu menjadi semakin merah. Tubuhnya yang tinggi besar bergerak gelisah di atas
kursinya dan kumisnya yang melintang itu seperti menjadi semakin kaku.
"Jayawijaya,
berani engkau bicara seperti itu di depan kami! Ingat, andika sekarang berada
di tempat kami dan sekali kami menggerakkan tangan memberi isyarat,
orang-orangku akan menangkap kalian, bahkan dengan mudah kami dapat membunuh
kalian!"
Inilah yang
dinanti-nanti oleh Retna Wilis. Begitu mendengar ucapan adipati itu, terutama
kalimat terakhir yang nadanya mengancam, secepat kilat ia sudah meloncat ke
depan dan sebelum ada orang dapat mencegahnya, bahkan sebelum Adipati Menak
Sampar dapat berkutik, tangannya sudah mencabut pedang pusaka Sapudenta dan
ditempelkannya pedang itu ke leher Adipati Menak Sampar sambil menghardik
dengan suara yang nyaring.
"Siapa
berani mengganggu kakang Jayawijaya, pedangku akan memenggal leher Adipati
Menak Sampar!"
"Diajeng
Retna Wilis! Jangan, jangan bunuh orang ... !" Jayawijaya berseru kepada
Retna Wilis. Dia khawatir kalau-kalau Retna Wilis benar-benar akan memenggal
leher sang adipati!
Wasi
Shiwamurti adalah seorang yang berpengalaman. Sekali pandang dan dengar saja,
tahulah dia bahwa pemuda itu tidak akan membiarkan Retna Wilis membunuh sang
adipati, maka cepat sekali tangannya menyambar dan dia sudah menangkap kedua
lengan Jayawijaya dan dipuntirnya ke belakang. Di detik lain Jayawijaya telah
ditelikungnya dan pemuda itu tidak mampu bergerak.
"Retno
Wilis! Kalau engkau mengganggu Sang Adipati, pemuda ini akan kuhancurkan
kepalanya!" bentak Wasi Shiwamurti dan diam-diam dia merasa heran dan juga
girang sekali. Ternyata pemuda yang ditakutinya itu sama sekali tidak memiliki
tenaga untuk melepaskan diri, bahkan mencobapun tidak! Sama sekali tidak disangkanya
bahwa sedemikian mudahnya dia menangkap pemuda yang disangkanya maha sakti itu.
"Diajeng
Retna! Lepaskanlah Sang Adipati. Bukan karena aku takut mati, akan tetapi
karena tidak baik kalau engkau sampai membunuh orang demi aku. Aku tidak akan
rela!"
Retna Wilis
menjadi serba salah. Ancamannya dengan menyandera Sang Adipati ternyata gagal
dan tidak ada gunanya. Selain Wasi Shiwamurti tidak mau melepaskan Jayawijaya,
juga ia tidak dapat membunuh sang adipati karena Jayawijaya menentang keras!
Dengan perasaan menyesal dan gemas karena Jayawijaya tidak mendukung siasatnya
menyandera sang adipati, terpaksa Retna Wilis melepaskan adipati itu. Akan
tetapi sebelum ia melepaskan pedangnya dari leher Adipati Menak Sampar, ia
berkata dengan suara penuh wibawa kepada Wasi Shiwamurti.
"Aku
hanya mau membebaskan Adipati Menak Sampar kalau kalian mau berjanji bahwa
kalian tidak akan membunuh Kakang Jayawijaya!"
Tidak ada yang
memberi jawaban atas ucapan Retna Wilis itu. Para wasi dan kawan-kawannya
berdiam diri, dan Wasi Shiwamurti masih saja menelikung kedua lengan Jayawijaya
ke belakang tubuhnya. Retna Wilis menggigit bibirnya dengan marah sekali dan ia
berkata kepada Adipati Menak Sampar,
"Adipati
Menak Sampar, berjanjilah bahwa engkau tidak akan memperkenankan mereka membunuh
kakang Jayawijaya, atau kalau engkau tidak mau berjanji, demi para dewa, aku
akan membunuhmu sekarang juga kemudian mengamuk, kalau perlu mengorbankan
nyawaku di sini. Akan tetapi engkaulah yang akan mati lebih dulu!!"
Setelah berkata demikian, ia menekan pedangnya ke leher adipati itu.
Wasi
Shiwamurti menggertak dan berseru keras,
"Retna
Wilis! Kalau engkau tidak cepat melepaskan Sang Adipati, aku akan membunuh
Jayawijaya!"
Retno Wilis
membalas dengan kata-kata lantang,
"Wasi
Shiwamurti! Begitu engkau membunuh kakang Jayawijaya, kepala Adipati Menak
Sampar akan menggelinding dari lehernya, kemudian aku akan mengamuk dan
percayalah, sebelum aku mati kalian keroyok, aku pasti telah membunuh banyak di
antara kalian! Tidak ada gunanya engkau menggertak!"
Merasa betapa
pedang itu ditekankan di kulit lehernya dan tahu bahwa gadis perkasa itu bukan
hanya menggertak kosong belaka, Adipati Menak Sampar menjadi ketakutan sekali.
"Paman
Wasi Shiwamurti, jangan bunuh Jayawijaya!" teriaknya dengan mata terbelalak
ketakutan.
"Retna
Wilis, aku berjanji bahwa aku tidak akan memperkenankan mereka membunuh
Jayawijaya!"
"Engkau
berani bersumpah?" desak Retno Wilis.
"Aku,
Adipati Menak Sampar, bersumpah tidak akan membunuhnya!"
"Aku
ingin engkau berjanji dan bersumpah sebagai Adipati Blambangan, bukan pribadi
Menak Sampar yang tidak kupercaya!" kata pula Retna Wilis.
"Baiklah,
sebagai Adipati Blambangan, aku bersumpah tidak akan membunuh atau menyuruh
bunuh Jayawijaya. Paman Wasi bebaskan pemuda itu!"
Mendengar ini,
dengan apa boleh buat Wasi Shiwamurti melepaskan kedua lengan Jayawijaya yang
tadinya dia telikung ke belakang tubuhnya. Begitu terlepas dari cengkeraman
wasi itu, Jayawijaya mendekati Retna Wilis dan berkata kepada gadis itu,
"Diajeng
Retna Wilis, harap engkau suka melepaskan Sang Adipati."
Sebelum
menarik kembali pedang pusakanya, Retna Wilis yang teringat akan sesuatu
berkata lagi,
"Adipati
Menak Sampar, katakan sekali lagi bahwa engkau akan membebaskan kakang
Jayawijaya!"
"Baik,
kami membebaskan Jayawijaya, Sekarang juga dia boleh meninggalkan tempat ini
dan kami tidak akan mengganggunya sama sekali."
Setelah sang
adipati berjanji akan membebaskan Jayawijaya, barulah lega rasa hati Retna
Wilis dan iapun melepaskan ancamannya, mundur dan tangannya masih memegang
pedang pusakanya. Melihat ini, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi
Durgomala dan Ki Shiwananda lalu bergerak mendekati sang adipati untuk memberi
perlindungan. Adipati Menak Sampar kini menjadi marah sekali. Mukanya yang
tadinya pucat berubah merah dan dia berkata dengan mata melotot kepada Retna
Wilis.
"Retna
Wilis, berani sekali engkau telah menghina kami. Kami terpaksa harus menawanmu!
Terserah engkau hendak menyerah menjadi tawanan atau kami akan menggunakan
kekerasan terhadap dirimu!" Dengan tangannya sang adipati memberi isyarat
dan dua orang senopatinya, yaitu Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan
Senopati Kurdolangit yang tinggi kurus, telah memimpin belasan orang perajurit
pengawal untuk mengepung dara perkasa itu.
Melihat ini, Jayawijaya
berseru dengan penasaran.
"Sang
Adipati Menak Sampar! Andika adalah seorang adipati yang disembah oleh
orang-orang se daerah Blambangan, apakah engkau tidak malu untuk menjilat ludah
sendiri yang telah dikeluarkan? Engkau sudah berjanji untuk membebaskan kami.
Mengapa sekarang engkau hendak menawan diajeng Retna Wilis?"
"Ha-ha-ha!"
Sang Adipati Blambangan itu tertawa bergelak penuh ejekan.
"Siapa
yang melanggar janji? Kami memang berjanji untuk membebaskan Jayawijaya, dan
sekarangpun engkau boleh pergi, kami tidak akan mencegahmu. Akan tetapi kami
tidak pernah berjanji untuk membebaskan Retna Wilis! Karena itu ia harus
menjadi tawanan kami!"
Retno Wilis
teringat akan hal ini dan ia gemas sekali. Dalam keadaan tegang ingin
menyelamatkan Jayawijaya ia sampai lupa kepada dirinya sendiri.
"Sang
Adipati Menak Sampar, andika seorang adipati yang besar dan tentu tidak akan
bertindak sewenang-wenang dan tanpa alasan. Alasan apa yang andika pakai untuk
menawan diajeng Retna Wilis?"
"Hemm, ia
seorang telik sandi dari Kerajaan Panjalu! Itu alasan pertama. Dan alasan
kedua, ia telah berani menawan dan menghina kami sebagai sandera. Dan alasan
itu sudah cukup untuk menawannya! Retna Wilis, menyerahlah atau kami akan
menggunakan kekerasan!" bentak Sang Adipati.
Retna Wilis
mempererat pegangannya pada gagang pedangnya, siap untuk melawan dan mengamuk.
Akan tetapi pada saat itu Jayawijaya melangkah maju menghampirinya dan berkata
kepadanya dengan lembut.
"Sarungkan
pedangmu, diajeng. Sang Adipati Menak Sampar, kalau engkau tidak membebaskan
diajeng Retna Wilis dan hendak menawannya, maka akupun ingin menyertainya
menjadi tawanan."
"Ha-ha-ha,
ini adalah kemauanmu sendiri, Jayawijaya, jangan katakan bahwa kami yang
melanggar janji. Retna Wilis, serahkan pedangmu dan menyerahlah."
Retna Wilis
menyarungkan pedangnya menuruti permintaan Jayawijaya dan menjawab dengan suara
dingin.
"Senjata
merupakan nyawa kedua bagi seorang pendekar. Aku tidak akan menyerahkan
pedangku selama nyawaku belum meninggalkan badan! Tawanlah kami, aku tidak akan
melawan."
Sang Adipati
Menak Sampar maklum akan kehebatan wanita yang sudah amat terkenal ini. Dia
tidak ingin mengorbankan orang-orangnya yang tentu banyak yang akan tewas kalau
wanita itu mengamuk.
"Bawa
mereka dan masukkan ke dalam penjara!” teriaknya dengan marah.
Dua orang
senopati dan belasan orang perajuritnya segera mengawal Retna Wilis dan
Jayawijaya menuju ke penjara yang terdapat dibelakang kadipaten, diantarkan
pula oleh Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya yang khawatir kalau-kalau dua
orang muda itu akan memberontak dan meloloskan diri.
Biarpun
hatinya mendongkol dan alisnya berkerut, namun Retna Wilis yang melihat
Jayawijaya menyerah dengan sabar dan tenang, terpaksa mengikuti pemuda itu dan
diam saja ketika diarak menuju ke penjara. Mereka disuruh memasuki sebuah kamar
penjara yang cukup besar, pintunya terbuat dari baja dan berterali yang kokoh
kuat lalu dikunci dari sebelah luar. Melalui pintu berterali itu Retna Wilis
dapat melihat belasan orang yang memegang tombak atau golok berjaga di situ.
Setelah mereka
ditinggalkan berdua saja, barulah Retna Wijis menegur kepada Jayawijaya.
"Kakang
Jaya, engkau ini bagaimanakah? Kenapa menyerah saja ketika ditawan? Kalau sudah
begini, kita tidak berdaya dan berada di dalam kekuasaan Adipati Blambangan dan
para wasi yang jahat itu. Bagaimana kita akan dapat lolos dari tempat ini,
kakang?"
"Jangan
salah mengerti, diajeng Retna Wilis. Aku menyarankan agar kita menyerah karena
tidak ada jalan lain. Kalau kubiarkan engkau mengamuk, biarpun engkau akan
dapat membunuh banyak orang, akhirnya engkau akan roboh juga karena keadaan
mereka terlalu kuat bagimu. Engkau akan tewas dan membawa banyak dosa karena
membunuh banyak orang. Dan jangan sekali-kali mengira bahwa kita berada dalam
kekuasaan Adipati Blambangan atau para wasi. Tidak, kita tetap berada dalam
kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Dan aku yakin kita akan dapat terbebas dari
bahaya kalau Hyang Widhi menghendaki. Aku yakin sepenuhnya bahwa Sang Hyang
Widhi berada bersama kita dan betapa mudahnya bagi kekuasaan Hyang Widhi untuk
membebaskan kita."
"Akan
tetapi kita telah berada dalam kurungan dan tidak berdaya! Bagaimana mungkin
kita akan dapat membebaskan diri tanpa daya upaya dan hanya mengandalkan
kekuasaan Hyang Widhi?" Retna Wilis membantah.
"Daya
upaya merupakan kewajiban kita. Tentu saja kita harus berdaya upaya karena
bimbingan Hyang Widhi mungkin tersalur lewat daya upaya kita. Akan tetapi tidak
selamanya daya upaya kita mendatangkan hasil dan pada akhirnya kita harus
mendasari semua itu dengan penyerahan, dengan kepasrahan ke Tangan Hyang
Widhi."
Sungguh
mengherankan. Entah mengapa, setelah mendengar ucapan-ucapan yang dikeluarkan
dengan suara yang demikian tenang dan sabar, penuh iman, hati Retna Wilis juga
menjadi tenang.
<<< Bagian 56 Bagian 58 >>>
No comments:
Post a Comment