Sepasang Garuda Putih ; Bagian 57


Orang-orang seperti itu biasanya berhati palsu, tidak pantang melakukan kecurangan dan kekerasan dalam bentuk apapun juga. Ia merasa bahwa mereka berada di dalam sarang harimau yang penuh binatang buas dan keadaan mereka berbahaya sekali. Bagaimana kalau sang adipati itu memerintahkan para punggawanya untuk menangkap mereka berdua? Kalau Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Nini Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda turun tangan terhadap mereka, apa yang dapat ia lakukan? Melawan mereka pasti ia akan kalah dan Jayawijaya biarpun memiliki pengaruh mujijat, belum dapat diandalkan untuk menundukkan mereka karena pemuda itu tidak dapat dan tidak mau berkelahi! Ia teringat akan pengalamannya di Nusabarung ketika ia dikeroyok banyak punggawa Nusabarung dan keadaannya berada dalam bahaya. Ia mampu meloloskan diri dengan menangkap Adipati Martimpang dan menjadikannya sebagai sandera. Ingatan ini yang menimbulkan pikiranya untuk berbuat yang sama di kadipaten Blambangan itu. Kalau terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan ia dan Jayawijaya, ia akan menawan Adipati Menak Sampar dan menyanderanya agar ia dan Jayawijaya dapat lolos dari tempat itu! Diam-diam Retna Wilis sudah siap sedia, seluruh urat syarafnya menegang, siap untuk bergerak. ‘Dengan sekali loncatan saja ia akan dapat tiba di dekat adipati itu dan menyanderanya,’ demikian pikirnya.

Ketika Adipati Menak Sampar mendengar bantahan Jayawijaya, wajahnya yang biasanya sudah merah itu menjadi semakin merah. Tubuhnya yang tinggi besar bergerak gelisah di atas kursinya dan kumisnya yang melintang itu seperti menjadi semakin kaku.
"Jayawijaya, berani engkau bicara seperti itu di depan kami! Ingat, andika sekarang berada di tempat kami dan sekali kami menggerakkan tangan memberi isyarat, orang-orangku akan menangkap kalian, bahkan dengan mudah kami dapat membunuh kalian!"
Inilah yang dinanti-nanti oleh Retna Wilis. Begitu mendengar ucapan adipati itu, terutama kalimat terakhir yang nadanya mengancam, secepat kilat ia sudah meloncat ke depan dan sebelum ada orang dapat mencegahnya, bahkan sebelum Adipati Menak Sampar dapat berkutik, tangannya sudah mencabut pedang pusaka Sapudenta dan ditempelkannya pedang itu ke leher Adipati Menak Sampar sambil menghardik dengan suara yang nyaring.
"Siapa berani mengganggu kakang Jayawijaya, pedangku akan memenggal leher Adipati Menak Sampar!"
"Diajeng Retna Wilis! Jangan, jangan bunuh orang ... !" Jayawijaya berseru kepada Retna Wilis. Dia khawatir kalau-kalau Retna Wilis benar-benar akan memenggal leher sang adipati!
Wasi Shiwamurti adalah seorang yang berpengalaman. Sekali pandang dan dengar saja, tahulah dia bahwa pemuda itu tidak akan membiarkan Retna Wilis membunuh sang adipati, maka cepat sekali tangannya menyambar dan dia sudah menangkap kedua lengan Jayawijaya dan dipuntirnya ke belakang. Di detik lain Jayawijaya telah ditelikungnya dan pemuda itu tidak mampu bergerak.
"Retno Wilis! Kalau engkau mengganggu Sang Adipati, pemuda ini akan kuhancurkan kepalanya!" bentak Wasi Shiwamurti dan diam-diam dia merasa heran dan juga girang sekali. Ternyata pemuda yang ditakutinya itu sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melepaskan diri, bahkan mencobapun tidak! Sama sekali tidak disangkanya bahwa sedemikian mudahnya dia menangkap pemuda yang disangkanya maha sakti itu.
"Diajeng Retna! Lepaskanlah Sang Adipati. Bukan karena aku takut mati, akan tetapi karena tidak baik kalau engkau sampai membunuh orang demi aku. Aku tidak akan rela!"

Retna Wilis menjadi serba salah. Ancamannya dengan menyandera Sang Adipati ternyata gagal dan tidak ada gunanya. Selain Wasi Shiwamurti tidak mau melepaskan Jayawijaya, juga ia tidak dapat membunuh sang adipati karena Jayawijaya menentang keras! Dengan perasaan menyesal dan gemas karena Jayawijaya tidak mendukung siasatnya menyandera sang adipati, terpaksa Retna Wilis melepaskan adipati itu. Akan tetapi sebelum ia melepaskan pedangnya dari leher Adipati Menak Sampar, ia berkata dengan suara penuh wibawa kepada Wasi Shiwamurti.
"Aku hanya mau membebaskan Adipati Menak Sampar kalau kalian mau berjanji bahwa kalian tidak akan membunuh Kakang Jayawijaya!"
Tidak ada yang memberi jawaban atas ucapan Retna Wilis itu. Para wasi dan kawan-kawannya berdiam diri, dan Wasi Shiwamurti masih saja menelikung kedua lengan Jayawijaya ke belakang tubuhnya. Retna Wilis menggigit bibirnya dengan marah sekali dan ia berkata kepada Adipati Menak Sampar,
"Adipati Menak Sampar, berjanjilah bahwa engkau tidak akan memperkenankan mereka membunuh kakang Jayawijaya, atau kalau engkau tidak mau berjanji, demi para dewa, aku akan membunuhmu sekarang juga kemudian mengamuk, kalau perlu mengorbankan nyawaku di sini. Akan tetapi engkaulah yang akan mati lebih dulu!!" Setelah berkata demikian, ia menekan pedangnya ke leher adipati itu.
Wasi Shiwamurti menggertak dan berseru keras,
"Retna Wilis! Kalau engkau tidak cepat melepaskan Sang Adipati, aku akan membunuh Jayawijaya!"
Retno Wilis membalas dengan kata-kata lantang,
"Wasi Shiwamurti! Begitu engkau membunuh kakang Jayawijaya, kepala Adipati Menak Sampar akan menggelinding dari lehernya, kemudian aku akan mengamuk dan percayalah, sebelum aku mati kalian keroyok, aku pasti telah membunuh banyak di antara kalian! Tidak ada gunanya engkau menggertak!"

Merasa betapa pedang itu ditekankan di kulit lehernya dan tahu bahwa gadis perkasa itu bukan hanya menggertak kosong belaka, Adipati Menak Sampar menjadi ketakutan sekali.
"Paman Wasi Shiwamurti, jangan bunuh Jayawijaya!" teriaknya dengan mata terbelalak ketakutan.
"Retna Wilis, aku berjanji bahwa aku tidak akan memperkenankan mereka membunuh Jayawijaya!"
"Engkau berani bersumpah?" desak Retno Wilis.
"Aku, Adipati Menak Sampar, bersumpah tidak akan membunuhnya!"
"Aku ingin engkau berjanji dan bersumpah sebagai Adipati Blambangan, bukan pribadi Menak Sampar yang tidak kupercaya!" kata pula Retna Wilis.
"Baiklah, sebagai Adipati Blambangan, aku bersumpah tidak akan membunuh atau menyuruh bunuh Jayawijaya. Paman Wasi bebaskan pemuda itu!"
Mendengar ini, dengan apa boleh buat Wasi Shiwamurti melepaskan kedua lengan Jayawijaya yang tadinya dia telikung ke belakang tubuhnya. Begitu terlepas dari cengkeraman wasi itu, Jayawijaya mendekati Retna Wilis dan berkata kepada gadis itu,
"Diajeng Retna Wilis, harap engkau suka melepaskan Sang Adipati."
Sebelum menarik kembali pedang pusakanya, Retna Wilis yang teringat akan sesuatu berkata lagi,
"Adipati Menak Sampar, katakan sekali lagi bahwa engkau akan membebaskan kakang Jayawijaya!"
"Baik, kami membebaskan Jayawijaya, Sekarang juga dia boleh meninggalkan tempat ini dan kami tidak akan mengganggunya sama sekali."

Setelah sang adipati berjanji akan membebaskan Jayawijaya, barulah lega rasa hati Retna Wilis dan iapun melepaskan ancamannya, mundur dan tangannya masih memegang pedang pusakanya. Melihat ini, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda lalu bergerak mendekati sang adipati untuk memberi perlindungan. Adipati Menak Sampar kini menjadi marah sekali. Mukanya yang tadinya pucat berubah merah dan dia berkata dengan mata melotot kepada Retna Wilis.
"Retna Wilis, berani sekali engkau telah menghina kami. Kami terpaksa harus menawanmu! Terserah engkau hendak menyerah menjadi tawanan atau kami akan menggunakan kekerasan terhadap dirimu!" Dengan tangannya sang adipati memberi isyarat dan dua orang senopatinya, yaitu Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan Senopati Kurdolangit yang tinggi kurus, telah memimpin belasan orang perajurit pengawal untuk mengepung dara perkasa itu.
Melihat ini, Jayawijaya berseru dengan penasaran.
"Sang Adipati Menak Sampar! Andika adalah seorang adipati yang disembah oleh orang-orang se daerah Blambangan, apakah engkau tidak malu untuk menjilat ludah sendiri yang telah dikeluarkan? Engkau sudah berjanji untuk membebaskan kami. Mengapa sekarang engkau hendak menawan diajeng Retna Wilis?"
"Ha-ha-ha!" Sang Adipati Blambangan itu tertawa bergelak penuh ejekan.
"Siapa yang melanggar janji? Kami memang berjanji untuk membebaskan Jayawijaya, dan sekarangpun engkau boleh pergi, kami tidak akan mencegahmu. Akan tetapi kami tidak pernah berjanji untuk membebaskan Retna Wilis! Karena itu ia harus menjadi tawanan kami!"
Retno Wilis teringat akan hal ini dan ia gemas sekali. Dalam keadaan tegang ingin menyelamatkan Jayawijaya ia sampai lupa kepada dirinya sendiri.
"Sang Adipati Menak Sampar, andika seorang adipati yang besar dan tentu tidak akan bertindak sewenang-wenang dan tanpa alasan. Alasan apa yang andika pakai untuk menawan diajeng Retna Wilis?"
"Hemm, ia seorang telik sandi dari Kerajaan Panjalu! Itu alasan pertama. Dan alasan kedua, ia telah berani menawan dan menghina kami sebagai sandera. Dan alasan itu sudah cukup untuk menawannya! Retna Wilis, menyerahlah atau kami akan menggunakan kekerasan!" bentak Sang Adipati.

Retna Wilis mempererat pegangannya pada gagang pedangnya, siap untuk melawan dan mengamuk. Akan tetapi pada saat itu Jayawijaya melangkah maju menghampirinya dan berkata kepadanya dengan lembut.
"Sarungkan pedangmu, diajeng. Sang Adipati Menak Sampar, kalau engkau tidak membebaskan diajeng Retna Wilis dan hendak menawannya, maka akupun ingin menyertainya menjadi tawanan."
"Ha-ha-ha, ini adalah kemauanmu sendiri, Jayawijaya, jangan katakan bahwa kami yang melanggar janji. Retna Wilis, serahkan pedangmu dan menyerahlah."
Retna Wilis menyarungkan pedangnya menuruti permintaan Jayawijaya dan menjawab dengan suara dingin.
"Senjata merupakan nyawa kedua bagi seorang pendekar. Aku tidak akan menyerahkan pedangku selama nyawaku belum meninggalkan badan! Tawanlah kami, aku tidak akan melawan."
Sang Adipati Menak Sampar maklum akan kehebatan wanita yang sudah amat terkenal ini. Dia tidak ingin mengorbankan orang-orangnya yang tentu banyak yang akan tewas kalau wanita itu mengamuk.
"Bawa mereka dan masukkan ke dalam penjara!” teriaknya dengan marah.
Dua orang senopati dan belasan orang perajuritnya segera mengawal Retna Wilis dan Jayawijaya menuju ke penjara yang terdapat dibelakang kadipaten, diantarkan pula oleh Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya yang khawatir kalau-kalau dua orang muda itu akan memberontak dan meloloskan diri.

Biarpun hatinya mendongkol dan alisnya berkerut, namun Retna Wilis yang melihat Jayawijaya menyerah dengan sabar dan tenang, terpaksa mengikuti pemuda itu dan diam saja ketika diarak menuju ke penjara. Mereka disuruh memasuki sebuah kamar penjara yang cukup besar, pintunya terbuat dari baja dan berterali yang kokoh kuat lalu dikunci dari sebelah luar. Melalui pintu berterali itu Retna Wilis dapat melihat belasan orang yang memegang tombak atau golok berjaga di situ.
Setelah mereka ditinggalkan berdua saja, barulah Retna Wijis menegur kepada Jayawijaya.
"Kakang Jaya, engkau ini bagaimanakah? Kenapa menyerah saja ketika ditawan? Kalau sudah begini, kita tidak berdaya dan berada di dalam kekuasaan Adipati Blambangan dan para wasi yang jahat itu. Bagaimana kita akan dapat lolos dari tempat ini, kakang?"
"Jangan salah mengerti, diajeng Retna Wilis. Aku menyarankan agar kita menyerah karena tidak ada jalan lain. Kalau kubiarkan engkau mengamuk, biarpun engkau akan dapat membunuh banyak orang, akhirnya engkau akan roboh juga karena keadaan mereka terlalu kuat bagimu. Engkau akan tewas dan membawa banyak dosa karena membunuh banyak orang. Dan jangan sekali-kali mengira bahwa kita berada dalam kekuasaan Adipati Blambangan atau para wasi. Tidak, kita tetap berada dalam kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Dan aku yakin kita akan dapat terbebas dari bahaya kalau Hyang Widhi menghendaki. Aku yakin sepenuhnya bahwa Sang Hyang Widhi berada bersama kita dan betapa mudahnya bagi kekuasaan Hyang Widhi untuk membebaskan kita."
"Akan tetapi kita telah berada dalam kurungan dan tidak berdaya! Bagaimana mungkin kita akan dapat membebaskan diri tanpa daya upaya dan hanya mengandalkan kekuasaan Hyang Widhi?" Retna Wilis membantah.
"Daya upaya merupakan kewajiban kita. Tentu saja kita harus berdaya upaya karena bimbingan Hyang Widhi mungkin tersalur lewat daya upaya kita. Akan tetapi tidak selamanya daya upaya kita mendatangkan hasil dan pada akhirnya kita harus mendasari semua itu dengan penyerahan, dengan kepasrahan ke Tangan Hyang Widhi."

Sungguh mengherankan. Entah mengapa, setelah mendengar ucapan-ucapan yang dikeluarkan dengan suara yang demikian tenang dan sabar, penuh iman, hati Retna Wilis juga menjadi tenang.

<<< Bagian 56                                                                                         Bagian 58 >>>

No comments:

Post a Comment