Sampai lama mereka berdua berdiam diri, hanya duduk bersila di atas lantai yang dingin. Sejak tadi Retna Wilis memperhatikan pemuda itu. Tiada habis rasa heran di dalam hatinya. Pemuda itu demikian tenang, demikian sabar, bahkan melebihi ketenangan dan kesabaran kakaknya sendiri. Berada dalam tawanan musuh, pemuda itu sedikitpun tidak tampak bersedih atau cemas, duduk bersila memejamkan mata dengan tenangnya seperti berada di dalam kamarnya sendiri!
"Kakang
Jayawijaya ...” panggilnya.
Pemuda itu
membuka kedua matanya, memandangnya dan tersenyum.
"Ada
apakah, diajeng?"
"Pernahkah
andika merasa berduka atau bersuka?"
Jayawijaya
tersenyum sebelum menjawab.
"Tentu
saja, diajeng. Aku juga seorang manusia biasa yang kadang dipermainkan perasaan
hati sendiri. Dapat diombangambingkan di antara suka dan duka. Merasa suka atau
duka adalah manusiawi. Selama pikiran dan gagasan menguasai kita, sudah pasti
kita akan diseret di antara dua perasaan yang berlawanan itu. Akan tetapi,
apabila kita menghadapi setiap peristiwa yang kita hadapi sebagai sesuatu yang
wajar dan sebagai pelaksanaan dari kehendak Hyang Widhi, maka kita akan dapat
memulihkan ketenteraman hati dan tidak terseret antara suka dan duka. Kita
mengenal duka karena kita mengenal suka dan demikian sebaliknya. Bagaimana
mungkin kita dapat mengenal rasa manis kalau kita tidak mengenal rasa pahit,
masam, asin, getir dan sebagainya sebagai lawan rasa? Bagaimana kita dapat
mengenal malam kalau kita tidak mengenal siang? Seluruh alam mayapada
digerakkan dan diputar oleh dua keadaan yang saling berlawanan ini, diajeng.
Saling berlawanan, saling menunjang, saling menolak dan karenanya terjadi
perputaran dan terjadi kehidupan."
"Terjadinya
kehidupan, kakang?" tanya Retna Wilis heran, menjadi bingung oleh
keterangan yang baginya terlalu rumit itu.
"Ya,
terjadinya kehidupan inipun dikarenakan bertemunya dua keadaan yang berlawanan
itu, diajeng. Ingat, kelahiran manusia dan semua mahluk hidup dapat terjadi
karena adanya sifat jantan dan betina yang saling berlawanan. Bahkan dalam
kehidupan nabati sekalipun terdapat dua sifat yang bertentangan sebagai sifat
jantan dan sifat betina yang mendatangkan benih."
"Apakah
andika tidak pernah merasa takut, kakang?”
Kembali
Jayawijaya tersenyum.
"Kalau
engkau setiap detik dengan penuh kepasrahan menyerahkan diri ke dalam kekuasaan
Tuhan, engkau tidak akan mengenal rasa takut, diajeng. Apakah rasa takut itu?
Rasa takut timbul kalau gagasan membayangkan masa datang, membayangkan apa yang
belum terjadi, khawatir kalau sampai terjadi ini atau itu yang menimpa dirinya.
Contohnya. Kalau ada wabah mengamuk, orang yang belum sakit takut kalau
ketularan penyakit itu. Kalau dia sudah ketularan, maka rasa takut akan
penyakit itu lenyap, terganti rasa takut kalau sampai dia mati, dan
selanjutnya. Rasa takut timbul kalau pikiran membayangkan masa depan, hal yang
belum terjadi. Seperti keadaan kita sekarang ini. Tentu saja rasa takut akan
timbul kalau kita membayangkan apa yang akan dapat terjadi terhadap diri
kita."
"Lalu,
apakah kita harus tidak mengacuhkan apa yang boleh terjadi kepada kita dan
tidak perduli?" Retno Wilis mengejar.
“Bukan tidak
acuh atau tidak perduli, melainkan tidak membayangkan apa yang akan datang. Hal
itu bukan berarti bahwa kita tidak melakukan usaha untuk menolong diri sendiri.
Akan tetapi seluruh hati akal pikiran ditujukan kepada masa kini, saat ini dan
kalau kita mencurahkan kepada saat ini, maka mungkin akan terbuka mata kita
untuk melihat kemungkinan-kemungkinan kita dapat menolong diri sendiri, dengan
landasan penyerahan kepada kekuasaan Hyang Widhi. Bagiku, setiap detik, setiap
saat kita harus selalu ingat dan waspada, diajeng."
"Ingat
kepada siapa dan waspada terhadap apa, kakang?"
"Ingat
kepada Sang Hyang Widhi yang berarti penyerahan diri secara mutlak ke Tangan
Hyang Widhi, dan waspada akan diri sendiri, apa yang kita pikirkan, ucapkan
atau lakukan."
Suasana hening
meliputi hati Retna Wilis. Seperti terbuka mata hatinya dan sadarlah ia bahwa
suka duka datang silih berganti dalam kehidupan manusia dan justeru itulah
romantika kehidupan. Hidup merupakan tantangan dan kita harus berani menghadapi
setiap tantangan dengan mata terbuka, tidak melarikan diri dari keadaan yang
bagaimanapun juga. Menghadapi dan mengatasi setiap tantangan, itulah seninya
hidup! Akan tetapi, kalau hidup hanya untuk diombang-ambingkan antara suka dan
duka, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan kehidupan ini? Hatinya merasa
penasaran dan ia langsung mengajukan pertanyaan yang timbul dalam hatinya itu
kepada Jayawijaya.
"Kakang,
kalau begitu, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan dari pada kehidupan ini?
Apa maksudnya kita dihidupkan sebagai manusia di dunia ini?"
Jayawijaya
tersenyum lebar mendengar pertanyaan ini dan memandang kepada Retno Wilis
dengan mata bersinar lembut dan penuh ketenangan dan kesabaran.
"Diajeng
Retna Wilis, sudah seringkali aku mendengar pertanyaan ini diajukan orang.
Sebelum kita mencari jawaban atas pertanyaan apa tujuan dari pada kehidupan
ini, mari kita mengamati keadaan diri kita sebagai manusia yang dilahirkan di
dunia melalui ayah-bunda kita. Ingat, kita ini dilahirkan, di luar kehendak
kita. Tidak ada manusia di dunia ini yang minta dilahirkan. Jadi kelahiran kita
ini bukan kehendak kita, melainkan kehendak Sang Hyang Widhi! Karena kita
dilahirkan di luar kehendak kita, maka tentu saja bagi kita tidak ada tujuan
apapun dalam kehidupan ini. Kita dilahirkan atas kehendak Yang Maha Kuasa, maka
Dialah yang berkehendak dan bertujuan! Bukan kita. Kita hanya tinggal hidup
saja, tidak menguasai apapun. Bahkan kita tidak menguasai rambut kita sendiri.
Tidak ada selembarpun rambut di tubuh kita yang kita kuasai sehingga kita tidak
dapat mengatur pertumbuhannya. Kita tidak memiliki apa-apa, bahkan yang
menempel di tubuh kita-pun bukan milik kita. Seluruh diri kita ini ada yang
Memiliki, ada yang Menguasai. Berhentinya kehidupan kita terserah kepada Yang
Memiliki dan Yang Menguasai itulah. Hanya, ketika kita dilahirkan, diciptakan
di dunia ini sebagai manusia hidup, kita disertai tanggung jawab, disertai
kewajiban-kewajiban untuk menghadapi segala kenyataan dan mengatasinya, seperti
yang telah kukatakan tadi. Kita harus menghadapi segala tantangan dan
mengatasinya, itulah kenyataan hidup. Perut kita lapar dan kalau tidak diisi
kita akan mati kelaparan, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengisinya,
dan untuk dapat mengisinya sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari makanan
pengisi perut itu. Demikian pula dengan hal-hal lain. Dan Gusti Yang Maha Kasih
telah menciptakan kita secara sempurna. Untuk dapat memenuhi kewajiban itu kita
telah disertai segala macam alat. Setiap anggauta tubuh kita ini bermanfaat,
berguna untuk mempertahankan hidup. Demikianlah kehendak Hyang Widhi. Kita
tidak dapat menentang kehendakNya. Karena itu, satusatunya cara hidup yang baik
adalah menyerah kepada kekuasaanNya, menyerah kepada kehendakNya. Apapun yang
terjadi kepada kita, kita harus mengucap syukur karena berkahNya
berlimpah-limpah setiap saat tanpa henti, walaupun berkah itu terkadang
terselubung dan bersembunyi di balik peristiwa yang bagi hati akal pikiran kita
terasa tidak enak atau tidak menguntungkan. Segala kehendak Hyang Widhi
atas-diri kita adalah baik dan benar dan kita tidak dapat menilainya melalui
pertimbangan hati akal pikiran kita, karena semua penilaian hati akal pikiran
bersifat mementingkan diri sendiri, mementingkan kesenangan dan keuntungan diri
sendiri. Mengertikah engkau mengapa aku setiap saat menyerah kepada kekuasaan Sang
Hyang Widhi, diajeng?"
Retna Wilis
mengangguk, kehabisan bahan untuk bicara. Ia merasa bahwa segala sesuatu
tentang hidup sudah tercakup dalam kata-kata Jayawijaya tadi, dan ia sudah
tidak perlu mengetahui hal yang lain lagi tentang kehidupan. Sekarang mulailah
ia mengerti mengapa Jayawijaya tidak pernah merasa takut menghadapi apapun
juga. Mengapa Jayawijaya tidak pernah menggunakan kekerasan, namun tidak takut
menghadapi kekerasan itu sendiri. Cara penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa
secara mutlak lahir dan batin. Akan tetapi ia sangsi apakah ia mampu bersikap
seperti Jayawijaya! Agaknya tidak mungkin dapat. Gairah hidupnya masih penuh
semangat, bergelora dan ia tidak mungkin dapat mengalah terhadap kekerasan yang
dilakukan orang lain terhadap dirinya. Pasti akan dilawannya sekuat tenaga!
"Kakang,
untuk dapat bersikap seperti engkau ini, dibutuhkan kekuatan yang luar biasa,
melebihi tenaga sakti yang manapun. Engkau telah membuat dirimu lebih kuat
daripada segala cipta, rasa dan karsamu sendiri, engkau telah mengalahkan
segala nafsu-nafsumu! Hal itu tidak mungkin dapat tercapai oleh aku yang lemah
ini."
Jayawijaya
tertawa dan suara tawanya membuat Retna Wilis menyadari bahwa yang berada di
depannya bukanlah dewa, melainkan manusia biasa.
"Diajeng,
akupun tidak dapat melepaskan diri dari nafsu nafsuku. Kalau aku melepaskan
diri dari nafsu, aku tidak akan dapat bertahan hidup di dunia ini. Nafsu adalah
keduniawian. Nafsu adalah alat-alat yang kita pergunakan untuk dapat hidup dan
untuk menikmati kehidupan itu sendiri. Akan tetapaku selalu memohon kekuatan
dari Hyang Widhi agar nafsu tidak sampai memperbudak aku, agar nafsu-nafsuku
tetap menjadi peserta, menjadi alat yang baik dan berguna, bukan menjadi
majikan atas diriku, bukan menjadi kuda-kuda binal yang akan menyeret kereta
berikut kusirnya ke dalam jurang.”
"Kuda-kuda
binal, kakang? Apa pula maksudnya itu?"
"Diajeng
Retna Wilis yang bijaksana. Nafsu dapat diibaratkan api yang kalau kita kuasai
akan menjadi alat yang amat berguna dan mutlak bagi kehidupan akan tetapi kalau
menjadi liar akan membakar dan melahap segala yang berada di depannya.
Nafsu-nafsu juga dapat diibaratkan kuda-kuda penarik kereta, di mana terdapat
sang kusir,kereta adalah badan jasmani kita sedangkan kusirnya adalah rohani
kita. Kalau kuda-kuda penarik itu dapat dijinakkan, maka mereka akan dapat
menarik kereta sehingga maju ke arah yang semestinya. Akan tetapikalau
kuda-kuda itu menjadi liar sehingga sang kusir tidak lagi mampu
mengendalikannya, kuda-kuda itu akan kabur dan mungkin akan menyeret kereta
berikut kusirnya masuk ke dalam jurang."
"Ah,
begitukah? Jadi kuda-kuda itu amat penting untuk menarik maju sang kereta, akan
tetapi juga amat berbahaya kalau sampai menjadi liar? Begitukah nafsu-nafsu
kita itu, kakang? Lalu bagaimana upaya kita agar nafsu-nafsu kita tidak menjadi
liar dan tetap menjadi peserta yang baik? Bagaimana cara kita untuk dapat
menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri?"
"Kita
tidak dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri karena kita memang bergantung
kepada mereka. Akan tetapi nafsu-nafsu itu diikut-sertakan kepada kita sejak
kita lahir, merupakan anugerah pemberian Hyang Widhi sebagai penciptanya.
Karena itu, satu-satunya jalan untuk dapat menempatkan nafsu-nafsu di
kedudukannya semula, yaitu sebagai peserta dan pelayan, hanya lah menyerah
kepada kekuasaan Hyang Widhi. Hanya kekuasaan Hyang Widhi yang mampu
menundukkan nafsu-nafsu yang suka meliar itu, diajeng."
Kembali hening
mengikuti percakapan, ini. Retna Wilis termenung dan semakin merasa bahwa ia
akan selalu berada dalam keadaan damai dan tenteram kalau berdekatan dengan
pemuda ini. Ia merasa terharu sekali, merasa bahwa selama hidupnya baru kini ia
bertemu dengan seorang yang benar benar dikaguminya lahir batin, ia melihat
seorang laki-laki yang benar-benar gagah perkasa, yang berani menentang bahaya
bahkan maut dengan dada terbuka, sedikitpun tidak ada rasa takut, dengan hati
bersih tidak terkandung perasaan bermusuhan apa lagi benci! Dan setelah ia
termenung dan tenggelam dalam renungannya, Retno Wilis melihat bahwa ia telah
jatuh cinta kepada pria itu! Rasa kagum bercampur dengan rasa iba dan sayang,
membuatnya timbul keinginan untuk dapat membahagiakan pria yang dikaguminya
itu.
Malam tiba.
Dari sela-sela jeruji, penjaga memasukkan makanan yang terbungkus daun pisang
dengan minuman. Retna Wilis membiarkannya saja. Akan tetapi Jayawijaya lalu
mengambil bungkusan nasi dan lauk pauknya itu, membawanya ke dekat Retna Wilis.
Sinar lampu menyorot dari luar, memberi penerangan yang cukup ke dalam kamar
tahanan itu.
"Diajeng
Retna Wilis, silakan makan dan minum hidangan antaran mereka ini," kata
Jayawijaya lirih.
"Hemm,
aku tidak suka dengan makanan pemberian mereka, kakang," jawab Retna Wilis
dengan alis berkerut. Ia tahu bahwa penolakannya itu bukan hanya karena
perasaan tidak senang kepada musuh-musuhnya, melainkan juga karena rasa
khawatir kalau-kalau makanan itu diberi racun.
“Orang tidak
tahu apa saja yang dapat dilakukan orang-orang licik dan curang seperti itu!
Dan kurasa sebaiknya kalau engkau juga jangan makan suguhan mereka ini, kakang
Jaya."
"Akan
tetapi mengapa, diajeng? Sudah sejak pagi kita tidak makan dan perut kita
menuntut isi. Kalau tidak makan malam ini, besok kita akan merasa lemah padahal
dalam keadaan seperti ini kita perlu menjaga kesehatan dan tenaga. Makanlah,
diajeng, biarpun hanya sedikit," Jayawijaya membujuk.
"Terus
terang saja, kakang. Aku sangsi akan kebersihan makanan dan minuman ini. Ingat,
mereka adalah orang-orang sesat. Bisa saja mereka mencampuri makanan ini dengan
racun untuk membunuh kita."
<<< Bagian 57 Bagian 59 >>>
No comments:
Post a Comment