Sepasang Garuda Putih ; Bagian 58


Sampai lama mereka berdua berdiam diri, hanya duduk bersila di atas lantai yang dingin. Sejak tadi Retna Wilis memperhatikan pemuda itu. Tiada habis rasa heran di dalam hatinya. Pemuda itu demikian tenang, demikian sabar, bahkan melebihi ketenangan dan kesabaran kakaknya sendiri. Berada dalam tawanan musuh, pemuda itu sedikitpun tidak tampak bersedih atau cemas, duduk bersila memejamkan mata dengan tenangnya seperti berada di dalam kamarnya sendiri!
"Kakang Jayawijaya ...” panggilnya.
Pemuda itu membuka kedua matanya, memandangnya dan tersenyum.
"Ada apakah, diajeng?"
"Pernahkah andika merasa berduka atau bersuka?"
Jayawijaya tersenyum sebelum menjawab.
"Tentu saja, diajeng. Aku juga seorang manusia biasa yang kadang dipermainkan perasaan hati sendiri. Dapat diombangambingkan di antara suka dan duka. Merasa suka atau duka adalah manusiawi. Selama pikiran dan gagasan menguasai kita, sudah pasti kita akan diseret di antara dua perasaan yang berlawanan itu. Akan tetapi, apabila kita menghadapi setiap peristiwa yang kita hadapi sebagai sesuatu yang wajar dan sebagai pelaksanaan dari kehendak Hyang Widhi, maka kita akan dapat memulihkan ketenteraman hati dan tidak terseret antara suka dan duka. Kita mengenal duka karena kita mengenal suka dan demikian sebaliknya. Bagaimana mungkin kita dapat mengenal rasa manis kalau kita tidak mengenal rasa pahit, masam, asin, getir dan sebagainya sebagai lawan rasa? Bagaimana kita dapat mengenal malam kalau kita tidak mengenal siang? Seluruh alam mayapada digerakkan dan diputar oleh dua keadaan yang saling berlawanan ini, diajeng. Saling berlawanan, saling menunjang, saling menolak dan karenanya terjadi perputaran dan terjadi kehidupan."
"Terjadinya kehidupan, kakang?" tanya Retna Wilis heran, menjadi bingung oleh keterangan yang baginya terlalu rumit itu.
"Ya, terjadinya kehidupan inipun dikarenakan bertemunya dua keadaan yang berlawanan itu, diajeng. Ingat, kelahiran manusia dan semua mahluk hidup dapat terjadi karena adanya sifat jantan dan betina yang saling berlawanan. Bahkan dalam kehidupan nabati sekalipun terdapat dua sifat yang bertentangan sebagai sifat jantan dan sifat betina yang mendatangkan benih."
"Apakah andika tidak pernah merasa takut, kakang?”

Kembali Jayawijaya tersenyum.
"Kalau engkau setiap detik dengan penuh kepasrahan menyerahkan diri ke dalam kekuasaan Tuhan, engkau tidak akan mengenal rasa takut, diajeng. Apakah rasa takut itu? Rasa takut timbul kalau gagasan membayangkan masa datang, membayangkan apa yang belum terjadi, khawatir kalau sampai terjadi ini atau itu yang menimpa dirinya. Contohnya. Kalau ada wabah mengamuk, orang yang belum sakit takut kalau ketularan penyakit itu. Kalau dia sudah ketularan, maka rasa takut akan penyakit itu lenyap, terganti rasa takut kalau sampai dia mati, dan selanjutnya. Rasa takut timbul kalau pikiran membayangkan masa depan, hal yang belum terjadi. Seperti keadaan kita sekarang ini. Tentu saja rasa takut akan timbul kalau kita membayangkan apa yang akan dapat terjadi terhadap diri kita."
"Lalu, apakah kita harus tidak mengacuhkan apa yang boleh terjadi kepada kita dan tidak perduli?" Retno Wilis mengejar.
“Bukan tidak acuh atau tidak perduli, melainkan tidak membayangkan apa yang akan datang. Hal itu bukan berarti bahwa kita tidak melakukan usaha untuk menolong diri sendiri. Akan tetapi seluruh hati akal pikiran ditujukan kepada masa kini, saat ini dan kalau kita mencurahkan kepada saat ini, maka mungkin akan terbuka mata kita untuk melihat kemungkinan-kemungkinan kita dapat menolong diri sendiri, dengan landasan penyerahan kepada kekuasaan Hyang Widhi. Bagiku, setiap detik, setiap saat kita harus selalu ingat dan waspada, diajeng."
"Ingat kepada siapa dan waspada terhadap apa, kakang?"
"Ingat kepada Sang Hyang Widhi yang berarti penyerahan diri secara mutlak ke Tangan Hyang Widhi, dan waspada akan diri sendiri, apa yang kita pikirkan, ucapkan atau lakukan."
Suasana hening meliputi hati Retna Wilis. Seperti terbuka mata hatinya dan sadarlah ia bahwa suka duka datang silih berganti dalam kehidupan manusia dan justeru itulah romantika kehidupan. Hidup merupakan tantangan dan kita harus berani menghadapi setiap tantangan dengan mata terbuka, tidak melarikan diri dari keadaan yang bagaimanapun juga. Menghadapi dan mengatasi setiap tantangan, itulah seninya hidup! Akan tetapi, kalau hidup hanya untuk diombang-ambingkan antara suka dan duka, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan kehidupan ini? Hatinya merasa penasaran dan ia langsung mengajukan pertanyaan yang timbul dalam hatinya itu kepada Jayawijaya.
"Kakang, kalau begitu, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan dari pada kehidupan ini? Apa maksudnya kita dihidupkan sebagai manusia di dunia ini?"
Jayawijaya tersenyum lebar mendengar pertanyaan ini dan memandang kepada Retno Wilis dengan mata bersinar lembut dan penuh ketenangan dan kesabaran.
"Diajeng Retna Wilis, sudah seringkali aku mendengar pertanyaan ini diajukan orang. Sebelum kita mencari jawaban atas pertanyaan apa tujuan dari pada kehidupan ini, mari kita mengamati keadaan diri kita sebagai manusia yang dilahirkan di dunia melalui ayah-bunda kita. Ingat, kita ini dilahirkan, di luar kehendak kita. Tidak ada manusia di dunia ini yang minta dilahirkan. Jadi kelahiran kita ini bukan kehendak kita, melainkan kehendak Sang Hyang Widhi! Karena kita dilahirkan di luar kehendak kita, maka tentu saja bagi kita tidak ada tujuan apapun dalam kehidupan ini. Kita dilahirkan atas kehendak Yang Maha Kuasa, maka Dialah yang berkehendak dan bertujuan! Bukan kita. Kita hanya tinggal hidup saja, tidak menguasai apapun. Bahkan kita tidak menguasai rambut kita sendiri. Tidak ada selembarpun rambut di tubuh kita yang kita kuasai sehingga kita tidak dapat mengatur pertumbuhannya. Kita tidak memiliki apa-apa, bahkan yang menempel di tubuh kita-pun bukan milik kita. Seluruh diri kita ini ada yang Memiliki, ada yang Menguasai. Berhentinya kehidupan kita terserah kepada Yang Memiliki dan Yang Menguasai itulah. Hanya, ketika kita dilahirkan, diciptakan di dunia ini sebagai manusia hidup, kita disertai tanggung jawab, disertai kewajiban-kewajiban untuk menghadapi segala kenyataan dan mengatasinya, seperti yang telah kukatakan tadi. Kita harus menghadapi segala tantangan dan mengatasinya, itulah kenyataan hidup. Perut kita lapar dan kalau tidak diisi kita akan mati kelaparan, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengisinya, dan untuk dapat mengisinya sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari makanan pengisi perut itu. Demikian pula dengan hal-hal lain. Dan Gusti Yang Maha Kasih telah menciptakan kita secara sempurna. Untuk dapat memenuhi kewajiban itu kita telah disertai segala macam alat. Setiap anggauta tubuh kita ini bermanfaat, berguna untuk mempertahankan hidup. Demikianlah kehendak Hyang Widhi. Kita tidak dapat menentang kehendakNya. Karena itu, satusatunya cara hidup yang baik adalah menyerah kepada kekuasaanNya, menyerah kepada kehendakNya. Apapun yang terjadi kepada kita, kita harus mengucap syukur karena berkahNya berlimpah-limpah setiap saat tanpa henti, walaupun berkah itu terkadang terselubung dan bersembunyi di balik peristiwa yang bagi hati akal pikiran kita terasa tidak enak atau tidak menguntungkan. Segala kehendak Hyang Widhi atas-diri kita adalah baik dan benar dan kita tidak dapat menilainya melalui pertimbangan hati akal pikiran kita, karena semua penilaian hati akal pikiran bersifat mementingkan diri sendiri, mementingkan kesenangan dan keuntungan diri sendiri. Mengertikah engkau mengapa aku setiap saat menyerah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi, diajeng?"

Retna Wilis mengangguk, kehabisan bahan untuk bicara. Ia merasa bahwa segala sesuatu tentang hidup sudah tercakup dalam kata-kata Jayawijaya tadi, dan ia sudah tidak perlu mengetahui hal yang lain lagi tentang kehidupan. Sekarang mulailah ia mengerti mengapa Jayawijaya tidak pernah merasa takut menghadapi apapun juga. Mengapa Jayawijaya tidak pernah menggunakan kekerasan, namun tidak takut menghadapi kekerasan itu sendiri. Cara penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa secara mutlak lahir dan batin. Akan tetapi ia sangsi apakah ia mampu bersikap seperti Jayawijaya! Agaknya tidak mungkin dapat. Gairah hidupnya masih penuh semangat, bergelora dan ia tidak mungkin dapat mengalah terhadap kekerasan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Pasti akan dilawannya sekuat tenaga!
"Kakang, untuk dapat bersikap seperti engkau ini, dibutuhkan kekuatan yang luar biasa, melebihi tenaga sakti yang manapun. Engkau telah membuat dirimu lebih kuat daripada segala cipta, rasa dan karsamu sendiri, engkau telah mengalahkan segala nafsu-nafsumu! Hal itu tidak mungkin dapat tercapai oleh aku yang lemah ini."
Jayawijaya tertawa dan suara tawanya membuat Retna Wilis menyadari bahwa yang berada di depannya bukanlah dewa, melainkan manusia biasa.
"Diajeng, akupun tidak dapat melepaskan diri dari nafsu nafsuku. Kalau aku melepaskan diri dari nafsu, aku tidak akan dapat bertahan hidup di dunia ini. Nafsu adalah keduniawian. Nafsu adalah alat-alat yang kita pergunakan untuk dapat hidup dan untuk menikmati kehidupan itu sendiri. Akan tetapaku selalu memohon kekuatan dari Hyang Widhi agar nafsu tidak sampai memperbudak aku, agar nafsu-nafsuku tetap menjadi peserta, menjadi alat yang baik dan berguna, bukan menjadi majikan atas diriku, bukan menjadi kuda-kuda binal yang akan menyeret kereta berikut kusirnya ke dalam jurang.”
"Kuda-kuda binal, kakang? Apa pula maksudnya itu?"
"Diajeng Retna Wilis yang bijaksana. Nafsu dapat diibaratkan api yang kalau kita kuasai akan menjadi alat yang amat berguna dan mutlak bagi kehidupan akan tetapi kalau menjadi liar akan membakar dan melahap segala yang berada di depannya. Nafsu-nafsu juga dapat diibaratkan kuda-kuda penarik kereta, di mana terdapat sang kusir,kereta adalah badan jasmani kita sedangkan kusirnya adalah rohani kita. Kalau kuda-kuda penarik itu dapat dijinakkan, maka mereka akan dapat menarik kereta sehingga maju ke arah yang semestinya. Akan tetapikalau kuda-kuda itu menjadi liar sehingga sang kusir tidak lagi mampu mengendalikannya, kuda-kuda itu akan kabur dan mungkin akan menyeret kereta berikut kusirnya masuk ke dalam jurang."
"Ah, begitukah? Jadi kuda-kuda itu amat penting untuk menarik maju sang kereta, akan tetapi juga amat berbahaya kalau sampai menjadi liar? Begitukah nafsu-nafsu kita itu, kakang? Lalu bagaimana upaya kita agar nafsu-nafsu kita tidak menjadi liar dan tetap menjadi peserta yang baik? Bagaimana cara kita untuk dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri?"
"Kita tidak dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri karena kita memang bergantung kepada mereka. Akan tetapi nafsu-nafsu itu diikut-sertakan kepada kita sejak kita lahir, merupakan anugerah pemberian Hyang Widhi sebagai penciptanya. Karena itu, satu-satunya jalan untuk dapat menempatkan nafsu-nafsu di kedudukannya semula, yaitu sebagai peserta dan pelayan, hanya lah menyerah kepada kekuasaan Hyang Widhi. Hanya kekuasaan Hyang Widhi yang mampu menundukkan nafsu-nafsu yang suka meliar itu, diajeng."

Kembali hening mengikuti percakapan, ini. Retna Wilis termenung dan semakin merasa bahwa ia akan selalu berada dalam keadaan damai dan tenteram kalau berdekatan dengan pemuda ini. Ia merasa terharu sekali, merasa bahwa selama hidupnya baru kini ia bertemu dengan seorang yang benar benar dikaguminya lahir batin, ia melihat seorang laki-laki yang benar-benar gagah perkasa, yang berani menentang bahaya bahkan maut dengan dada terbuka, sedikitpun tidak ada rasa takut, dengan hati bersih tidak terkandung perasaan bermusuhan apa lagi benci! Dan setelah ia termenung dan tenggelam dalam renungannya, Retno Wilis melihat bahwa ia telah jatuh cinta kepada pria itu! Rasa kagum bercampur dengan rasa iba dan sayang, membuatnya timbul keinginan untuk dapat membahagiakan pria yang dikaguminya itu.
Malam tiba. Dari sela-sela jeruji, penjaga memasukkan makanan yang terbungkus daun pisang dengan minuman. Retna Wilis membiarkannya saja. Akan tetapi Jayawijaya lalu mengambil bungkusan nasi dan lauk pauknya itu, membawanya ke dekat Retna Wilis. Sinar lampu menyorot dari luar, memberi penerangan yang cukup ke dalam kamar tahanan itu.
"Diajeng Retna Wilis, silakan makan dan minum hidangan antaran mereka ini," kata Jayawijaya lirih.
"Hemm, aku tidak suka dengan makanan pemberian mereka, kakang," jawab Retna Wilis dengan alis berkerut. Ia tahu bahwa penolakannya itu bukan hanya karena perasaan tidak senang kepada musuh-musuhnya, melainkan juga karena rasa khawatir kalau-kalau makanan itu diberi racun.
“Orang tidak tahu apa saja yang dapat dilakukan orang-orang licik dan curang seperti itu! Dan kurasa sebaiknya kalau engkau juga jangan makan suguhan mereka ini, kakang Jaya."
"Akan tetapi mengapa, diajeng? Sudah sejak pagi kita tidak makan dan perut kita menuntut isi. Kalau tidak makan malam ini, besok kita akan merasa lemah padahal dalam keadaan seperti ini kita perlu menjaga kesehatan dan tenaga. Makanlah, diajeng, biarpun hanya sedikit," Jayawijaya membujuk.
"Terus terang saja, kakang. Aku sangsi akan kebersihan makanan dan minuman ini. Ingat, mereka adalah orang-orang sesat. Bisa saja mereka mencampuri makanan ini dengan racun untuk membunuh kita."

<<< Bagian 57                                                                                          Bagian 59 >>>

No comments:

Post a Comment