Sepasang Garuda Putih ; Bagian 59


Jayawijaya tersenyum.
"Percayalah akan kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Kekuasaan itu tidak akan membiarkan kita diracuni orang. Mulut kita tidak akan mau menelan kalau makanan atau minuman ini mengandung racun. Marilah, biar aku dulu yang mulai makan dan minum untuk membuktikan bahwa tidak ada racun dalam hidangan ini."

Jayawijaya lalu menuangkan air teh dari poci itu ke dalam cangkir yang disediakan, kemudian menempelkan bibir cangkir pada bibirnya. Diminumnya sedikit demi sedikit air teh itu dan ditelannya. Tidak terjadi sesuatu. Kemudian diambilnya sebungkus nasi dan dimakannya. Juga tidak terjadi sesuatu.
"Nah, jelas bahwa dalam hidangan makanan dan minuman ini tidak ada racunnya, diajeng. Mari silakan makan dan minum."
Retna Wilis merasa tidak enak untuk menolak terus. Juga kekhawatirannya hilang. Kalau tidak ada Jayawijaya di situ, biar bagaimanapun juga ia tidak akan mau menyentuh makanan dan minuman itu. Mulailah ia minum dan makan untuk menenangkan perutnya yang memang lapar dan tenggorokannya yang memang haus. Setelah selesai makan dan minum, Jayawijaya membawa sisa makanan dan bekas hidangan itu ke pintu dan mengeluarkannya lewat sela-sela jeruji. Kemudian kembali dia duduk bersila di depan Retna Wilis seperti tadi.
"Mengaso dan tidurlah kalau engkau lelah dan mengantuk, diajeng."
"Aku tidak akan dapat tidur, akan tetapi aku sudah terbiasa beristirahat dengan duduk bersila dan bersamadhi, kakang."
"Bagus kalau begitu. Mari kita mengaso, diajeng."
Mereka tetap duduk bersila. Malam semakin larut dan Retno Wilis sudah membuat perhitungan bagaimana kalau ia berusaha meloloskan diri bersama Jayawijaya. Pintu jeruji besi itu bukan apa-apa baginya. Dengan aji kesaktiannya dan kekuatan yang timbul dari hawa sakti, ia tentu akan mampu menjebol pintu itu. Pedang pusaka Sapudenta juga tentu akan mampu mematahkan jeruji-jeruji besi itu. Dan belasan orang prajurit penjaga di luar pintu kamar tahanan, dapat dengan mudah ia robohkan. Akan tetapi bagaimana kalau Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya datang? Mereka terlalu kuat baginya. Dan juga Jayawijaya belum tentu mau, bahkan ia hampir yakin bahwa pemuda itu tentu akan menolaknya untuk melarikan diri dengan menggunakan kekerasan. Ah, biarlah. Ia akan melihat apa yang hendak dilakukan pemuda luar biasa itu dan ia hanya akan menurut saja apa kehendaknya. Iapun mulai belajar pasrah dan menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa!

Menjelang fajar. Suasana semakin hening. Para penjaga tidak terdengar lagi bicara, bahkan ada suara mendengkur. Agaknya mereka telah tertidur! Hawa udara yang dingin memasuki ruangan kamar tahanan itu, begitu dinginnya sehingga Retna Wilis dan Jayawijaya sadar dari Samadhi mereka. Tiba-tiba terdengar suara di pintu besi dan tampak sesosok bayangan orang ditimpa sinar lampu dari luar. Sesosok bayangan seorang wanita! Agaknya wanita itu sedang membuka kunci pintu penjara dan tak lama kemudian pintu itu terbuka. Bau harum menerpa hidung kedua orang tahanan itu. Retna Wilis segera mengenal wanita itu yang bukan lain adalah puteri Sang Adipati Menak Sampar yang cantik jelita itu.
Gadis itu memang Dyah Ayu Kerti, puteri sang adipati! Retna Wilis segera bangkit berdiri dan bertanya kepada puteri adipati itu.
"Siapa andika dan mau apa andika memasuki kamar tahanan ini?"
Akan tetapi Dyah Ayu Kerti tidak memperdulikan pertanyaan Retna Wilis. Ia menghampiri Jayawijaya yang masih duduk bersila dan berkata dengan bisikan lembut.
"Kakangmas Jayawijaya, aku Dyah Ayu Kerti datang untuk membebaskanmu, kakangmas. Andika berdua boleh pergi dan melarikan diri sekarang juga."
Jayawijaya bangkit berdiri dan memandang gadis jelita itu dengan heran.
"Bukankah andika ini puteri Sang Adipati Menak Sampar? Bagaimana andika dapat masuk ke sini? Para penjaga itu ... "
"Ssssssttt ... kakangmas Jayawijaya, jangan keras-keras andika bicara. Mereka sudah tertidur semua, terkena aji penyirepanku," kata Dyah Ayu Kerti lirih sambil meletakkan telunjuknya di depan sepasang bibirnya yang merah merekah.
"Akan tetapi ramamu? Para wasi itu?" tanya pula Jayawijaya dengan heran.
"Mereka sedang berpesta mabuk-mabukan semalam suntuk untuk merayakan kemenangan mereka atas tertawannya andika berdua."
"Akan tetapi ... mengapakah andika membebaskan kami?" tanya pula Jayawijaya.
"Karena aku merasa kasihan kepada andika, aku ... aku ... "
Retna Wilis kehilangan kesabarannya, ia menyambar tangan Jayawijaya dan menariknya sambil berkata,
"Marilah, kakang. Kesempatan terbuka bagi kita untuk melarikan diri. Jangan disia-siakan kesempatan ini!" Ia menarik Jayawijaya keluar dari kamar tahanan itu dan lari melalui lorong di mana para penjaga malang melintang dalam keadaan pulas.

Mereka berdua melangkahi tubuh para penjaga itu. Retna Wilis tetap menggandeng tangan Jayawijaya yang agaknya tidak tampak tergesa-gesa, seperti orang hendak pergi berjalan-jalan saja, bukan melarikan diri!
"Kakangmas Jayawijaya ... !"
Mereka berhenti mendengar seruan ini dan melihat Dyah Ayu Kerti berlari-lari menghampiri mereka. Setelah dekat, Dyah Ayu Kerti memegang tangan Jayawijaya yang sebelah lagi dengan erat dan ia berkata, wajahnya berubah kemerahan.
"Kakangmas, bawalah aku. Aku ikut, kakangmas Jayawijaya... "
"Ehhhh?? Ikut bagaimana? Aku tidak mengerti maksudmu."
"Ikut ke mana saja andika pergi. Aku ... aku ... ingin menemanimu, selamanya ... !"
Panas rasa perut Retna Wilis, diamuk cemburu! Ia cepat menepiskan tangan gadis puteri adipati itu yang memegangi tangan Jayawijaya sehingga terlepas dan ia menghardik,
"Perempuan tak tahu malu! Hayo, kakang Jayawijaya, kita lari dan jangan perdulikan gadis gila ini!" Dan diapun menarik lagi pemuda itu, lari keluar dari bangunan itu.
Dyah Ayu Kerti yang masih berdiri di lorong itu tidak mengejar lagi, akan tetapi ia menangis sesenggukan dengan hati duka. Ia telah jatuh kasmaran (cinta) kepada pemuda yang luar biasa itu, tergila-gila dan ingin sekali hidup bersama pemuda itu untuk selamanya. Akan tetapi di sana ada Retno Wilis yang agaknya merebut pemuda itu dan ia merasa tidak mampu untuk menandingi wanita perkasa itu. Ia sendiri memiliki aji penyeripan dan beberapa macam ilmu kadigdayaan, akan tetapi apa artinya kalau dibandingkan dengan Retno Wilis yang demikian sakti?

Tiba-tiba muncul Sang Adipati Menak Sampar, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo Ni Dewi Durgomala, Ki Shiwananda dan dua orang senopati Blambangan, yaitu senopati Rajah Beling dan Senopati Kurdolangit, diikuti belasan orang prajurit pengawal. Melihat puterinya berada di luar tempat tahanan sambil menangis, sang adipati menghampiri dan bertanya heran,
"Dyah Ayu Kerti! Apa yang kaulakukan di sini? Mengapa pula engkau menangis?" Sang adipati melihat para prajurit penjaga yang malang melintang dalam keadaan tidur. Sambil mengerutkan alisnya karena puterinya tidak menjawab pertanyaannya, dia lalu memerintahkan dua orang senopatinya.
"Periksa ke dalam kamar tahanan!"
Dua orang senopati itu berlari cepat, berloncatan melangkahi para prajurit penjaga yang tertidur lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian keduanya keluar lagi dan wajah mereka berubah pucat.
"Celaka, kanjeng gusti! Dua orang tawanan telah lolos!" kata Senopati Kurdolangit.
"Wah, celaka! Dyah Ayu Kerti, apa yang telah terjadi?" bentak sang adipati kepada puterinya.
Sambil menangis sesenggukan akhirnya gadis itu menjawab,
“Aku ... aku ... telah membebaskan mereka, kanjeng rama ... "
Sang adipati marah sekali. Matanya melotot memandang kepada puterinya tersayang itu dan dia menggeram.
"Akan tetapi mengapa?”
"Aku ... aku kasihan ... kepada... kakangmas Jayawijaya ..."
"Celaka!" seru sang adipati.
"Mari kita kejar. Mereka tentu belum berlari jauh," kata Wasi Shiwamurti kepada kawan-kawannya dan dia melompat keluar, diikuti oleh rekan-rekannya, juga oleh dua orang senopati dan belasan prajuritnya yang dibentak oleh sang adipati untuk ikut pula melakukan pengejaran.
Sementara itu, Adipati Menak Sampar dengan marah sekali akan tetapi dia terlalu sayang kepada puteri tunggalnya untuk memarahinya terus, menarik tangan puterinya dan diajak kembali ke gedungnya.

"Perlahan dulu, diajeng Retna! Kenapa engkau menyeretku seperti ini?" keluh Jayawijaya yang terpaksa ikut berlari karena tangannya ditarik dengan kuat oleh Retna Wilis.
Retna Wilis berhenti dan memandang kepadanya dengan wajah cemberut. Mereka telah berlari agak jauh juga karena sekarang fajar telah menyingsing, sinar matahari mulai mengusir kegelapan malam yang meninggalkan kabut.
"Agaknya andika tidak ingin sekali untul melarikan diri, ya kakang Jaya?"
"Eh, kenapa engkau bertanya demikian? Tentu saja aku ingin terlepas dari kurungan mereka," kata Jayawijaya sambil menghapus keringatnya, berlari-lari sejak tadi melelahkannya dan membuatnya berkeringat.
"Ah, mengakulah saja terus terang. Andika tentu ingin sekali tinggal di sana agar dapat bersama-sama dengan gadis cantik jelita puteri Sang Adipati tadi!"
"Lho! Kenapa engkau berkata demikian?"
"Apakah engkau tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu, kakang? Dyah Ayu Kerti yang cantik jelita itu tergila-gila kepadamu! Ia telah jatuh cinta kepadamu, kakang, maka ia berani mati membebaskanmu. Kenapa engkau tadi tidak menerimanya ketika ia hendak ikut dan ingin menemanimu selama hidupnya?" Dengan wajah cemberut Retna Wilis lalu melangkah lagi, kini tidak mengandeng tangan Jayawijaya seolah hendak meninggalkan pemuda itu. Jayawijaya mengikutinya dari belakang.
"Begitukah perkiraanmu? Aku sendiri tidak mengira ... "
"Hemm, jelas sekali bahwa ia mencintamu. Kalau tidak, mengapa ia membebaskanmu?"
"Aku hanya menganggapnya sebagai uluran Kekuasaan Tuhan yang hendak menolong kita melalui tangan puteri itu, diajeng."
"Hemm, apapun anggapanmu, jelas bahwa puteri itu jatuh cinta kepadamu."
"Andaikata benar demikian, apakah hal itu karena kesalahanku, diajeng? Aku tidak sengaja ... "

Retna Wilis berhenti melangkah dan menatap tajam wajah pemuda itu.
"Kakang Jayawijaya, apakah engkau tidak tertarik? Ingat, ia seorang gadis yang amat cantik jelita dan ia puteri seorang adipati yang berkuasa pula, gadis bangsawan, kaya raya dan cantik jelita. Kalau engkau menjadi suaminya, engkau tentu akan menjadi mantu adipati dan memperoleh derajat dan pangkat tinggi, menjadi orang yang mulia, terhormat dan disegani orang sekadipaten Blambangan!"
Jayawijaya tersenyum geli ketika dia memandang kepada gadis yang diam-diam menjadi pujaan hatinya itu.
"Diajeng, aku tidak mengerti mengapa engkau berkata seperti itu kepadaku. Pernikahan hanya mempunyai satu saja syarat, yaitu cinta kasih. Dan cinta kasih ini tidak memandang kecantikan, derajat pangkat atau harta, bukan pula keturunan. Dyah Ayu Kerti hendak ikut denganku, bagaimana mungkin aku dapat menerimanya? Ia seorang puteri adipati, dan aku seorang kelana. Juga tidak mungkin menemaniku selama hidupnya karena hal itu berarti bahwa aku harus menjadi suaminya, padahal tidak ada cinta kasih dalam hatiku terhadap dirinya."
Retna Wilis menunduk dan senyum berkembang di bibirnya. Wajahnya yang jelita itu berseri, semringah.
"Aku ... aku girang mendengar pertanyaanmu itu, kakang Jayawijaya."
Jayawijaya menatap tajam wajah gadis itu.
"Diajeng, aku heran sekali mengapa engkau tadi seperti orang marah-marah."
Retna Wilis masih menundukkan mukanya dan matanya mengerling ke arah pemuda itu. Lalu katanya lirih,
"Aku tidak senang karena gadis itu mencintamu ... "
"Dan engkau mengira bahwa aku juga membalas cintanya?"
Dengan suara masih lirih Retna Wilis menjawab,
"Aku ... khawatir begitu."
"Kalau begitu, ah, benarkah dugaanku ini bahwa engkau ... cemburu, diajeng?"
Wajah Retna Wilis menjadi merah sekali, kepala semakin menunduk dan suaranya semakin lirih.
"Aku ... aku malu, kakang ... "

<<< Bagian 58                                                                                         Bagian 60 >>>

No comments:

Post a Comment