Jayawijaya tersenyum.
"Percayalah
akan kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Kekuasaan itu tidak akan membiarkan kita
diracuni orang. Mulut kita tidak akan mau menelan kalau makanan atau minuman
ini mengandung racun. Marilah, biar aku dulu yang mulai makan dan minum untuk
membuktikan bahwa tidak ada racun dalam hidangan ini."
Jayawijaya
lalu menuangkan air teh dari poci itu ke dalam cangkir yang disediakan, kemudian
menempelkan bibir cangkir pada bibirnya. Diminumnya sedikit demi sedikit air
teh itu dan ditelannya. Tidak terjadi sesuatu. Kemudian diambilnya sebungkus
nasi dan dimakannya. Juga tidak terjadi sesuatu.
"Nah,
jelas bahwa dalam hidangan makanan dan minuman ini tidak ada racunnya, diajeng.
Mari silakan makan dan minum."
Retna Wilis
merasa tidak enak untuk menolak terus. Juga kekhawatirannya hilang. Kalau tidak
ada Jayawijaya di situ, biar bagaimanapun juga ia tidak akan mau menyentuh
makanan dan minuman itu. Mulailah ia minum dan makan untuk menenangkan perutnya
yang memang lapar dan tenggorokannya yang memang haus. Setelah selesai makan
dan minum, Jayawijaya membawa sisa makanan dan bekas hidangan itu ke pintu dan
mengeluarkannya lewat sela-sela jeruji. Kemudian kembali dia duduk bersila di
depan Retna Wilis seperti tadi.
"Mengaso
dan tidurlah kalau engkau lelah dan mengantuk, diajeng."
"Aku
tidak akan dapat tidur, akan tetapi aku sudah terbiasa beristirahat dengan
duduk bersila dan bersamadhi, kakang."
"Bagus
kalau begitu. Mari kita mengaso, diajeng."
Mereka tetap
duduk bersila. Malam semakin larut dan Retno Wilis sudah membuat perhitungan
bagaimana kalau ia berusaha meloloskan diri bersama Jayawijaya. Pintu jeruji
besi itu bukan apa-apa baginya. Dengan aji kesaktiannya dan kekuatan yang
timbul dari hawa sakti, ia tentu akan mampu menjebol pintu itu. Pedang pusaka
Sapudenta juga tentu akan mampu mematahkan jeruji-jeruji besi itu. Dan belasan
orang prajurit penjaga di luar pintu kamar tahanan, dapat dengan mudah ia
robohkan. Akan tetapi bagaimana kalau Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya
datang? Mereka terlalu kuat baginya. Dan juga Jayawijaya belum tentu mau,
bahkan ia hampir yakin bahwa pemuda itu tentu akan menolaknya untuk melarikan
diri dengan menggunakan kekerasan. Ah, biarlah. Ia akan melihat apa yang hendak
dilakukan pemuda luar biasa itu dan ia hanya akan menurut saja apa kehendaknya.
Iapun mulai belajar pasrah dan menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa!
Menjelang
fajar. Suasana semakin hening. Para penjaga tidak terdengar lagi bicara, bahkan
ada suara mendengkur. Agaknya mereka telah tertidur! Hawa udara yang dingin
memasuki ruangan kamar tahanan itu, begitu dinginnya sehingga Retna Wilis dan
Jayawijaya sadar dari Samadhi mereka. Tiba-tiba terdengar suara di pintu besi
dan tampak sesosok bayangan orang ditimpa sinar lampu dari luar. Sesosok
bayangan seorang wanita! Agaknya wanita itu sedang membuka kunci pintu penjara
dan tak lama kemudian pintu itu terbuka. Bau harum menerpa hidung kedua orang
tahanan itu. Retna Wilis segera mengenal wanita itu yang bukan lain adalah
puteri Sang Adipati Menak Sampar yang cantik jelita itu.
Gadis itu
memang Dyah Ayu Kerti, puteri sang adipati! Retna Wilis segera bangkit berdiri
dan bertanya kepada puteri adipati itu.
"Siapa
andika dan mau apa andika memasuki kamar tahanan ini?"
Akan tetapi
Dyah Ayu Kerti tidak memperdulikan pertanyaan Retna Wilis. Ia menghampiri
Jayawijaya yang masih duduk bersila dan berkata dengan bisikan lembut.
"Kakangmas
Jayawijaya, aku Dyah Ayu Kerti datang untuk membebaskanmu, kakangmas. Andika
berdua boleh pergi dan melarikan diri sekarang juga."
Jayawijaya
bangkit berdiri dan memandang gadis jelita itu dengan heran.
"Bukankah
andika ini puteri Sang Adipati Menak Sampar? Bagaimana andika dapat masuk ke
sini? Para penjaga itu ... "
"Ssssssttt
... kakangmas Jayawijaya, jangan keras-keras andika bicara. Mereka sudah
tertidur semua, terkena aji penyirepanku," kata Dyah Ayu Kerti lirih
sambil meletakkan telunjuknya di depan sepasang bibirnya yang merah merekah.
"Akan
tetapi ramamu? Para wasi itu?" tanya pula Jayawijaya dengan heran.
"Mereka
sedang berpesta mabuk-mabukan semalam suntuk untuk merayakan kemenangan mereka
atas tertawannya andika berdua."
"Akan
tetapi ... mengapakah andika membebaskan kami?" tanya pula Jayawijaya.
"Karena
aku merasa kasihan kepada andika, aku ... aku ... "
Retna Wilis
kehilangan kesabarannya, ia menyambar tangan Jayawijaya dan menariknya sambil
berkata,
"Marilah,
kakang. Kesempatan terbuka bagi kita untuk melarikan diri. Jangan disia-siakan
kesempatan ini!" Ia menarik Jayawijaya keluar dari kamar tahanan itu dan
lari melalui lorong di mana para penjaga malang melintang dalam keadaan pulas.
Mereka berdua
melangkahi tubuh para penjaga itu. Retna Wilis tetap menggandeng tangan
Jayawijaya yang agaknya tidak tampak tergesa-gesa, seperti orang hendak pergi
berjalan-jalan saja, bukan melarikan diri!
"Kakangmas
Jayawijaya ... !"
Mereka
berhenti mendengar seruan ini dan melihat Dyah Ayu Kerti berlari-lari
menghampiri mereka. Setelah dekat, Dyah Ayu Kerti memegang tangan Jayawijaya
yang sebelah lagi dengan erat dan ia berkata, wajahnya berubah kemerahan.
"Kakangmas,
bawalah aku. Aku ikut, kakangmas Jayawijaya... "
"Ehhhh??
Ikut bagaimana? Aku tidak mengerti maksudmu."
"Ikut ke
mana saja andika pergi. Aku ... aku ... ingin menemanimu, selamanya ... !"
Panas rasa
perut Retna Wilis, diamuk cemburu! Ia cepat menepiskan tangan gadis puteri
adipati itu yang memegangi tangan Jayawijaya sehingga terlepas dan ia
menghardik,
"Perempuan
tak tahu malu! Hayo, kakang Jayawijaya, kita lari dan jangan perdulikan gadis
gila ini!" Dan diapun menarik lagi pemuda itu, lari keluar dari bangunan
itu.
Dyah Ayu Kerti
yang masih berdiri di lorong itu tidak mengejar lagi, akan tetapi ia menangis
sesenggukan dengan hati duka. Ia telah jatuh kasmaran (cinta) kepada pemuda
yang luar biasa itu, tergila-gila dan ingin sekali hidup bersama pemuda itu
untuk selamanya. Akan tetapi di sana ada Retno Wilis yang agaknya merebut
pemuda itu dan ia merasa tidak mampu untuk menandingi wanita perkasa itu. Ia
sendiri memiliki aji penyeripan dan beberapa macam ilmu kadigdayaan, akan
tetapi apa artinya kalau dibandingkan dengan Retno Wilis yang demikian sakti?
Tiba-tiba
muncul Sang Adipati Menak Sampar, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo Ni Dewi
Durgomala, Ki Shiwananda dan dua orang senopati Blambangan, yaitu senopati
Rajah Beling dan Senopati Kurdolangit, diikuti belasan orang prajurit pengawal.
Melihat puterinya berada di luar tempat tahanan sambil menangis, sang adipati
menghampiri dan bertanya heran,
"Dyah Ayu
Kerti! Apa yang kaulakukan di sini? Mengapa pula engkau menangis?" Sang
adipati melihat para prajurit penjaga yang malang melintang dalam keadaan
tidur. Sambil mengerutkan alisnya karena puterinya tidak menjawab pertanyaannya,
dia lalu memerintahkan dua orang senopatinya.
"Periksa
ke dalam kamar tahanan!"
Dua orang
senopati itu berlari cepat, berloncatan melangkahi para prajurit penjaga yang
tertidur lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian keduanya keluar lagi dan wajah
mereka berubah pucat.
"Celaka,
kanjeng gusti! Dua orang tawanan telah lolos!" kata Senopati Kurdolangit.
"Wah,
celaka! Dyah Ayu Kerti, apa yang telah terjadi?" bentak sang adipati
kepada puterinya.
Sambil
menangis sesenggukan akhirnya gadis itu menjawab,
“Aku ... aku
... telah membebaskan mereka, kanjeng rama ... "
Sang adipati
marah sekali. Matanya melotot memandang kepada puterinya tersayang itu dan dia
menggeram.
"Akan
tetapi mengapa?”
"Aku ...
aku kasihan ... kepada... kakangmas Jayawijaya ..."
"Celaka!"
seru sang adipati.
"Mari
kita kejar. Mereka tentu belum berlari jauh," kata Wasi Shiwamurti kepada
kawan-kawannya dan dia melompat keluar, diikuti oleh rekan-rekannya, juga oleh
dua orang senopati dan belasan prajuritnya yang dibentak oleh sang adipati untuk
ikut pula melakukan pengejaran.
Sementara itu,
Adipati Menak Sampar dengan marah sekali akan tetapi dia terlalu sayang kepada
puteri tunggalnya untuk memarahinya terus, menarik tangan puterinya dan diajak
kembali ke gedungnya.
"Perlahan
dulu, diajeng Retna! Kenapa engkau menyeretku seperti ini?" keluh
Jayawijaya yang terpaksa ikut berlari karena tangannya ditarik dengan kuat oleh
Retna Wilis.
Retna Wilis
berhenti dan memandang kepadanya dengan wajah cemberut. Mereka telah berlari
agak jauh juga karena sekarang fajar telah menyingsing, sinar matahari mulai
mengusir kegelapan malam yang meninggalkan kabut.
"Agaknya
andika tidak ingin sekali untul melarikan diri, ya kakang Jaya?"
"Eh,
kenapa engkau bertanya demikian? Tentu saja aku ingin terlepas dari kurungan
mereka," kata Jayawijaya sambil menghapus keringatnya, berlari-lari sejak
tadi melelahkannya dan membuatnya berkeringat.
"Ah,
mengakulah saja terus terang. Andika tentu ingin sekali tinggal di sana agar
dapat bersama-sama dengan gadis cantik jelita puteri Sang Adipati tadi!"
"Lho!
Kenapa engkau berkata demikian?"
"Apakah
engkau tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu, kakang? Dyah Ayu Kerti yang
cantik jelita itu tergila-gila kepadamu! Ia telah jatuh cinta kepadamu, kakang,
maka ia berani mati membebaskanmu. Kenapa engkau tadi tidak menerimanya ketika
ia hendak ikut dan ingin menemanimu selama hidupnya?" Dengan wajah
cemberut Retna Wilis lalu melangkah lagi, kini tidak mengandeng tangan
Jayawijaya seolah hendak meninggalkan pemuda itu. Jayawijaya mengikutinya dari
belakang.
"Begitukah
perkiraanmu? Aku sendiri tidak mengira ... "
"Hemm,
jelas sekali bahwa ia mencintamu. Kalau tidak, mengapa ia membebaskanmu?"
"Aku
hanya menganggapnya sebagai uluran Kekuasaan Tuhan yang hendak menolong kita
melalui tangan puteri itu, diajeng."
"Hemm,
apapun anggapanmu, jelas bahwa puteri itu jatuh cinta kepadamu."
"Andaikata
benar demikian, apakah hal itu karena kesalahanku, diajeng? Aku tidak sengaja
... "
Retna Wilis
berhenti melangkah dan menatap tajam wajah pemuda itu.
"Kakang
Jayawijaya, apakah engkau tidak tertarik? Ingat, ia seorang gadis yang amat
cantik jelita dan ia puteri seorang adipati yang berkuasa pula, gadis
bangsawan, kaya raya dan cantik jelita. Kalau engkau menjadi suaminya, engkau
tentu akan menjadi mantu adipati dan memperoleh derajat dan pangkat tinggi,
menjadi orang yang mulia, terhormat dan disegani orang sekadipaten
Blambangan!"
Jayawijaya
tersenyum geli ketika dia memandang kepada gadis yang diam-diam menjadi pujaan
hatinya itu.
"Diajeng,
aku tidak mengerti mengapa engkau berkata seperti itu kepadaku. Pernikahan
hanya mempunyai satu saja syarat, yaitu cinta kasih. Dan cinta kasih ini tidak
memandang kecantikan, derajat pangkat atau harta, bukan pula keturunan. Dyah
Ayu Kerti hendak ikut denganku, bagaimana mungkin aku dapat menerimanya? Ia
seorang puteri adipati, dan aku seorang kelana. Juga tidak mungkin menemaniku
selama hidupnya karena hal itu berarti bahwa aku harus menjadi suaminya,
padahal tidak ada cinta kasih dalam hatiku terhadap dirinya."
Retna Wilis
menunduk dan senyum berkembang di bibirnya. Wajahnya yang jelita itu berseri,
semringah.
"Aku ...
aku girang mendengar pertanyaanmu itu, kakang Jayawijaya."
Jayawijaya
menatap tajam wajah gadis itu.
"Diajeng,
aku heran sekali mengapa engkau tadi seperti orang marah-marah."
Retna Wilis
masih menundukkan mukanya dan matanya mengerling ke arah pemuda itu. Lalu
katanya lirih,
"Aku
tidak senang karena gadis itu mencintamu ... "
"Dan
engkau mengira bahwa aku juga membalas cintanya?"
Dengan suara
masih lirih Retna Wilis menjawab,
"Aku ...
khawatir begitu."
"Kalau
begitu, ah, benarkah dugaanku ini bahwa engkau ... cemburu, diajeng?"
Wajah Retna
Wilis menjadi merah sekali, kepala semakin menunduk dan suaranya semakin lirih.
"Aku ...
aku malu, kakang ... "
<<< Bagian 58 Bagian 60 >>>
No comments:
Post a Comment