Sepasang Garuda Putih ; Bagian 60


”Kenapa, diajeng? Karena cemburu? Kita ini manusia biasa, diajeng, dan adalah wajar kalau kita masih dipermainkan perasaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu kita. Masih baik kalau kita tidak menjadi buta oleh nafsu, melainkan dapat mempergunakan nafsu secara wajar. Kalau engkau cemburu, hal itu adalah manusiawi, diajeng. Tidak perlu membuatmu malu. Aku sendiri, aku-pun seorang manusia biasa yang sadar akan kelemahanku. Karena merasa diri lemah inilah maka aku selalu bersandar kepada Kekuasaan Hyang Widhi, selalu menyerah. Engkau tidak ingin melihat seorang wanita lain mencintaku, hal itu berarti bahwa engkau cinta kepadaku, bukan?"

Kini Retna Wilis menundukkan mukanya sampai dagunya mepet dengan bawah lehernya, jantungnya berguncang keras dan napasnya tersendat. Jayawijaya memegang kedua tangan gadis itu, mengangkat kedua tangan itu mendekatkan kepada mukanya dan mencium jari-jari tangan itu.
"Jangan rikuh atau malu, di-ajeng karena keadaan hati kita sama. Aku-pun mencintamu sejak pertama kali kita berjumpa. Hatiku melekat kepadamu. Semoga Sang Hyang Widhi memperkenankan dan memberkahi hati kita yang saling mencinta."
"Kakang .....!" Retna Wilis mendesah dan selama hidupnya belum pernah ia merasakan kebahagiaan seperti saat itu.
Tubuhnya menjadi lemas dan seolah ia tidak kuat menyangga kepalanya dan menyandarkan kepalanya didada Jayawijaya yang segera mendekapnya. Dalam dekapan kedua lengan pemuda itu, Retna Wilis merasa seperti seorang bayi dalam gendongan ibunya, begitu aman tenteram dan bahagia! Ia memejamkan kedua matanya dan merasa seperti diayun-ayun.
Sesungguhnyalah, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada dua hati yang saling mencinta bertemu. Demikian asyik dan masyuk. Gamelan di Lokananta bagaikan berbunyi merdu selaras dengan nyanyian hati mereka. Desah ? angin di antara daun-daun pohon seperti berbisik-bisik merdu merayu. Gemercik air di anak sungai seperti sekumpulan bidadari menyanyikan lagu puji-pujian. Sinar matahari tampak lebih cerah dan indah dari pada biasanya. Awan-awan yang berarak di angkasa membentuk lukisan-lukisan yang indah menakjubkan. Andaikata dunia kiamat di saat itu, mereka berdua tidak akan merasakannya dan mati terselubung kebahagiaan yang terasa sampai di tulang sumsum itu.
Mereka tenggelam dalam lautan asmara, telinga mereka penuh dengan sajak-sajak dan nyanyian cinta yang serba indah, tidak mendengarkan apa-apa yang lain lagi. Cinta asmara memang memiliki kekuasaan yang amat dahsyat. Jayawijaya yang biasanya selalu waspada itu, sekali inipun terlena. Mendekap kepala Retna Wilis baginya seolah dia telah mendekap alam semesta, telah mendapatkan segala-galanya. Dia sampai lupa diri dan memejamkan mata, hanyut terbawa nyanyian asmara yang mengayun kalbunya.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Kiranya kalian berdua saling mencinta! Bagus sekali! Kami akan menyempurnakan kebahagiaan kalian dengan keduanya mati bersama!" tiba-tiba terdengar seruan itu yang bagaikan geledek telah menarik kedua orang muda keluar dari alam kahyangan Sang Hyang Komajaya dan Komaratih!

Mereka kembali ke dunia yang banyak halangan dan cobaan, dan menghadapi Wasi Shiwamurti yang muncul lengkap dengan Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala, Ki Shiwananda, kedua senopati Rajah Beling dan Kurdolangit bersama belasan orang anak buah mereka! Seketika maklumlah Retna Wilis bahwa keadaan mereka dalam bahaya maut. Gertakan Wasi Shiwamurti bukan gertakan kosong belaka. Kalau mereka semua itu menyerang, ia tidak akan mampu melindungi Jayawijaya atau bahkan dirinya sendiri. Ia dan kekasihnya akan mati bersama! Pikiran ini menenangkan hatinya. Mati bersama! Alangkah membahagiakan itu. Maka sedikitpun ia tidak menjadi jerih.
"Wasi Shiwamurti, kenapa kalian masih saja mengejar-ngejar kami? mengapa kalian memusuhi kami, padahal kami tidak memusuhi kalian? hentikanlah pengejaran ini dan biarkan kami pergi dengan aman," kata Jayawijaya, sementara itu Retna Wilis sudah bersiap siaga untuk mempertahankan diri dan melindungi Jayawijaya dengan sekuat tenaga sampai saat terakhir.
"Jayawijaya, sekarang juga andika boleh pergi, kami tidak akan mengganggu, kami tidak mempunyai urusan apapun denganmu. Akan tetapi, kami tidak akan membebaskan Retna Wilis. Kami harus menangkapnya, hidup atau mati!"
Mendengar ini, Retna Wilis yang sudah nekat lalu melangkah maju menghadapi Wasi Shiwamurti dan berkata dengan lantang.
"Wasi Shiwamurti, beginikah sikap seorang wasi yang mengaku sebagai kepala agama baru dan menjadi utusan negara Cola? Engkau maju bersama banyak kawan hendak mengeroyok aku? Majulah, keroyoklah, aku lidak takut mati. Lebih baik mati dengan gagah dari pada hidup sebagai manusia curang dan licik macam engkau yang hanya berani melakukan pengeroyokan terhadap seorang wanita muda!"
Ucapan Retna Wilis ini tajam sekali dan menusuk perasaan dan harga diri Wasi Shiwamurti yang menjadi merah mukanya saking marah dan malunya.
"Babo-babo, Retna Wilis!" bentak Wasi Shiwamurti dengan suara menggeledek.
"Sumbarmu seperti menyambarnya halilintar dimusim hujan! Kaukira kami takut kepadamu untuk bertanding satu lawan satu? Hayo majulah, aku tidak akan mengeroyokmu, aku akan maju seorang diri untuk melawanmu satu lawan satu!"

Pada saat itu, tampak dua bayangan orang berkelebat dan terdengar suara lantang,
"Diajeng Retna Wilis, jangan takut aku datang membantumu!"
Retno Wilis cepat menengok dan melihat seorang pemuda yang tampan bertubuh tegap dan bersikap gagah, ia girang karena mengenal bahwa pemuda itu adalah Harjadenta, pemuda perkasa dari Gunung Raung itu. Akan tetapi lebih girang lagi hatinya melihat Bagus Seta bersama pemuda itu. Kalau hanya Harjadenta yang datang membantu, ia masih meragukan apakah ia dan Harjadenta mampu menghadapi banyak lawan itu. Akan tetapi dengan munculnya Bagus Seta, ia merasa tenang.
"Kakangmas Harjadenta! Kakang Bagus Seta! Bagaimana kalian dapat datang bersama?"
"Kami saling berjumpa dalam perjalanan lalu bersama-sama menuju ke Blambangan," kata Harjadenta dengan girang. Dia tidak mengenal orang-orang tua berpakaian pendeta itu, maka dia memandang rendah. Dengan adanya Retna Wilis dan Bagus Seta di situ, dia tidak merasa takut menghadapi siapa juga. Akan tetapi ketika melihat Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda, dia lalu teringat akan mereka yang memimpin agama baru yang menyesatkan itu. Dia mengerutkan alisnya, maklum bahwa dia berhadapan dengan musuh-musuh yang sakti.
Sementara itu, Bagus Seta yang mengamati Wasi Shiwamurti, dapat melihat bahwa Kakek itu memiliki wibawa yang teramat kuat. Dia khawatir kalau adiknya tidak akan mampu menandingi wasi itu, maka dia lalu menghampiri adiknya dan berkata,
"Retna, apa yang sedang terjadi di sini?” dia juga menoleh kepada Jayawijaya yang berdiri di samping Retna dan terkejutlah Bagus Seta melihat sinar mata yang terang dan jernih dari pemuda yang sikapnya amat tenang itu. Dia kaget karena dapat menduga bahwa pemuda ini tentu memiliki kekuatan yang dahsyat di balik kelembutannya.
"Kakang Bagus Seta, ini adalah Wasi Shiwamurti, pendiri dari agama baru yang dibantu Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda yang sudah kakang kenal. Yang lain-lain itu adalah para senopati Blambangan dan anak buahnya. Mereka itu hendak menangkap aku dan kakang Jayawijaya ini. Oya, perkenalkan, kakang. Ini adalah kakang Jayawijaya yang melakukan perjalanan bersamaku. Kakang Jaya, ini kakakku bernama Bagus Seta dan yang itu adalah kakangmas Harjadenta dari Gunung Raung."
Melihat sikap dan pandang mata adiknya terhadap pemuda yang lembut itu, dan melihat cara pemuda itu memandang adiknya, Bagus Seta segera tahu bahwa ada hubungan batin yang istimewa di antara keduanya. Sejenak dia bertukar pandang dengan Jayawijaya dan dalam waktu beberapa detik itu seolah keduanya saling dapat menyelami isi hati masing-masing dan kembali Bagus Seta merasa terkejut dan kagum. Dia tahu bahwa pemuda ini bukan seorang pemuda biasa saja, sebaliknya Jayawijaya juga merasa betapa kuatnya pancaran sinar mata Bagus Seta.
"Akan tetapi kenapa mereka itu hendak menangkap kalian, Retna?"
"Mereka itu hendak menawan aku dengan tuduhan menjadi telik sandi, kakang dan hendak membebaskan kakang Jayawijaya. Akan tetapi kakang Jayawijaya tidak mau dibebaskan seorang diri saja dan menuntut agar aku dibebaskan pula. Mereka hendak memaksa aku menyerah dan aku menentang untuk bertanding satu lawan satu kalau mereka itu bukan pengecut yang curang dan suka main keroyokan."
Melihat Retna Wilis bercakap-cakap dengan pemuda berpakaian serba putih yang baru muncul bersama seorang pemuda lain, bicara dan mengobrol tanpa memperdulikan dia dan kawan-kawannya, Wasi Shiwamurti menjadi marah.
"Retna Wilis, siapa hendak mengeroyokmu? Aku terima tantanganmu untuk bertanding satu lawan satu! Hayo majulah, siapa hendak melawanku?" Wasi Shiwamurti menantang.
Tiba-tiba Retna Wilis mendapat sebuah pikiran yang dianggap baik dan menguntungkan.
"Begini saja, Wasi Shiwamurti. Sekarang telah datang kakang Bagus Seta dan kakangmas Harjadenta, jadi kami ada bertiga. Nah, kalian boleh mengajukan tiga orang jagoan kalian untuk dipertandingkan dengan kami bertiga, maju satu demi satu. Kalau pihakku menang dua, berarti aku menang dan engkau harus membebaskan kami. Sebaliknya kalau pihak kalian yang menang dua, kalian boleh menawanku. Bagaimana, beranikah engkau menerima tantanganku ini?"
Wasi Shiwamurti tertawa mengejek. Dia mengandalkan dua orang pembantu utamanya, yaitu Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda.
"Ha-ha-ha, bagus! Coba sekarang kauajukan jagomu untuk melawan jago kami. Ki Shiwananda, majulah! Nah, siapa yang akan maju melawan Ki Shiwananda?".

Pada saat itu terdengar bentakan nyaring suara wanita.
"Siapa berani mengganggu anak-anakku?"
Dua sosok bayangan berkelebat dan di situ telah berdiri Endang Patibroto dan seorang pemuda gagah yang bukan lain adalah Jarot. Putera Adipati Kertajaya dari Pasisiran ini melakukan perjalanan merantau dan memang dia ingin sekali menyusul Endang Patibroto yang pernah menolongnya dari tangan kedua orang kakaknya, Lembu Alun dan Lembu Tirta, yang bermaksud membunuhnya dengan bantuan guru mereka, yaitu Wasi Surengpati. Karena Adipati Kertajaya adalah seorang Adipati yang setia terhadap Jenggala dan Panjalu, maka dia merasa khawatir terhadap keselamatan Endang Patibroto yang hendak menyelidiki keadaan Nusabarung dan Blambangan. Maka dia tidak mencegah, bahkan menyetujui ketika puteranya, Jarot menyatakan keinginannya untuk merantau dan menyusul Endang Patibroto ke kedua kadipaten itu, dan kalau perlu membantunya. Demikianlah, ketika tiba di luar perbatasan Blambangan, Jarot bertemu dengan Endang Patibroto dan mereka melanjutkan perjalanan bersama memasuki daerah Blambangan. Kebetulan sekali mereka melihat Retna Wilis, Bagus Seta, Jayawijaya dan Harjadenta sedang berhadapan dengan banyak orang yang sikapnya mengancam, maka Endang Patibroto lalu membentak marah.
"Retna, apa yang terjadi di sini? Siapa orang-orang menjemukan ini?" bentak Endang Patibroto galak kepada puterinya.
"Kanjeng ibu, mereka adalah Wasi Shiwamurti, pendiri agama baru dan kawan-kawannya. Dia hendak menawanku, dan aku mengajukan usul untuk bertanding satu lawan satu."
"Babo-babo! Siapa hendak menandingi puteriku, akulah lawannya! Engkaukah, pendeta palsu, yang hendak maju? Nah, akulah lawanmu!" kata Endang Patibroto sambil menghadapi Wasi Shiwamurti.
Sang wasi dan kawan-kawannya terkejut dan gentar menghadapi wanita setengah tua yang gagah perkasa dan galak bukan main itu. Wasi Shiwamurti sudah mendengar banyak tentang Endang Patibroto, wanita yang sakti itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak takut karena banyak kawan dan anak buahnya.
"Bagus, kiranya engkau-sendiri yang datang, Endang Patibroto. Sudah lama karni mendengar akan namamu dan kebetulan sekali sekarang engkau datang mengantarkan nyawa!"
"Wasi Shiwamurti, keadaan sekarang berubah. Ibuku telah datang, maka dipihak kami bertambah seorang lagi, menjadi empat orang yang akan maju sebagai jago kami!"
"Bukan empat, melainkan lima!" Endang Patibroto berseru dan ia menuding ke arah Jarot.
"Pemuda inipun dapat menjadi jago kita, Retno. Kenalkan, dia bernama Jarot, putera Adipati di Pasisiran."

Jarot mengangguk kepada Retna Wilis, Bagus Seta, Harjadenta dan Jayawijaya. Retna segera memperkenalkan dua orang pemuda yang sejak tadi diam saja itu kepada ibunya.
"Ibu, ini adalah kakangmas Harjadenta yang juga menjadi jago kita. Dan yang ini adalah kakang Jayawijaya yang bersama aku dijadikan tawanan oleh orang-orang Blambangan."
Endang Patibroto tersenyum kepada puterinya.
"Aku sudah mengenal anakmas Jayawijaya, Retno. Anakmas Jayawijaya, bagaimana andika dapat bersama anakku menjadi tawanan orang-orang Blambangngan?"

<<< Bagian 59                                                                                          Bagian 61 >>>

No comments:

Post a Comment