”Kenapa, diajeng? Karena cemburu? Kita ini manusia biasa, diajeng, dan adalah wajar kalau kita masih dipermainkan perasaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu kita. Masih baik kalau kita tidak menjadi buta oleh nafsu, melainkan dapat mempergunakan nafsu secara wajar. Kalau engkau cemburu, hal itu adalah manusiawi, diajeng. Tidak perlu membuatmu malu. Aku sendiri, aku-pun seorang manusia biasa yang sadar akan kelemahanku. Karena merasa diri lemah inilah maka aku selalu bersandar kepada Kekuasaan Hyang Widhi, selalu menyerah. Engkau tidak ingin melihat seorang wanita lain mencintaku, hal itu berarti bahwa engkau cinta kepadaku, bukan?"
Kini Retna
Wilis menundukkan mukanya sampai dagunya mepet dengan bawah lehernya,
jantungnya berguncang keras dan napasnya tersendat. Jayawijaya memegang kedua
tangan gadis itu, mengangkat kedua tangan itu mendekatkan kepada mukanya dan
mencium jari-jari tangan itu.
"Jangan
rikuh atau malu, di-ajeng karena keadaan hati kita sama. Aku-pun mencintamu
sejak pertama kali kita berjumpa. Hatiku melekat kepadamu. Semoga Sang Hyang
Widhi memperkenankan dan memberkahi hati kita yang saling mencinta."
"Kakang
.....!" Retna Wilis mendesah dan selama hidupnya belum pernah ia merasakan
kebahagiaan seperti saat itu.
Tubuhnya
menjadi lemas dan seolah ia tidak kuat menyangga kepalanya dan menyandarkan
kepalanya didada Jayawijaya yang segera mendekapnya. Dalam dekapan kedua lengan
pemuda itu, Retna Wilis merasa seperti seorang bayi dalam gendongan ibunya,
begitu aman tenteram dan bahagia! Ia memejamkan kedua matanya dan merasa
seperti diayun-ayun.
Sesungguhnyalah,
tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada dua hati yang saling mencinta bertemu.
Demikian asyik dan masyuk. Gamelan di Lokananta bagaikan berbunyi merdu selaras
dengan nyanyian hati mereka. Desah ? angin di antara daun-daun pohon seperti
berbisik-bisik merdu merayu. Gemercik air di anak sungai seperti sekumpulan
bidadari menyanyikan lagu puji-pujian. Sinar matahari tampak lebih cerah dan
indah dari pada biasanya. Awan-awan yang berarak di angkasa membentuk
lukisan-lukisan yang indah menakjubkan. Andaikata dunia kiamat di saat itu,
mereka berdua tidak akan merasakannya dan mati terselubung kebahagiaan yang
terasa sampai di tulang sumsum itu.
Mereka
tenggelam dalam lautan asmara, telinga mereka penuh dengan sajak-sajak dan
nyanyian cinta yang serba indah, tidak mendengarkan apa-apa yang lain lagi.
Cinta asmara memang memiliki kekuasaan yang amat dahsyat. Jayawijaya yang
biasanya selalu waspada itu, sekali inipun terlena. Mendekap kepala Retna Wilis
baginya seolah dia telah mendekap alam semesta, telah mendapatkan
segala-galanya. Dia sampai lupa diri dan memejamkan mata, hanyut terbawa
nyanyian asmara yang mengayun kalbunya.
"Ha-ha-ha-ha-ha!
Kiranya kalian berdua saling mencinta! Bagus sekali! Kami akan menyempurnakan
kebahagiaan kalian dengan keduanya mati bersama!" tiba-tiba terdengar
seruan itu yang bagaikan geledek telah menarik kedua orang muda keluar dari
alam kahyangan Sang Hyang Komajaya dan Komaratih!
Mereka kembali
ke dunia yang banyak halangan dan cobaan, dan menghadapi Wasi Shiwamurti yang
muncul lengkap dengan Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala, Ki Shiwananda, kedua
senopati Rajah Beling dan Kurdolangit bersama belasan orang anak buah mereka!
Seketika maklumlah Retna Wilis bahwa keadaan mereka dalam bahaya maut. Gertakan
Wasi Shiwamurti bukan gertakan kosong belaka. Kalau mereka semua itu menyerang,
ia tidak akan mampu melindungi Jayawijaya atau bahkan dirinya sendiri. Ia dan
kekasihnya akan mati bersama! Pikiran ini menenangkan hatinya. Mati bersama!
Alangkah membahagiakan itu. Maka sedikitpun ia tidak menjadi jerih.
"Wasi
Shiwamurti, kenapa kalian masih saja mengejar-ngejar kami? mengapa kalian
memusuhi kami, padahal kami tidak memusuhi kalian? hentikanlah pengejaran ini
dan biarkan kami pergi dengan aman," kata Jayawijaya, sementara itu Retna
Wilis sudah bersiap siaga untuk mempertahankan diri dan melindungi Jayawijaya dengan
sekuat tenaga sampai saat terakhir.
"Jayawijaya,
sekarang juga andika boleh pergi, kami tidak akan mengganggu, kami tidak
mempunyai urusan apapun denganmu. Akan tetapi, kami tidak akan membebaskan
Retna Wilis. Kami harus menangkapnya, hidup atau mati!"
Mendengar ini,
Retna Wilis yang sudah nekat lalu melangkah maju menghadapi Wasi Shiwamurti dan
berkata dengan lantang.
"Wasi
Shiwamurti, beginikah sikap seorang wasi yang mengaku sebagai kepala agama baru
dan menjadi utusan negara Cola? Engkau maju bersama banyak kawan hendak
mengeroyok aku? Majulah, keroyoklah, aku lidak takut mati. Lebih baik mati
dengan gagah dari pada hidup sebagai manusia curang dan licik macam engkau yang
hanya berani melakukan pengeroyokan terhadap seorang wanita muda!"
Ucapan Retna
Wilis ini tajam sekali dan menusuk perasaan dan harga diri Wasi Shiwamurti yang
menjadi merah mukanya saking marah dan malunya.
"Babo-babo,
Retna Wilis!" bentak Wasi Shiwamurti dengan suara menggeledek.
"Sumbarmu
seperti menyambarnya halilintar dimusim hujan! Kaukira kami takut kepadamu
untuk bertanding satu lawan satu? Hayo majulah, aku tidak akan mengeroyokmu,
aku akan maju seorang diri untuk melawanmu satu lawan satu!"
Pada saat itu,
tampak dua bayangan orang berkelebat dan terdengar suara lantang,
"Diajeng
Retna Wilis, jangan takut aku datang membantumu!"
Retno Wilis
cepat menengok dan melihat seorang pemuda yang tampan bertubuh tegap dan
bersikap gagah, ia girang karena mengenal bahwa pemuda itu adalah Harjadenta,
pemuda perkasa dari Gunung Raung itu. Akan tetapi lebih girang lagi hatinya
melihat Bagus Seta bersama pemuda itu. Kalau hanya Harjadenta yang datang
membantu, ia masih meragukan apakah ia dan Harjadenta mampu menghadapi banyak
lawan itu. Akan tetapi dengan munculnya Bagus Seta, ia merasa tenang.
"Kakangmas
Harjadenta! Kakang Bagus Seta! Bagaimana kalian dapat datang bersama?"
"Kami
saling berjumpa dalam perjalanan lalu bersama-sama menuju ke Blambangan,"
kata Harjadenta dengan girang. Dia tidak mengenal orang-orang tua berpakaian
pendeta itu, maka dia memandang rendah. Dengan adanya Retna Wilis dan Bagus
Seta di situ, dia tidak merasa takut menghadapi siapa juga. Akan tetapi ketika
melihat Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda, dia lalu teringat akan mereka yang
memimpin agama baru yang menyesatkan itu. Dia mengerutkan alisnya, maklum bahwa
dia berhadapan dengan musuh-musuh yang sakti.
Sementara itu,
Bagus Seta yang mengamati Wasi Shiwamurti, dapat melihat bahwa Kakek itu
memiliki wibawa yang teramat kuat. Dia khawatir kalau adiknya tidak akan mampu
menandingi wasi itu, maka dia lalu menghampiri adiknya dan berkata,
"Retna,
apa yang sedang terjadi di sini?” dia juga menoleh kepada Jayawijaya yang
berdiri di samping Retna dan terkejutlah Bagus Seta melihat sinar mata yang
terang dan jernih dari pemuda yang sikapnya amat tenang itu. Dia kaget karena
dapat menduga bahwa pemuda ini tentu memiliki kekuatan yang dahsyat di balik
kelembutannya.
"Kakang
Bagus Seta, ini adalah Wasi Shiwamurti, pendiri dari agama baru yang dibantu Ni
Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda yang sudah kakang kenal. Yang lain-lain itu
adalah para senopati Blambangan dan anak buahnya. Mereka itu hendak menangkap
aku dan kakang Jayawijaya ini. Oya, perkenalkan, kakang. Ini adalah kakang
Jayawijaya yang melakukan perjalanan bersamaku. Kakang Jaya, ini kakakku
bernama Bagus Seta dan yang itu adalah kakangmas Harjadenta dari Gunung
Raung."
Melihat sikap
dan pandang mata adiknya terhadap pemuda yang lembut itu, dan melihat cara
pemuda itu memandang adiknya, Bagus Seta segera tahu bahwa ada hubungan batin
yang istimewa di antara keduanya. Sejenak dia bertukar pandang dengan
Jayawijaya dan dalam waktu beberapa detik itu seolah keduanya saling dapat
menyelami isi hati masing-masing dan kembali Bagus Seta merasa terkejut dan
kagum. Dia tahu bahwa pemuda ini bukan seorang pemuda biasa saja, sebaliknya
Jayawijaya juga merasa betapa kuatnya pancaran sinar mata Bagus Seta.
"Akan
tetapi kenapa mereka itu hendak menangkap kalian, Retna?"
"Mereka
itu hendak menawan aku dengan tuduhan menjadi telik sandi, kakang dan hendak
membebaskan kakang Jayawijaya. Akan tetapi kakang Jayawijaya tidak mau
dibebaskan seorang diri saja dan menuntut agar aku dibebaskan pula. Mereka
hendak memaksa aku menyerah dan aku menentang untuk bertanding satu lawan satu
kalau mereka itu bukan pengecut yang curang dan suka main keroyokan."
Melihat Retna
Wilis bercakap-cakap dengan pemuda berpakaian serba putih yang baru muncul
bersama seorang pemuda lain, bicara dan mengobrol tanpa memperdulikan dia dan
kawan-kawannya, Wasi Shiwamurti menjadi marah.
"Retna
Wilis, siapa hendak mengeroyokmu? Aku terima tantanganmu untuk bertanding satu
lawan satu! Hayo majulah, siapa hendak melawanku?" Wasi Shiwamurti
menantang.
Tiba-tiba
Retna Wilis mendapat sebuah pikiran yang dianggap baik dan menguntungkan.
"Begini
saja, Wasi Shiwamurti. Sekarang telah datang kakang Bagus Seta dan kakangmas
Harjadenta, jadi kami ada bertiga. Nah, kalian boleh mengajukan tiga orang
jagoan kalian untuk dipertandingkan dengan kami bertiga, maju satu demi satu.
Kalau pihakku menang dua, berarti aku menang dan engkau harus membebaskan kami.
Sebaliknya kalau pihak kalian yang menang dua, kalian boleh menawanku.
Bagaimana, beranikah engkau menerima tantanganku ini?"
Wasi Shiwamurti
tertawa mengejek. Dia mengandalkan dua orang pembantu utamanya, yaitu Ni Dewi
Durgomala dan Ki Shiwananda.
"Ha-ha-ha,
bagus! Coba sekarang kauajukan jagomu untuk melawan jago kami. Ki Shiwananda,
majulah! Nah, siapa yang akan maju melawan Ki Shiwananda?".
Pada saat itu
terdengar bentakan nyaring suara wanita.
"Siapa
berani mengganggu anak-anakku?"
Dua sosok
bayangan berkelebat dan di situ telah berdiri Endang Patibroto dan seorang
pemuda gagah yang bukan lain adalah Jarot. Putera Adipati Kertajaya dari
Pasisiran ini melakukan perjalanan merantau dan memang dia ingin sekali
menyusul Endang Patibroto yang pernah menolongnya dari tangan kedua orang
kakaknya, Lembu Alun dan Lembu Tirta, yang bermaksud membunuhnya dengan bantuan
guru mereka, yaitu Wasi Surengpati. Karena Adipati Kertajaya adalah seorang
Adipati yang setia terhadap Jenggala dan Panjalu, maka dia merasa khawatir
terhadap keselamatan Endang Patibroto yang hendak menyelidiki keadaan
Nusabarung dan Blambangan. Maka dia tidak mencegah, bahkan menyetujui ketika
puteranya, Jarot menyatakan keinginannya untuk merantau dan menyusul Endang
Patibroto ke kedua kadipaten itu, dan kalau perlu membantunya. Demikianlah,
ketika tiba di luar perbatasan Blambangan, Jarot bertemu dengan Endang
Patibroto dan mereka melanjutkan perjalanan bersama memasuki daerah Blambangan.
Kebetulan sekali mereka melihat Retna Wilis, Bagus Seta, Jayawijaya dan
Harjadenta sedang berhadapan dengan banyak orang yang sikapnya mengancam, maka
Endang Patibroto lalu membentak marah.
"Retna,
apa yang terjadi di sini? Siapa orang-orang menjemukan ini?" bentak Endang
Patibroto galak kepada puterinya.
"Kanjeng
ibu, mereka adalah Wasi Shiwamurti, pendiri agama baru dan kawan-kawannya. Dia
hendak menawanku, dan aku mengajukan usul untuk bertanding satu lawan
satu."
"Babo-babo!
Siapa hendak menandingi puteriku, akulah lawannya! Engkaukah, pendeta palsu,
yang hendak maju? Nah, akulah lawanmu!" kata Endang Patibroto sambil
menghadapi Wasi Shiwamurti.
Sang wasi dan
kawan-kawannya terkejut dan gentar menghadapi wanita setengah tua yang gagah
perkasa dan galak bukan main itu. Wasi Shiwamurti sudah mendengar banyak
tentang Endang Patibroto, wanita yang sakti itu. Akan tetapi tentu saja dia
tidak takut karena banyak kawan dan anak buahnya.
"Bagus, kiranya
engkau-sendiri yang datang, Endang Patibroto. Sudah lama karni mendengar akan
namamu dan kebetulan sekali sekarang engkau datang mengantarkan nyawa!"
"Wasi
Shiwamurti, keadaan sekarang berubah. Ibuku telah datang, maka dipihak kami
bertambah seorang lagi, menjadi empat orang yang akan maju sebagai jago
kami!"
"Bukan
empat, melainkan lima!" Endang Patibroto berseru dan ia menuding ke arah
Jarot.
"Pemuda
inipun dapat menjadi jago kita, Retno. Kenalkan, dia bernama Jarot, putera
Adipati di Pasisiran."
Jarot
mengangguk kepada Retna Wilis, Bagus Seta, Harjadenta dan Jayawijaya. Retna
segera memperkenalkan dua orang pemuda yang sejak tadi diam saja itu kepada
ibunya.
"Ibu, ini
adalah kakangmas Harjadenta yang juga menjadi jago kita. Dan yang ini adalah kakang
Jayawijaya yang bersama aku dijadikan tawanan oleh orang-orang
Blambangan."
Endang
Patibroto tersenyum kepada puterinya.
"Aku
sudah mengenal anakmas Jayawijaya, Retno. Anakmas Jayawijaya, bagaimana andika
dapat bersama anakku menjadi tawanan orang-orang Blambangngan?"
<<< Bagian 59 Bagian 61 >>>
No comments:
Post a Comment