Sepasang Garuda Putih ; Bagian 61


Jayawijaya memberi hormat kepada Endang Patibroto.
"Bibi, kebetulan sekali saya bertemu dengan diajeng Retna Wilis dan melakukan perjalanan bersama."
Diam-diam Endang Patibroto merasa girang sekali. Ia sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan Retna Wilis dengan pemuda yang aneh luar biasa ini, dan tahu-tahu mereka sudah bertemu bahkan melakukan perjalanan bersama.
"Ah, begitukah? Retna, mari kita berlima maju dan membasmi orang-orang jahat ini!"
Retna Wilis menghadapi Wasi Shiwamurti.
"Wasi Shiwamurti, di pihak kami ada lima orang jago. Mari kita bertanding satu lawan satu!"
"Paman Wasi, biar aku yang maju sebagai jago pertama!" terdengar bentakan keras dan seorang laki-laki tinggi besar melompat keluar. Usianya kurang lebih limapuluh tahun dan tubuhnya gagah dan tampak kokoh kuat.
”Aku adalah, senopati Blambangan bernama Rajah Beling. Siapa berani melawan aku?" katanya sambil membusungkan dadanya yang lebar dan tebal.
"Diajeng Retna Wilis, biar aku yang menandinginya!” kata Harjadenta dan Retna Wilis yang maklum akan kepandaian pemuda dari Gunung Raung ini mengangguk. Ia belum tahu. bagaimana tingkat kepandaian Jarot, pemuda yang datang bersama ibunya, maka tentu saja ia tidak berani mengajukan pemuda itu.

Dengan gagah Harjadenta melangkah maju menghadapi Senopati Rajah Beling yang memandang kepadanya dengan matanya yang tebar itu terbelalak menyeramkan. Harjadenta tersenyum, sikapnya tenang saja.
"Orang muda, sebutkanlah namamu agar engkau tidak mati tanpa nama!" bentak Senopati Rajah Beling dengan suara menggelegar.
"Aku Harjadenta dari Gunung Raung. Guruku adalah Eyang Empu Gandawijaya kalau engkau ingin tahu," jawab harjadenta dengan sikap tenang. Dia adalah seorang yang jujur, maka tanpa ditanya dia sudah memperkenalkan gurunya.
"Hemm, murid Empu Gandawijaya? Orang muda, karena kami sudah mengenal Empu Gandawijaya dan pernah memesan keris buatannya, maka kunasihatkan agar engkau pulang ke Gunung Raung dan jangan mencampuri urusan ini. Aku memberi kesempatan kepadamu untuk hidup demi gurumu."
"Senopati Rajah Beling, kita telah memilih pihak masing-masing dan kita berhadapan sebagai musuh. Tidak perlu engkau menyinggung-nyinggung nama guruku. Kita telah menjadi jago dari masing-masing pihak. Majulah, aku siap menandingimu!"
"Orang muda keras kepala, tidak tahu di sayang orang. Sekarang engkau akan mati!" Berkata demikian, senopati yang tinggi besar itu sudah menerjang maju dengan tangan kanan dikepal sebesar kepala orang dan menyambar ke arah kepala Harjadenta, sedangkan tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah dada pemuda itu. Gerakannya mendatangkan angin, pertanda bahwa gerakan itu mengandung tenaga yang besar, juga datangnya amat cepatnya.

Namun Harjadenta adalah seorang pemuda yang tangkas dan gesit. Menghadapi serangan itu dia tidak menjadi gugup, cepat miringkan tubuhnya dan menarik kepalanya ke belakang sehingga pukulan dan cengkraman lawan itu hanya mengenai angin kosong belaka. Rajah Beling menjadi penasaran dan cepat kakinya menyusul dengan tendangan yang mencuat secepat ular mematuk. Kaki yang besar dan panjang itu menyambar ke arah dada Harjadenta. Namun pemuda ini sudah siap siaga.
"Wuuuuuuuuttt.......dukkkk!!" Lengan kanan Harjadenta sudah menangkis kaki kiri lawan yang menyambar dengan tendangan itu dan ternyata tenaga pemuda ini tidak kalah oleh tenaga tendangan lawan. Buktinya kaki yang tertangkis itu terpental dan membuat tubuh Rajah Beling menjadi doyong. Kesempatan ini dipergunakan oleh Harjadenta untuk membalas. Selagi tubuh lawannya condong ke kanan, dia memapakinya dengan tamparan tangan kiri dengan jari-jari terbuka yang ditujukan ke arah leher lawan.
"Syuuuuuttt......!" Tamparan yang kuat ke itu juga tidak mengenai sasaran karena biarpun tubuhnya condong ke kanan, senopati yang banyak pengalaman bertanding itu sudah menjatuhkan tubuhnya ke belakang, lalu menggelinding dan meloncat bangun kembali.
Mereka sudah berhadapan lagi seperti dua ekor ayam jago sedang berlaga. Keduanya memasang kuda-kuda. Rajah Beling memasang kuda-kuda atau pasangan yang disebut Mahesa Mungkur, yaitu tubuhnya membelakangi lawan, akan tetapi lehernya menoleh ke belakang dan matanya memandang penuh kewaspadaan, kedua kakinya siap untuk membalik dan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka terpasang di depan dada, seolah-olah seekor harimau yang sedang marah dan siap untuk menerkam musuhnya.
"Haiiiit....!" Rajah Beling tiba-tiba memutar kedua kakinya dan kedua tangannya menyambar dari kanan kiri, membuat gerakan menggunting ke arah tubuh Harjadenta..
"Yaaaaahhhh....!" Harjadenta juga mengeluarkan pekik dan kedua tangan yang membentuk cakar itu berkembang ke kanan kiri menangkis dua pukulan yang menggunting dari lawan, kemudian kaki kanannya menyambar ke arah perut Rajah Beling.
"Wuuuttt .... desss ...." Rajah Beling tidak sempat mengelak, maka diapun menggerakkan kaki kirinya menyambut tendangan itu sehingga kedua tulang kering kaki mereka bertemu dengan kerasnya.

Keduanya terpelanting dan terhuyung ke belakang. Jebol kuda-kuda mereka ketika kedua kaki mereka saling bertemu itu dan ternyata tenaga mereka seimbang sehingga keduanya terpelanting dan hampir roboh!
"Babo-baba, keparat! Ada juga isinya bocah ini!" kata Rajah Beling marah.
"Senopati Rajah Beling, keluarkan semua kedigdayaan dan aji kesaktianmu!" tantang Harjadenta.
"Keparat! Sambutlah pusakaku ini kalau engkau mampu!" Rajah Beling mencabut sebatang pedang dari pinggangnya.
"Hemm, belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mengeluarkan pusaka! Apa engkau kira hanya engkau yang memiliki pusaka? Akupun memiliki sebatang pusaka ampuh yang akan menandingi pusakamu!" Berkata demikian, Harjadenta mencabut kerisnya, yaitu Ki Mengeng, sebatang keris buatan Empu Gandawijaya.
"Maju dan sambutlah pusakaku ini yang akan mengantarmu ke alam baka!" bentak Rajah Beling dengan suara garang, dan dia sudah menerjang ke depan, pedangnya melayang dan membacok ke arah kepala harjadenta.
Pemuda itu maklum akan datangnya serangan yang berbahaya. Dia cepat menggeser kakinya dan mengelak ke samping kiri. Ketika pedang yang berkilauan saking tajamnya itu meluncur lewat, cepat diapun memasukkan kerisnya menusuk ke arah lambung lawan. Rajah Beling cukup gesit dan melihat dirinya terancam maut di ujung keris lawan, diapun melompat ke belakang dan luput dari serangan itu. kemudian dia menerjang lagi, memutar pedangnya sehingga tampak gulungan sinar pedang yang seolah berubah menjadi banyak itu. Dari gulungan sinar itu mencuat sinar pedang menusuk ke arah dada Harjadenta. Pemuda ini cepat memutar pergelangan tangan kanannya yang memegang keris, kerisnya berputar menangkis pedang lawan. Karena maklufn bahwa lawannya memiliki tenaga besar, ketika menangkis Harjadenta mengerahkan tenaganya.
"Cring .... tranggg .....!!" Dua kali pedang bertemu keris dan tampaklah bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang senjata itu bertemu di udara dengan kuatnya.

Keduanya lalu melangkah ke belakang untuk memeriksa senjata masing-masing. Setelah mendapat kenyataan bahwa senjata mereka tidak rusak, keduanya maju lagi dan saling serang dengan hebatnya. Ternyata tingkat kepandaian kedua orang ini berimbang sehingga pertandingan itu berlangsung seru dan sukar untuk diramalkan siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Sebetulnya Harjadenta masih menang sedikit dalam hal kecepatan , sedangkan tenaga mereka seimbang. Akan tetapi Rajah Beling menutup kekalahannya itu dengan kemenangan dalam pengalaman bertanding. Gerakkannya lebih matang dibandingkan Harjadenta, jurus-jurus silatnya dapat dikembangkan dengan berbagai gerakan yang cepat tidak terduga, sehingga kadang-kadang Harjadenta dibuat kaget. Ada seperempat jam mereka bertanding dan keadaannya masih seimbang sehingga para penonton kedua pihak merasa tegang sekali. Jayawijaya yang ikut juga menjadi penonton, mengerutkan alisnya. Dalam hatinya dia sama sekali tidak senang menyaksikan pertandingan ini karena maklum bahwa seorang di antara mereka yang bertanding tentu akan tewas atau setidaknya terluka. Dia menganggap bahwa pertandingan itu bukan merupakan cara penyelesaian yang baik dan sehat. Akan tetapi diapun tahu bahwa dia tidak dapat mencegah karena kedua pihak sudah setuju untuk menyelesaikan persoalan dengan adu kepandaian silat. Tentu saja dia berpihakkepada rombongan Retno Wilis kareni pihak gadis itulah yang benar sedangkan pihak Blambangan salah akan tetapi dia tidak menghendaki cara kekerasan seperti itu.
"Hauuuppppp......!" Kembali Rajah Beling mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah merendahkan tubuh sampai berjongkok dan pedangnya menyerampang ke arah kedua kaki Harjadenta. Pemuda ini melompat ke atas belakang, akan tetapi baru saja kedua kakinya menginjak tanah, Rajah Beling sudah melompat ke atas dan menyerang dari atas dengan pedangnya, gerakannya seperti seekor burung garuda menyambar mangsanya.
Harjadenta terkejut bukan main. Serangan lawannya itu sedemikian cepatnya dan tahu-tahu pedang itu telah menyambar ke arah lehernya dari atas! Dia mencoba untuk mengelak dengan miringkan tubuh atasnya, akan tetapi pedang itu masih saja dapat menyerempet pundak kirinya. Baju di bagian pundak kirinya robek berikut kulit pundaknya, terluka dan mengeluarkan darah. Akan tetapi Harjadenta cepat menusukkan kerisnya ke arah tubuh yang masih melayang di atas itu. Rajah Beling menarik kakinya, akan tetapi tetap saja keris itu masih melukai pahanya sehingga mengucurkan darah.

Keduanya berlompatan ke belakang, Harjadenta berdarah pada pundak kirinya dan Rajah beling berdarah pula paha kanannya. Kawan-kawan dari kedua pihak cepat maju menolong teman masing-masing. Retna Wilis merasa lega setelah melihat bahwa luka di pundak Harjadenta tidak parah walaupun tentu saja kurang baik kalau pemuda itu melanjutkan pertandingan karena lukanya itu akan membuat gerakannya menjadi kurang leluasa dan lambat.
"Retna Wilis, jagomu telah terlukai" kata Wasi Shiwamurti lantang.
Retna Wilis bertolak pinggang menghadapi sang wasi itu.
"Akan tetapi jagomu juga terluka lebih parah pada pahanya! Jagoku tidak dapat dikatakan kalah?"
Wasi Shiwamurti melihat betapa luka di paha Rajah Beling tidak memungkinkan bagi senopati Blambangan itu untuk melanjutkan perkelahian, maka diapun segera berkata lantang,
"Retna Wilis! Karena jago kita masing-masing sudah terluka, maka keadaan mereka berimbang, tidak ada yang menang atau kalah. Pertandingan pertama ini kita anggap seri tanpa ada yang menang. Mari kita lanjutkan dengan pertandingan ke dua!"
"Kakang Wasi Shiwamurti, biarkan aku yang maju sekarang!" terdengar teriakan dan Wasi Karangwolo sudah melangkah maju, menghadapi pihak Retna Wilis sambil berkata,
"Hayo siapa akan berani menandingi Wasi Karangwolo, penasihat Sang Adipati di Blambangan!"
Retna Wilis yang sudah tahu akan kehebatan ilmu kanuragan maupun ilmu sihir yang dimiliki Wasi Karangwolo, menjadi ragu. Kalau ia sendiri yang maju, bagaimana nanti kalau menandingi Wasi Shiwamurti dan kedua pembantunya yang sakti, yaitu Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda? Mereka bertiga itu akan ia hadapi bertiga bersama ibunya dan kakaknya. Satu-satunya jago yang ada padanya hanya pemuda yang bernama Jarot itu, akan tetapi karena ia belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda itu, ia tidak berani menyuruhnya maju. Kalau tingkatnya hanya setingkat kepandaian Harjadenta, tentu akan kalah menandingi Wasi Karangwolo. Ia hanya memandang ke arah pemuda itu dan kepada ibunya. la melihat ibunya mengangguk, dan Jarot agaknya maklum bahwa dia diharapkan untuk mewakili pihak Retna Wilis. Sejak tadi Jarot memperhatikan Retna Wilis dan dia menjadi kagum bukan main, bahkan terpesona. Selama hidupnya baru sekali ini dia bertemu dengan seorang dara yang bukan saja cantik jelita, namun juga pemberani dan gagah perkasa. Seperti dara inilah kiranya tokoh Maha Bharata yang bernama Srikandi itu! Akan tetapi karena baru saja dia diperkenalkan dengan Retna Wilis dan dia merasa rikuh untuk bicara kepada dara itu, maka dia berkata yang ditujukan kepada Endang Patibroto.
"Kanjeng Bibi Endang Patibroto! Perkenankan saya maju sebagai jago nomor dua pihak kanjeng bibi!"
Endang Patibroto tersenyum dan mengangguk.
"Akan tetapi berhati-hatilah, anak-mas Jarot. Aku pernah bertanding dengan wasi busuk ini, dia cukup tangguh dan memiliki ilmu sihir, banyak akalnya yang licik!"
Jarot tersenyum.
"Saya akan berhati-hati, kanjeng bibi." Dia lalu melangkah maju menghadapi Wasi Karangwolo dan berkata,
"Sang Wasi, akulah tandingmu dan majulah, aku sudah siap!"

Wasi Karangwolo marah mendengar ucapan Endang Patibroto tadi.

<<< Bagian 60                                                                                         Bagian 62 >>>

No comments:

Post a Comment