Jayawijaya memberi hormat kepada Endang Patibroto.
"Bibi,
kebetulan sekali saya bertemu dengan diajeng Retna Wilis dan melakukan
perjalanan bersama."
Diam-diam
Endang Patibroto merasa girang sekali. Ia sudah mengambil keputusan untuk
menjodohkan Retna Wilis dengan pemuda yang aneh luar biasa ini, dan tahu-tahu
mereka sudah bertemu bahkan melakukan perjalanan bersama.
"Ah,
begitukah? Retna, mari kita berlima maju dan membasmi orang-orang jahat
ini!"
Retna Wilis
menghadapi Wasi Shiwamurti.
"Wasi
Shiwamurti, di pihak kami ada lima orang jago. Mari kita bertanding satu lawan
satu!"
"Paman
Wasi, biar aku yang maju sebagai jago pertama!" terdengar bentakan keras
dan seorang laki-laki tinggi besar melompat keluar. Usianya kurang lebih
limapuluh tahun dan tubuhnya gagah dan tampak kokoh kuat.
”Aku adalah,
senopati Blambangan bernama Rajah Beling. Siapa berani melawan aku?"
katanya sambil membusungkan dadanya yang lebar dan tebal.
"Diajeng
Retna Wilis, biar aku yang menandinginya!” kata Harjadenta dan Retna Wilis yang
maklum akan kepandaian pemuda dari Gunung Raung ini mengangguk. Ia belum tahu.
bagaimana tingkat kepandaian Jarot, pemuda yang datang bersama ibunya, maka
tentu saja ia tidak berani mengajukan pemuda itu.
Dengan gagah
Harjadenta melangkah maju menghadapi Senopati Rajah Beling yang memandang
kepadanya dengan matanya yang tebar itu terbelalak menyeramkan. Harjadenta
tersenyum, sikapnya tenang saja.
"Orang
muda, sebutkanlah namamu agar engkau tidak mati tanpa nama!" bentak
Senopati Rajah Beling dengan suara menggelegar.
"Aku
Harjadenta dari Gunung Raung. Guruku adalah Eyang Empu Gandawijaya kalau engkau
ingin tahu," jawab harjadenta dengan sikap tenang. Dia adalah seorang yang
jujur, maka tanpa ditanya dia sudah memperkenalkan gurunya.
"Hemm,
murid Empu Gandawijaya? Orang muda, karena kami sudah mengenal Empu Gandawijaya
dan pernah memesan keris buatannya, maka kunasihatkan agar engkau pulang ke
Gunung Raung dan jangan mencampuri urusan ini. Aku memberi kesempatan kepadamu
untuk hidup demi gurumu."
"Senopati
Rajah Beling, kita telah memilih pihak masing-masing dan kita berhadapan
sebagai musuh. Tidak perlu engkau menyinggung-nyinggung nama guruku. Kita telah
menjadi jago dari masing-masing pihak. Majulah, aku siap menandingimu!"
"Orang
muda keras kepala, tidak tahu di sayang orang. Sekarang engkau akan mati!"
Berkata demikian, senopati yang tinggi besar itu sudah menerjang maju dengan
tangan kanan dikepal sebesar kepala orang dan menyambar ke arah kepala
Harjadenta, sedangkan tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah dada
pemuda itu. Gerakannya mendatangkan angin, pertanda bahwa gerakan itu
mengandung tenaga yang besar, juga datangnya amat cepatnya.
Namun
Harjadenta adalah seorang pemuda yang tangkas dan gesit. Menghadapi serangan
itu dia tidak menjadi gugup, cepat miringkan tubuhnya dan menarik kepalanya ke
belakang sehingga pukulan dan cengkraman lawan itu hanya mengenai angin kosong
belaka. Rajah Beling menjadi penasaran dan cepat kakinya menyusul dengan
tendangan yang mencuat secepat ular mematuk. Kaki yang besar dan panjang itu
menyambar ke arah dada Harjadenta. Namun pemuda ini sudah siap siaga.
"Wuuuuuuuuttt.......dukkkk!!"
Lengan kanan Harjadenta sudah menangkis kaki kiri lawan yang menyambar dengan
tendangan itu dan ternyata tenaga pemuda ini tidak kalah oleh tenaga tendangan
lawan. Buktinya kaki yang tertangkis itu terpental dan membuat tubuh Rajah
Beling menjadi doyong. Kesempatan ini dipergunakan oleh Harjadenta untuk
membalas. Selagi tubuh lawannya condong ke kanan, dia memapakinya dengan
tamparan tangan kiri dengan jari-jari terbuka yang ditujukan ke arah leher
lawan.
"Syuuuuuttt......!"
Tamparan yang kuat ke itu juga tidak mengenai sasaran karena biarpun tubuhnya
condong ke kanan, senopati yang banyak pengalaman bertanding itu sudah
menjatuhkan tubuhnya ke belakang, lalu menggelinding dan meloncat bangun
kembali.
Mereka sudah
berhadapan lagi seperti dua ekor ayam jago sedang berlaga. Keduanya memasang
kuda-kuda. Rajah Beling memasang kuda-kuda atau pasangan yang disebut Mahesa
Mungkur, yaitu tubuhnya membelakangi lawan, akan tetapi lehernya menoleh ke
belakang dan matanya memandang penuh kewaspadaan, kedua kakinya siap untuk
membalik dan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka terpasang di depan dada,
seolah-olah seekor harimau yang sedang marah dan siap untuk menerkam musuhnya.
"Haiiiit....!"
Rajah Beling tiba-tiba memutar kedua kakinya dan kedua tangannya menyambar dari
kanan kiri, membuat gerakan menggunting ke arah tubuh Harjadenta..
"Yaaaaahhhh....!"
Harjadenta juga mengeluarkan pekik dan kedua tangan yang membentuk cakar itu
berkembang ke kanan kiri menangkis dua pukulan yang menggunting dari lawan,
kemudian kaki kanannya menyambar ke arah perut Rajah Beling.
"Wuuuttt
.... desss ...." Rajah Beling tidak sempat mengelak, maka diapun
menggerakkan kaki kirinya menyambut tendangan itu sehingga kedua tulang kering
kaki mereka bertemu dengan kerasnya.
Keduanya
terpelanting dan terhuyung ke belakang. Jebol kuda-kuda mereka ketika kedua
kaki mereka saling bertemu itu dan ternyata tenaga mereka seimbang sehingga
keduanya terpelanting dan hampir roboh!
"Babo-baba,
keparat! Ada juga isinya bocah ini!" kata Rajah Beling marah.
"Senopati
Rajah Beling, keluarkan semua kedigdayaan dan aji kesaktianmu!" tantang
Harjadenta.
"Keparat!
Sambutlah pusakaku ini kalau engkau mampu!" Rajah Beling mencabut sebatang
pedang dari pinggangnya.
"Hemm,
belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mengeluarkan pusaka!
Apa engkau kira hanya engkau yang memiliki pusaka? Akupun memiliki sebatang
pusaka ampuh yang akan menandingi pusakamu!" Berkata demikian, Harjadenta
mencabut kerisnya, yaitu Ki Mengeng, sebatang keris buatan Empu Gandawijaya.
"Maju dan
sambutlah pusakaku ini yang akan mengantarmu ke alam baka!" bentak Rajah
Beling dengan suara garang, dan dia sudah menerjang ke depan, pedangnya
melayang dan membacok ke arah kepala harjadenta.
Pemuda itu
maklum akan datangnya serangan yang berbahaya. Dia cepat menggeser kakinya dan
mengelak ke samping kiri. Ketika pedang yang berkilauan saking tajamnya itu
meluncur lewat, cepat diapun memasukkan kerisnya menusuk ke arah lambung lawan.
Rajah Beling cukup gesit dan melihat dirinya terancam maut di ujung keris lawan,
diapun melompat ke belakang dan luput dari serangan itu. kemudian dia menerjang
lagi, memutar pedangnya sehingga tampak gulungan sinar pedang yang seolah
berubah menjadi banyak itu. Dari gulungan sinar itu mencuat sinar pedang
menusuk ke arah dada Harjadenta. Pemuda ini cepat memutar pergelangan tangan
kanannya yang memegang keris, kerisnya berputar menangkis pedang lawan. Karena
maklufn bahwa lawannya memiliki tenaga besar, ketika menangkis Harjadenta
mengerahkan tenaganya.
"Cring
.... tranggg .....!!" Dua kali pedang bertemu keris dan tampaklah bunga
api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang senjata itu bertemu di udara
dengan kuatnya.
Keduanya lalu
melangkah ke belakang untuk memeriksa senjata masing-masing. Setelah mendapat
kenyataan bahwa senjata mereka tidak rusak, keduanya maju lagi dan saling
serang dengan hebatnya. Ternyata tingkat kepandaian kedua orang ini berimbang
sehingga pertandingan itu berlangsung seru dan sukar untuk diramalkan siapa
yang akan keluar sebagai pemenang. Sebetulnya Harjadenta masih menang sedikit
dalam hal kecepatan , sedangkan tenaga mereka seimbang. Akan tetapi Rajah
Beling menutup kekalahannya itu dengan kemenangan dalam pengalaman bertanding.
Gerakkannya lebih matang dibandingkan Harjadenta, jurus-jurus silatnya dapat
dikembangkan dengan berbagai gerakan yang cepat tidak terduga, sehingga
kadang-kadang Harjadenta dibuat kaget. Ada seperempat jam mereka bertanding dan
keadaannya masih seimbang sehingga para penonton kedua pihak merasa tegang
sekali. Jayawijaya yang ikut juga menjadi penonton, mengerutkan alisnya. Dalam
hatinya dia sama sekali tidak senang menyaksikan pertandingan ini karena maklum
bahwa seorang di antara mereka yang bertanding tentu akan tewas atau setidaknya
terluka. Dia menganggap bahwa pertandingan itu bukan merupakan cara
penyelesaian yang baik dan sehat. Akan tetapi diapun tahu bahwa dia tidak dapat
mencegah karena kedua pihak sudah setuju untuk menyelesaikan persoalan dengan
adu kepandaian silat. Tentu saja dia berpihakkepada rombongan Retno Wilis
kareni pihak gadis itulah yang benar sedangkan pihak Blambangan salah akan
tetapi dia tidak menghendaki cara kekerasan seperti itu.
"Hauuuppppp......!"
Kembali Rajah Beling mengeluarkan bentakan nyaring dan dia sudah merendahkan
tubuh sampai berjongkok dan pedangnya menyerampang ke arah kedua kaki
Harjadenta. Pemuda ini melompat ke atas belakang, akan tetapi baru saja kedua
kakinya menginjak tanah, Rajah Beling sudah melompat ke atas dan menyerang dari
atas dengan pedangnya, gerakannya seperti seekor burung garuda menyambar
mangsanya.
Harjadenta
terkejut bukan main. Serangan lawannya itu sedemikian cepatnya dan tahu-tahu
pedang itu telah menyambar ke arah lehernya dari atas! Dia mencoba untuk
mengelak dengan miringkan tubuh atasnya, akan tetapi pedang itu masih saja
dapat menyerempet pundak kirinya. Baju di bagian pundak kirinya robek berikut
kulit pundaknya, terluka dan mengeluarkan darah. Akan tetapi Harjadenta cepat
menusukkan kerisnya ke arah tubuh yang masih melayang di atas itu. Rajah Beling
menarik kakinya, akan tetapi tetap saja keris itu masih melukai pahanya
sehingga mengucurkan darah.
Keduanya
berlompatan ke belakang, Harjadenta berdarah pada pundak kirinya dan Rajah
beling berdarah pula paha kanannya. Kawan-kawan dari kedua pihak cepat maju
menolong teman masing-masing. Retna Wilis merasa lega setelah melihat bahwa
luka di pundak Harjadenta tidak parah walaupun tentu saja kurang baik kalau
pemuda itu melanjutkan pertandingan karena lukanya itu akan membuat gerakannya
menjadi kurang leluasa dan lambat.
"Retna
Wilis, jagomu telah terlukai" kata Wasi Shiwamurti lantang.
Retna Wilis
bertolak pinggang menghadapi sang wasi itu.
"Akan
tetapi jagomu juga terluka lebih parah pada pahanya! Jagoku tidak dapat
dikatakan kalah?"
Wasi
Shiwamurti melihat betapa luka di paha Rajah Beling tidak memungkinkan bagi
senopati Blambangan itu untuk melanjutkan perkelahian, maka diapun segera
berkata lantang,
"Retna
Wilis! Karena jago kita masing-masing sudah terluka, maka keadaan mereka
berimbang, tidak ada yang menang atau kalah. Pertandingan pertama ini kita
anggap seri tanpa ada yang menang. Mari kita lanjutkan dengan pertandingan ke
dua!"
"Kakang
Wasi Shiwamurti, biarkan aku yang maju sekarang!" terdengar teriakan dan
Wasi Karangwolo sudah melangkah maju, menghadapi pihak Retna Wilis sambil
berkata,
"Hayo
siapa akan berani menandingi Wasi Karangwolo, penasihat Sang Adipati di
Blambangan!"
Retna Wilis
yang sudah tahu akan kehebatan ilmu kanuragan maupun ilmu sihir yang dimiliki
Wasi Karangwolo, menjadi ragu. Kalau ia sendiri yang maju, bagaimana nanti
kalau menandingi Wasi Shiwamurti dan kedua pembantunya yang sakti, yaitu Ni
Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda? Mereka bertiga itu akan ia hadapi bertiga
bersama ibunya dan kakaknya. Satu-satunya jago yang ada padanya hanya pemuda
yang bernama Jarot itu, akan tetapi karena ia belum tahu sampai di mana tingkat
kepandaian pemuda itu, ia tidak berani menyuruhnya maju. Kalau tingkatnya hanya
setingkat kepandaian Harjadenta, tentu akan kalah menandingi Wasi Karangwolo.
Ia hanya memandang ke arah pemuda itu dan kepada ibunya. la melihat ibunya
mengangguk, dan Jarot agaknya maklum bahwa dia diharapkan untuk mewakili pihak
Retna Wilis. Sejak tadi Jarot memperhatikan Retna Wilis dan dia menjadi kagum
bukan main, bahkan terpesona. Selama hidupnya baru sekali ini dia bertemu
dengan seorang dara yang bukan saja cantik jelita, namun juga pemberani dan
gagah perkasa. Seperti dara inilah kiranya tokoh Maha Bharata yang bernama
Srikandi itu! Akan tetapi karena baru saja dia diperkenalkan dengan Retna Wilis
dan dia merasa rikuh untuk bicara kepada dara itu, maka dia berkata yang
ditujukan kepada Endang Patibroto.
"Kanjeng
Bibi Endang Patibroto! Perkenankan saya maju sebagai jago nomor dua pihak
kanjeng bibi!"
Endang
Patibroto tersenyum dan mengangguk.
"Akan
tetapi berhati-hatilah, anak-mas Jarot. Aku pernah bertanding dengan wasi busuk
ini, dia cukup tangguh dan memiliki ilmu sihir, banyak akalnya yang
licik!"
Jarot
tersenyum.
"Saya
akan berhati-hati, kanjeng bibi." Dia lalu melangkah maju menghadapi Wasi
Karangwolo dan berkata,
"Sang
Wasi, akulah tandingmu dan majulah, aku sudah siap!"
Wasi
Karangwolo marah mendengar ucapan Endang Patibroto tadi.
<<< Bagian 60 Bagian 62 >>>
No comments:
Post a Comment