Dia dikatakan sebagai seorang wasi busuk yang licik! Dengan muka berubah merah saking marahnya dia sudah mencabut sebatang keris panjang dari pinggangnya, mengamangkan kerisnya kepada Jarot dan membentak,
"Orang
muda, siapakah andika yang berani menghadapi Wasi Karangwolo?"
"Namaku
Jarot, aku putera Adipati Kertajaya dari Pasisiran, dan aku adalah murid Sang
Bhagawan Dewondaru dari Gunung Semeru," kata jarot dan melihat lawannya
memegang sebatang keris panjang, diapun mencabut keris yang terselip di
pinggangnya, sebatang keris berluk tujuh yang berwarna hitam. Itulah keris Nogo
Ireng pemberian gurunya, sebatang keris pusaka yang ampuh. Mendengar bahwa
pemuda itu murid Sang Bhagawan Dewondaru yang telah dia kenal namanya sebagai
seorang bhagawan yang sakti, Wasi Karangwolo tidak berani memandang rendah
lawannya yang masih muda.
"Jarot,
engkau bocah kemarin sore yang masih amat muda berani menandingi aku yang
pantas untuk menjadi kakekmu? Hayo berlutut dan mengaku kalah, agar engkau
tidak perlu mampus di tanganku. Berlututlah kau!" Sambil berkata demikian,
Wasi Karangwolo mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi pemuda itu.
Endang
Patibroto terkejut melihat ini, khawatir kalau-kalau pemuda itu akan tersihir.
Betapapun juga, ia tidak berani menggunakan kekuatan sihirnya untuk menolong,
karena dalam pertandingan yang diadakan satu lawan satu itu tentu saja tidak
boleh ada yang turun tangan menolong. Maka ia hanya menonton dengan hati
tegang, demikian pula Retna Wilis. Bagus Seta yang melihat ini, hanya memandang
dengan sinar matanya yang lembut namun tajam mencorong itu.
Jarot telah
menerima gemblengan dari Bhagawan Dewondaru dan sudah dibekali ke kuatan batin
yang hebat. Namun menghadapi kekuatan sihir Wasi Karangwolo, pertahanan
batinnya kurang kuat dan hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut karena
perintah itu demikian berpengaruh dan mengandung wibawa yang amat kuat, hampir
tidak dapat dia menahannya. Akan tetapi tiba-tiba pengaruh itu lenyap dan
dorongan untuk berlutut lenyap pula. Dia tersenyum, tidak tahu bahwa diam-diam
kekuatan pandang mata Bagus Seta yang membantunya. Dia hanya mengira bahwa
lawannya itu tidak kuat mempengaruhinya!
"Sudahlah,
Wasi Karangwolo, tidak ada gunanya bermain-main dengan kata-kata. Mari kita
bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul!" kata Jarot sambil
memegang kerisnya menempel di pinggang kanan dan tangan kirinya melintang di
depan dada dengan jari-jari tangan terbuka.
Melihat betapa
kekuatan sihirnya tidak mampu memaksa pemuda yang menjadi lawannya itu
berlutut, Wasi Karangwolo maklum bahwa dia tidak akan menang menggunakan sihir.
Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas dan menerjang ke
depan, menusukkan kerisnya ke arah dada Jarot. Pemuda itu mengelak dengan cepat
sambil melangkah mundur. Akan tetapi dengan ganasnya Wasi Karangwolo
sudah-menyerangkan kerisnya lagi, sekali ini menusuk ke arah perut. Karena
serangan itu di lakukan dari dekat dan cepat datangnya, Jarot tidak keburu
mengelak dan diapun menggerakkan kerisnya untuk menangkis.
"Trik-trikk
....!!" Dua kali keris bertemu dan Wasi Karangwolo merasa betapa tangannya
yang memegang keris tergetar. Akan tetapi Jarot juga merasakan getaran hebat
pada lengannya dan maklum bahwa lawan memiliki tenaga sakti yang amat kuat.
Diapun cepat membalas dengan tusukan kerisnya ke arah lambung lawan, namun Wasi
Karangwolo juga dapat mengelak dengan cepatnya. Terjadilah perkelahian yang seru,
saling tusuk dan saling elak, kadang-kadang saling beradu keris.
"Mampus
kau!" terdengar sang wasi membentak dan dia menubruk lagi ke depan sambil
menusukkan kerisnya ke arah leher lawannya.
"Wuuuuutttt
.....!" Tusukan itu luput karena Jarot mengelak ke belakang.
"Wirrr
.....!!" Kaki Wasi Karangwolo menyambar dengan sebuah tendangan kilat. Tak
mengira bahwa lawannya akan mengirim tendangan yang dahsyat itu, Jarot hanya
dapat menggunakan tangan kirinya untuk menangkis.
"Dukkk...!"
Lengan kiri Jarot bertemu dengan kaki wasi Karangwolo. Tendangan itu demikian
kuatnya sehingga membuat tubuh Jarot terhuyung. Kesempatan ini dipergunakan
sang wasi untuk mendesak dan mengejar dengan tusukan-tusukan kerisnya. Jarot
yang terdesak hebat itu tiba-tiba melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik
tiga kali, barulah dia terhindar dari desakan dan kini sudah siap lagi
menghadapi lawan! Gerakannya ini bagus sekali, membuat Retna Wilis
mengangguk-angguk. Pemuda itu memang cukup tangkas, akan tetapi ia tetap
khawatir karena Wasi Karangwolo memang benar-benar digdaya.
Kembali mereka
bertanding. Jarot membalas pula dengan tusukan-tusukan, diselingi dengan
tamparan tangan kirinya dan tendangan kakinya. Namun semua serangannya dapat
dihindarkan oleh lawan dengan elakan maupun tangkisan, bahkan sang wasi
membalas dengan tidak kalah hebat dan gencarnya, membuat Jarot kadang terdesak
dan mundur. Sebetulnya dari Bhagawan Dewondaru Jarot sudah menerima gemblengan
yang hebat, mempelajari aji-aji kesaktian yang ampuh. Akan tetapi dia masih
muda dan masih kurang pengalaman, jarang mempergunakan kesaktiannya untuk
bertanding. Oleh karena itu, kini menghadapi seorang tokoh wasi yang berilmu
tinggi dan banyak sekali pengalamannya, tentu saja dia mulai terdesak. Ketika
dia mundur-mundur terdesak dan keris lawan berkelebatan seperti tangan maut
mencari mangsa, Jarot menarik tubuh atas ke belakang. Setelah keris meluncur
lewat, tubuh atasnya condong lagi ke depan dan dia melancarkan pukulan yang
dahsyat ke arah dada lawannya. Akan tetapi agaknya ini yang dinanti-nanti oleh
Wasi Karangwolo. Tadi sudah-beberapa kali mereka mengadu tenaga lewat keris
mereka dan sang wasi maklum bahwa dalam hal tenaga sakti, dia masih menang
sedikit. Maka dia mengharapkan untuk dapat mengadu tenaga sakti melalui pukulan
tangan kiri. Ketika melihat Darot memukulnya dengan telapak tangan dan
jarijarinya terbuka, diapun cepat menyambut dengan telapak tangan kirinya pula
sam bil menggeser kaki sehingga kedua tangan kiri itu dengan tepat bertemu di
udara.
"Dessss”
Hebat bukan main pertemuan kedua tangan yang didorong oleh tenaga sakti itu.
Wasi
Karangwolo sudah mengerahkan seluruh tenaganya, maka ketika benturan dahsyat
terjadi, tubuh Jarot melayang ke belakang seperti daun kering tertiup angin dan
dia jatuh terpelanting! Biarpun dia tidak terluka parah, namun dia menjadi
pucat dan napasnya agak terengah. Endang Patibroto sudah meloncat dan menyambar
pundaknya, membantunya bangkit berdiri.
"Engkau
tidak apa-apa, anakmas Jarot?" tanya wanita perkasa itu.
Jarot
menggeleng kepalanya dan menghela napas.
"Tidak
apa-apa, kanjeng bibi. Maafkan bahwa saya telah kalah."
"Ha-ha-ha-ha,
jagomu yang kedua sudah mengaku kalah, Retna Wilis.'? Kedudukan kita sekarang
menjadi dua satu untuk kemenangan pihak kami!" Wasi Shiwamurti tertawa dan
mengejek.
Endang
Patibroto menjadi marah sekali dan ia sudah melompat ke depan Wasi Shiwamurti
sambil membusungkan dadanya
"Akulah
jago ke tiga dari pihak kami, wasi siluman. Hayo siapa yang berani melawan
aku!" Bentak Endang Patibroto, sikapnya amat gagah perkasa, menimbulkan
rasa gentar di hati musuh. Terutama sekali Wasi Karangwolo yang tadi menangkan
pertandingan melawan Jarot, dia merasa jerih karena dia pernah bertanding
dengan wanita perkasa ini dan harus diakuinya bahwa dia tidak mampu menandingi
Endang Patibroto.
Di pihak
Blambangan, Ni Dewi Durgomala membuat perhitungan yang cerdik. Ia sudah pernah
bertanding melawan Retna Wilis dan harus diakuinya bahwa ia tidak mampu
mengalahkan dara perkasa itu. Juga ia tahu bahwa Bagus Seta adalah seorang pemuda
yang memiliki kepandaian hebat sekali. Jelas ia tidak akan mampu mengalahkan
Retno Wilis ataupun Bagus Seta. Maka kini melihat Endang Patibroto maju, ia
memilih wanita itu sebagai lawannya. Biarlah Retna Wilis dan Bagus Seta nanti
dihadapi oleh Ki Shiwananda dan Wasi Shiwamurti! Dengan ringan ia meloncat ke
depan menghadapi Endang Patibroto sambil mencabut senjatanya yang istimewa,
yaitu sebatang kebutan. Tampaknya saja hanya kebutan, namun benda itu merupakan
senjata yang amat ampuh dan berbahaya. Setiap ujung bulu kebutan itu mengandung
racun yang berbahaya sekali dan Ni Dewi Durgomala dapat memainkan kebutan itu
dengan dahsyatnya.
"Endang
Patibroto, akulah lawanmu, sudah lama aku mendengar akan namamu, hendak kulihat
apakah itu hanya nama kosong belaka! Aku adalah Ni Dewi Durgomala dari Negeri
Cola."
Endang
Patibroto tersenyum mengejek dan menatap wajah Ni Dewi Durgomala dengan sinar
mata tajam menusuk.
"Hemm,
andika tentu perempuan yang menganggap diri nya penitisan Sang Batari Durgo!
Akan tetapi sayang, yang kauwarisi sama sekali bukan kekuasaan dan kebaikannya,
melainkan sifat sifat buruknya sehingga engkau menjadi seorang yang keji dan
jahat. Karena itu, sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi seorang manusia
iblis macam andika ini!"
Wajah Ni Dewi
Durgomala menjadi merah, lalu pucat, dan merah kembali, matanya melotot sampai
seperti akan meloncat keluar dari rongga matanya ketika ia menudingkan telunjuk
kirinya ke arah muka Endang Patibroto.
"Keparat
engkau Endang Patibroto! Berani engkau menghinaku seperti itu! Aku bersumpah
untuk membunuhmu, memenggal kepalamu, mencabik-cabik dada mu dan mengeluarkan
jantungmu!" Kebutan itu diputar-putarnya di atas kepalanya sehingga
terdengar bunyi bersuitan.
"Tahan
dulu .......!" Tiba-tiba terdengar seruan dan Jayawijaya berlari ke arah
Endang Patibroto, tangannya membawa sebatang kayu yang panjangnya satu meter
dan besarnya seibu-jari kaki.
"Kanjeng
Bibi Endang Patibroto, ini namanya tidak adil sama sekali! Lawanmu memegang
senjata sedangkan bibi tidak membawa senjata apapun. Kalau kanjeng bibi tidak
membawa senjata, maka pergunakanlah sepotong kayu ini untuk senjata!"
Setelah berkata demikian dia mengulurkan tangannya menyerahkan sebatang kayu
itu kepada Endang Patibroto. Endang Patibroto tersenyum dan menerima sepotong
kayu itu.
"Terima
kasih, anak-mas Jayawijaya dan berdirilah engkau menjauh di sana."
Jayawijaya
kembali ke tempat dia berdiri semula. Endang Patibroto menggerak-gerakkan
sepotong kayu itu dan terasa enak di tangannya. Sebagai seorang sakti, benda apapun
kalau berada di tangannya dapat menjadi senjata dan memegang sepotong kayu itu
ia merasa seperti memegang sebatang pedang! Biarpun ia tidak gentar menghadapi
kebutan Ni Dewi Durgomala dengan tangan kosong saja, akan tetapi menghadapi
senjata beracun memang lebih baik kalau ia menggunakan sepotong kayu itu.
"Durgomala,
mari kerahkan seluruh tenagamu dan keluarkan semua ilmumu! Aku sudah siap untuk
menandingi dan menghajarmu!" kata Endang Patibroto sambil memalangkan
sepotong kayu itu di depan dadanya.
Ni Dewi
Durgomala yang sudah marah sekali itu berteriak,
"Endang
Patibroto, engkau mampus di tanganku!" Dan secepat kilat iapun
menggerakkan kebutannya melakukan serangan yang dahsyat.
Kebutan itu
berputaran di atas kepala, lalu menukik dan menyambar ke arah kepala Endang
Patibroto, didahului angin pukulan yang menderu. Namun, sikap dan gerakan
Endang Patibroto tenang dan mantap sekali. Ia mengelak dengan melangkahkan kaki
kanan ke kanan dan menggeser kedudukannya sehingga kebutan itu hanya mengenai
tempat kosong saja. Namun dengan menggerakkan pergelangan tangannya, Ni Dewi
Durgomala telah dapat membuat kebutannya itu menyambar balik dan kini berubah
menjadi kaku seperti baja dan kebutan yang sudah menjadi kaku itu menusuk ke
arah dada Endang Patibroto seperti sebatang pedang! Endang tidak menjadi
terkejut melihat betapa bulu-bulu kebutan yang lemas itu kini berubah menjadi
kaku seperti kawat baja dan dengan masih tenang namun tangkas ia menggerakkan
tongkat kayunya untuk menangkis tusukan itu.
"Trakk
......!" Kebutan yang menjadi kaku itu terpental ketika bertemu tongkat
dan Ni Dewi Durgomala merasa betapa tangannya yang memegang gagang kebutan
menjadi tergetar hebat. Diam-diam ia terkejut setengah mati. Kiranya wanita
yang kondang saktinya ini benar-benar memiliki tenaga sakti yang amat kuat!
Ni Dewi
Durgomala menjadi penasaran sekali dan ia mengeluarkan suara melengking
panjang, lalu kebutannya bergerak cepat, berubah menjadi sinar bergulung-gulung
ketika ia menyerang secara bertubi-tubi. Namun, Endang Patibroto berkelebatan
cepat dan kadang ia lenyap dari pandang mata lawannya. Ni Dewi Durgomala
menjadi terkejut sekali. Itulah Aji Bayu Tantra dari Endang Patibroto yang
membuat tubuhnya menjadi ringan sekali dan gerakannya cepat seperti kilat.
Biarpun Ni Dewi Durgomala mengejar dan menyerang bayangan yang berkelebatan
itu, namun kebutannya tidak pernah dapat menyentuh tubuh Endang Patibroto!
Karena penasaran, Ni Dewi Durgomala menambah serangan kebutannya dengan
pukulan-pukulan tangan kirinya. Tangan kiri nenek ini berbahaya sekali karena
setiap kuku jarinya mengandung racun yang amat berbahaya. Ia bukan hanya
memukul dan menampar, akan tetapi juga mencengkeram.
<<< Bagian 61 Bagian 63 >>>
No comments:
Post a Comment