Sepasang Garuda Putih ; Bagian 62


Dia dikatakan sebagai seorang wasi busuk yang licik! Dengan muka berubah merah saking marahnya dia sudah mencabut sebatang keris panjang dari pinggangnya, mengamangkan kerisnya kepada Jarot dan membentak,
"Orang muda, siapakah andika yang berani menghadapi Wasi Karangwolo?"
"Namaku Jarot, aku putera Adipati Kertajaya dari Pasisiran, dan aku adalah murid Sang Bhagawan Dewondaru dari Gunung Semeru," kata jarot dan melihat lawannya memegang sebatang keris panjang, diapun mencabut keris yang terselip di pinggangnya, sebatang keris berluk tujuh yang berwarna hitam. Itulah keris Nogo Ireng pemberian gurunya, sebatang keris pusaka yang ampuh. Mendengar bahwa pemuda itu murid Sang Bhagawan Dewondaru yang telah dia kenal namanya sebagai seorang bhagawan yang sakti, Wasi Karangwolo tidak berani memandang rendah lawannya yang masih muda.
"Jarot, engkau bocah kemarin sore yang masih amat muda berani menandingi aku yang pantas untuk menjadi kakekmu? Hayo berlutut dan mengaku kalah, agar engkau tidak perlu mampus di tanganku. Berlututlah kau!" Sambil berkata demikian, Wasi Karangwolo mengerahkan kekuatan sihirnya untuk mempengaruhi pemuda itu.
Endang Patibroto terkejut melihat ini, khawatir kalau-kalau pemuda itu akan tersihir. Betapapun juga, ia tidak berani menggunakan kekuatan sihirnya untuk menolong, karena dalam pertandingan yang diadakan satu lawan satu itu tentu saja tidak boleh ada yang turun tangan menolong. Maka ia hanya menonton dengan hati tegang, demikian pula Retna Wilis. Bagus Seta yang melihat ini, hanya memandang dengan sinar matanya yang lembut namun tajam mencorong itu.

Jarot telah menerima gemblengan dari Bhagawan Dewondaru dan sudah dibekali ke kuatan batin yang hebat. Namun menghadapi kekuatan sihir Wasi Karangwolo, pertahanan batinnya kurang kuat dan hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut karena perintah itu demikian berpengaruh dan mengandung wibawa yang amat kuat, hampir tidak dapat dia menahannya. Akan tetapi tiba-tiba pengaruh itu lenyap dan dorongan untuk berlutut lenyap pula. Dia tersenyum, tidak tahu bahwa diam-diam kekuatan pandang mata Bagus Seta yang membantunya. Dia hanya mengira bahwa lawannya itu tidak kuat mempengaruhinya!
"Sudahlah, Wasi Karangwolo, tidak ada gunanya bermain-main dengan kata-kata. Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih unggul!" kata Jarot sambil memegang kerisnya menempel di pinggang kanan dan tangan kirinya melintang di depan dada dengan jari-jari tangan terbuka.
Melihat betapa kekuatan sihirnya tidak mampu memaksa pemuda yang menjadi lawannya itu berlutut, Wasi Karangwolo maklum bahwa dia tidak akan menang menggunakan sihir. Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas dan menerjang ke depan, menusukkan kerisnya ke arah dada Jarot. Pemuda itu mengelak dengan cepat sambil melangkah mundur. Akan tetapi dengan ganasnya Wasi Karangwolo sudah-menyerangkan kerisnya lagi, sekali ini menusuk ke arah perut. Karena serangan itu di lakukan dari dekat dan cepat datangnya, Jarot tidak keburu mengelak dan diapun menggerakkan kerisnya untuk menangkis.
"Trik-trikk ....!!" Dua kali keris bertemu dan Wasi Karangwolo merasa betapa tangannya yang memegang keris tergetar. Akan tetapi Jarot juga merasakan getaran hebat pada lengannya dan maklum bahwa lawan memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Diapun cepat membalas dengan tusukan kerisnya ke arah lambung lawan, namun Wasi Karangwolo juga dapat mengelak dengan cepatnya. Terjadilah perkelahian yang seru, saling tusuk dan saling elak, kadang-kadang saling beradu keris.
"Mampus kau!" terdengar sang wasi membentak dan dia menubruk lagi ke depan sambil menusukkan kerisnya ke arah leher lawannya.
"Wuuuuutttt .....!" Tusukan itu luput karena Jarot mengelak ke belakang.
"Wirrr .....!!" Kaki Wasi Karangwolo menyambar dengan sebuah tendangan kilat. Tak mengira bahwa lawannya akan mengirim tendangan yang dahsyat itu, Jarot hanya dapat menggunakan tangan kirinya untuk menangkis.
"Dukkk...!" Lengan kiri Jarot bertemu dengan kaki wasi Karangwolo. Tendangan itu demikian kuatnya sehingga membuat tubuh Jarot terhuyung. Kesempatan ini dipergunakan sang wasi untuk mendesak dan mengejar dengan tusukan-tusukan kerisnya. Jarot yang terdesak hebat itu tiba-tiba melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik tiga kali, barulah dia terhindar dari desakan dan kini sudah siap lagi menghadapi lawan! Gerakannya ini bagus sekali, membuat Retna Wilis mengangguk-angguk. Pemuda itu memang cukup tangkas, akan tetapi ia tetap khawatir karena Wasi Karangwolo memang benar-benar digdaya.

Kembali mereka bertanding. Jarot membalas pula dengan tusukan-tusukan, diselingi dengan tamparan tangan kirinya dan tendangan kakinya. Namun semua serangannya dapat dihindarkan oleh lawan dengan elakan maupun tangkisan, bahkan sang wasi membalas dengan tidak kalah hebat dan gencarnya, membuat Jarot kadang terdesak dan mundur. Sebetulnya dari Bhagawan Dewondaru Jarot sudah menerima gemblengan yang hebat, mempelajari aji-aji kesaktian yang ampuh. Akan tetapi dia masih muda dan masih kurang pengalaman, jarang mempergunakan kesaktiannya untuk bertanding. Oleh karena itu, kini menghadapi seorang tokoh wasi yang berilmu tinggi dan banyak sekali pengalamannya, tentu saja dia mulai terdesak. Ketika dia mundur-mundur terdesak dan keris lawan berkelebatan seperti tangan maut mencari mangsa, Jarot menarik tubuh atas ke belakang. Setelah keris meluncur lewat, tubuh atasnya condong lagi ke depan dan dia melancarkan pukulan yang dahsyat ke arah dada lawannya. Akan tetapi agaknya ini yang dinanti-nanti oleh Wasi Karangwolo. Tadi sudah-beberapa kali mereka mengadu tenaga lewat keris mereka dan sang wasi maklum bahwa dalam hal tenaga sakti, dia masih menang sedikit. Maka dia mengharapkan untuk dapat mengadu tenaga sakti melalui pukulan tangan kiri. Ketika melihat Darot memukulnya dengan telapak tangan dan jarijarinya terbuka, diapun cepat menyambut dengan telapak tangan kirinya pula sam bil menggeser kaki sehingga kedua tangan kiri itu dengan tepat bertemu di udara.
"Dessss” Hebat bukan main pertemuan kedua tangan yang didorong oleh tenaga sakti itu.
Wasi Karangwolo sudah mengerahkan seluruh tenaganya, maka ketika benturan dahsyat terjadi, tubuh Jarot melayang ke belakang seperti daun kering tertiup angin dan dia jatuh terpelanting! Biarpun dia tidak terluka parah, namun dia menjadi pucat dan napasnya agak terengah. Endang Patibroto sudah meloncat dan menyambar pundaknya, membantunya bangkit berdiri.
"Engkau tidak apa-apa, anakmas Jarot?" tanya wanita perkasa itu.
Jarot menggeleng kepalanya dan menghela napas.
"Tidak apa-apa, kanjeng bibi. Maafkan bahwa saya telah kalah."
"Ha-ha-ha-ha, jagomu yang kedua sudah mengaku kalah, Retna Wilis.'? Kedudukan kita sekarang menjadi dua satu untuk kemenangan pihak kami!" Wasi Shiwamurti tertawa dan mengejek.

Endang Patibroto menjadi marah sekali dan ia sudah melompat ke depan Wasi Shiwamurti sambil membusungkan dadanya
"Akulah jago ke tiga dari pihak kami, wasi siluman. Hayo siapa yang berani melawan aku!" Bentak Endang Patibroto, sikapnya amat gagah perkasa, menimbulkan rasa gentar di hati musuh. Terutama sekali Wasi Karangwolo yang tadi menangkan pertandingan melawan Jarot, dia merasa jerih karena dia pernah bertanding dengan wanita perkasa ini dan harus diakuinya bahwa dia tidak mampu menandingi Endang Patibroto.
Di pihak Blambangan, Ni Dewi Durgomala membuat perhitungan yang cerdik. Ia sudah pernah bertanding melawan Retna Wilis dan harus diakuinya bahwa ia tidak mampu mengalahkan dara perkasa itu. Juga ia tahu bahwa Bagus Seta adalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian hebat sekali. Jelas ia tidak akan mampu mengalahkan Retno Wilis ataupun Bagus Seta. Maka kini melihat Endang Patibroto maju, ia memilih wanita itu sebagai lawannya. Biarlah Retna Wilis dan Bagus Seta nanti dihadapi oleh Ki Shiwananda dan Wasi Shiwamurti! Dengan ringan ia meloncat ke depan menghadapi Endang Patibroto sambil mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang kebutan. Tampaknya saja hanya kebutan, namun benda itu merupakan senjata yang amat ampuh dan berbahaya. Setiap ujung bulu kebutan itu mengandung racun yang berbahaya sekali dan Ni Dewi Durgomala dapat memainkan kebutan itu dengan dahsyatnya.
"Endang Patibroto, akulah lawanmu, sudah lama aku mendengar akan namamu, hendak kulihat apakah itu hanya nama kosong belaka! Aku adalah Ni Dewi Durgomala dari Negeri Cola."
Endang Patibroto tersenyum mengejek dan menatap wajah Ni Dewi Durgomala dengan sinar mata tajam menusuk.
"Hemm, andika tentu perempuan yang menganggap diri nya penitisan Sang Batari Durgo! Akan tetapi sayang, yang kauwarisi sama sekali bukan kekuasaan dan kebaikannya, melainkan sifat sifat buruknya sehingga engkau menjadi seorang yang keji dan jahat. Karena itu, sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi seorang manusia iblis macam andika ini!"
Wajah Ni Dewi Durgomala menjadi merah, lalu pucat, dan merah kembali, matanya melotot sampai seperti akan meloncat keluar dari rongga matanya ketika ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Endang Patibroto.
"Keparat engkau Endang Patibroto! Berani engkau menghinaku seperti itu! Aku bersumpah untuk membunuhmu, memenggal kepalamu, mencabik-cabik dada mu dan mengeluarkan jantungmu!" Kebutan itu diputar-putarnya di atas kepalanya sehingga terdengar bunyi bersuitan.
"Tahan dulu .......!" Tiba-tiba terdengar seruan dan Jayawijaya berlari ke arah Endang Patibroto, tangannya membawa sebatang kayu yang panjangnya satu meter dan besarnya seibu-jari kaki.
"Kanjeng Bibi Endang Patibroto, ini namanya tidak adil sama sekali! Lawanmu memegang senjata sedangkan bibi tidak membawa senjata apapun. Kalau kanjeng bibi tidak membawa senjata, maka pergunakanlah sepotong kayu ini untuk senjata!" Setelah berkata demikian dia mengulurkan tangannya menyerahkan sebatang kayu itu kepada Endang Patibroto. Endang Patibroto tersenyum dan menerima sepotong kayu itu.
"Terima kasih, anak-mas Jayawijaya dan berdirilah engkau menjauh di sana."
Jayawijaya kembali ke tempat dia berdiri semula. Endang Patibroto menggerak-gerakkan sepotong kayu itu dan terasa enak di tangannya. Sebagai seorang sakti, benda apapun kalau berada di tangannya dapat menjadi senjata dan memegang sepotong kayu itu ia merasa seperti memegang sebatang pedang! Biarpun ia tidak gentar menghadapi kebutan Ni Dewi Durgomala dengan tangan kosong saja, akan tetapi menghadapi senjata beracun memang lebih baik kalau ia menggunakan sepotong kayu itu.
"Durgomala, mari kerahkan seluruh tenagamu dan keluarkan semua ilmumu! Aku sudah siap untuk menandingi dan menghajarmu!" kata Endang Patibroto sambil memalangkan sepotong kayu itu di depan dadanya.

Ni Dewi Durgomala yang sudah marah sekali itu berteriak,
"Endang Patibroto, engkau mampus di tanganku!" Dan secepat kilat iapun menggerakkan kebutannya melakukan serangan yang dahsyat.
Kebutan itu berputaran di atas kepala, lalu menukik dan menyambar ke arah kepala Endang Patibroto, didahului angin pukulan yang menderu. Namun, sikap dan gerakan Endang Patibroto tenang dan mantap sekali. Ia mengelak dengan melangkahkan kaki kanan ke kanan dan menggeser kedudukannya sehingga kebutan itu hanya mengenai tempat kosong saja. Namun dengan menggerakkan pergelangan tangannya, Ni Dewi Durgomala telah dapat membuat kebutannya itu menyambar balik dan kini berubah menjadi kaku seperti baja dan kebutan yang sudah menjadi kaku itu menusuk ke arah dada Endang Patibroto seperti sebatang pedang! Endang tidak menjadi terkejut melihat betapa bulu-bulu kebutan yang lemas itu kini berubah menjadi kaku seperti kawat baja dan dengan masih tenang namun tangkas ia menggerakkan tongkat kayunya untuk menangkis tusukan itu.
"Trakk ......!" Kebutan yang menjadi kaku itu terpental ketika bertemu tongkat dan Ni Dewi Durgomala merasa betapa tangannya yang memegang gagang kebutan menjadi tergetar hebat. Diam-diam ia terkejut setengah mati. Kiranya wanita yang kondang saktinya ini benar-benar memiliki tenaga sakti yang amat kuat!
Ni Dewi Durgomala menjadi penasaran sekali dan ia mengeluarkan suara melengking panjang, lalu kebutannya bergerak cepat, berubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika ia menyerang secara bertubi-tubi. Namun, Endang Patibroto berkelebatan cepat dan kadang ia lenyap dari pandang mata lawannya. Ni Dewi Durgomala menjadi terkejut sekali. Itulah Aji Bayu Tantra dari Endang Patibroto yang membuat tubuhnya menjadi ringan sekali dan gerakannya cepat seperti kilat. Biarpun Ni Dewi Durgomala mengejar dan menyerang bayangan yang berkelebatan itu, namun kebutannya tidak pernah dapat menyentuh tubuh Endang Patibroto! Karena penasaran, Ni Dewi Durgomala menambah serangan kebutannya dengan pukulan-pukulan tangan kirinya. Tangan kiri nenek ini berbahaya sekali karena setiap kuku jarinya mengandung racun yang amat berbahaya. Ia bukan hanya memukul dan menampar, akan tetapi juga mencengkeram.

<<< Bagian 61                                                                                          Bagian 63 >>>

No comments:

Post a Comment