Sepasang Garuda Putih ; Bagian 63


"Yaaaaaaattttttt..!" Ni Durgomala berkali-kali mengeluarkan teriakan melengking.
"Haiiiiiitttt...!" Endang Patibroto juga berteriak-teriak melengking dan tiba-tiba mulut wanita perkasa ini mengeluarkan pekik yang dahsyat sekali dan tiba-tiba mendengar pekik ini, tubuh Ni Dewi Durgomala menjadi gemetar dan jantungnya terguncang.

Itulah pekik yang disebut Aji Sardulo Bairawa yang memiliki pengaruh seperti auman seekor harimau yang dapat membuat calon korbannya menjadi lemas. Dalam keadaan seperti itu, tangan kiri Endang Patibroto menyambar ke arah kepala lawan dan pukulan tangan kosong itu adalah aji yang teramat ampuh, yaitu Aji Pethit Naga! Angin yang kencang menyambar panas ke muka Ni Dewi Durgomala. Wanita ini maklum bahwa pukulan itu amat ampuh maka ia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan di atas tanah! Ketika Endang Patibroto mengejarnya untuk menyusulkan serangan, Ni Dewi Durgomala melompat bangun dan mengelebatkan kebutannya untuk memukul ke arah muka lawan.
"Hemm......!" Endang Patibroto menggerakkan tongkat kayunya untuk menangkis.
"Plakk!" Bulu-bulu itu membelit tongkat seperti seekor ular!
Endang Patibroto mencoba untuk menarik tongkatnya, namun tertahan oleh libatan kebutan yang melilit amat kuatnya. Dengan marah Endang Patibroto mencuatkan kaki kirinya menendang ke arah tangan kanan lawan yang memegang kebutan. Melihat tendangan kilat ini, Ni Dewi Durgomala terpaksa melepaskan lilitan kebutannya. Begitu terbebas dari lilitan, Endang Patibroto mengamuk. Tongkat kayunya menyambar-nyambar dengan ganasnya dan biarpun Ni Dewi Durgomala berusaha mengelak dan menangkis, tetap saja tongkat kayu itu beberapa kali mengenai tubuhnya dengan bertubi-tubi.
"Plak! Plak! Plak!" Tongkat itu melecut ke berbagai penjuru dan selalu mengenai tubuh Ni Dewi Durgomala.
Robek-robeklah baju nenek itu dan biarpun tongkat itu tidak mendatangkan luka parah, namun kulit tumbuhnya menjadi matang biru dan berbilur-bilur, nyeri dan pedih! Ia mundur-mundur terus dan dikejar oleh Endang Patibroto yang agaknya ingin memukuli lawan sampai mati! Terpaksa Ni Dewi Durgomala lari melompat ke belakang Wasi Shiwamurti dan pendeta ini menggerakkan tongkatnya yang berkepala naga untuk menangkis sambaran tongkat kayu di tangan Endang Patibroto.
"Takkk!" Tongkat di tangan Endang Patibroto terpental. Akan Tetapi wanita perkasa itu tidak takut dan ia menghadapi Wasi Shiwamurti dengan penuh tantangan.
"Andika hendak membelanya? Majulah sekalian!" bentak Endang Patibroto. Akan tetapi Retna Wilis sudah melompat dan menyentuh lengan ibunya.
"Kanjeng Ibu, persilakan mundur. Ibu sudah menang dalam pertandingan tadi!" katanya.

Baru sadarlah Endang Patibroto bahwa ia bertanding untuk mencari kemenangan di pihak puterinya, bukan untuk berkelahi mati-matian. Ia lalu mundur.
"Nah, Wasi Shiwamurti. Kini pihakku menang dalam pertandingan ke tiga!" kata Retna Wilis dengan girang.
"Hemm, keadaan kita baru dua lawan dua, Retna Wilis. Kami masih belum kalah dan masih ada dua pertandingan lagi. Ki Shiwananda, majulah sebagai jago ke empat!" katanya kepada Ki Shiwananda yang bertubuh tinggi besar dan tampak gagah dan kuat sekali.
Ki Shiwananda lalu melangkah lebar ke depan. Tangan kanannya meraih ke belakang punggung dan dia sudah melolos senjatanya yang hebat, yaitu sebuah ruyung besar bergigi. Dahsyat dan mengerikan tampaknya senjata ini, kuat keras dan berat. Hanya orang yang bertenaga gajah saja mampu memainkan ruyung seberat itu. Retna Wilis mendekati Bagus Seta dan ia berkata,
"Kakang Bagus Seta, yang ini akan kuhadapi. Engkau menghadapi jago mereka yang terakhir yang tentu adalah Wasi Shiwamurti sendiri."
Bagus Seto mengangguk.
"Berhati-hatilah, Retna. Lawanmu ini bertenaga gajah. Akan tetapi engkau dapat mengatasinya kalau mempergunakan kecepatan gerakanmu," kata Bagus Seta dengan tenang. Kemudian dia memandang ke arah Jayawijaya dan merasa heran mengapa pemuda itu tenang-tenang dan diam-diam saja, tidak mengajukan diri untuk menjadi jago.
Endang Patibroto berkata kepada puterinya,
"Retna Wilis, engkau harus dapat mengalahkan raksasa itu. Jangan beri ampun, hajar saja dan kalau perlu binasakan dia!"

Retna Wilis tersenyum kepada ibunya. Dulu ia bahkan lebih ganas dan galak dari pada ibunya. Akan tetapi setelah melakukan perjalanan bersama Bagus Seta, ia sudah banyak berubah. Tidak haus darah seperti dulu lagi. Apa lagi setelah ia bertemu dan berkenalan dengan Jayawijaya. Dengan sikap tenang ia lalu menghadapi Ki Shiwananda yang memegang ruyung dan yang memandang dengan sepasang matanya yang besar.
"Ki Shiwananda, akulah yang menjadi lawanmu!" kata Retna Wilis.
Ki Shiwananda adalah seorang laki-laki yang terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan memandang rendah orang lain. Juga dia seorang mata keranjang dan entah sudah berapa ratus atau ribu wanita yang menjadi permainannya ketika para wanita itu terjatuh ke dalam cengkeramannya melalui sihir. Akan tetapi selama hidupnya, belum pernah dia mendapatkan seorang wanita seperti Retna Wilis yang selain cantik jelita juga gagah perkasa dan sakti mandraguna. Dia mengamati Retna Wilis dari kepala sampai ke kaki, lalu berkata dengan suaranya yang berat dan besar.
"Hemm, Retna Wilis. Lebih baik kalau kita berdamai saja. Eman-eman ayumu kalau engkau bertanding denganku dan sampai terluka atau lecet-lecet kulitmu yang halus dan putih mulus tanpa cacat itu. Lebih baik engkau menjadi isteriku dari pada menjadi musuhku!"
Retno Wilis tersenyum. Tidak terpancing kemarahannya karena ia maklum bahwa ucapan itu bukan hanya dikeluarkan karena Ki Shiwananda seorang yang mata keranjang, akan tetapi juga merupakan siasat sebelum bertanding untuk membuatnya marah. Kemarahan dapat mengurangi kewaspadaan dan inilah yang dikehendaki Ki Shiwananda. Maka ia tidak menjadi marah bahkan tersenyum dan begitu tangannya meraih ke belakang, ia sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan. Itulah pedang pusaka Sapudenta!
"Ki Shiwananda, tidak perlu banyak membuka mulutmu yang lebar dan berbau bangkai itu. Mari tandingi aku kalau engkau memang memiliki kepandaian!" tantang Retna Wilis.
"Keparat, tidak dapat dieman! Kalau begitu aku akan membunuhmu! Tubuhmu akan kulumatkan dengan ruyung ini. Haiiiiittt...!"
Raksasa itu menerjang, ruyungnya menyambar dahsyat sampai mengeluarkan bunyi mengaung saking kerasnya. Retna Wilis mengelak, bergerak seperti seekor burung srikatan sehingga sambaran ruyung hanya mengenai angin belaka. Sambil mengelak ke kiri, Retna Wilis menggerakkan pedangnya, menusuk ke arah perut yang gendut itu. Namun, Ki Shiwananda juga cukup tangkas. Dia sudah memutar ruyungnya dan kini senjata itu menangkis pedang yang menusuk perutnya.
"Trangggg........!" Bunga api berpijar ketika ruyung bertemu pedang, dan Retna Wilis merasa betapa tangannya yang memegang pedang tergetar hebat. Ia harus mengakui kebenaran peringatan kakaknya tadi bahwa lawannya ini memiliki tenaga gajah!

Pada saat itu, ruyung kembali menyambar ke arah kepala Retna Wilis. Ruyung yang mengerikan itu kalau mengenai kepala, tentu akan melumatkan kepala itu. Akan tetapi kembali senjata itu hanya mengenai tempat kosong karena Retna Wilis sudah mengelak dan merendahkan diri sehingga ruyung lewat di atas kepalanya. Menggunakan kecepatan gerakannya, dengan tubuh agak merendah Retna Wilis sudah menyerang ke arah kedua kaki lawan dengan pedangnya. Dibabat pedang secara bertubi-tubi ke arah kedua kakinya itu membuat Ki Shiwananda menjadi kerepotan. Dia meloncat-loncat ke belakang, kemudian setelah ia memutar ruyungnya melindungi kedua kakinya, barulah desakan Retna Wilis dapat dihentikan. Pertandingan berlangsung seru dan mati-matian. Karena Ki Shiwananda mengandalkan kebesaran tenaganya dan Retna Wilis mengandalkan kecepatannya, maka pertandingan berjalan seru sekali, lebih menegangkan daripada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Ki Shiwananda mengeluarkan semua ilmu dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun, tidak pernah ruyungnya dapat menyentuh tubuh lawan, bahkan sebaliknya pedang Retna Wilis yang bergerak sangat cepat itu kadang-kadang membuatnya kewalahan untuk mengelak dan menangkis.
"Terimalah Aji Kaladahana!" Tiba-tiba Ki Shiwananda memekik dan tubuhnya merendah dengan kedua lutut ditekuk, dan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan, mulutnya ternganga mengeluarkan hawa. Dari tangan yang didorongkan itu keluar uap dan telapak tangannya berubah kemerahan seperti mengandung api. Uap yang menyambar ke arah Retna Wilis itu membawa hawa yang panas sekali. Maklum bahwa lawan menggunakan ilmu pukulan jarak jauh mengandalkan tenaga sakti, Retna Wilis tidak kehilangan akal. Iapun merendahkan tubuhnya dan mendorongkan tangan kirinya, untuk menyambut serangan lawan. Itulah Aji Wisolangking. Gelombang hawa yang dingin menyambar ke depan dan ketika dua tenaga sakti itu bertumbuk di udara, keduanya terdorong mundur sampai dua langkah! Akan tetapi gerakan Retna Wilis memang cepat sekali. Begitu ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, tubuhnya sudah melesat ke depan dan pedangnya menyambar-nyambar dengan amat ganasnya! Ki Shiwananda terkejut. Bukan saja ajinya Kaladahana dapat dipunahkan lawan, akan tetapi terutama sekali serangan dara itu membuatnya repot. Dia berusaha untuk menangkis dan mengadu senjata karena dia menang kuat dalam adu tenaga kasar. Akan tetapi Retna Wilis tidak memberi kesempatan dia mengadu tenaga. Pedang itu mengelak setiap kali ditangkis dan sudah menusuk lagi atau membacok dengan cepatnya. Didesak demikian, Ki Shiwananda terpaksa mempertahankan diri sambil mundur terus.

Tiba-tiba Ki Shiwananda menjadi nekat dan agaknya dia hendak mengadu nyawa, membiarkan diri terancam asal dia dapat berbalik mengancam lawan. Dia memutar ruyungnya dan menerjang ke depan. Dia membiarkan dirinya terbuka terhadap pedang lawan, akan tetapi kalau pedang lawan mengenai tubuhnya, ruyungnya berbareng juga akan mengenai tubuh lawan. Menghadapi serangan nekat ini tentu saja Retna Wilis terkejut dan ia tidak sudi mengorbankan diri untuk sama-sama terluka. Ia mengelak dan ketika lawan terus mendesak dengan sambaran ruyungnya, ia menjatuhkan diri ke belakang, berjungkir balik di atas tanah dan ketika tangan kirinya menyentuh tanah, diam-diam ia mengambil segenggam tanah dengan tangan kirinya. Ketika ia berdiri lagi dan melihat lawan masih terus maju menerjang, tiba-tiba ia mengeluarkan pekik melengking dan tangan kirinya bergerak menyambitkan tanah yang digenggamnya ke arah dada Ki Shiwananda. Jarak di antara mereka dekat sekali dan sambitan itu dilakukan tiba-tiba dan sama sekali tidak tersangka-sangka oleh Ki Shiwananda. Ketika ada sinar hitam menyambar ke arah dadanya, dia tidak sempat mengelak dan terpaksa dia mengerahkan aji kekebalannya untuk melindungi dada itu.
"Prattt .....!!" Dada itu kena disambar tanah berpasir yang disambitkan dengan Aji Pancaroba, semacam aji melempar pasir biasa menjadi pasir sakti yang berbahaya.
Karena dada itu telah dilindungi aji kekebalan, maka pasir itu tidak dapat menembus kulit. Akan tetapi tetap saja terasa nyeri pada kulit dada dan membuat Ki Shiwananda terhuyung ke belakang. Saat itu, sinar pedang Sapudenta menyambar ke arah lehernya. Ki Shiwananda menggerakkan ruyungnya menangkis.
"Tranggg ..... bukkk!" Pedang tertangkis akan tetapi pada saat itu Retna Wilis sudah menendang dan mengenai perut Ki Shiwananda, membuat tubuh raksasa itu terjengkang dan terbanting keras. Untuk menyelamatkan dirinya, Ki Shiwananda menggulingkan tubuhnya ke arah Wasi Shiwamurti. Akan tetapi Retna Wilis yang sudah merasa memperoleh kemenangan tidak melakukan pengejaran, melainkan memandang kepada Wasi Shiwamurti dengan senyum mengejek.
"Wasi Shiwamurti, jagomu yang ke empat sudah keok! Kedudukan kita kini menjadi tiga lawan dua untuk kemenangan pihakku. Sebaiknya kalian minggat dari sini dan jangan ganggu kami lagi karena kalau engkau berani menghadapi pertandingan terakhir, engkau tentu akan kalah pula."

Wajah Wasi Shiwamurti menjadi merah.
"Masih ada sebuah pertandingan lagi, yang ke lima dan aku sendiri yang akan maju! Hayo ajukanlah jagomu, Retna Wilis! Jagomu pasti akan kalah olehku dan kedudukan kita akan menjadi tiga sama dan seri sehingga kalian semua akan tetap menjadi tawanan kami untuk dihadapkan kepada Sang Adipati Blambangan sebagai telik sandi dan pengacau."
"Hei, Wasi Shiwamurti, dengarkanlah omonganku ini!" terdengar suara nyaring dan semua orang menoleh dan memandang kepada Jayawijaya yang mengeluarkan suara itu.
"Sadarlah bahwa engkau sebagai seorang wasi, seorang pendeta yang bijaksana, sedang melakukan hal yang sama sekali menyimpang dari kebenaran!"
"Jayawijaya, engkau ini orang lemah tidak tahu apa-apa bicara tentang kebenaran. Ketahuilah bahwa semua yang kami lakukan ini adalah benar belaka!"

<<< Bagian 62                                                                                         Bagian 64 >>>

No comments:

Post a Comment