"Yaaaaaaattttttt..!" Ni Durgomala berkali-kali mengeluarkan teriakan melengking.
"Haiiiiiitttt...!"
Endang Patibroto juga berteriak-teriak melengking dan tiba-tiba mulut wanita
perkasa ini mengeluarkan pekik yang dahsyat sekali dan tiba-tiba mendengar
pekik ini, tubuh Ni Dewi Durgomala menjadi gemetar dan jantungnya terguncang.
Itulah pekik
yang disebut Aji Sardulo Bairawa yang memiliki pengaruh seperti auman seekor
harimau yang dapat membuat calon korbannya menjadi lemas. Dalam keadaan seperti
itu, tangan kiri Endang Patibroto menyambar ke arah kepala lawan dan pukulan
tangan kosong itu adalah aji yang teramat ampuh, yaitu Aji Pethit Naga! Angin
yang kencang menyambar panas ke muka Ni Dewi Durgomala. Wanita ini maklum bahwa
pukulan itu amat ampuh maka ia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan di
atas tanah! Ketika Endang Patibroto mengejarnya untuk menyusulkan serangan, Ni
Dewi Durgomala melompat bangun dan mengelebatkan kebutannya untuk memukul ke
arah muka lawan.
"Hemm......!"
Endang Patibroto menggerakkan tongkat kayunya untuk menangkis.
"Plakk!"
Bulu-bulu itu membelit tongkat seperti seekor ular!
Endang
Patibroto mencoba untuk menarik tongkatnya, namun tertahan oleh libatan kebutan
yang melilit amat kuatnya. Dengan marah Endang Patibroto mencuatkan kaki
kirinya menendang ke arah tangan kanan lawan yang memegang kebutan. Melihat
tendangan kilat ini, Ni Dewi Durgomala terpaksa melepaskan lilitan kebutannya.
Begitu terbebas dari lilitan, Endang Patibroto mengamuk. Tongkat kayunya
menyambar-nyambar dengan ganasnya dan biarpun Ni Dewi Durgomala berusaha
mengelak dan menangkis, tetap saja tongkat kayu itu beberapa kali mengenai
tubuhnya dengan bertubi-tubi.
"Plak!
Plak! Plak!" Tongkat itu melecut ke berbagai penjuru dan selalu mengenai
tubuh Ni Dewi Durgomala.
Robek-robeklah
baju nenek itu dan biarpun tongkat itu tidak mendatangkan luka parah, namun
kulit tumbuhnya menjadi matang biru dan berbilur-bilur, nyeri dan pedih! Ia
mundur-mundur terus dan dikejar oleh Endang Patibroto yang agaknya ingin
memukuli lawan sampai mati! Terpaksa Ni Dewi Durgomala lari melompat ke
belakang Wasi Shiwamurti dan pendeta ini menggerakkan tongkatnya yang berkepala
naga untuk menangkis sambaran tongkat kayu di tangan Endang Patibroto.
"Takkk!"
Tongkat di tangan Endang Patibroto terpental. Akan Tetapi wanita perkasa itu
tidak takut dan ia menghadapi Wasi Shiwamurti dengan penuh tantangan.
"Andika
hendak membelanya? Majulah sekalian!" bentak Endang Patibroto. Akan tetapi
Retna Wilis sudah melompat dan menyentuh lengan ibunya.
"Kanjeng
Ibu, persilakan mundur. Ibu sudah menang dalam pertandingan tadi!"
katanya.
Baru sadarlah
Endang Patibroto bahwa ia bertanding untuk mencari kemenangan di pihak
puterinya, bukan untuk berkelahi mati-matian. Ia lalu mundur.
"Nah,
Wasi Shiwamurti. Kini pihakku menang dalam pertandingan ke tiga!" kata
Retna Wilis dengan girang.
"Hemm,
keadaan kita baru dua lawan dua, Retna Wilis. Kami masih belum kalah dan masih
ada dua pertandingan lagi. Ki Shiwananda, majulah sebagai jago ke empat!"
katanya kepada Ki Shiwananda yang bertubuh tinggi besar dan tampak gagah dan
kuat sekali.
Ki Shiwananda
lalu melangkah lebar ke depan. Tangan kanannya meraih ke belakang punggung dan
dia sudah melolos senjatanya yang hebat, yaitu sebuah ruyung besar bergigi.
Dahsyat dan mengerikan tampaknya senjata ini, kuat keras dan berat. Hanya orang
yang bertenaga gajah saja mampu memainkan ruyung seberat itu. Retna Wilis
mendekati Bagus Seta dan ia berkata,
"Kakang
Bagus Seta, yang ini akan kuhadapi. Engkau menghadapi jago mereka yang terakhir
yang tentu adalah Wasi Shiwamurti sendiri."
Bagus Seto
mengangguk.
"Berhati-hatilah,
Retna. Lawanmu ini bertenaga gajah. Akan tetapi engkau dapat mengatasinya kalau
mempergunakan kecepatan gerakanmu," kata Bagus Seta dengan tenang.
Kemudian dia memandang ke arah Jayawijaya dan merasa heran mengapa pemuda itu
tenang-tenang dan diam-diam saja, tidak mengajukan diri untuk menjadi jago.
Endang Patibroto
berkata kepada puterinya,
"Retna
Wilis, engkau harus dapat mengalahkan raksasa itu. Jangan beri ampun, hajar
saja dan kalau perlu binasakan dia!"
Retna Wilis
tersenyum kepada ibunya. Dulu ia bahkan lebih ganas dan galak dari pada ibunya.
Akan tetapi setelah melakukan perjalanan bersama Bagus Seta, ia sudah banyak
berubah. Tidak haus darah seperti dulu lagi. Apa lagi setelah ia bertemu dan
berkenalan dengan Jayawijaya. Dengan sikap tenang ia lalu menghadapi Ki
Shiwananda yang memegang ruyung dan yang memandang dengan sepasang matanya yang
besar.
"Ki
Shiwananda, akulah yang menjadi lawanmu!" kata Retna Wilis.
Ki Shiwananda
adalah seorang laki-laki yang terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan
memandang rendah orang lain. Juga dia seorang mata keranjang dan entah sudah
berapa ratus atau ribu wanita yang menjadi permainannya ketika para wanita itu
terjatuh ke dalam cengkeramannya melalui sihir. Akan tetapi selama hidupnya,
belum pernah dia mendapatkan seorang wanita seperti Retna Wilis yang selain
cantik jelita juga gagah perkasa dan sakti mandraguna. Dia mengamati Retna
Wilis dari kepala sampai ke kaki, lalu berkata dengan suaranya yang berat dan
besar.
"Hemm,
Retna Wilis. Lebih baik kalau kita berdamai saja. Eman-eman ayumu kalau engkau
bertanding denganku dan sampai terluka atau lecet-lecet kulitmu yang halus dan
putih mulus tanpa cacat itu. Lebih baik engkau menjadi isteriku dari pada
menjadi musuhku!"
Retno Wilis
tersenyum. Tidak terpancing kemarahannya karena ia maklum bahwa ucapan itu
bukan hanya dikeluarkan karena Ki Shiwananda seorang yang mata keranjang, akan
tetapi juga merupakan siasat sebelum bertanding untuk membuatnya marah.
Kemarahan dapat mengurangi kewaspadaan dan inilah yang dikehendaki Ki
Shiwananda. Maka ia tidak menjadi marah bahkan tersenyum dan begitu tangannya
meraih ke belakang, ia sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan. Itulah
pedang pusaka Sapudenta!
"Ki
Shiwananda, tidak perlu banyak membuka mulutmu yang lebar dan berbau bangkai
itu. Mari tandingi aku kalau engkau memang memiliki kepandaian!" tantang
Retna Wilis.
"Keparat,
tidak dapat dieman! Kalau begitu aku akan membunuhmu! Tubuhmu akan kulumatkan
dengan ruyung ini. Haiiiiittt...!"
Raksasa itu
menerjang, ruyungnya menyambar dahsyat sampai mengeluarkan bunyi mengaung
saking kerasnya. Retna Wilis mengelak, bergerak seperti seekor burung srikatan
sehingga sambaran ruyung hanya mengenai angin belaka. Sambil mengelak ke kiri,
Retna Wilis menggerakkan pedangnya, menusuk ke arah perut yang gendut itu.
Namun, Ki Shiwananda juga cukup tangkas. Dia sudah memutar ruyungnya dan kini
senjata itu menangkis pedang yang menusuk perutnya.
"Trangggg........!"
Bunga api berpijar ketika ruyung bertemu pedang, dan Retna Wilis merasa betapa
tangannya yang memegang pedang tergetar hebat. Ia harus mengakui kebenaran
peringatan kakaknya tadi bahwa lawannya ini memiliki tenaga gajah!
Pada saat itu,
ruyung kembali menyambar ke arah kepala Retna Wilis. Ruyung yang mengerikan itu
kalau mengenai kepala, tentu akan melumatkan kepala itu. Akan tetapi kembali
senjata itu hanya mengenai tempat kosong karena Retna Wilis sudah mengelak dan
merendahkan diri sehingga ruyung lewat di atas kepalanya. Menggunakan kecepatan
gerakannya, dengan tubuh agak merendah Retna Wilis sudah menyerang ke arah
kedua kaki lawan dengan pedangnya. Dibabat pedang secara bertubi-tubi ke arah
kedua kakinya itu membuat Ki Shiwananda menjadi kerepotan. Dia meloncat-loncat
ke belakang, kemudian setelah ia memutar ruyungnya melindungi kedua kakinya,
barulah desakan Retna Wilis dapat dihentikan. Pertandingan berlangsung seru dan
mati-matian. Karena Ki Shiwananda mengandalkan kebesaran tenaganya dan Retna
Wilis mengandalkan kecepatannya, maka pertandingan berjalan seru sekali, lebih
menegangkan daripada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Ki Shiwananda
mengeluarkan semua ilmu dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun, tidak pernah
ruyungnya dapat menyentuh tubuh lawan, bahkan sebaliknya pedang Retna Wilis
yang bergerak sangat cepat itu kadang-kadang membuatnya kewalahan untuk
mengelak dan menangkis.
"Terimalah
Aji Kaladahana!" Tiba-tiba Ki Shiwananda memekik dan tubuhnya merendah
dengan kedua lutut ditekuk, dan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka
mendorong ke depan, mulutnya ternganga mengeluarkan hawa. Dari tangan yang
didorongkan itu keluar uap dan telapak tangannya berubah kemerahan seperti
mengandung api. Uap yang menyambar ke arah Retna Wilis itu membawa hawa yang
panas sekali. Maklum bahwa lawan menggunakan ilmu pukulan jarak jauh
mengandalkan tenaga sakti, Retna Wilis tidak kehilangan akal. Iapun merendahkan
tubuhnya dan mendorongkan tangan kirinya, untuk menyambut serangan lawan.
Itulah Aji Wisolangking. Gelombang hawa yang dingin menyambar ke depan dan
ketika dua tenaga sakti itu bertumbuk di udara, keduanya terdorong mundur
sampai dua langkah! Akan tetapi gerakan Retna Wilis memang cepat sekali. Begitu
ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, tubuhnya sudah melesat ke depan dan
pedangnya menyambar-nyambar dengan amat ganasnya! Ki Shiwananda terkejut. Bukan
saja ajinya Kaladahana dapat dipunahkan lawan, akan tetapi terutama sekali
serangan dara itu membuatnya repot. Dia berusaha untuk menangkis dan mengadu
senjata karena dia menang kuat dalam adu tenaga kasar. Akan tetapi Retna Wilis
tidak memberi kesempatan dia mengadu tenaga. Pedang itu mengelak setiap kali
ditangkis dan sudah menusuk lagi atau membacok dengan cepatnya. Didesak
demikian, Ki Shiwananda terpaksa mempertahankan diri sambil mundur terus.
Tiba-tiba Ki
Shiwananda menjadi nekat dan agaknya dia hendak mengadu nyawa, membiarkan diri
terancam asal dia dapat berbalik mengancam lawan. Dia memutar ruyungnya dan
menerjang ke depan. Dia membiarkan dirinya terbuka terhadap pedang lawan, akan
tetapi kalau pedang lawan mengenai tubuhnya, ruyungnya berbareng juga akan
mengenai tubuh lawan. Menghadapi serangan nekat ini tentu saja Retna Wilis
terkejut dan ia tidak sudi mengorbankan diri untuk sama-sama terluka. Ia
mengelak dan ketika lawan terus mendesak dengan sambaran ruyungnya, ia
menjatuhkan diri ke belakang, berjungkir balik di atas tanah dan ketika tangan
kirinya menyentuh tanah, diam-diam ia mengambil segenggam tanah dengan tangan
kirinya. Ketika ia berdiri lagi dan melihat lawan masih terus maju menerjang,
tiba-tiba ia mengeluarkan pekik melengking dan tangan kirinya bergerak menyambitkan
tanah yang digenggamnya ke arah dada Ki Shiwananda. Jarak di antara mereka
dekat sekali dan sambitan itu dilakukan tiba-tiba dan sama sekali tidak
tersangka-sangka oleh Ki Shiwananda. Ketika ada sinar hitam menyambar ke arah
dadanya, dia tidak sempat mengelak dan terpaksa dia mengerahkan aji
kekebalannya untuk melindungi dada itu.
"Prattt
.....!!" Dada itu kena disambar tanah berpasir yang disambitkan dengan Aji
Pancaroba, semacam aji melempar pasir biasa menjadi pasir sakti yang berbahaya.
Karena dada
itu telah dilindungi aji kekebalan, maka pasir itu tidak dapat menembus kulit.
Akan tetapi tetap saja terasa nyeri pada kulit dada dan membuat Ki Shiwananda
terhuyung ke belakang. Saat itu, sinar pedang Sapudenta menyambar ke arah
lehernya. Ki Shiwananda menggerakkan ruyungnya menangkis.
"Tranggg
..... bukkk!" Pedang tertangkis akan tetapi pada saat itu Retna Wilis
sudah menendang dan mengenai perut Ki Shiwananda, membuat tubuh raksasa itu
terjengkang dan terbanting keras. Untuk menyelamatkan dirinya, Ki Shiwananda
menggulingkan tubuhnya ke arah Wasi Shiwamurti. Akan tetapi Retna Wilis yang
sudah merasa memperoleh kemenangan tidak melakukan pengejaran, melainkan
memandang kepada Wasi Shiwamurti dengan senyum mengejek.
"Wasi
Shiwamurti, jagomu yang ke empat sudah keok! Kedudukan kita kini menjadi tiga
lawan dua untuk kemenangan pihakku. Sebaiknya kalian minggat dari sini dan
jangan ganggu kami lagi karena kalau engkau berani menghadapi pertandingan
terakhir, engkau tentu akan kalah pula."
Wajah Wasi
Shiwamurti menjadi merah.
"Masih
ada sebuah pertandingan lagi, yang ke lima dan aku sendiri yang akan maju! Hayo
ajukanlah jagomu, Retna Wilis! Jagomu pasti akan kalah olehku dan kedudukan
kita akan menjadi tiga sama dan seri sehingga kalian semua akan tetap menjadi
tawanan kami untuk dihadapkan kepada Sang Adipati Blambangan sebagai telik
sandi dan pengacau."
"Hei,
Wasi Shiwamurti, dengarkanlah omonganku ini!" terdengar suara nyaring dan
semua orang menoleh dan memandang kepada Jayawijaya yang mengeluarkan suara
itu.
"Sadarlah
bahwa engkau sebagai seorang wasi, seorang pendeta yang bijaksana, sedang
melakukan hal yang sama sekali menyimpang dari kebenaran!"
"Jayawijaya,
engkau ini orang lemah tidak tahu apa-apa bicara tentang kebenaran. Ketahuilah
bahwa semua yang kami lakukan ini adalah benar belaka!"
<<< Bagian 62 Bagian 64 >>>
No comments:
Post a Comment