"Kebenaran menurut pendapatmu sendiri! Akan tetapi ada kebenaran umum, kebenaran yang dapat ditelusuri dan dipertimbangkan akal sehat, Wasi Shiwamurti. Ada dua hal yang membuat engkau ingin menahan dan menangkap diajeng Retna Wilis dan pihaknya, yaitu pertama karena mereka engkau tuduh sebagai telik sandi dan kedua karena mereka pengacau. Tuduhan pertama itu, kalau benar bahwa mereka telik sandi, mengapa mereka melakukan itu? Bukan lain karena Blambangan bersikap memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala, sehingga sepantasnyalah kalau diajeng Retna Wilis sebagai kawula Panjalu yang setia menyelidiki keadaan Blambangan yang memberontak. Kedua, tuduhan bahwa ia mengacau itupun ada sebabnya, yaitu karena engkau dan kawan-kawanmu menyebarluaskan agama baru yang menyimpang dari kesusilaan. Karena itu, mawas dirilah engkau, Wasi Shiwamurti sebelum terlambat karena bagaimanapun juga, yang salah akhirnya akan kalah dan yang benar akan menang."
"Orang
muda cerewet! Diam engkau atau aku akan merobek mulutmu! Hayo maju kalau engkau
berani, bertanding melawanku, bukan hanya bicara seperti seorang nenek
bawel!"
Bagus Seta
melangkah maju menghadapi Wasi Shiwamurti.
“Paman Wasi
Shiwamurti! Sepatutnya andika berterima kasih karena ada orang yang mau
mengingatkanmu. Akan tetapi andika malah marah-marah, ini sesungguhnya bukan
sikap seorang pendeta dan pertapa. Kalau andika menghendaki kekerasan dan
menantang tanding, nah, akulah yang akan menandingi-mu!"
Dengan
sepasang matanya yang mencorong Wasi Shiwamurti mengamati pemuda berpakaian
putih itu dengan penuh perhatian. Seorang pemuda yang usianya sekitar tigapuluh
tahun, wajahnya lembut dan matanya juga bersinar lembut, gerak-geriknya tenang
namun dibalik semua ketenangan itu dia dapat merasakan tenaga yang amat dahsyat
bersembunyi. Dia tahu bahwa pemuda ini tentu seorang yang memiliki kesaktian
tinggi, dan diapun sudah mendengar laporan mengenai pemuda ini. Maka, diam-diam
dia lalu mengerahkan segenap tenaga batinnya dan menyilangkan kedua lengannya
di depan dada, mulutnya kemak-kemik dan matanya terpejam mempersatukan segala
daya alam pikirannya. Kemudian dia membuka mata, memandang ke arah kedua mata
Bagus Seta dan terdengar suaranya yang bergema seperti bukan suara manusia
lagi.
"Bagus
Seta, lihat, nagaku akan memangsamu!" Dia mengembangkan kedua lengannya
dan terdengar halilintar pada saat tengah hari terang benderang itu. Dia
melontarkan tongkat kepala naganya ke udara dan .... tongkat itu lenyap berubah
menjadi seekor naga hitam yang besar badannya sama dengan pohon kelapa!
Moncongnya terbuka lebar, matanya berapi-api menyeramkan sekali sehingga semua
orang yang melihatnya menjadi terkejut dan memandang dengan mata terbelalak.
Akan tetapi,
walaupun naga itu menghadapinya dan moncongnya ternganga siap menelannya dan
sepasang kaki depan dengan kuku-kuku melengkung runcing siap menerkamnya, Bagus
Seta tetap tenang saja. Dari rambut kepalanya dia mengambil sesuatu dan
ternyata setangkai bunga cempaka putih sudah berada di tangannya. Dengan mata
mencorong menatap naga jadi-jadian itu dia menyambitkan bunga cempaka putih itu
ke arah naga.
"Segala
sesuatu harus kembali ke asalnya!" katanya dan bunga itu berubah menjadi sinar
putih seperti kilat yang menyambar ke arah naga.
Terdengar
suara menggelegar dan naga hitam itu mengeluarkan asap dan jatuh ke atas tanah,
begitu menyentuh tanah berubah menjadi tongkat kembali. Bunga cempaka putih itu
melayang turun kembali ke tangan Bagus Seta. Wasi Shiwamurti dengan muka merah
karena marah menyambar tongkat kepala naganya lagi, lalu mengetuk-ngetukkan
ujung tongkat itu ke atas tanah. Makin lama ketukan itu semakin kuat dan dari
bawah tongkat itu mengepul debu tebal berikut pasir dan kerikil menerjang ke
arah Bagus Seta! Serangan ini dahsyat sekali sehingga menegangkan hati Retna
Wilis.
Namun Bagus
Seta tetap tenang. Dia menanggalkan kain putih yang menjadi pengikat rambutnya
dan menggunakan kain yang cukup lebar itu untuk mengebut ke depan. Sungguh
aneh! Biarpun yang dikebut-kebutkan itu hanya sehelai kain putih, akan tetapi
ketika debu tebal berikut pasir dan kerikil itu terkena kebutan itu, terpental
kembali, bahkan menyerang balik ke arah Wasi Shiwamurti. Sang wasi menjadi marah
dan memutar tongkatnya. Semua pasir dan kerikil runtuh ke atas tanah.
"Paman
Wasi Shiwamurti, andika hendak mengadu ilmu ataukah hendak main-main? Segala
macam permainan untuk menakut-nakuti anak kecil ini tidak perlu andika
keluarkan!" kata Bagus Seta, bukan mengejek melainkan dengan suara
bersungguh-sungguh. Wajah sang wasi menjadi pucat, lalu merah kembali dan untuk
menutup malunya dia berkata dengan congkak.
"Babo-babo,
Bagus Seta! Aku sudah siap dengan senjata tongkat wasiatku, sekarang
keluarkanlah senjatamu. Pilihlah senjata yang paling keras dan ampuh untuk
diadu dengan tongkat kepala nagaku!"
Mempersilakan
lawan memilih senjata adalah sikap yang gagah dan ini diperlihatkan Wasi
Shiwamurti untuk menutupi rasa malunya karena dua kali serangan ilmu sihirnya
dapat digagalkan lawan. Akan tetapi sekali inipun dia kecelik karena Bagus Seta
tersenyum dan berkata dengan sikap tenang dan lembut.
"Paman
Wasi Shiwamurti, sejak tadi aku sudah memegang senjataku. Inilah
senjataku!" Dia memperlihatkan kain pengikat rambut di tangan kanan kanan
dan bunga cempaka putih di tangan kiri.
Wajah Wasi
Shiwamurti menjadi merah sekali sampai ke lehernya. Diam-diam dia merasa
terkejut dan juga penasaran. Terkejut karena dia maklum bahwa kalau orang
berani bersenjatakan benda-benda lemah seperti kain dan bunga cempaka, orang
itu pasti memiliki kesaktian tinggi, dan dia merasa penasaran karena dengan
memegang senjata remeh macam itu, pemuda itu seolah memandang rendah kepadanya!
Akan tetapi kemarahan lebih menguasai hatinya dan dia segera memutar tongkatnya
sehingga tongkat itu melintang di depan dadanya.
"Bagus!
Sambutlah keampuhan tongkat kepala nagaku!"
Dan dia sudah
menyerang dengan dahsyat sekali. Retna Wilis sendiri sampai mengerutkan alisnya
karena darisam baran angin serangan itu saja maklumlah dara perkasa ini betapa
sakti orang itu dan betapa dahsyat dan berbahaya tongkatnya. Namun Bagus Seta
bergerak sedemikian ringannya seolah tubuhnya berubah menjadi asap dan sambaran
tongkat yang bertubi-tubi itu tidak pernah dapat mengenai tubuhnya. Ketika
Retna Wilis sedang memandang dengan mata tidak pernah berkedip dan dengan hati
tegang, tiba-tiba terdengar orang bicara di dekatnya.
"Diajeng
Retna Wilis, kakakmu ini sungguh seorang yang sakti mandraguna. Juga seorang
yang bijaksana. Aku kagum sekali kepadanya."
Senang hati
Retna Wilis mendengar pujian itu dan merasa bangga, walaupun kekhawatiran masih
menyelinap di hatinya karena ia maklum benar bahwa sekali ini kakaknya
menghadapi seorang lawan yang teramat sakti.
"Akan tetapi
lawannya juga seorang yang sakti mandraguna, kakang. Aku khawatir...."
"Ingat,
diajeng. Kita harus pasrah kepada kekuasaan Hyang Widhi. Aku yakin, karena
kakangmas Bagus Seta berada di pihak benar, maka dia tidak akan terancam
bahaya. Soal kalah menang bukan yang terpenting, akan tetapi yang lebih baik
dia selalu berada daiam lindungan kekuasaan Sang Hyang Widhi."
Entah mengapa,
setelah mendengar suara dan kata-kata Jayawijaya ini, hati Retna Wilis menjadi
tenteram dan timbul pula keyakinan dalam hatinya bahwa kakaknya akan terlindung
kekuasaan Hyang Widhi seperti yang dikatakan Jayawijaya.
Sementara itu,
pertarungan antara Wasi Shiwamurti dan Bagus Seta masih berlangsung dengan
serunya. Tampak sekali perbedaan dalam sepak terjang kedua orang sakti mandraguna
itu. Kalau tongkat kepala naga di tangan Wasi Shiwamurti menyambar-nyambar
ganas dan merupakan tangan maut yang haus darah, setiap serangannya dimaksudkan
untuk membunuh, sebaliknya Bagus Seto hanya berusaha menghindarkan diri dan
kalau sewaktu-waktu kain pengikat rambutnya membalas serangan, maka serangan
itu hanya untuk menotok jalan darah dan untuk melumpuhkan saja, tidak ada niat
untuk membunuh. Akan tetapi sikap mengalah dari Bagus Seta ini merugikan
dirinya sendiri dan dengan sendirinya gerakan tongkat Wasi Shiwamurti menjadi
semakin ganas sehingga Bagus Seta terdesak hebat. Tiba-tiba Shiwa-murti
mengeluarkan suara gerengan panjang. Suara itu mengandung getaran yang amat
kuat sehingga menggetarkan jantung mereka yang menonton dan mereka cepat-cepat
mengerahkan tenaga batin untuk menahan jantung mereka dari guncangan yang .akan
mendatangkan luka dalam. Akan tetapi, bersamaan dengan getaran hebat itu,
gerakan tongkat sang wasi menjadi semakin hebat pula. Ujung tongkatnya
tergetar-getar menjadi banyak dan ujung tongkat itu menyerang secara
bertubi-tubi ke arah tubuh Bagus Seta. Menghadapi serangan dahsyat dan ganas
ini, tiba-tiba tubuh Bagus Seta mumbul ke atas. Tongkat itu mengejarnya pada
saat tubuh pemuda itu masih berada di atas, akan tetapi sungguh hebat. Tubuh
itu dapat mengelak seolah burung yang sedang terbang saja, atau tubuh itu
seolah telah menjadi asap atau uap. Inilah aji kesaktian yang disebut Mego
Gemulung, yang membuat tubuh Bagus Seta laksana awan mendung yang berarak di
angkasa, serangan tongkat yang bertubi-tubi tidak pernah dapat menyentuhnya.
Dengan sedikit elakan saja semua serangan itu luput dan kadang-kadang ujung
tongkat dikebut kain pengikat rambut sehingga menyeleweng tusukannya. Tubuh
Bagus Seta bergerak-gerak di udara seperti seekor kupu-kupu! Pada saat itu
terdengar suara gemuruh dan dari jauh tampak datang ratusan orang prajurit
Blambangan. Hal ini memang telah diatur sebelumnya oleh Wasi Shiwamurti.
Setelah tadi melihat bahwa pihaknya kalah tiga dua melawan pihak Retna Wilis,
sebelum dia sendiri maju sebagai jago terakhir, dia telah membisiki Senopati
Kurdolangit untuk mendatangkan bala bantuan pasukan untuk mengepung dan
menangkap enam orang itu.
Melihat
datangnya demikian banyak prajurit dan melihat pula betapa belasan orang
prajurit yang berada di situ mulai mengepung mereka, pihak Retna Wilis menjadi
terkejut sekali. juga Bagus Seta melihat ini maka dia melayang turun. Ketika
tongkat kepala naga menyambar ke arahnya, dia menangkis dengan kain pengikat
kepala yang melibat tongkat itu sehingga tongkat itu tidak mampu digerakkan
lagi. Bagus Seta menyimpan bunga cempaka dan pada saat itu, Wasi Shiwamurti
menghantamnya dengan tangan kiri yang terbuka. Pukulan ini dahsyat sekali
mengandung hawa sakti yang amat kuat. Melihat ini, Bagus Seta juga mendorongkan
telapak tangan kirinya menyambut.
"Blarrrr.......;.!"
Dua tenaga sakti yang amat dahsyat bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Wasi
Shiwamurti terhuyung ke belakang dan tongkatnya terlepas dari libatan kain
pengikat kepala yang dipegang Bagus Seta.
Pada saat itu,
Endang Patibroto yang melihat datangnya pasukan, segera berteriak kepada putera
puterinya.
"Bagus!
Retna! Cepat lari .........! Mereka curang, mendatangkan pasukan. Lari!"
Retna Wilis
menyambar pergelangan tangan kiri Jayawijaya dan mengajaknya lari dari tempat
itu. Harjadenta dan Jarot juga melihat bahaya, maka merekapun melompat dan
merobohkan prajurit yang berani menghalangi mereka, lalu melarikan diri. Endang
Patibroto menggerakkan kaki tangannya dan empat orang prajurit pengepung
berpelantingan dan tidak ada lagi yang berani menghalangi wanita ini lari.
Demikian pula Retna Wilis. Biarpun sebelah tangannya ia menarik tangan
Jayawijaya, namun dengan kaki dan tangan kirinya ia merobohkan dua orang
prajurit lalu berlari cepat sambil menarik Jayawijaya. Bagus Seta sendiri juga
melompat dan lari paling belakang untuk melindungi yang lari di depannya.
Pasukan itu telah datang dan dua orang senopati, Rajah Beling dan Kurdolangit,
segera mengerahkan mereka untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi Wasi
Shiwamurti dan para pembantunya tidak melakukan pengejaran. Sebetulnya para
pembantu itu melihat Wasi Shiwamurti tidak melakukan pengejaran, merekapun
tidak berani mengejar karena mereka merasa jerih terhadap Endang Patibroto, Retna
Wilis, dan terutama Bagus Seta. Wasi Shiwamurti sendiri tidak melakukan
pengejaran karena merasa malu kalau harus ikut mengeroyok. Diapun maklum dari
pertemuan tenaganya dengan tenaga Bagus Seta tadi bahwa dia tidak akan menang
melawan pemuda luar biasa itu.
Enam orang itu
melarikan diri dengan cepat sekali sehingga pengejaran pasukan Blambangan itu
menjadi sia-sia. Mereka tertinggal jauh. Setelah tiba di luar batas Blambangan,
baru mereka berhenti berlari. Endang Patibroto lalu berkata kepada kedua orang
putera putrinya.
”Bagus Seta
dan engkau Retna Wilis, aku sudah mendengar bahwa kalian sudah melakukan
penyelidikan ke Nusabarung dan sekarang juga berada di daerah Blambangan. Kita
semua sudah tahu belaka bahwa Blambangan dan Nusabarung telah mengadakan
persiapan untuk memberontak terhadap Jenggala. Selain itu juga mereka
mendatangkan pendeta-pendeta dari Cola yang menyebarkan agama sesat kepada
rakyat jelata dengan paksaan. Semua ini sudah cukup untuk dijadikan laporan
kepada Sang Prabu di Panjalu. Oleh karena itu, mari kita pulang ke Panjalu
melapor kepada ayah kalian."
<<< Bagian 63 Bagian 65 >>>
No comments:
Post a Comment