Sepasang Garuda Putih ; Bagian 64


"Kebenaran menurut pendapatmu sendiri! Akan tetapi ada kebenaran umum, kebenaran yang dapat ditelusuri dan dipertimbangkan akal sehat, Wasi Shiwamurti. Ada dua hal yang membuat engkau ingin menahan dan menangkap diajeng Retna Wilis dan pihaknya, yaitu pertama karena mereka engkau tuduh sebagai telik sandi dan kedua karena mereka pengacau. Tuduhan pertama itu, kalau benar bahwa mereka telik sandi, mengapa mereka melakukan itu? Bukan lain karena Blambangan bersikap memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala, sehingga sepantasnyalah kalau diajeng Retna Wilis sebagai kawula Panjalu yang setia menyelidiki keadaan Blambangan yang memberontak. Kedua, tuduhan bahwa ia mengacau itupun ada sebabnya, yaitu karena engkau dan kawan-kawanmu menyebarluaskan agama baru yang menyimpang dari kesusilaan. Karena itu, mawas dirilah engkau, Wasi Shiwamurti sebelum terlambat karena bagaimanapun juga, yang salah akhirnya akan kalah dan yang benar akan menang."
"Orang muda cerewet! Diam engkau atau aku akan merobek mulutmu! Hayo maju kalau engkau berani, bertanding melawanku, bukan hanya bicara seperti seorang nenek bawel!"
Bagus Seta melangkah maju menghadapi Wasi Shiwamurti.
“Paman Wasi Shiwamurti! Sepatutnya andika berterima kasih karena ada orang yang mau mengingatkanmu. Akan tetapi andika malah marah-marah, ini sesungguhnya bukan sikap seorang pendeta dan pertapa. Kalau andika menghendaki kekerasan dan menantang tanding, nah, akulah yang akan menandingi-mu!"

Dengan sepasang matanya yang mencorong Wasi Shiwamurti mengamati pemuda berpakaian putih itu dengan penuh perhatian. Seorang pemuda yang usianya sekitar tigapuluh tahun, wajahnya lembut dan matanya juga bersinar lembut, gerak-geriknya tenang namun dibalik semua ketenangan itu dia dapat merasakan tenaga yang amat dahsyat bersembunyi. Dia tahu bahwa pemuda ini tentu seorang yang memiliki kesaktian tinggi, dan diapun sudah mendengar laporan mengenai pemuda ini. Maka, diam-diam dia lalu mengerahkan segenap tenaga batinnya dan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mulutnya kemak-kemik dan matanya terpejam mempersatukan segala daya alam pikirannya. Kemudian dia membuka mata, memandang ke arah kedua mata Bagus Seta dan terdengar suaranya yang bergema seperti bukan suara manusia lagi.
"Bagus Seta, lihat, nagaku akan memangsamu!" Dia mengembangkan kedua lengannya dan terdengar halilintar pada saat tengah hari terang benderang itu. Dia melontarkan tongkat kepala naganya ke udara dan .... tongkat itu lenyap berubah menjadi seekor naga hitam yang besar badannya sama dengan pohon kelapa! Moncongnya terbuka lebar, matanya berapi-api menyeramkan sekali sehingga semua orang yang melihatnya menjadi terkejut dan memandang dengan mata terbelalak.
Akan tetapi, walaupun naga itu menghadapinya dan moncongnya ternganga siap menelannya dan sepasang kaki depan dengan kuku-kuku melengkung runcing siap menerkamnya, Bagus Seta tetap tenang saja. Dari rambut kepalanya dia mengambil sesuatu dan ternyata setangkai bunga cempaka putih sudah berada di tangannya. Dengan mata mencorong menatap naga jadi-jadian itu dia menyambitkan bunga cempaka putih itu ke arah naga.
"Segala sesuatu harus kembali ke asalnya!" katanya dan bunga itu berubah menjadi sinar putih seperti kilat yang menyambar ke arah naga.
Terdengar suara menggelegar dan naga hitam itu mengeluarkan asap dan jatuh ke atas tanah, begitu menyentuh tanah berubah menjadi tongkat kembali. Bunga cempaka putih itu melayang turun kembali ke tangan Bagus Seta. Wasi Shiwamurti dengan muka merah karena marah menyambar tongkat kepala naganya lagi, lalu mengetuk-ngetukkan ujung tongkat itu ke atas tanah. Makin lama ketukan itu semakin kuat dan dari bawah tongkat itu mengepul debu tebal berikut pasir dan kerikil menerjang ke arah Bagus Seta! Serangan ini dahsyat sekali sehingga menegangkan hati Retna Wilis.

Namun Bagus Seta tetap tenang. Dia menanggalkan kain putih yang menjadi pengikat rambutnya dan menggunakan kain yang cukup lebar itu untuk mengebut ke depan. Sungguh aneh! Biarpun yang dikebut-kebutkan itu hanya sehelai kain putih, akan tetapi ketika debu tebal berikut pasir dan kerikil itu terkena kebutan itu, terpental kembali, bahkan menyerang balik ke arah Wasi Shiwamurti. Sang wasi menjadi marah dan memutar tongkatnya. Semua pasir dan kerikil runtuh ke atas tanah.
"Paman Wasi Shiwamurti, andika hendak mengadu ilmu ataukah hendak main-main? Segala macam permainan untuk menakut-nakuti anak kecil ini tidak perlu andika keluarkan!" kata Bagus Seta, bukan mengejek melainkan dengan suara bersungguh-sungguh. Wajah sang wasi menjadi pucat, lalu merah kembali dan untuk menutup malunya dia berkata dengan congkak.
"Babo-babo, Bagus Seta! Aku sudah siap dengan senjata tongkat wasiatku, sekarang keluarkanlah senjatamu. Pilihlah senjata yang paling keras dan ampuh untuk diadu dengan tongkat kepala nagaku!"
Mempersilakan lawan memilih senjata adalah sikap yang gagah dan ini diperlihatkan Wasi Shiwamurti untuk menutupi rasa malunya karena dua kali serangan ilmu sihirnya dapat digagalkan lawan. Akan tetapi sekali inipun dia kecelik karena Bagus Seta tersenyum dan berkata dengan sikap tenang dan lembut.
"Paman Wasi Shiwamurti, sejak tadi aku sudah memegang senjataku. Inilah senjataku!" Dia memperlihatkan kain pengikat rambut di tangan kanan kanan dan bunga cempaka putih di tangan kiri.
Wajah Wasi Shiwamurti menjadi merah sekali sampai ke lehernya. Diam-diam dia merasa terkejut dan juga penasaran. Terkejut karena dia maklum bahwa kalau orang berani bersenjatakan benda-benda lemah seperti kain dan bunga cempaka, orang itu pasti memiliki kesaktian tinggi, dan dia merasa penasaran karena dengan memegang senjata remeh macam itu, pemuda itu seolah memandang rendah kepadanya! Akan tetapi kemarahan lebih menguasai hatinya dan dia segera memutar tongkatnya sehingga tongkat itu melintang di depan dadanya.
"Bagus! Sambutlah keampuhan tongkat kepala nagaku!"
Dan dia sudah menyerang dengan dahsyat sekali. Retna Wilis sendiri sampai mengerutkan alisnya karena darisam baran angin serangan itu saja maklumlah dara perkasa ini betapa sakti orang itu dan betapa dahsyat dan berbahaya tongkatnya. Namun Bagus Seta bergerak sedemikian ringannya seolah tubuhnya berubah menjadi asap dan sambaran tongkat yang bertubi-tubi itu tidak pernah dapat mengenai tubuhnya. Ketika Retna Wilis sedang memandang dengan mata tidak pernah berkedip dan dengan hati tegang, tiba-tiba terdengar orang bicara di dekatnya.
"Diajeng Retna Wilis, kakakmu ini sungguh seorang yang sakti mandraguna. Juga seorang yang bijaksana. Aku kagum sekali kepadanya."
Senang hati Retna Wilis mendengar pujian itu dan merasa bangga, walaupun kekhawatiran masih menyelinap di hatinya karena ia maklum benar bahwa sekali ini kakaknya menghadapi seorang lawan yang teramat sakti.
"Akan tetapi lawannya juga seorang yang sakti mandraguna, kakang. Aku khawatir...."
"Ingat, diajeng. Kita harus pasrah kepada kekuasaan Hyang Widhi. Aku yakin, karena kakangmas Bagus Seta berada di pihak benar, maka dia tidak akan terancam bahaya. Soal kalah menang bukan yang terpenting, akan tetapi yang lebih baik dia selalu berada daiam lindungan kekuasaan Sang Hyang Widhi."

Entah mengapa, setelah mendengar suara dan kata-kata Jayawijaya ini, hati Retna Wilis menjadi tenteram dan timbul pula keyakinan dalam hatinya bahwa kakaknya akan terlindung kekuasaan Hyang Widhi seperti yang dikatakan Jayawijaya.
Sementara itu, pertarungan antara Wasi Shiwamurti dan Bagus Seta masih berlangsung dengan serunya. Tampak sekali perbedaan dalam sepak terjang kedua orang sakti mandraguna itu. Kalau tongkat kepala naga di tangan Wasi Shiwamurti menyambar-nyambar ganas dan merupakan tangan maut yang haus darah, setiap serangannya dimaksudkan untuk membunuh, sebaliknya Bagus Seto hanya berusaha menghindarkan diri dan kalau sewaktu-waktu kain pengikat rambutnya membalas serangan, maka serangan itu hanya untuk menotok jalan darah dan untuk melumpuhkan saja, tidak ada niat untuk membunuh. Akan tetapi sikap mengalah dari Bagus Seta ini merugikan dirinya sendiri dan dengan sendirinya gerakan tongkat Wasi Shiwamurti menjadi semakin ganas sehingga Bagus Seta terdesak hebat. Tiba-tiba Shiwa-murti mengeluarkan suara gerengan panjang. Suara itu mengandung getaran yang amat kuat sehingga menggetarkan jantung mereka yang menonton dan mereka cepat-cepat mengerahkan tenaga batin untuk menahan jantung mereka dari guncangan yang .akan mendatangkan luka dalam. Akan tetapi, bersamaan dengan getaran hebat itu, gerakan tongkat sang wasi menjadi semakin hebat pula. Ujung tongkatnya tergetar-getar menjadi banyak dan ujung tongkat itu menyerang secara bertubi-tubi ke arah tubuh Bagus Seta. Menghadapi serangan dahsyat dan ganas ini, tiba-tiba tubuh Bagus Seta mumbul ke atas. Tongkat itu mengejarnya pada saat tubuh pemuda itu masih berada di atas, akan tetapi sungguh hebat. Tubuh itu dapat mengelak seolah burung yang sedang terbang saja, atau tubuh itu seolah telah menjadi asap atau uap. Inilah aji kesaktian yang disebut Mego Gemulung, yang membuat tubuh Bagus Seta laksana awan mendung yang berarak di angkasa, serangan tongkat yang bertubi-tubi tidak pernah dapat menyentuhnya. Dengan sedikit elakan saja semua serangan itu luput dan kadang-kadang ujung tongkat dikebut kain pengikat rambut sehingga menyeleweng tusukannya. Tubuh Bagus Seta bergerak-gerak di udara seperti seekor kupu-kupu! Pada saat itu terdengar suara gemuruh dan dari jauh tampak datang ratusan orang prajurit Blambangan. Hal ini memang telah diatur sebelumnya oleh Wasi Shiwamurti. Setelah tadi melihat bahwa pihaknya kalah tiga dua melawan pihak Retna Wilis, sebelum dia sendiri maju sebagai jago terakhir, dia telah membisiki Senopati Kurdolangit untuk mendatangkan bala bantuan pasukan untuk mengepung dan menangkap enam orang itu.
Melihat datangnya demikian banyak prajurit dan melihat pula betapa belasan orang prajurit yang berada di situ mulai mengepung mereka, pihak Retna Wilis menjadi terkejut sekali. juga Bagus Seta melihat ini maka dia melayang turun. Ketika tongkat kepala naga menyambar ke arahnya, dia menangkis dengan kain pengikat kepala yang melibat tongkat itu sehingga tongkat itu tidak mampu digerakkan lagi. Bagus Seta menyimpan bunga cempaka dan pada saat itu, Wasi Shiwamurti menghantamnya dengan tangan kiri yang terbuka. Pukulan ini dahsyat sekali mengandung hawa sakti yang amat kuat. Melihat ini, Bagus Seta juga mendorongkan telapak tangan kirinya menyambut.
"Blarrrr.......;.!" Dua tenaga sakti yang amat dahsyat bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Wasi Shiwamurti terhuyung ke belakang dan tongkatnya terlepas dari libatan kain pengikat kepala yang dipegang Bagus Seta.

Pada saat itu, Endang Patibroto yang melihat datangnya pasukan, segera berteriak kepada putera puterinya.
"Bagus! Retna! Cepat lari .........! Mereka curang, mendatangkan pasukan. Lari!"
Retna Wilis menyambar pergelangan tangan kiri Jayawijaya dan mengajaknya lari dari tempat itu. Harjadenta dan Jarot juga melihat bahaya, maka merekapun melompat dan merobohkan prajurit yang berani menghalangi mereka, lalu melarikan diri. Endang Patibroto menggerakkan kaki tangannya dan empat orang prajurit pengepung berpelantingan dan tidak ada lagi yang berani menghalangi wanita ini lari. Demikian pula Retna Wilis. Biarpun sebelah tangannya ia menarik tangan Jayawijaya, namun dengan kaki dan tangan kirinya ia merobohkan dua orang prajurit lalu berlari cepat sambil menarik Jayawijaya. Bagus Seta sendiri juga melompat dan lari paling belakang untuk melindungi yang lari di depannya. Pasukan itu telah datang dan dua orang senopati, Rajah Beling dan Kurdolangit, segera mengerahkan mereka untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi Wasi Shiwamurti dan para pembantunya tidak melakukan pengejaran. Sebetulnya para pembantu itu melihat Wasi Shiwamurti tidak melakukan pengejaran, merekapun tidak berani mengejar karena mereka merasa jerih terhadap Endang Patibroto, Retna Wilis, dan terutama Bagus Seta. Wasi Shiwamurti sendiri tidak melakukan pengejaran karena merasa malu kalau harus ikut mengeroyok. Diapun maklum dari pertemuan tenaganya dengan tenaga Bagus Seta tadi bahwa dia tidak akan menang melawan pemuda luar biasa itu.

Enam orang itu melarikan diri dengan cepat sekali sehingga pengejaran pasukan Blambangan itu menjadi sia-sia. Mereka tertinggal jauh. Setelah tiba di luar batas Blambangan, baru mereka berhenti berlari. Endang Patibroto lalu berkata kepada kedua orang putera putrinya.
”Bagus Seta dan engkau Retna Wilis, aku sudah mendengar bahwa kalian sudah melakukan penyelidikan ke Nusabarung dan sekarang juga berada di daerah Blambangan. Kita semua sudah tahu belaka bahwa Blambangan dan Nusabarung telah mengadakan persiapan untuk memberontak terhadap Jenggala. Selain itu juga mereka mendatangkan pendeta-pendeta dari Cola yang menyebarkan agama sesat kepada rakyat jelata dengan paksaan. Semua ini sudah cukup untuk dijadikan laporan kepada Sang Prabu di Panjalu. Oleh karena itu, mari kita pulang ke Panjalu melapor kepada ayah kalian."

<<< Bagian 63                                                                                         Bagian 65 >>>

No comments:

Post a Comment