"Kanjeng Ibu, saya menduga bahwa setelah mendengar laporan ini, Panjalu dan Jenggala tentu akan mengirim pasukan untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan. Akan terjadi perang dan kalau sudah begitu, saya tidak suka terlibat dalam perang."
"Aku juga
tidak suka ikut berperang," kata Retna Wilis dan pernyataan puterinya ini
mengherankan hati Endang Patibroto.
Biasanya,
puterinya ini adalah seorang yang suka berperang dan merobohkan sebanyak
mungkin musuh. Sekarang ia menyatakan tidak suka ikut berperang. Ia tahu bahwa
tentu puterinya sedikit banyak telah terpengaruh kakaknya yang biarpun amat
sakti namun tidak suka akan kekerasan.
"Urusan
perang adalah urusan ayah kalian. Kalian tidak perlu mencampuri. Akan tetapi
keadaan di Nusabarung dan Blambangan harus dilaporkan karena kalau dibiarkan
saja, dapat membahayakan Panjalu dan Jenggala. Marilah kita pulang dan
melaporkan kepada ayah kalian agar ayah kalian dapat melapor kepada Sang Prabu
dan dapat diambil tindakan terhadap Nusabarung dan Blambangan sebelum
terlambat," kata Endang Patibroto.
Retna Wilis
menoleh dan memandang kepada Bagus Seta seolah hendak minta keputusan dari
kakaknya itu. Bagus Seta mengangguk dan berkata kepada adiknya,
"Diajeng,
sudah semestinya kalau kita menuruti kata-kata kanjeng ibu dan kembali ke
Panjalu menghadap kanjeng romo."
"Kalau
begitu, marilah kita segera pergi sebelum mereka mengejar sampai di sini
Anakmas Jayawijaya, anakmas Harjadenta, dan anakmas Jarot, kami bertiga hendak
kembali ke Panjalu. Andika bertiga hendak ke mana?"
"Saya
akan pulang ke kadipaten Pasisiran, melapor kepada kanjeng romo agar mengadakan
persiapan dan kalau tiba saatnya kami akan membantu gerakan pasukan Panjalu dan
Jenggala," kata Jarot.
"Setelah
Nusabarung dan Blambangan dapat ditundukkan, barulah saya akan pergi ke Panjalu
dan mengunjungi keluarga kanjeng bibi."
"Baik
sekali anakmas Jarot. Bantuan dari Pasisiran tentu akan sangat berguna bagi kami.
Dan Andika, anakmas Harjadenta?"
Harjadenta
memandang kepada Retna Wilis.
"Sayapun
ingin sekali berkunjung ke Panjalu menyambung persahabatan saya dengan
kakangmas Bagus Seta dan diajeng Retna Wilis, akan tetapi tentu saja saya akan
menunggu sampai akhirnya perang terhadap Nusabarung dan Blambangan yang
memberontak. Sekarang saya akan pulang dulu ke Gunung Raung menghadap Eyang
Empu Gandawijaya."
"Baiklah,
kami tunggu kunjunganmu kelak, anakmas Harjadenta. Dan bagaimana dengan andika,
anakmas Jayawijaya?"
Jayawijaya
memandang kepada Retna Wilis. Rasanya berat untuk berpisah dari gadis itu, akan
tetapi dia tersenyum dan memberi hormat kepada Endang Patibroto dan berkata,
"Kanjeng
Bibi Endang Patibroto, saya telah mendapat kehormatan besar sekali dapat berkenalan
dengan kanjeng bibi sekeluarga. Sekarang saya akan kembali ke Pegunungan
Tengger menceritakan pengalaman saya kepada kanjeng romo dan setelah keadaan
damai saya akan mengajak kanjeng romo untuk berkunjung kepada kanjeng bibi
sekeluarga."
"Jangan lupa
aku selalu menunggu kunjunganmu, kakang Jaya," kata Retna tanpa malu-malu
karena ucapannya ini sedikit banyak membuka rahasia hatinya terhadap pemuda
itu.
Jarot
mengerutkan alisnya dan memandang kepada Jayawijaya, akan tetapi Harjadenta
menundukkan mukanya. Pemuda ini pernah menyatakan cintanya kepada Retna Wilis
namun ditolak dengan halus oleh gadis itu dan diapun tahu diri, tidak berani
lagi mengharapkan dara perkasa itu untuk menjadi jodohnya.
"Mari
kita berpencar dan pergi dari sini sekarang juga, jangan sampai keburu mereka
yang mengejar kita sampai di sini!" kata Endang Patibroto dan setelah
saling memberi salam perpisahan, mereka semua meninggalkan tempat itu,
mengambil jalan masing-masing.
Ki Patih
Tejolaksono, Patih Anom dari Panjalu, menyambut kembalinya isteri, putera dan
puterinya dengan gembira. Apa lagi melihat perubahan pada sikap Retna Wilis,
dia menjadi gembira sekali. Kalau dulu Retna Wilis bersikap dingin, kini ia
berubah menjadi seorang puteri yang hangat dan ramah, penuh hormat kepada ayah
bundanya. Sifat keliarannya menghilang dan Ki Patih Tejolaksono mengerti bahwa
ini berkat bimbingan Bagus Seta, puteranya yang luar biasa itu. Menghadapi
puteranya sendiri ini, Ki Patih Tejolaksono merasa seolah menghadapi seorang
yang tingkatannya lebih tinggi sehingga menimbulkan rasa hormat dan kagum dalam
hatinya. Dengan penuh perhatian Ki Patih Tejolaksono mendengarkan Endang
Patibroto dan Retna Wilis yang menceritakan pengalaman mereka. Dia mengerutkan
alisnya ketika mendengar akan keadaan di Nusabarung dan Blambangan, apalagi
tentang cara cara para tokoh dari Cola menyebarkan agama sesat itu.
"Hemm,
berita ini penting sekali! Perlu segera kulaporkan kepada Sang Prabu. Memang
telah diketahui bahwa Nusabarung dan Blambangan tampaknya menyusun kekuatan dan
hendak memberontak, akan tetapi baru sekarang aku tahu bahwa mereka itu
bersekutu dan ada usaha melemahkan Panjalu dan Jenggala. Sekarang juga aku
harus menghadap Sang Prabu untuk memberi laporan tentang hasil perjalanan dan
penyelidikan kalian,"
Hari itu juga
Ki Patih Tejolaksono pergi menghadap dan diterima oleh Sang Prabu Sri
Jayawarshe Digdaya Shastraprabu. Persidangan itu lengkap dihadiri para pembantu
Sang Prabu, di antaranya Senopati Sepuh Suryoyudo dan yang lain-lain. Dengan
suara yang tenang dan lancar, Ki Patih Tejolaksono melaporkan apa yang
didengarnya dari isteri dan anak-anaknya, tentang hasil penyelidikan mereka.
Laporan tentang persiapan perang yang dilakukan kadipaten Nusabarung dan
Blambangan tidak mengejutkan karena semua orang sudah mendengar akan hal itu.
Akan tetapi keterangan bahwa Nusabarung dan Blambangan didukung oleh
Bali-dwipa, dan bahwa ada usaha dari kedua kadipaten itu untuk menimbulkan
pertentangan di antara rakyat Jenggala dengan menyebar agama baru yang sesat, mengejutkan
Sang Prabu dan para hulabalangnya.
"Kanjeng
Gusti, dengan seijin paduka, perkenankan hamba sekarang juga memimpin pasukan
untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan, juga membasmi para penyebar agama
sesat itu!" terdengar Ki Patih Suryoyudo dengan suara lantang.
Patih yang
usianya sudah tujuh puluhan tahun ini memang masih gagah dan penuh semangat.
Sang Prabu menoleh kepadanya dan berkata dengan lembut.
"Paman
Patih Suryoyudo, kami tidak ragu akan kemampuan andika. Akan tetapi andika
sudah tua dan sebaiknya menemani kami di istana dan menjaga ketenteraman dalam
kotaraja. Mengenai penalukan Nusabarung dan Blambangan, juga pembasmian para
penyebar agama sesat itu, kami serahkan kepada Ki Patih Tejolaksono."
"Sendiko
dawuh paduka, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih Suryoyudo dengan patuh.
Dia patuh dan
tidak kecewa karena diapun maklum bahwa patih anom itu memiliki kesaktian yang
bahkan melebihi kesaktiannya sendiri dan diapun tidak ragu bahwa kalau Ki patih
Tejolaksono yang maju memimpin pasukan, Nusabarung dan Blambangan pasti akan
dapat ditundukkan.
"Hamba
siap melaksanakan perintah paduka, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih
Tejolaksono sambil menghaturkan sembah.
"Kakang
Patih Tejolaksono, buatlah persiapan dengan membawa pasukan secukupnya,
kemudian berangkatlah segera ke Nusabarung dan Blambangan. Bujuk kedua adipati
itu untuk menakluk dan datang menghadap. Kalau mereka menolak, beri hajaran
kepada mereka, taklukkan mereka dengan kekuatan. Jangan lupa, cari biangkeladi
penyebaran agama sesat itu dan basmi mereka."
"Sendiko
dawuh paduka, Kanjeng Gusti. Hamba mohon doa restu."
"Kami
bekali puja pangestu yang berlimpah, Kakang Patih."
"Terima
kasih, Gusti."
Persidangan
dibubarkan dan Ki Patih Tejolaksono segera pulang ke gedungnya untuk
memberitahu kedua isterinya, Endang Patibroto dan Ayu Candra, dan kedua orang
anaknya. Keluarga ini lalu berkumpul untuk membicarakan tugas yang oleh Sang
Prabu diberikan kepada Ki Patih Tejolaksono. Setelah dia menceritakan hasil
laporannya kepada Sang Prabu dan tentang tugas yang harus dipikulnya, Endang
Patibroto lalu berkata,
"Aku akan
menemanimu kakangmas. Aku akan membantumu menalukkan kedua kadipaten itu dan
menghadapi para wasi penyebar agama sesat itu." Ucapan Endang Patibroto
itu diucapkan penuh semangat.
Ayu Candra
yang lemah lembut itupun berkata halus,
"Akupun
ingin ikut membantumu dan diajeng Endang Patibroto, kakang mas."
"Jangan
kalian berdua pergi semua, lalu siapa yang akan berjaga di kepatihan ini?"
kata Ki Patih Tejolaksono.
"Diajeng
Ayu Chandra, lebih baik andika berjaga di rumah saja. Biarlah diajeng Endang
Patibroto ikut, sekalian menjadi petunjuk jalan karena ia sudah menyelidiki ke
Nusabarung dan Blambangan."
"Apa yang
dikatakan kakangmas itu betul, mbakayu. Engkau menjaga rumah karena keamanan di
kepatihan juga amat penting. Biarlah aku yang pergi membantu suami kita, juga
Retna Wilis dan Bagus Seto membantu ayah mereka."
"Kanjeng
ibu, saya tidak ingin melibatkan diri dalam perang," kata Bagus Seta
dengan lembut.
"Sayapun
tidak mau ikut berperang di mana saya harus membunuh banyak orang," kata
pula Retna Wilis.
"Kalian
berdua tidak perlu ikut berperang. Akan tetapi para wasi dari Cola itu amat
sakti. Kalau kalian berdua tidak membantu, ayah kalian dan aku tentu akan
kewalahan menghadapi mereka," kata Endang Pa tibroto.
"Bagus
Seta dan Retna Wilis," kata Ki Patih Tejolaksono dengan tenang,
"kalian
tentu ingat bahwa kehidupan ini baru ada manfaatnya kalau kita melaksanakan
kewajiban-kewajiban dalam kehidupan ini. Hidup berarti melaksanakan
kewajiban-kewajiban itu. Kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu, kewajiban
sebagai seorang suami atau-isteri, sebagai anak, sebagai sahabat, sebagai
bawahan, sebagai atasan, sebagai kawula. Mempertahankan negara termasuk
kewajiban suci dari seorang kawula. Lalu apa artinya menjadi kawula Negara
kalau tidak mau membela negara? Membunuh orang berdasarkan kebencian dan
permusuhan pribadi memang tidak baik dan tidak benar, anak-anakku. Akan tetapi
membunuh musuh dalam perang merupakan tugas kewajiban seorang kawula yang
membela negaranya, bebas dari pada rasa benci perorangan. Nah, sebagai kawula
Panjalu, kalian juga berkewajiban untuk membela negara."
"Sudahlah,"
Endang Patibroto berkata,
"Kalau
kedua orang anak kita ini tidak mau terlibat perang, terserah kepada mereka.
Akan tetapi mereka harus membantu dalam menghadapi para wasi penyebar agama
sesat itu, kecuali kalau mereka rela melihat rakyat dipaksa memeluk agama sesat
dan kalau mereka tega melihat ayah ibunya menghadapi para wasi yang sakti
mandraguna itu tanpa membantu."
"Kakang,
kita harus membantu ayah menghadapi mereka!" Retna Wilis berkata sambil
memegang tangan Bagus Seta dan mengguncangnya.
Bagus Seta
tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah
dan kita lihat saja. Kalau memang amat diperlukan, kita turun tangan
membantu."
Ki Patih
Tejolaksono dan Endang Patibroto merasa girang sekali. Hati suami isteri ini
menjadi besar melihat kedua orang anak mereka yang boleh diandalkan itu mau
ikut. Ayu Chandra yang tadi merasa tidak enak melihat Bagus Seta tidak mau
ikut, kini lega juga hatinya mendengar kesanggupan Bagus Seta.
"Aku
merasa ikut girang kalau engkau mau ikut, anakku. Semoga Sang Hyang Widhi
memberi kekuatan kepadamu untuk menanggulangi semua rintangan yang dihadapi
ayah dan ibumu."
Ki Patih
Tejolaksono membuat persiapan, memilih pasukan istimewa dan keesokan harinya,
berangkatlah pasukan itu dipimpin Ki Tejolaksono yang diiringkan isterinya
Endang Patibroto dan kedua orang anaknya, Bagus Seta dan Retna Wilis. Mereka
bertiga menunggang kuda dan di sepanjang jalan mereka dielu-elukan rakyat
jelata yang memandang kagum kepada empat orang itu yang tampak gagah perkasa.
Ki Patih Tejolaksono yang berusia lima puluh dua tahun menunggang kuda pancal
panggung yang berkaki putih, masih tampak muda dan gagah perkasa. Di
pinggangnya terselip sebatang keris pusaka pemberian Sang Prabu. Di sisinya,
Endang Patibroto menunggang seekor kuda hitam, sudah berusia limapuluh tahun
akan tetapi masih tampak cantik dan anggun, dengan sebatang keris terselip di
pinggangnya, gagah perkasa seperti Woro Srikandi. Pasangan yang sudah amat
dikenal rakyat ini mendatangkan rasa kagum di hati penonton yang mengelu-elukan
mereka. Di Belakang pasangan ini, juga menunggang seekor kuda coklat, tampak
Bagus Seto yang berpakaian serba putih, lemah lembut dengan sinar matanya yang
penuh kesabaran, gerak geriknya halus, seperti Raden Arjuna yang tidak tampak
gagah perkasa melainkan lembut namun di balik kelembutan itu terkandung
kekuatan yang maha dahsyat yang membuat orang memandang dengan hati tunduk. Di
sampingnya, duduk di atas seekor kuda berbulu putih adalah Retna Wilis yang
menjadi pusat perhatian penonton.
<<< Bagian 64 Bagian 66 >>>
No comments:
Post a Comment