Sepasang Garuda Putih ; Bagian 65


"Kanjeng Ibu, saya menduga bahwa setelah mendengar laporan ini, Panjalu dan Jenggala tentu akan mengirim pasukan untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan. Akan terjadi perang dan kalau sudah begitu, saya tidak suka terlibat dalam perang."
"Aku juga tidak suka ikut berperang," kata Retna Wilis dan pernyataan puterinya ini mengherankan hati Endang Patibroto.
Biasanya, puterinya ini adalah seorang yang suka berperang dan merobohkan sebanyak mungkin musuh. Sekarang ia menyatakan tidak suka ikut berperang. Ia tahu bahwa tentu puterinya sedikit banyak telah terpengaruh kakaknya yang biarpun amat sakti namun tidak suka akan kekerasan.
"Urusan perang adalah urusan ayah kalian. Kalian tidak perlu mencampuri. Akan tetapi keadaan di Nusabarung dan Blambangan harus dilaporkan karena kalau dibiarkan saja, dapat membahayakan Panjalu dan Jenggala. Marilah kita pulang dan melaporkan kepada ayah kalian agar ayah kalian dapat melapor kepada Sang Prabu dan dapat diambil tindakan terhadap Nusabarung dan Blambangan sebelum terlambat," kata Endang Patibroto.

Retna Wilis menoleh dan memandang kepada Bagus Seta seolah hendak minta keputusan dari kakaknya itu. Bagus Seta mengangguk dan berkata kepada adiknya,
"Diajeng, sudah semestinya kalau kita menuruti kata-kata kanjeng ibu dan kembali ke Panjalu menghadap kanjeng romo."
"Kalau begitu, marilah kita segera pergi sebelum mereka mengejar sampai di sini Anakmas Jayawijaya, anakmas Harjadenta, dan anakmas Jarot, kami bertiga hendak kembali ke Panjalu. Andika bertiga hendak ke mana?"
"Saya akan pulang ke kadipaten Pasisiran, melapor kepada kanjeng romo agar mengadakan persiapan dan kalau tiba saatnya kami akan membantu gerakan pasukan Panjalu dan Jenggala," kata Jarot.
"Setelah Nusabarung dan Blambangan dapat ditundukkan, barulah saya akan pergi ke Panjalu dan mengunjungi keluarga kanjeng bibi."
"Baik sekali anakmas Jarot. Bantuan dari Pasisiran tentu akan sangat berguna bagi kami. Dan Andika, anakmas Harjadenta?"
Harjadenta memandang kepada Retna Wilis.
"Sayapun ingin sekali berkunjung ke Panjalu menyambung persahabatan saya dengan kakangmas Bagus Seta dan diajeng Retna Wilis, akan tetapi tentu saja saya akan menunggu sampai akhirnya perang terhadap Nusabarung dan Blambangan yang memberontak. Sekarang saya akan pulang dulu ke Gunung Raung menghadap Eyang Empu Gandawijaya."
"Baiklah, kami tunggu kunjunganmu kelak, anakmas Harjadenta. Dan bagaimana dengan andika, anakmas Jayawijaya?"
Jayawijaya memandang kepada Retna Wilis. Rasanya berat untuk berpisah dari gadis itu, akan tetapi dia tersenyum dan memberi hormat kepada Endang Patibroto dan berkata,
"Kanjeng Bibi Endang Patibroto, saya telah mendapat kehormatan besar sekali dapat berkenalan dengan kanjeng bibi sekeluarga. Sekarang saya akan kembali ke Pegunungan Tengger menceritakan pengalaman saya kepada kanjeng romo dan setelah keadaan damai saya akan mengajak kanjeng romo untuk berkunjung kepada kanjeng bibi sekeluarga."
"Jangan lupa aku selalu menunggu kunjunganmu, kakang Jaya," kata Retna tanpa malu-malu karena ucapannya ini sedikit banyak membuka rahasia hatinya terhadap pemuda itu.
Jarot mengerutkan alisnya dan memandang kepada Jayawijaya, akan tetapi Harjadenta menundukkan mukanya. Pemuda ini pernah menyatakan cintanya kepada Retna Wilis namun ditolak dengan halus oleh gadis itu dan diapun tahu diri, tidak berani lagi mengharapkan dara perkasa itu untuk menjadi jodohnya.
"Mari kita berpencar dan pergi dari sini sekarang juga, jangan sampai keburu mereka yang mengejar kita sampai di sini!" kata Endang Patibroto dan setelah saling memberi salam perpisahan, mereka semua meninggalkan tempat itu, mengambil jalan masing-masing.

Ki Patih Tejolaksono, Patih Anom dari Panjalu, menyambut kembalinya isteri, putera dan puterinya dengan gembira. Apa lagi melihat perubahan pada sikap Retna Wilis, dia menjadi gembira sekali. Kalau dulu Retna Wilis bersikap dingin, kini ia berubah menjadi seorang puteri yang hangat dan ramah, penuh hormat kepada ayah bundanya. Sifat keliarannya menghilang dan Ki Patih Tejolaksono mengerti bahwa ini berkat bimbingan Bagus Seta, puteranya yang luar biasa itu. Menghadapi puteranya sendiri ini, Ki Patih Tejolaksono merasa seolah menghadapi seorang yang tingkatannya lebih tinggi sehingga menimbulkan rasa hormat dan kagum dalam hatinya. Dengan penuh perhatian Ki Patih Tejolaksono mendengarkan Endang Patibroto dan Retna Wilis yang menceritakan pengalaman mereka. Dia mengerutkan alisnya ketika mendengar akan keadaan di Nusabarung dan Blambangan, apalagi tentang cara cara para tokoh dari Cola menyebarkan agama sesat itu.
"Hemm, berita ini penting sekali! Perlu segera kulaporkan kepada Sang Prabu. Memang telah diketahui bahwa Nusabarung dan Blambangan tampaknya menyusun kekuatan dan hendak memberontak, akan tetapi baru sekarang aku tahu bahwa mereka itu bersekutu dan ada usaha melemahkan Panjalu dan Jenggala. Sekarang juga aku harus menghadap Sang Prabu untuk memberi laporan tentang hasil perjalanan dan penyelidikan kalian,"

Hari itu juga Ki Patih Tejolaksono pergi menghadap dan diterima oleh Sang Prabu Sri Jayawarshe Digdaya Shastraprabu. Persidangan itu lengkap dihadiri para pembantu Sang Prabu, di antaranya Senopati Sepuh Suryoyudo dan yang lain-lain. Dengan suara yang tenang dan lancar, Ki Patih Tejolaksono melaporkan apa yang didengarnya dari isteri dan anak-anaknya, tentang hasil penyelidikan mereka. Laporan tentang persiapan perang yang dilakukan kadipaten Nusabarung dan Blambangan tidak mengejutkan karena semua orang sudah mendengar akan hal itu. Akan tetapi keterangan bahwa Nusabarung dan Blambangan didukung oleh Bali-dwipa, dan bahwa ada usaha dari kedua kadipaten itu untuk menimbulkan pertentangan di antara rakyat Jenggala dengan menyebar agama baru yang sesat, mengejutkan Sang Prabu dan para hulabalangnya.
"Kanjeng Gusti, dengan seijin paduka, perkenankan hamba sekarang juga memimpin pasukan untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan, juga membasmi para penyebar agama sesat itu!" terdengar Ki Patih Suryoyudo dengan suara lantang.
Patih yang usianya sudah tujuh puluhan tahun ini memang masih gagah dan penuh semangat. Sang Prabu menoleh kepadanya dan berkata dengan lembut.
"Paman Patih Suryoyudo, kami tidak ragu akan kemampuan andika. Akan tetapi andika sudah tua dan sebaiknya menemani kami di istana dan menjaga ketenteraman dalam kotaraja. Mengenai penalukan Nusabarung dan Blambangan, juga pembasmian para penyebar agama sesat itu, kami serahkan kepada Ki Patih Tejolaksono."
"Sendiko dawuh paduka, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih Suryoyudo dengan patuh.
Dia patuh dan tidak kecewa karena diapun maklum bahwa patih anom itu memiliki kesaktian yang bahkan melebihi kesaktiannya sendiri dan diapun tidak ragu bahwa kalau Ki patih Tejolaksono yang maju memimpin pasukan, Nusabarung dan Blambangan pasti akan dapat ditundukkan.
"Hamba siap melaksanakan perintah paduka, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih Tejolaksono sambil menghaturkan sembah.
"Kakang Patih Tejolaksono, buatlah persiapan dengan membawa pasukan secukupnya, kemudian berangkatlah segera ke Nusabarung dan Blambangan. Bujuk kedua adipati itu untuk menakluk dan datang menghadap. Kalau mereka menolak, beri hajaran kepada mereka, taklukkan mereka dengan kekuatan. Jangan lupa, cari biangkeladi penyebaran agama sesat itu dan basmi mereka."
"Sendiko dawuh paduka, Kanjeng Gusti. Hamba mohon doa restu."
"Kami bekali puja pangestu yang berlimpah, Kakang Patih."
"Terima kasih, Gusti."

Persidangan dibubarkan dan Ki Patih Tejolaksono segera pulang ke gedungnya untuk memberitahu kedua isterinya, Endang Patibroto dan Ayu Candra, dan kedua orang anaknya. Keluarga ini lalu berkumpul untuk membicarakan tugas yang oleh Sang Prabu diberikan kepada Ki Patih Tejolaksono. Setelah dia menceritakan hasil laporannya kepada Sang Prabu dan tentang tugas yang harus dipikulnya, Endang Patibroto lalu berkata,
"Aku akan menemanimu kakangmas. Aku akan membantumu menalukkan kedua kadipaten itu dan menghadapi para wasi penyebar agama sesat itu." Ucapan Endang Patibroto itu diucapkan penuh semangat.
Ayu Candra yang lemah lembut itupun berkata halus,
"Akupun ingin ikut membantumu dan diajeng Endang Patibroto, kakang mas."
"Jangan kalian berdua pergi semua, lalu siapa yang akan berjaga di kepatihan ini?" kata Ki Patih Tejolaksono.
"Diajeng Ayu Chandra, lebih baik andika berjaga di rumah saja. Biarlah diajeng Endang Patibroto ikut, sekalian menjadi petunjuk jalan karena ia sudah menyelidiki ke Nusabarung dan Blambangan."
"Apa yang dikatakan kakangmas itu betul, mbakayu. Engkau menjaga rumah karena keamanan di kepatihan juga amat penting. Biarlah aku yang pergi membantu suami kita, juga Retna Wilis dan Bagus Seto membantu ayah mereka."
"Kanjeng ibu, saya tidak ingin melibatkan diri dalam perang," kata Bagus Seta dengan lembut.
"Sayapun tidak mau ikut berperang di mana saya harus membunuh banyak orang," kata pula Retna Wilis.
"Kalian berdua tidak perlu ikut berperang. Akan tetapi para wasi dari Cola itu amat sakti. Kalau kalian berdua tidak membantu, ayah kalian dan aku tentu akan kewalahan menghadapi mereka," kata Endang Pa tibroto.
"Bagus Seta dan Retna Wilis," kata Ki Patih Tejolaksono dengan tenang,
"kalian tentu ingat bahwa kehidupan ini baru ada manfaatnya kalau kita melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam kehidupan ini. Hidup berarti melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu, kewajiban sebagai seorang suami atau-isteri, sebagai anak, sebagai sahabat, sebagai bawahan, sebagai atasan, sebagai kawula. Mempertahankan negara termasuk kewajiban suci dari seorang kawula. Lalu apa artinya menjadi kawula Negara kalau tidak mau membela negara? Membunuh orang berdasarkan kebencian dan permusuhan pribadi memang tidak baik dan tidak benar, anak-anakku. Akan tetapi membunuh musuh dalam perang merupakan tugas kewajiban seorang kawula yang membela negaranya, bebas dari pada rasa benci perorangan. Nah, sebagai kawula Panjalu, kalian juga berkewajiban untuk membela negara."
"Sudahlah," Endang Patibroto berkata,
"Kalau kedua orang anak kita ini tidak mau terlibat perang, terserah kepada mereka. Akan tetapi mereka harus membantu dalam menghadapi para wasi penyebar agama sesat itu, kecuali kalau mereka rela melihat rakyat dipaksa memeluk agama sesat dan kalau mereka tega melihat ayah ibunya menghadapi para wasi yang sakti mandraguna itu tanpa membantu."
"Kakang, kita harus membantu ayah menghadapi mereka!" Retna Wilis berkata sambil memegang tangan Bagus Seta dan mengguncangnya.
Bagus Seta tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah dan kita lihat saja. Kalau memang amat diperlukan, kita turun tangan membantu."
Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto merasa girang sekali. Hati suami isteri ini menjadi besar melihat kedua orang anak mereka yang boleh diandalkan itu mau ikut. Ayu Chandra yang tadi merasa tidak enak melihat Bagus Seta tidak mau ikut, kini lega juga hatinya mendengar kesanggupan Bagus Seta.
"Aku merasa ikut girang kalau engkau mau ikut, anakku. Semoga Sang Hyang Widhi memberi kekuatan kepadamu untuk menanggulangi semua rintangan yang dihadapi ayah dan ibumu."

Ki Patih Tejolaksono membuat persiapan, memilih pasukan istimewa dan keesokan harinya, berangkatlah pasukan itu dipimpin Ki Tejolaksono yang diiringkan isterinya Endang Patibroto dan kedua orang anaknya, Bagus Seta dan Retna Wilis. Mereka bertiga menunggang kuda dan di sepanjang jalan mereka dielu-elukan rakyat jelata yang memandang kagum kepada empat orang itu yang tampak gagah perkasa. Ki Patih Tejolaksono yang berusia lima puluh dua tahun menunggang kuda pancal panggung yang berkaki putih, masih tampak muda dan gagah perkasa. Di pinggangnya terselip sebatang keris pusaka pemberian Sang Prabu. Di sisinya, Endang Patibroto menunggang seekor kuda hitam, sudah berusia limapuluh tahun akan tetapi masih tampak cantik dan anggun, dengan sebatang keris terselip di pinggangnya, gagah perkasa seperti Woro Srikandi. Pasangan yang sudah amat dikenal rakyat ini mendatangkan rasa kagum di hati penonton yang mengelu-elukan mereka. Di Belakang pasangan ini, juga menunggang seekor kuda coklat, tampak Bagus Seto yang berpakaian serba putih, lemah lembut dengan sinar matanya yang penuh kesabaran, gerak geriknya halus, seperti Raden Arjuna yang tidak tampak gagah perkasa melainkan lembut namun di balik kelembutan itu terkandung kekuatan yang maha dahsyat yang membuat orang memandang dengan hati tunduk. Di sampingnya, duduk di atas seekor kuda berbulu putih adalah Retna Wilis yang menjadi pusat perhatian penonton.

<<< Bagian 64                                                                                         Bagian 66 >>>

No comments:

Post a Comment