Seorang gadis yang juga berpakaian serba putih dari sutera, cantik jelita dan gagah perkasa, dengan sebatang pedang di punggungnya, bertubuh sempurna dengan lekuk lengkung yang menggairahkan. Sinom yang melingkar-lingkar di dahinya bergerak-gerak tertiup angin, alisnya yang hitam melengkung dan matanya seperti bintang kejora. Mulutnya tersenyum dan lesung pipit di sebelah kiri mulutnya menambah kemanisannya. Hati para pria muda yang memandang menjadi terpesona oleh kecantikan dan keanggunan yang amat menawan itu. Sepasang orang muda yang berpakaian serba putih itu benar-benar membuat hati mereka yang menonton berdebar penuh kebanggaan dan kekaguman. Bangga karena mereka adalah putera puteri Ki Patih Tejolaksono yang telah lama menjadi kebanggaan mereka. Lima lusin barisan pengawal menunggang kuda di depan, diikuti oleh Sang Patih dan isteri serta dua orang puteranya dan di belakang mereka berbaris pasukan berkuda, lalu diikuti pasukan pejalan kaki. Jumlah mereka tidak kurang dari selaksa orang.
Sesuai dengan
perintah Sang Prabu di Panjalu, Ki Patih Tejolaksono membawa pasukannya singgah
di Kerajaan Jenggala. Pasukan berhenti di luar kadipaten, dan Ki Patih
Tejolaksono, diikuti Endang Patibroto, Retna Wilis dan Bagus Seta memasuki
kadipaten menghadap Sri Samarotsoha Karnake shana Dharmawangsa Kirtisinga
Jayantaka Tungga Dewa, raja di Jenggala yang dahulu nya bernama Pangeran Sigit
dan pernah menjadi teman seperjuangan Ki Patih Tejolaksono dan Endang
Patibroto. Bahkan Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri Raja Jenggala
adalah saudara kandung Endang Patibroto. Maka kedatangan keluarga Ki Patih
Tejolaksono ini disambut dengan gembira dan meriah oleh keluarga Raja Jenggala.
Tentu saja Sang Prabu Jenggala sudah mendengar akan gerakan pasukan yang
dilakukan Panjalu untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan dan untuk itu
diapun sudah mempersiapkan pasukan sebanyak dua ribu orang untuk diikut
sertakan dan membantu pasukan Panjalu. Bantuan ini dengan senang hati diterima
oleh Ki Patih Tejolaksono. Tidak lama mereka singgah di Jenggala dan pada hari
itu juga, pasukan diberangkat kan menuju ke timur. Kini jumlahnya bertambah
menjadi duabelas ribu orang. Jauh sebelum mereka tiba di pesisir yang menjadi
tapal batas kadipaten Nusabarung, pihak Nusabarung sudah mendengar lebih dulu
dari para telik sandi mereka dan sudah membuat persiapan untuk melakukan
perlawanan. Bahkan mereka telah mendapat balabantuan dari Blambangan sebanyak
seribu orang prajurit sehingga jumlah mereka semua ada enam ribu perajurit.
Sebagian besar para prajurit itu berjaga di sekitar pantai Nusabarung dan
sebagian lagi menjaga di luar kadipaten yang berada di tengah-tengah pulau.
Ki Patih
Tejolaksono menghentikan pasukannya di pantai Laut Kidul, membuat perkemahan di
situ. Lalu semua alat pembuatan perahu yang telah dipersiapkan lebih dulu
dikeluarkan dan sibuklah para ahli pembuat perahu bekerja siang malam membuat
perahu. Karena banyaknya orang yang bekerja, dan alat-alat sudah lengkap juga
di situ banyak pohon-pohon yang dapat ditebang dan kayunya dibuat papan perahu,
maka dalam waktu dua pekan saja selesailah sudah ratusan buah perahu yang akan
menyeberangkan pasukan itu ke Nusabarung. Pasukan itu telah membawa selain
perlengkapan pembuatan perahu, juga tukang-tukang perahu yang ahli melayarkan
perahu-perahu itu menyeberang lautan.
Akan tetapi
pelayaran menuju Nusabarung itu tidak mudah karena di tengah Lautan mereka
dihadang banyak perahu dari para prajurit Nusabarung sehingga terjadi
pertempuran di tengah lautan. Perang anak panah terjadi dan setelah
perahu-perahu saling mendekat, terjadilah perang campuh di atas perahu.
Ahli-ahli berlayar dari Panjalu dan Jenggala mengemudikan perahu dengan sibuk
dan hati-hati ketika perahu-perahu itu bertabrakan dan di atas perahu terjadi
pertempuran seru. Karena jumlah prajurit kalah banyak, dan kalah dalam hal
ketangkasan bertempur, pasukan Nusabarung mundur dan melarikan diri dengan sisa
perahu-perahu mereka ke pulau, lalu membentuk barisan di pantai pulau itu
menanti datangnya perahu-perahu musuh. Setelah pasukan Panjalu dan Jenggala
mendarat, terjadilah pertempuran di darat, di pantai pulau Nusabarung. Dalam
pertempuran itu, Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto melihat betapa di
bagian kiri para prajurit mereka menjadi kacau dan banyak yang berpelantingan,
tidak kuat menghadapi amukan lima orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar
dan mereka ini mengamuk dengan golok mereka. Bahkan dua orang senopati dari
Jenggaia yang menjaga bagian itu kabarnya sudah roboh pula. Mendengar ini,
Endang Patibroto lalu meloncat dan berlari ke bagian itu, diikuti oleh
suaminya. Adapun Bagus Seta dan Retna Wilis hanya menonton dari tempat tinggi,
tidak mencampuri perang itu. Akan tetapi kalau ada prajurit musuh yang datang
menyerbu, mereka hanya merobohkan mereka dengan tamparan dan tendangan yang
cukup mengusir mereka menjauh dengan gentar dan tidak membunuh mereka. Ketika
Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono tiba di tempat pertempuran bagian
sayap kiri itu, tampaklah oleh mereka lima orang senopati tinggi besar. Mereka
itu bukan lain adalah Senopati Wisokolo, Senopati Wisangnogo, Senopati
Krendomolo, Senopati Damarpati, dan Senopati Surodiro, lima orang senopati
jagoan dari Nusabarung yang terkenal digdaya.
Sepak terjang
lima orang senopati jagoan Nusabarung ini sudah hebat, merobohkan banyak
perajurit Panjalu, akan tetapi di bagian lain, ada lagi seorang kakek yang
mengamuk lebih hebat lagi. Dia seorang kakek berusia enampuluhan tahun,
berpakaian serba kuning, rambutnya gimbal akan tetapi dihias tusuk sanggul
terbuat dari emas permata, matanya lebar hidungnya pesek dan mulutnya selalu
menyeringai. Hebatnya, bukan saja tangan kakinya yang mengamuk dengan tongkat
ularnya, juga mulutnya mengeluarkan bentakan-bentakan dan para perajurit yang
terkena bentakan itu berpelantingan seperti terdorong tenaga yang dahsyat!
Endang
Patibroto marah sekali melihat kakek ini karena ia mengenalnya sebagai Wasi
Surengpati. Kalau dahulu Wasi Surengpati berpakaian butut, kini biarpun
pakaiannya masih dekil namun dia memakai banyak perhiasan yang mewah! Hal ini
karena dia sekarang telah menjadi penasihat Nusabarung.
"Kakangmas,
hajarlah lima senopati dari Nusabarung itu, aku akan menghadapi kakek
itu!" kata Endang Patibroto kepada suaminya,
"Hati-hati
diajeng. Kakek itu kelihatan sakti, biar aku saja yang menghadapinya!"
kata Tejolaksono khawatir.
"Jangan
Khawatir, kakangmas. Aku pernah melawannya dan aku mampu mengatasinya. Lima
orang senopati itupun digdaya, harap kakangmas waspada," kata Endang Pati
broto yang segera berlari menghampiri tempat di mana Wasi Surengpati mengamuk.
"Wasi
Surengpati, sekali ini engkau tidak akan terlepas dari tanganku!" bentak
Endang Patibroto, sambil melompat dan tiba di depan kakek yang sedang mengamuk
itu.
Melihat
tiba-tiba muncul wanita yang ditakuti itu, wajah Wasi Surengpati menjadi pucat
lalu merah sekali karena dia sudah menjadi marah. Untuk melarikan diri sudah
tidak sempat lagi, maka diapun membentak.
"Endang
Patibroto, engkaulah yang akan mampus di tanganku!" Dan diapun segera
menerjang sambil mengeluarkan pekik yang dapat menggetarkan jantung lawan.
Akan tetapi,
Endang Patibroto sudah mengerahkan kekuatan batinnya dan ia mengelak dari
sambaran tongkat ular, lalu mencabut kerisnya dan membalas dengan serangan
kerisnya yang berada di tangan kanannya. Tusukan itu cepat dan kuat sekali.
Wasi Surengpati terkejut dan mengelak sambil memukulkan tongkatnya untuk
menangkis. Endang Patibroto menarik kembali kerisnya dan tiba-tiba tangan
kirinya menyambar ke depan dengan aji pukulan Pethit Nogo yang amat ampuh.
"Wuuuuuuttt........
desss!!" Wasi Surengpati sudah mencoba untuk menangkis pukulan itu, akan
tetapi tangkisannya terpental dan dadanya terkena sambaran pukulan yang amat
ampuh itu sehingga dia terjengkang dan terbanting ke atas tanah. Dia cepat
melompat bangun, akan tetapi Endang Patibroto yang menggunakan gerakan dengan
ilmu Bayutantra, membuat tubuhnya dapat mengejar dengan cepat dan sebuah
pukulan dengan Aji Gelap Musti menyambar ke arah kepala Wasi Surengpati. Sang
wasi cepat miringkan kepala untuk mengelak dan pukulan itu mengenai pundaknya.
Namun, hebat
sekali pukulan Aji Gelap Musti itu. Tubuh Wasi Surengpati terpelanting keras
dan bergulingan, tiba di dekat para prajurit Panjalu. Para prajurit yang
melihat musuh yang sakti ini bergulingan di dekat kaki mereka, segera
menghujamkan senjata mereka. Sang wasi yang sudah terkena pukulan dua kali
dengan hebatnya, tidak lagi mampu mengerahkan ilmu kekebalannya dan tubuhnya
hancur lebur di bawah hujan senjata para prajurit itu. Tewaslah dia dalam
keadaan tubuh hancur. Sementara itu, Tejolaksono menerjang lima orang senopati
yang segera terdesak ke belakang. Amukan Tejolaksono dengan aji Bajra Dahono
amatlah dahsyatnya. Kedua tangannya seolah mengeluarkan api panas dan lima
orang ini terhuyung ke belakang. Dengan gerakan Bayu Sakti, Tejolaksono dapat
bergerak secepat angin dan selagi lima orang itu belum pulih keadaan mereka,
Tejolaksono sudah menerjang dengan amukan Aji Dirodometo. Seperti seekor gajah
mengamuk kaki tangannya bergerak dan lima orang itu satu demi satu
berpelantingan dan segera dikeroyok oleh para prajurit Panjalu. Lima orang
senopati itupun tewas semua di bawah hujan senjata. Setelah lima orang senopati
dan Wasi Surengpati tewas, para perajurit Nusabarung yang kehilangan pimpinan
menjadi kacau balau dan kalang kabut, tunjang palang melari kan diri ke tengah
pulau! Mereka bergabung dengan pasukan yang berjaga di luar kadipaten. Terjadi
lagi pertempuran hebat, akan tetapi karena kalah dalam jumlah dan kekuatan,
apalagi mereka tidak lagi mempunyai pimpinan yang tangguh, pasukan Nusabarung
tidak kuat menahan serangan para prajurit Panjalu dan Jenggala dan akhirnya
para prajurit dapat membobolkan gapura Nusabarung dan dipimpin oleh Tejolaksono
dan Endang Patibroto, pasukan pengawal memasuki kadipaten!
Di tengah
ruangan kadipaten mereka mendapatkan Adipati Martimpang berikut tujuh orang
puterinya dan semua isteri dan selirnya berkumpul. Sang Adipati sudah
kehilangan kewibawaannya dan menundukkan mukanya ketika Tejolaksono memasuki
ruangan itu bersama Endang Patibroto dan kedua orang putera puteri mereka
mengikuti dari belakang. Dyah Candramanik, puteri sulung sang Adipati
Martimpang ketika melihat Retna Wilis ikut masuk ke ruangan itu, memandang
dengan mata berapi. Dara jelita ini masih merasa sakit hati karena dulu pernah
ditipu oleh Retna Wilis yang menyamar sebagai Joko Wilis sehingga ia jatuh
cinta kepada "pemuda" itu.
"Adipati
Martimpang, pasukanmu sudah hancur, apakah sekarang andika sudah menakluk
kepada Kerajaan Jenggala?" tanya Ki Patih Tejolaksono dengan tegas namun
cukup hormat.
Adipati
Martimpang mengangkat muka, bertemu pandang dengan Tejolaksono dan menarik
napas panjang.
"Kami
sudah kalah, terserah apa yang akan andika lakukan, Ki Patih."
"Untuk
sementara, andika sekeluarga menjadi tawanan di sini dan kadipaten Nusabarung
akan diawasi oleh para wakil dari Jenggala. Setelah kami nanti kembali ke
kerajaan Panjalu dan Jenggala, andika sekeluarga akan menjadi tawanan dan kami
bawa ke Jenggala."
Adipati
Martimpang yang sudah merasa kalah hanya mengangguk dan dia bersama keluarganya
lalu digiring ke pedalaman kadipaten dan ditawan dalam kamar masing masing dan
dijaga oleh para prajurit Jenggala.
Ki Patih
Tejolaksono lalu memanggil semua perwira Jenggala dan memerintahkan kepada
mereka dan sisa duaribu pasukan mereka untuk menguasai dan menjaga Nusabarung.
Dia sendiri bersama pasukan Panjalu yang tadinya sebanyak selaksa orang akan
melanjutkan ekspidisinya ke Blambangan. Hanya tiga hari pasukan itu dibiarkan
beristirahat di Nusabarung dan pada hari ke empat pasukan itu menyeberang ke
daratan lalu melanjutkan perjalanan menuju ke barat, ke Blambangan. Belum lama
mereka bergerak, dari depan menghadang pasukan yang berjumlah lebih kurang
limaratus orang. Pasukan ini dipimpin oleh Sang Adipati Kertajaya, yaitu
adipati dari Pasisiran, bersama puteranya, Jarot. Ternyata pasukan ini siap
membantu gerakan pasukan dari Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Ki Patih
Tejolaksono menerima mereka dengan senang hati, bahkan menganjurkan agar Jarot
saja yang memimpin limaratus pasukan dari Pasisiran itu untuk membantu
sedangkan Adipati Kertajaya menjaga ketenteraman di Pasisiran.
"Tidak
baik kalau andika sekalian ikut pergi karena kadipaten Pasisiran akan menjadi
kosong dari pimpinan," kata pula Endang Patibroto.
"Kami
rasa anakmas Jarot sudah cukup untuk membantu kami."
Adipati
Kertajaya akhirnya menurut dan membiarkan puteranya seorang diri yang memimpin
limaratus orang pasukan Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Pasukan itu melanjutkan
perjalanan mereka dan kembali di tengah perjalanan mereka dihadang dua pasukan
yang terdiri dari masing-masing seratus orang. Mereka itu bukan lain adalah Ki
Haryosakti dan Bajramusti, dua orang sakti yang menjadi pimpinan Jambuko Cemeng
dan ketua Bala Cucut, dua orang yang pernah ditalukkan oleh Retna Wilis dan
Bagus Seta dan kepada dua orang kakak beradik ini mereka sudah berjanji untuk
kelak membantu Panjalu.
<<< Bagian 65 Bagian 67 >>>
No comments:
Post a Comment