Sepasang Garuda Putih ; Bagian 66


Seorang gadis yang juga berpakaian serba putih dari sutera, cantik jelita dan gagah perkasa, dengan sebatang pedang di punggungnya, bertubuh sempurna dengan lekuk lengkung yang menggairahkan. Sinom yang melingkar-lingkar di dahinya bergerak-gerak tertiup angin, alisnya yang hitam melengkung dan matanya seperti bintang kejora. Mulutnya tersenyum dan lesung pipit di sebelah kiri mulutnya menambah kemanisannya. Hati para pria muda yang memandang menjadi terpesona oleh kecantikan dan keanggunan yang amat menawan itu. Sepasang orang muda yang berpakaian serba putih itu benar-benar membuat hati mereka yang menonton berdebar penuh kebanggaan dan kekaguman. Bangga karena mereka adalah putera puteri Ki Patih Tejolaksono yang telah lama menjadi kebanggaan mereka. Lima lusin barisan pengawal menunggang kuda di depan, diikuti oleh Sang Patih dan isteri serta dua orang puteranya dan di belakang mereka berbaris pasukan berkuda, lalu diikuti pasukan pejalan kaki. Jumlah mereka tidak kurang dari selaksa orang.

Sesuai dengan perintah Sang Prabu di Panjalu, Ki Patih Tejolaksono membawa pasukannya singgah di Kerajaan Jenggala. Pasukan berhenti di luar kadipaten, dan Ki Patih Tejolaksono, diikuti Endang Patibroto, Retna Wilis dan Bagus Seta memasuki kadipaten menghadap Sri Samarotsoha Karnake shana Dharmawangsa Kirtisinga Jayantaka Tungga Dewa, raja di Jenggala yang dahulu nya bernama Pangeran Sigit dan pernah menjadi teman seperjuangan Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto. Bahkan Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri Raja Jenggala adalah saudara kandung Endang Patibroto. Maka kedatangan keluarga Ki Patih Tejolaksono ini disambut dengan gembira dan meriah oleh keluarga Raja Jenggala. Tentu saja Sang Prabu Jenggala sudah mendengar akan gerakan pasukan yang dilakukan Panjalu untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan dan untuk itu diapun sudah mempersiapkan pasukan sebanyak dua ribu orang untuk diikut sertakan dan membantu pasukan Panjalu. Bantuan ini dengan senang hati diterima oleh Ki Patih Tejolaksono. Tidak lama mereka singgah di Jenggala dan pada hari itu juga, pasukan diberangkat kan menuju ke timur. Kini jumlahnya bertambah menjadi duabelas ribu orang. Jauh sebelum mereka tiba di pesisir yang menjadi tapal batas kadipaten Nusabarung, pihak Nusabarung sudah mendengar lebih dulu dari para telik sandi mereka dan sudah membuat persiapan untuk melakukan perlawanan. Bahkan mereka telah mendapat balabantuan dari Blambangan sebanyak seribu orang prajurit sehingga jumlah mereka semua ada enam ribu perajurit. Sebagian besar para prajurit itu berjaga di sekitar pantai Nusabarung dan sebagian lagi menjaga di luar kadipaten yang berada di tengah-tengah pulau.
Ki Patih Tejolaksono menghentikan pasukannya di pantai Laut Kidul, membuat perkemahan di situ. Lalu semua alat pembuatan perahu yang telah dipersiapkan lebih dulu dikeluarkan dan sibuklah para ahli pembuat perahu bekerja siang malam membuat perahu. Karena banyaknya orang yang bekerja, dan alat-alat sudah lengkap juga di situ banyak pohon-pohon yang dapat ditebang dan kayunya dibuat papan perahu, maka dalam waktu dua pekan saja selesailah sudah ratusan buah perahu yang akan menyeberangkan pasukan itu ke Nusabarung. Pasukan itu telah membawa selain perlengkapan pembuatan perahu, juga tukang-tukang perahu yang ahli melayarkan perahu-perahu itu menyeberang lautan.

Akan tetapi pelayaran menuju Nusabarung itu tidak mudah karena di tengah Lautan mereka dihadang banyak perahu dari para prajurit Nusabarung sehingga terjadi pertempuran di tengah lautan. Perang anak panah terjadi dan setelah perahu-perahu saling mendekat, terjadilah perang campuh di atas perahu. Ahli-ahli berlayar dari Panjalu dan Jenggala mengemudikan perahu dengan sibuk dan hati-hati ketika perahu-perahu itu bertabrakan dan di atas perahu terjadi pertempuran seru. Karena jumlah prajurit kalah banyak, dan kalah dalam hal ketangkasan bertempur, pasukan Nusabarung mundur dan melarikan diri dengan sisa perahu-perahu mereka ke pulau, lalu membentuk barisan di pantai pulau itu menanti datangnya perahu-perahu musuh. Setelah pasukan Panjalu dan Jenggala mendarat, terjadilah pertempuran di darat, di pantai pulau Nusabarung. Dalam pertempuran itu, Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto melihat betapa di bagian kiri para prajurit mereka menjadi kacau dan banyak yang berpelantingan, tidak kuat menghadapi amukan lima orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan mereka ini mengamuk dengan golok mereka. Bahkan dua orang senopati dari Jenggaia yang menjaga bagian itu kabarnya sudah roboh pula. Mendengar ini, Endang Patibroto lalu meloncat dan berlari ke bagian itu, diikuti oleh suaminya. Adapun Bagus Seta dan Retna Wilis hanya menonton dari tempat tinggi, tidak mencampuri perang itu. Akan tetapi kalau ada prajurit musuh yang datang menyerbu, mereka hanya merobohkan mereka dengan tamparan dan tendangan yang cukup mengusir mereka menjauh dengan gentar dan tidak membunuh mereka. Ketika Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono tiba di tempat pertempuran bagian sayap kiri itu, tampaklah oleh mereka lima orang senopati tinggi besar. Mereka itu bukan lain adalah Senopati Wisokolo, Senopati Wisangnogo, Senopati Krendomolo, Senopati Damarpati, dan Senopati Surodiro, lima orang senopati jagoan dari Nusabarung yang terkenal digdaya.
Sepak terjang lima orang senopati jagoan Nusabarung ini sudah hebat, merobohkan banyak perajurit Panjalu, akan tetapi di bagian lain, ada lagi seorang kakek yang mengamuk lebih hebat lagi. Dia seorang kakek berusia enampuluhan tahun, berpakaian serba kuning, rambutnya gimbal akan tetapi dihias tusuk sanggul terbuat dari emas permata, matanya lebar hidungnya pesek dan mulutnya selalu menyeringai. Hebatnya, bukan saja tangan kakinya yang mengamuk dengan tongkat ularnya, juga mulutnya mengeluarkan bentakan-bentakan dan para perajurit yang terkena bentakan itu berpelantingan seperti terdorong tenaga yang dahsyat!

Endang Patibroto marah sekali melihat kakek ini karena ia mengenalnya sebagai Wasi Surengpati. Kalau dahulu Wasi Surengpati berpakaian butut, kini biarpun pakaiannya masih dekil namun dia memakai banyak perhiasan yang mewah! Hal ini karena dia sekarang telah menjadi penasihat Nusabarung.
"Kakangmas, hajarlah lima senopati dari Nusabarung itu, aku akan menghadapi kakek itu!" kata Endang Patibroto kepada suaminya,
"Hati-hati diajeng. Kakek itu kelihatan sakti, biar aku saja yang menghadapinya!" kata Tejolaksono khawatir.
"Jangan Khawatir, kakangmas. Aku pernah melawannya dan aku mampu mengatasinya. Lima orang senopati itupun digdaya, harap kakangmas waspada," kata Endang Pati broto yang segera berlari menghampiri tempat di mana Wasi Surengpati mengamuk.
"Wasi Surengpati, sekali ini engkau tidak akan terlepas dari tanganku!" bentak Endang Patibroto, sambil melompat dan tiba di depan kakek yang sedang mengamuk itu.
Melihat tiba-tiba muncul wanita yang ditakuti itu, wajah Wasi Surengpati menjadi pucat lalu merah sekali karena dia sudah menjadi marah. Untuk melarikan diri sudah tidak sempat lagi, maka diapun membentak.
"Endang Patibroto, engkaulah yang akan mampus di tanganku!" Dan diapun segera menerjang sambil mengeluarkan pekik yang dapat menggetarkan jantung lawan.
Akan tetapi, Endang Patibroto sudah mengerahkan kekuatan batinnya dan ia mengelak dari sambaran tongkat ular, lalu mencabut kerisnya dan membalas dengan serangan kerisnya yang berada di tangan kanannya. Tusukan itu cepat dan kuat sekali. Wasi Surengpati terkejut dan mengelak sambil memukulkan tongkatnya untuk menangkis. Endang Patibroto menarik kembali kerisnya dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke depan dengan aji pukulan Pethit Nogo yang amat ampuh.
"Wuuuuuuttt........ desss!!" Wasi Surengpati sudah mencoba untuk menangkis pukulan itu, akan tetapi tangkisannya terpental dan dadanya terkena sambaran pukulan yang amat ampuh itu sehingga dia terjengkang dan terbanting ke atas tanah. Dia cepat melompat bangun, akan tetapi Endang Patibroto yang menggunakan gerakan dengan ilmu Bayutantra, membuat tubuhnya dapat mengejar dengan cepat dan sebuah pukulan dengan Aji Gelap Musti menyambar ke arah kepala Wasi Surengpati. Sang wasi cepat miringkan kepala untuk mengelak dan pukulan itu mengenai pundaknya.

Namun, hebat sekali pukulan Aji Gelap Musti itu. Tubuh Wasi Surengpati terpelanting keras dan bergulingan, tiba di dekat para prajurit Panjalu. Para prajurit yang melihat musuh yang sakti ini bergulingan di dekat kaki mereka, segera menghujamkan senjata mereka. Sang wasi yang sudah terkena pukulan dua kali dengan hebatnya, tidak lagi mampu mengerahkan ilmu kekebalannya dan tubuhnya hancur lebur di bawah hujan senjata para prajurit itu. Tewaslah dia dalam keadaan tubuh hancur. Sementara itu, Tejolaksono menerjang lima orang senopati yang segera terdesak ke belakang. Amukan Tejolaksono dengan aji Bajra Dahono amatlah dahsyatnya. Kedua tangannya seolah mengeluarkan api panas dan lima orang ini terhuyung ke belakang. Dengan gerakan Bayu Sakti, Tejolaksono dapat bergerak secepat angin dan selagi lima orang itu belum pulih keadaan mereka, Tejolaksono sudah menerjang dengan amukan Aji Dirodometo. Seperti seekor gajah mengamuk kaki tangannya bergerak dan lima orang itu satu demi satu berpelantingan dan segera dikeroyok oleh para prajurit Panjalu. Lima orang senopati itupun tewas semua di bawah hujan senjata. Setelah lima orang senopati dan Wasi Surengpati tewas, para perajurit Nusabarung yang kehilangan pimpinan menjadi kacau balau dan kalang kabut, tunjang palang melari kan diri ke tengah pulau! Mereka bergabung dengan pasukan yang berjaga di luar kadipaten. Terjadi lagi pertempuran hebat, akan tetapi karena kalah dalam jumlah dan kekuatan, apalagi mereka tidak lagi mempunyai pimpinan yang tangguh, pasukan Nusabarung tidak kuat menahan serangan para prajurit Panjalu dan Jenggala dan akhirnya para prajurit dapat membobolkan gapura Nusabarung dan dipimpin oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto, pasukan pengawal memasuki kadipaten!
Di tengah ruangan kadipaten mereka mendapatkan Adipati Martimpang berikut tujuh orang puterinya dan semua isteri dan selirnya berkumpul. Sang Adipati sudah kehilangan kewibawaannya dan menundukkan mukanya ketika Tejolaksono memasuki ruangan itu bersama Endang Patibroto dan kedua orang putera puteri mereka mengikuti dari belakang. Dyah Candramanik, puteri sulung sang Adipati Martimpang ketika melihat Retna Wilis ikut masuk ke ruangan itu, memandang dengan mata berapi. Dara jelita ini masih merasa sakit hati karena dulu pernah ditipu oleh Retna Wilis yang menyamar sebagai Joko Wilis sehingga ia jatuh cinta kepada "pemuda" itu.
"Adipati Martimpang, pasukanmu sudah hancur, apakah sekarang andika sudah menakluk kepada Kerajaan Jenggala?" tanya Ki Patih Tejolaksono dengan tegas namun cukup hormat.
Adipati Martimpang mengangkat muka, bertemu pandang dengan Tejolaksono dan menarik napas panjang.
"Kami sudah kalah, terserah apa yang akan andika lakukan, Ki Patih."
"Untuk sementara, andika sekeluarga menjadi tawanan di sini dan kadipaten Nusabarung akan diawasi oleh para wakil dari Jenggala. Setelah kami nanti kembali ke kerajaan Panjalu dan Jenggala, andika sekeluarga akan menjadi tawanan dan kami bawa ke Jenggala."
Adipati Martimpang yang sudah merasa kalah hanya mengangguk dan dia bersama keluarganya lalu digiring ke pedalaman kadipaten dan ditawan dalam kamar masing masing dan dijaga oleh para prajurit Jenggala.

Ki Patih Tejolaksono lalu memanggil semua perwira Jenggala dan memerintahkan kepada mereka dan sisa duaribu pasukan mereka untuk menguasai dan menjaga Nusabarung. Dia sendiri bersama pasukan Panjalu yang tadinya sebanyak selaksa orang akan melanjutkan ekspidisinya ke Blambangan. Hanya tiga hari pasukan itu dibiarkan beristirahat di Nusabarung dan pada hari ke empat pasukan itu menyeberang ke daratan lalu melanjutkan perjalanan menuju ke barat, ke Blambangan. Belum lama mereka bergerak, dari depan menghadang pasukan yang berjumlah lebih kurang limaratus orang. Pasukan ini dipimpin oleh Sang Adipati Kertajaya, yaitu adipati dari Pasisiran, bersama puteranya, Jarot. Ternyata pasukan ini siap membantu gerakan pasukan dari Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Ki Patih Tejolaksono menerima mereka dengan senang hati, bahkan menganjurkan agar Jarot saja yang memimpin limaratus pasukan dari Pasisiran itu untuk membantu sedangkan Adipati Kertajaya menjaga ketenteraman di Pasisiran.
"Tidak baik kalau andika sekalian ikut pergi karena kadipaten Pasisiran akan menjadi kosong dari pimpinan," kata pula Endang Patibroto.
"Kami rasa anakmas Jarot sudah cukup untuk membantu kami."
Adipati Kertajaya akhirnya menurut dan membiarkan puteranya seorang diri yang memimpin limaratus orang pasukan Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Pasukan itu melanjutkan perjalanan mereka dan kembali di tengah perjalanan mereka dihadang dua pasukan yang terdiri dari masing-masing seratus orang. Mereka itu bukan lain adalah Ki Haryosakti dan Bajramusti, dua orang sakti yang menjadi pimpinan Jambuko Cemeng dan ketua Bala Cucut, dua orang yang pernah ditalukkan oleh Retna Wilis dan Bagus Seta dan kepada dua orang kakak beradik ini mereka sudah berjanji untuk kelak membantu Panjalu.

<<< Bagian 65                                                                                          Bagian 67 >>>

No comments:

Post a Comment