Sepasang Garuda Putih ; Bagian 67


Setelah mendengar bahwa pasukan Panjalu dan Jenggala sudah mengadakan ekspidisi ke timur dan sudah menaklukkan Nusabarung, kini sedang menuju ke Blambangan. Mereka lalu membawa anak buah masing-masing dan menghadang di tengah perjalanan. Retna Wilis lalu memperkenalkan mereka kepada ayah ibunya.
"Paman ini adalah Ki Haryosakti, ketua dari Jambuko Cemeng yang sudah berjanji kepada kakangmas Bagus Seta dan aku untuk membantu Panjalu. Dan yang ini adalah paman Bajramusti, ketua Bala Cucut yang juga berjanji membantu pasukan Panjalu," demikian Retno Wilis melaporkan kepada ayahnya.

Tejolaksono mengangguk senang dan menerima mereka dengan baik, menempatkan mereka di tengah pasukannya. Hal ini menunjukkan bahwa Ki Patih Tejolaksono adalah seorang panglima yang berpengalaman. Biarpun sudah diperkenalkan oleh puterinya, namun dia tidak kekurangan kewaspadaan dan menempatkan dua kepala gerombolan itu di tengah-tengah pasukannya sehingga mereka tidak akan dapat berkhianat kalau terjadi perang melawan pasukan Blambangan. Kalau ditaruh di depan, mereka akan dapat berbalik membantu Blambangan dan kalau ditempatkan di belakang, mereka juga dapat membokong dan menyerang dari belakang untuk membantu Blambangan. Akan tetapi kalau mereka ditaruh di tengah mereka tidak berdaya dan mau tidak mau harus membantu pasukan Panjalu!
Tentu saja pihak Blambangan sudah mendengar akan jatuhnya Nusabarung ke tangan pasukan dari Panjalu dan Jenggala, bahkan pasukan yang mereka perbantukan ke Nusabarung juga sudah melarikan diri pulang, meninggalkan kawan-kawan yang gugur, akan tetapi membawa pula banyak pasukan yang melarikan diri. Kini mereka bergabung dengan pasukan Blambangan dan melakukan penjagaan di perbatasan Blambangan, dipimpin sendiri oleh Senopati Kurdolangit dan senopati Rajah Beling, dibantu para senopati lainnya termasuk Raden Kalinggo, putera Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan brewokan itu. Raden Kalinggo ini dulu pernah ikut sayembara untuk memperebutkan Dyah Candramanik puteri Adipati Martimpang dari Nusabarung, namun dia dikalahkan oleh Joko Wilis. Jumlah pasukan Blambangan ditambah sisa pasukan Nusabarung tidak kurang dari delapan ribu orang. Begitu pasukan Panjalu muncul, mereka segera diserbu oleh pasukan Blambangan yang masih segar, berbeda dengan keadaan pasukan Panjalu yang baru tiba dari perjalanan yang cukup melelahkan. Namun, pasukan Panjalu melawan dengan gigih. Amukan Senopati Kurdolangit segera di bendung dan dihadapi oleh Ki Bajramusti ketua Bala Cucut yang diperintahkan Ki Patih Tejolaksono untuk maju. Hal ini dinasihatkan oleh Retna Wilis yang sudah maklum akan kesaktian ketua Bala Cucut ini. Adapun amukan Rajah Beling dihadapi oleh Ki Haryosakti yang juga maju atas anjuran Retna Wilis. Ketika Raden Kalinggo maju, maka yang menghadapinya adalah Jarot!

Terjadilah perang pupuh yang amat seru. Tepat sekali perhitungan Retna Wilis yang mengajukan jago-jagonya. Senopati Kurdolangit memang sakti. Senopati yang tinggi kurus ini memainkan pedangnya dengan tangkas dan kuat. Namun yang menandingi adalah Ki Bajramusti yang memegang golok besar. Selain ilmu silat yang tangguh, juga Ki Bajramusti memiliki kekuatan sihir yang cukup hebat. Setelah bertempur dengan serunya, Ki Bajramusti berulang kali mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, dan pekik ini yang mengguncangkan jantung Senopati Kurdolangit dan membuat permainan pedangnya menjadi kacau. Pada saat dia terlengah, golok besar di tangan Ki Bajramusti menyambar dan mengenai pahanya, membuat tubuh Senopati Kurdolangit terpelanting roboh. Golok besar di tangan Ki Bajramusti menyambar ganas dan putuslah leher Senopati Kurdolangit, disambut sorak sorai para prajurit atau anak buah Bala Cucut yang mendukung ketua mereka. Senopati Rajah Beling mendengar sorak sorai itu dan segera dia mengetahui bahwa rekannya, Senopati Kurdolangit telah roboh dan tewas. Hal ini tentu saja membuat hatinya menjadi gentar. Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya kecuali mengamuk dengan tombak cagaknya. Lawannya, Ki Haryosakti juga bersenjata tombak sehingga ramailah pertandingan di antara mereka. Akan tetapi setelah Senopati Rajah Beling mendengar akan tewasnya Senopati Kurdolangit, hatinya yang gentar membuat permainan tombaknya menjadi kacau.
"Haiiittt.......!" Dia mencoba untuk mengeluarkan gertakan dan tombak cagaknya menyambar ke arah perut Ki Haryosakti.
"Tranggg .......!"
Tombak Ki Haryosakti menangkis, akan tetapi ujung tombak itu terjepit di antara cagak tombak di tangan Senopati Rajahbeling. Mereka bersitegang mengadu kekuatan karena tombak mereka sudah saling jepit. Dan dalam adu tenaga ini Senopati Rajahbeling masih kalah setingkat. Tombak Ki Haryosakti mendorong maju dan tanpa dapat dielakkan lagi oleh lawan, tombaknya menusuk ke arah dada lawan.
"Creppp ...... auhhh......!" Tubuh Senopati Rajahbeling terjengkang dan dia tewas seketika karena jantungnya tertembus ujung tombak Ki Haryosakti.
Kalinggo yang bertanding dekat ayahnya melihat robohnya ayahnya. Dia menjadi kaget, sedih dan marah besar. Akan tetapi lawannya adalah Jarot, seorang pemuda sakti murid Bhagawan Dewondaru. Sejak tadi mereka berkelahi dengan tangan kosong dan dia sudah terdesak terus. Sekarang, melihat ayahnya roboh dia menjadi nekat dan mencabut sebatang keris yang besar dan berwarna keemasan. Dengan keris di tangan dia menubruk dan menyerang ke arah dada Jarot. Pemuda Pasisiran ini mengelak cepat dan keris itu meluncur di sampingnya. Cepat dia membalik dan mengetuk lengan kanan Raden Kalinggo dengan tepi tangannya yang miring.
"Dukk..... !" Akan tetapi Raden Kalinggo hanya meringis kesakitan. Kerisnya tidak terlepas dari pegangannya. Memang pemuda ini memiliki kekebalan dan kekuatan yang cukup hebat. Dia bahkan mengamuk semakin hebat dan menghujani Jarot dengan serangan kerisnya secara bertubi-tubi. Jarot mengelak ke sana sini dan merasa bahwa kalau dilanjutkan, mungkin dia akan kewalahan karena lawannya sudah mengamuk membabi buti. Maka diapun lalu menghunus kerisnya dan tampak sinar hitam berkelebat. Itulah keris pusaka Nogo lreng yang berwarna hitam.
"Trangg ......!" Ketika keris keemasan ditangan Raden Kalinggo menusuk lagi ke arah perut Jarot, pemuda ini dengan trengginas menangkis dari samping sehingga keris Kalinggo menyimpang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Jarot untuk memukulkan tangan kirinya ke depan, tepat mengenai dada Kalinggo.
"Bukk!" Kalinggo terhuyung ke belakang, tangan kirinya menekan dadanya yang terasa nyeri dan napasnya terengah.

Akan tetapi pukulan ini membuatnya semakin marah dan tanpa memperdulikan rasa nyeri di dadanya yang membuat napasnya sesak, dia menerjang dengan nekat, menggunakan kerisnya menusuk dada lawan dan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Jarot! Penyerangan ini sungguh nekat tanpa memperdulikan pertahanannya sendiri yang terbuka. Jarot menghindar ke kiri dengan cepat dan keris di tangan kanannya menyambar ke samping.
"Crott!" Keris itu menusuk lambung dan Jarot cepat mencabutnya kembali sambil melompat ke belakang agar jangan sampai terpercik darah yang menyembur keluar dari lambung Kalinggo.
Kalinggo berteriak keras dan tubuhnya terguling roboh. Kerisnya terlepas dari pegangannya dan dengan kedua tangan dia mendekap luka di lambungnya yang mengucurkan darah. Akan tetapi tidak lama dia menegang dan menghembuskan napas terakhir, tewas dalam kubangan yang dibuat darahnya sendiri.

Tejolaksono dan Endang Patibroto dikeroyok oleh para senopati lainnya. Akan tetapi suami isteri ini mengamuk seperti banteng terluka. Siapa saja yang berani menghadangnya tentu roboh terpelanting oleh tamparan atau tendangan mereka. Keduanya tidak menggunakan senjata, hanya dengan tangan kosong saja mereka merobohkan puluhan perajurit yang berani mengeroyok mereka. Amukan suami isteri ini menggetarkan semua perajurit Blambangan, akan tetapi menambah semangat para perajurit Panjalu. Juga kemenangan yang diperoleh Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti membuat anak buah mereka menjadi bersemangat sekali. Mereka semua mengamuk, membuat pasukan Blambangan menjadi kocar kacir dan terdesak mundur terus sampai di pintu gapura Blambangan di mana sudah siap menjaga sebagian dari pasukan Blambangan yang diperkuat dan dipimpin Wasi Karangwolo, Adipati Menak Sampar sendiri, dibantu Wasi Shiwamurti, Ki Shiwananda, dan Ni De wi Durgomala dan beberapa orang senopati, juga belasan orang perwira Blambangan. Agaknya sekali ini Adipati Menak Sampar mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempertahankan Blambangan!
Tak dapat dicegah lagi terjadilah pertempuran hebat, perang campuh yang gegap gempita. Para pemimpin kedua pihak juga segera saling berhadapan dan Retna Wilis sudah membisikan siasatnya untuk menghadapi para wasi sakti itu. Bagus Seto segera menghadang Wasi Shiwamurti yang menjadi musuh lamanya. Retna Wilis menghadapi Ki Shiwananda. Endang Patibroto menghadapi Ni Dewi Durgomala. Adapun Wasi Karangwolo dihadapi Jarot yang dibantu oleh Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti, sedangkan Adipati Menak Sampar sendiri yang juga sakti dihadapi Ki Patih Tejolaksono!
Terjadilah perang tanding yang luar biasa serunya! Wasi Shiwamurti yang maklum bahwa lawannya yang masih muda itu memiliki aji kesaktian yang amat hebat, menjauhkan diri dari yang lain dan mengajak lawannya untuk bertanding di atas sebuah bukit, agak menjauh dari perang campuh itu. Bagus Seta mengikuti ke mana Sang Wasi itu pergi dan mereka kini berhadapan di atas lereng bukit itu.
"Bagus Seta, andika ini orang muda tidak pandai menghormati orang yang lebih tua, bahkan berani menentang aku yang datang dari negara jauh. Beginikah sikap satria di Nusa Jawa, satria dari Panjalu? Apakah gurumu mengajarkanmu untuk tidak pandai menghormati orang yang lebih tua darimu?"
"Paman Wasi Shiwamurti, penghormatan seseorang terhadap orang lain bukan ditinjau dari segi usianya, melainkan dari sikap dan perbuatannya. Paman wasi dating dari jauh, sepantasnya dihormati. Akan tetapi melihat bagaimana paman bersikap dan berbuat di sini, selain membantu pihak pemberontak Blambangan juga menyebar luaskan agama sesat untuk melemahkan rakyat dengan cara paksa dan kekerasan, bagaimana paman menuntut penghormatan? Sebaiknya kalau paman pulang saja ke Cola dan jangan menimbulkan kekacauan di sini."
"Babo-babo, Bagus Seto. Jauh-jauh kami diperintahkan raja kami untuk membantu Blambangan dan mengadakan kontak dengan Bali Dwipa, menyebar agama kami untuk membahagiakan rakyat. Bagaimana andika berani mengatakan bahwa kami menyebar agama untuk mengacaukan rakyat. Buktinya, para pengikut kami mendapatkan kebahagiaan dan mereka merasa senang menjadi anggauta kami!"
"Kesenangan yang sesat, pengumbaran nafsu yang semena-mena dan yang menyeret jiwa ke dalam kegelapan. Wasi Shiwa-murti, andika yang sudah mempelajari berbagai Weda, masih berpura-pura tidak melihat hal ini? Mustahil kalau andika tidak mengetahui bahwa agama yang andika ajarkan itu sesat dan keji!"
"Bagus Seto, jangan dikira bahwa aku takut kepadamu! Sambutlah ini!" Wasi Shiwamurti mengangkat tongkat kepala naga ke atas menggerak-gerakkan ke arah langit dan seketika langit menjadi gelap tertutup mendung dan awan mendung itu menyambar turun ke arah Bagus Seta seolah hendak menelan pemuda itu!

Bagus Seta yang melihat ini, dengan tenang mengeluarkan setangkai bunga cempaka putih dari rambut kepalanya dan mengangkat setangkai bunga itu ke atas kepalanya, lalu melontarkannya ke arah gumpalan awan hitam yang menyerang ke arahnya.
"Byarrr......!" Tampak sinar terang dan awan gelap itu ambyar dan lenyap. Bunga cempaka putih sudah turun kembali ke tangan Bagus Seta yang menyimpannya kembali ke rambut kepalanya.
Melihat serangannya dapat dipunahkan pemuda itu, Wasi Shiwamurti menjadi marah sekali. Tongkat kepala naga itu didorongkan ke arah sebuah batu sebesar kerbau.
"Sambutlah batu ini!" bentaknya dan ketika dia mengerahkan tenaganya, batu sebesar kerbau itu melayang ke arah Bagus Seta dengan cepatnya. Bagus Seta melolos ikat kepalanya dan menyambut batu besar itu dengan kebutan kain pengikat kepala.
"Darrr .....!!" Batu besar itu begitu kena dikebut kain putih pengikat kepala, menjadi hancur berantakan dan pecahannya terlempar ke kanan kiri. Wasi Shiwamurti terkejut akan tetapi belum mau mengaku kalah. Dia sudah menerjang dengan tongkat kepala naga itu, menyerang dengan dahsyat. Tongkatnya menyambar-nyambar, mengeluarkan angin bersiutan sehingga menggerakkan daun-daun pohon disekitarnya, bahkan membuat pakaian putih Bagus Seta berkibar-kibar. Namun pemuda itu sama sekali tidak merasa gentar. Tubuhnya bagaikan berubah menjadi bayangan atau awan, diserang bagaimanapun oleh tongkat kepala naga itu tidak pernah dapat tersentuh, seolah sebelum hantaman tiba, angin pukulan tongkat itu telah membuat tubuhnya mengelak. Diapun membalas dengan kebutan kain putih pengikat kepalanya, namun Wasi Shiwamurti juga amat tangkas dan tubuhnya kebal sehingga serangan balasan Bagus Seta juga tidak mengenai sasaran, atau kalau hanya mengenai pundak atau bagian tubuh yang tidak berbahaya, kebutan itu meleset dan tidak melukai lawan. Adu kesaktian yang terjadi di bukit, jauh dari perang campuh itu berlangsung amat dahsyatnya.

<<< Bagian 66                                                                                         Bagian 68 >>>

No comments:

Post a Comment