Setelah mendengar bahwa pasukan Panjalu dan Jenggala sudah mengadakan ekspidisi ke timur dan sudah menaklukkan Nusabarung, kini sedang menuju ke Blambangan. Mereka lalu membawa anak buah masing-masing dan menghadang di tengah perjalanan. Retna Wilis lalu memperkenalkan mereka kepada ayah ibunya.
"Paman
ini adalah Ki Haryosakti, ketua dari Jambuko Cemeng yang sudah berjanji kepada
kakangmas Bagus Seta dan aku untuk membantu Panjalu. Dan yang ini adalah paman
Bajramusti, ketua Bala Cucut yang juga berjanji membantu pasukan Panjalu,"
demikian Retno Wilis melaporkan kepada ayahnya.
Tejolaksono
mengangguk senang dan menerima mereka dengan baik, menempatkan mereka di tengah
pasukannya. Hal ini menunjukkan bahwa Ki Patih Tejolaksono adalah seorang
panglima yang berpengalaman. Biarpun sudah diperkenalkan oleh puterinya, namun
dia tidak kekurangan kewaspadaan dan menempatkan dua kepala gerombolan itu di
tengah-tengah pasukannya sehingga mereka tidak akan dapat berkhianat kalau
terjadi perang melawan pasukan Blambangan. Kalau ditaruh di depan, mereka akan
dapat berbalik membantu Blambangan dan kalau ditempatkan di belakang, mereka
juga dapat membokong dan menyerang dari belakang untuk membantu Blambangan.
Akan tetapi kalau mereka ditaruh di tengah mereka tidak berdaya dan mau tidak
mau harus membantu pasukan Panjalu!
Tentu saja
pihak Blambangan sudah mendengar akan jatuhnya Nusabarung ke tangan pasukan
dari Panjalu dan Jenggala, bahkan pasukan yang mereka perbantukan ke Nusabarung
juga sudah melarikan diri pulang, meninggalkan kawan-kawan yang gugur, akan
tetapi membawa pula banyak pasukan yang melarikan diri. Kini mereka bergabung
dengan pasukan Blambangan dan melakukan penjagaan di perbatasan Blambangan,
dipimpin sendiri oleh Senopati Kurdolangit dan senopati Rajah Beling, dibantu
para senopati lainnya termasuk Raden Kalinggo, putera Senopati Rajah Beling
yang tinggi besar dan brewokan itu. Raden Kalinggo ini dulu pernah ikut
sayembara untuk memperebutkan Dyah Candramanik puteri Adipati Martimpang dari
Nusabarung, namun dia dikalahkan oleh Joko Wilis. Jumlah pasukan Blambangan
ditambah sisa pasukan Nusabarung tidak kurang dari delapan ribu orang. Begitu
pasukan Panjalu muncul, mereka segera diserbu oleh pasukan Blambangan yang
masih segar, berbeda dengan keadaan pasukan Panjalu yang baru tiba dari
perjalanan yang cukup melelahkan. Namun, pasukan Panjalu melawan dengan gigih.
Amukan Senopati Kurdolangit segera di bendung dan dihadapi oleh Ki Bajramusti
ketua Bala Cucut yang diperintahkan Ki Patih Tejolaksono untuk maju. Hal ini
dinasihatkan oleh Retna Wilis yang sudah maklum akan kesaktian ketua Bala Cucut
ini. Adapun amukan Rajah Beling dihadapi oleh Ki Haryosakti yang juga maju atas
anjuran Retna Wilis. Ketika Raden Kalinggo maju, maka yang menghadapinya adalah
Jarot!
Terjadilah
perang pupuh yang amat seru. Tepat sekali perhitungan Retna Wilis yang
mengajukan jago-jagonya. Senopati Kurdolangit memang sakti. Senopati yang
tinggi kurus ini memainkan pedangnya dengan tangkas dan kuat. Namun yang
menandingi adalah Ki Bajramusti yang memegang golok besar. Selain ilmu silat
yang tangguh, juga Ki Bajramusti memiliki kekuatan sihir yang cukup hebat.
Setelah bertempur dengan serunya, Ki Bajramusti berulang kali mengeluarkan
pekik yang amat dahsyat, dan pekik ini yang mengguncangkan jantung Senopati
Kurdolangit dan membuat permainan pedangnya menjadi kacau. Pada saat dia
terlengah, golok besar di tangan Ki Bajramusti menyambar dan mengenai pahanya,
membuat tubuh Senopati Kurdolangit terpelanting roboh. Golok besar di tangan Ki
Bajramusti menyambar ganas dan putuslah leher Senopati Kurdolangit, disambut
sorak sorai para prajurit atau anak buah Bala Cucut yang mendukung ketua mereka.
Senopati Rajah Beling mendengar sorak sorai itu dan segera dia mengetahui bahwa
rekannya, Senopati Kurdolangit telah roboh dan tewas. Hal ini tentu saja
membuat hatinya menjadi gentar. Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya
kecuali mengamuk dengan tombak cagaknya. Lawannya, Ki Haryosakti juga
bersenjata tombak sehingga ramailah pertandingan di antara mereka. Akan tetapi
setelah Senopati Rajah Beling mendengar akan tewasnya Senopati Kurdolangit,
hatinya yang gentar membuat permainan tombaknya menjadi kacau.
"Haiiittt.......!"
Dia mencoba untuk mengeluarkan gertakan dan tombak cagaknya menyambar ke arah
perut Ki Haryosakti.
"Tranggg
.......!"
Tombak Ki
Haryosakti menangkis, akan tetapi ujung tombak itu terjepit di antara cagak
tombak di tangan Senopati Rajahbeling. Mereka bersitegang mengadu kekuatan
karena tombak mereka sudah saling jepit. Dan dalam adu tenaga ini Senopati
Rajahbeling masih kalah setingkat. Tombak Ki Haryosakti mendorong maju dan
tanpa dapat dielakkan lagi oleh lawan, tombaknya menusuk ke arah dada lawan.
"Creppp
...... auhhh......!" Tubuh Senopati Rajahbeling terjengkang dan dia tewas
seketika karena jantungnya tertembus ujung tombak Ki Haryosakti.
Kalinggo yang
bertanding dekat ayahnya melihat robohnya ayahnya. Dia menjadi kaget, sedih dan
marah besar. Akan tetapi lawannya adalah Jarot, seorang pemuda sakti murid
Bhagawan Dewondaru. Sejak tadi mereka berkelahi dengan tangan kosong dan dia
sudah terdesak terus. Sekarang, melihat ayahnya roboh dia menjadi nekat dan
mencabut sebatang keris yang besar dan berwarna keemasan. Dengan keris di
tangan dia menubruk dan menyerang ke arah dada Jarot. Pemuda Pasisiran ini
mengelak cepat dan keris itu meluncur di sampingnya. Cepat dia membalik dan
mengetuk lengan kanan Raden Kalinggo dengan tepi tangannya yang miring.
"Dukk.....
!" Akan tetapi Raden Kalinggo hanya meringis kesakitan. Kerisnya tidak
terlepas dari pegangannya. Memang pemuda ini memiliki kekebalan dan kekuatan
yang cukup hebat. Dia bahkan mengamuk semakin hebat dan menghujani Jarot dengan
serangan kerisnya secara bertubi-tubi. Jarot mengelak ke sana sini dan merasa
bahwa kalau dilanjutkan, mungkin dia akan kewalahan karena lawannya sudah
mengamuk membabi buti. Maka diapun lalu menghunus kerisnya dan tampak sinar
hitam berkelebat. Itulah keris pusaka Nogo lreng yang berwarna hitam.
"Trangg
......!" Ketika keris keemasan ditangan Raden Kalinggo menusuk lagi ke
arah perut Jarot, pemuda ini dengan trengginas menangkis dari samping sehingga
keris Kalinggo menyimpang. Kesempatan ini dipergunakan oleh Jarot untuk
memukulkan tangan kirinya ke depan, tepat mengenai dada Kalinggo.
"Bukk!"
Kalinggo terhuyung ke belakang, tangan kirinya menekan dadanya yang terasa
nyeri dan napasnya terengah.
Akan tetapi
pukulan ini membuatnya semakin marah dan tanpa memperdulikan rasa nyeri di
dadanya yang membuat napasnya sesak, dia menerjang dengan nekat, menggunakan
kerisnya menusuk dada lawan dan tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Jarot!
Penyerangan ini sungguh nekat tanpa memperdulikan pertahanannya sendiri yang
terbuka. Jarot menghindar ke kiri dengan cepat dan keris di tangan kanannya
menyambar ke samping.
"Crott!"
Keris itu menusuk lambung dan Jarot cepat mencabutnya kembali sambil melompat
ke belakang agar jangan sampai terpercik darah yang menyembur keluar dari
lambung Kalinggo.
Kalinggo
berteriak keras dan tubuhnya terguling roboh. Kerisnya terlepas dari
pegangannya dan dengan kedua tangan dia mendekap luka di lambungnya yang
mengucurkan darah. Akan tetapi tidak lama dia menegang dan menghembuskan napas
terakhir, tewas dalam kubangan yang dibuat darahnya sendiri.
Tejolaksono
dan Endang Patibroto dikeroyok oleh para senopati lainnya. Akan tetapi suami
isteri ini mengamuk seperti banteng terluka. Siapa saja yang berani
menghadangnya tentu roboh terpelanting oleh tamparan atau tendangan mereka.
Keduanya tidak menggunakan senjata, hanya dengan tangan kosong saja mereka
merobohkan puluhan perajurit yang berani mengeroyok mereka. Amukan suami isteri
ini menggetarkan semua perajurit Blambangan, akan tetapi menambah semangat para
perajurit Panjalu. Juga kemenangan yang diperoleh Jarot, Ki Haryosakti dan Ki
Bajramusti membuat anak buah mereka menjadi bersemangat sekali. Mereka semua
mengamuk, membuat pasukan Blambangan menjadi kocar kacir dan terdesak mundur
terus sampai di pintu gapura Blambangan di mana sudah siap menjaga sebagian
dari pasukan Blambangan yang diperkuat dan dipimpin Wasi Karangwolo, Adipati
Menak Sampar sendiri, dibantu Wasi Shiwamurti, Ki Shiwananda, dan Ni De wi
Durgomala dan beberapa orang senopati, juga belasan orang perwira Blambangan.
Agaknya sekali ini Adipati Menak Sampar mengerahkan seluruh tenaganya untuk
mempertahankan Blambangan!
Tak dapat
dicegah lagi terjadilah pertempuran hebat, perang campuh yang gegap gempita.
Para pemimpin kedua pihak juga segera saling berhadapan dan Retna Wilis sudah
membisikan siasatnya untuk menghadapi para wasi sakti itu. Bagus Seto segera
menghadang Wasi Shiwamurti yang menjadi musuh lamanya. Retna Wilis menghadapi
Ki Shiwananda. Endang Patibroto menghadapi Ni Dewi Durgomala. Adapun Wasi
Karangwolo dihadapi Jarot yang dibantu oleh Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti,
sedangkan Adipati Menak Sampar sendiri yang juga sakti dihadapi Ki Patih
Tejolaksono!
Terjadilah
perang tanding yang luar biasa serunya! Wasi Shiwamurti yang maklum bahwa
lawannya yang masih muda itu memiliki aji kesaktian yang amat hebat, menjauhkan
diri dari yang lain dan mengajak lawannya untuk bertanding di atas sebuah
bukit, agak menjauh dari perang campuh itu. Bagus Seta mengikuti ke mana Sang
Wasi itu pergi dan mereka kini berhadapan di atas lereng bukit itu.
"Bagus
Seta, andika ini orang muda tidak pandai menghormati orang yang lebih tua,
bahkan berani menentang aku yang datang dari negara jauh. Beginikah sikap
satria di Nusa Jawa, satria dari Panjalu? Apakah gurumu mengajarkanmu untuk
tidak pandai menghormati orang yang lebih tua darimu?"
"Paman
Wasi Shiwamurti, penghormatan seseorang terhadap orang lain bukan ditinjau dari
segi usianya, melainkan dari sikap dan perbuatannya. Paman wasi dating dari
jauh, sepantasnya dihormati. Akan tetapi melihat bagaimana paman bersikap dan
berbuat di sini, selain membantu pihak pemberontak Blambangan juga menyebar
luaskan agama sesat untuk melemahkan rakyat dengan cara paksa dan kekerasan,
bagaimana paman menuntut penghormatan? Sebaiknya kalau paman pulang saja ke
Cola dan jangan menimbulkan kekacauan di sini."
"Babo-babo,
Bagus Seto. Jauh-jauh kami diperintahkan raja kami untuk membantu Blambangan
dan mengadakan kontak dengan Bali Dwipa, menyebar agama kami untuk
membahagiakan rakyat. Bagaimana andika berani mengatakan bahwa kami menyebar
agama untuk mengacaukan rakyat. Buktinya, para pengikut kami mendapatkan
kebahagiaan dan mereka merasa senang menjadi anggauta kami!"
"Kesenangan
yang sesat, pengumbaran nafsu yang semena-mena dan yang menyeret jiwa ke dalam
kegelapan. Wasi Shiwa-murti, andika yang sudah mempelajari berbagai Weda, masih
berpura-pura tidak melihat hal ini? Mustahil kalau andika tidak mengetahui
bahwa agama yang andika ajarkan itu sesat dan keji!"
"Bagus
Seto, jangan dikira bahwa aku takut kepadamu! Sambutlah ini!" Wasi
Shiwamurti mengangkat tongkat kepala naga ke atas menggerak-gerakkan ke arah
langit dan seketika langit menjadi gelap tertutup mendung dan awan mendung itu
menyambar turun ke arah Bagus Seta seolah hendak menelan pemuda itu!
Bagus Seta
yang melihat ini, dengan tenang mengeluarkan setangkai bunga cempaka putih dari
rambut kepalanya dan mengangkat setangkai bunga itu ke atas kepalanya, lalu
melontarkannya ke arah gumpalan awan hitam yang menyerang ke arahnya.
"Byarrr......!"
Tampak sinar terang dan awan gelap itu ambyar dan lenyap. Bunga cempaka putih
sudah turun kembali ke tangan Bagus Seta yang menyimpannya kembali ke rambut
kepalanya.
Melihat
serangannya dapat dipunahkan pemuda itu, Wasi Shiwamurti menjadi marah sekali.
Tongkat kepala naga itu didorongkan ke arah sebuah batu sebesar kerbau.
"Sambutlah
batu ini!" bentaknya dan ketika dia mengerahkan tenaganya, batu sebesar kerbau
itu melayang ke arah Bagus Seta dengan cepatnya. Bagus Seta melolos ikat
kepalanya dan menyambut batu besar itu dengan kebutan kain pengikat kepala.
"Darrr
.....!!" Batu besar itu begitu kena dikebut kain putih pengikat kepala,
menjadi hancur berantakan dan pecahannya terlempar ke kanan kiri. Wasi
Shiwamurti terkejut akan tetapi belum mau mengaku kalah. Dia sudah menerjang
dengan tongkat kepala naga itu, menyerang dengan dahsyat. Tongkatnya
menyambar-nyambar, mengeluarkan angin bersiutan sehingga menggerakkan daun-daun
pohon disekitarnya, bahkan membuat pakaian putih Bagus Seta berkibar-kibar.
Namun pemuda itu sama sekali tidak merasa gentar. Tubuhnya bagaikan berubah
menjadi bayangan atau awan, diserang bagaimanapun oleh tongkat kepala naga itu
tidak pernah dapat tersentuh, seolah sebelum hantaman tiba, angin pukulan
tongkat itu telah membuat tubuhnya mengelak. Diapun membalas dengan kebutan
kain putih pengikat kepalanya, namun Wasi Shiwamurti juga amat tangkas dan
tubuhnya kebal sehingga serangan balasan Bagus Seta juga tidak mengenai
sasaran, atau kalau hanya mengenai pundak atau bagian tubuh yang tidak
berbahaya, kebutan itu meleset dan tidak melukai lawan. Adu kesaktian yang
terjadi di bukit, jauh dari perang campuh itu berlangsung amat dahsyatnya.
<<< Bagian 66 Bagian 68 >>>
No comments:
Post a Comment