Kalau dilihat dari jauh, yang tampak hanyalah gulungan sinar tongkat kepala naga yang bergelombang dan berlenggang-lenggok seolah-olah seekor naga yang bermain di angkasa, mengejar sesosok bayangan yang bergerak seperti awan. Penglihatan yang menakjubkan! Tiba-tiba tongkat bertemu dengan kebutan kain pengikat kepala yang berwarna putih itu.
"Plakk
....!" Hebat sekali pertemuan antara dua tenaga sakti yang tersalur lewat
dua senjata ampuh itu dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah!
Maklum bahwa
dia tidak akan mampu mengalahkan pemuda itu dengan ilmu sihir atau mengadu
senjata, Wasi Shiwamurti lalu mencoba untuk mengeluarkan senjata pamungkasnya.
Dia menancapkan tongkatnya di atas tanah, lalu menggosok-gosokkan kedua
tangannya sampai tampak asap mengepul di antara kedua telapak tangannya.
Setelah itu, dalam jarak belasan langkah itu dia lalu mendorongkan kedua
telapak tangannya ke arah Bagus Seta. Pemuda ini sudah menduga serangan apa
yang akan dilakukan lawannya. Begitu melihat Wasi Shiwamurti
menancapkan-tongkatnya lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya, dia sudah
menduga bahwa lawan hendak mempergunakan aji pukulan jarak jauh mempergunakan hawa
sakti yang mungkin beracun. Maka diapun sudah menyimpan kain pengikat kepalanya
dan diapun menekuk kedua lututnya, merendahkan tubuhnya dan membuka kedua
tangan lalu menyambut serangan itu dengan dorongan kedua telapak tangannya yang
putih ke arah depan. Dua tenaga sakti yang mujijat itu bertemu di
tengah-tengah. Udara bagaikan tergetar dan terguncang hebat dengan adanya
pertemuan dua hawa sakti yang amat kuat itu.
"Blarrrr.....!"
Tubuh Bagus Seta bergerak-gerak terguncang akan tetapi kuda-kuda kedua kakinya
masih tetap tegak, sedangkan tubuh Wasi Shiwamurti terhuyung ke belakang sampai
beberapa langkah, mukanya berubah pucat dan dari kepalanya mengepul uap putih!
Jelas bahwa dia masih kalah kuat setingkat dibandingkan murid Ki Tunggaljiwo
dan Bhagawan Ekadenta yang sakti ini! Diapun menyadari kekalahannya, maka
dengan suara agak terengah dia berkata.
"Bagus
Seta, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi jagalah andika, tak berapa lama
lagi aku akan mendatangimu di Panjalu mengajak seorang kakak guruku untuk
menantangmu bertanding lagi satu lawan satu untuk menentukan pihak mana yang
lebih unggul!"
Dengan tenang
Bagus Seto menjawab,
"Aku
selalu akan menunggu dan siap untuk menghadapimu, Paman Wasi Shiwamurti. Selama
andika belum menyadari kekeliruanmu, aku akan selalu menentangmu."
“Bagus, tunggu
saja pembalasanku!" Setelah berkata demikian, Wasi Shiwamurti mencabut
tongkat kepala naga dari atas tanah, lalu dia melarikan diri dengan amat
cepatnya ke balik bukit, tidak mau memperdulikan lagi perang campuh yang masih
berlangsung di kaki bukit.
Pertandingan
antara Wasi Karangwolo yang dikeroyok tiga tidak berlangsung lama. Biarpun Wasi
Karangwolo adalah seorang yang sakti mandraguna, pandai pula berilmu sihir dan
kerisnya amat berbahaya menyambar-nyambar, namun dia dikeroyok tiga oleh Jarot,
Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti yang ketiganya juga tidak asing dengan ilmu
sihir. Semua ilmu sihir yang dikeluarkan oleh Wasi Karangwolo dapat dipunahkan
tiga orang itu. Keris Nogo Ireng di tangan Jarot sudah hebat berbahaya, tombak
di tangan Haryosakti juga ganas, terutama sekali golok besar di tangan Ki
Bajramusti. Tiga orang pengeroyok ini membuat Wasi Karangwolo kewalahan dan
terdesak hebat. Akhirnya, sebuah bacokan golok dari Ki Bajramusti menyambar dan
mengenai pundaknya. Wasi Karangwolo berteriak kesakitan dan terhuyung ke
belakang. Dia tidak mampu menangkis atau mengelak lagi ketika tombak di tangan
Ki Haryosakti menusuk dan menembus lambungnya. Ketika tombak dicabut, tubuh
Wasi Karangwolo jatuh nglumpruk (terkulai) dan dia tidak bergerak lagi, tewas
seketika. Tiga orang itu lalu mengamuk, merobohkan banyak prajurit Blambangan
yang berani menghadapi mereka. Amukan tiga orang yang gagah perkasa ini membuat
pasukan Blambangan kocar-kacir.
Sementara itu,
Retna Wilis juga sudah mendesak Ki Shiwananda yang memang sudah merasa jerih
menandingi dara perkasa yang sakti mandraguna ini. Permainan ruyungnya yang
berat itu mulai kacau berhadapan dengan Pedang pusaka Sapudenta di tangan Retna
Wilis. Beberapa kali Ki Shiwananda mencoba untuk mempengaruhi dara ini dengan
sihirnya. Namun Retna Wilis yang pernah menerima gemblengan dari Nini Bumigarbo
tidak miris (gentar) menghadapi semua pengerahan sihir itu dan dapat menolaknya
sehingga kembali mereka harus bertanding mengadu kedigdayaan dan ilmu
kanuragan.
"Tran-cringg......!"
Ruyung bertemu dengan Pedang Sapudenta dengan kerasnya dan karena Retna Wilis
mengerahkan seluruh tenaganya ketika beradu senjata, ruyung itu patah menjadi
dua potong! Wajah Ki Shiwananda menjadi pucat sekali, akan tetapi pada saat itu
Retna Wilis sudah menggerakkan kaki kanannya menendang.
"Bukkkk!"
Keras sekali tendangan itu sehingga tubuh Ki Shiwananda terpental dan dia
terjatuh dekat para prajurit Panjalu yang menonton pertarungan itu. Tak dapat
dicegah lagi, hujan senjata menimpa tubuh Ki Shiwananda yang tidak lagi mampu
mengerahkan kekebalannya karena perutnya yang tertendang tadi merasa nyeri
sekali dan melenyapkan tenaganya. Tubuhnya hancur di bawah hujan bacokan itu.
Retna Wilis hanya menonton dan menahan napas. Berkat bimbingan kakaknya, ia
tidak ingin membunuh lawan, akan tetapi lawannya terjatuh ke tangan para
prajurit yang menghabisi nyawanya. Bagaimanapun juga, Ki Shiwananda maju
berperang maka sudah lumrah kalau dia tewas dalam peperangan. Ia lalu membalikkan
tubuh dan melihat Bagus Seta melangkah menuruni bukit, agaknya sudah
ditinggalkan Wasi Shiwamurti. Dan dilihatnya pula bahwa Jarot, Ki Haryosakti
dan Ki Bajramusti juga sedang mengamuk, agaknya sudah pula menewaskan Wasi
Karangwolo yang tadi mereka keroyok.
Yang masih
bertanding adalah Endang Patibroto melawan Ni Dewi Durgomala dan Ki Patih
Tejolaksono sendiri yang masih bertarung melawan Adipati Menak Sampar yang
masih gigih membuat perlawanan sungguhpun dia terus terdesak mundur. Endang
Patibroto juga mendesak Ni Dewi Durgomala yang kelihatan sudah merasa jerih.
Akan tetapi tempat itu terkepung ratusan prajurit sehingga ia tidak melihat
kesempatan untuk melarikan diri lagi. Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga
dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melawan Endang Patibroto.
Retna Wilis
yang kini sudah berdekatan dengan Bagus Seta, hanya menonton saja dan tidak mau
membantu karena mereka maklum bahwa ayahnya dan ibunya tidak akan kalah.
"Di mana
Wasi Shiwamurti?" tanya Retna Wilis.
"Dia sudah
melarikan diri." jawab Bagus Seta lirih. Biarpun dia tidak bertanya, Retna
Wilis menerangkan.
"Ki
Shiwananda tewas di bawah puluhan senjata para prajurit setelah aku
merobohkannya. Aku tidak sengaja membunuhnya."
Bagus Seta
menyentuh lengan adiknya.
"Engkau
tidak bersalah. Memang sudah tiba saatnya dia tewas dikeroyok banvak senjata.
Agaknya itulah karmanya," kata Bagus Seta seperti hendak menghibur
adiknya.
"Ibu
tentu akan dapat mengalahkan Ni Durgomala," kata Retna Wilis sambil
menuding ke arah Endang Patibroto yang mendesak lawannya dengan hebat.
Bagus Seta
menghela napas panjang.
"Kanjeng
Ibu Endang Patibroto memang seorang wanita yang sakti mandraguna pilih tanding.
Beliau pantas untuk menjadi seorang panglima perang wanita."
"Dan
kanjeng romo juga tidak akan kewalahan menandingi sang Adipati Menak
Sampar," kata pula Retna Wilis sambil memandang kepada ayahnya yang masih
bertanding melawan adipati Blambangan itu.
"Kanjeng
romo jelas tidak akan membunuh sang adipati, melainkan hendak menawannya dan beliau
bertindak benar. Sebaiknya kalau adipati Blambangan ditangkap hidup-hidup untuk
dihadapkan kepada Gusti Prabu di Panjalu, atau Jenggala."
Apa yang
dikatakan Retna Wilis dan kakaknya memang benar adanya. Tak lama kemudian Ni
Dewi Durgomala mengeluarkan suara melengking, mirip tangis bercampur tawa dan
tangan kirinya memukul dengan jari-jari terbuka dan kukunya membentuk cakar.
Dari ke lima jari tangannya itu menyambar sinar menghitam dan hal ini membuat
Retna Wilis terkejut dan mengkhawatirkan ibunya karena ia tahu bahwa yang
dikeluarkan Ni Dewi Durgomala itu adalah ilmu yang keji dan jahat sekali.
Memang Ni Dewi Durgomala telah mengeluarkan aji pamungkasnya. Aji ini kalau
dikerahkan, dapat membunuh lawan dalam jarak jauh, karena angin yang menyambar dari
pukulan itu membawa hawa beracun yang amat jahat. Namun Endang Patibroto juga
sudah waspada dan maklum bahwa lawan mengajak mengadu nyawa dengan mengerahkan
semua aji pamungkas yang dimilikinya. Maka iapun menyambut dengan Aji
Gelapmusti yang digabung dengan Aji Pethit Nogo. Tangan kanannya menyambut
pukulan jarak jauh Ni Dewi Durgomala itu dengan aji Gelap Musti, sedangkan
tangan kirinya membalas dengan hantaman Aji Pethit Nogo.
"Bresssss
... auugghhh ....!" Tubuh Ni Dewi Durgomala terlempar sampai lima meter
jauhnya dan ia terbanting roboh muntah darah dan tewas seketika. Akan tetapi
Endang Patibroto juga terhuyung dan mukanya menjadi pucat sekali.
Bagus Seta
cepat menghampiri Endang Patibroto dan mengambil bunga cempaka putih dari
rambut kepalanya. Dengan bunga cempaka di tangan, dia mendekati ibunya dan
mendekatkan bunga itu di depan hidung Endang Patibroto.
"Sedotlah,
kanjeng ibu. Hawa beracun itu akan tersapu bersih." Endang Patibroto
menurut. Ia menyedot aroma bunga itu dengan hidungnya dan seketika napasnya
terasa lega dan sesaknya menghilang.
Mereka lalu
memandang ke arah Ki Patih Tejolaksono yang masih bertanding melawan Adipati
Menak Sampar. Tejolaksono bertangan kosong dan Adipati Menak Sampar menggunakan
sebatang keris yang besar dan panjang.
"Mampuslah
engkau, Tejolaksono!" bentaknya dan untuk kesekian kalinya keris itu
meluncur dan menusuk ke arah dada Tejolaksono. Ki Patih Panjalu ini miringkan
tubuhnya. Keris menancap di bawah lengannya, lalu dikempitnya dan tangannya
menebak ke arah dada lawan. Tubuh Menak Sampar terjengkang dan keris itu
terlepas dari tangannya. Tejolaksono membuang keris itu dan melangkah maju.
"Menyerahlah,
Adipati Menak Sampar!" katanya tegas.
Akan tetapi
Adipati Menak Sampar mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau terluka
dan dia sudah menubruk maju seperti seekor biruang menerkam mangsanya. Kedua
lengan yang besar dan panjang itu menerkam dari kanan kiri untuk meringkus
tubuh Ki Patih Tejolaksono yang terbilang kecil kalau dibandingkan dengan
tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa. Namun Ki Patih Tejolaksono bergerak
cepat dan sudah mengelak, kemudian dari samping dia menampar dengan Aji Bajra
Dahono, mengenai pundak Sang Adipati.
"Plakkk
..... aduuuhhh ...!" Terkena pukulan Aji Bajra Dahono, tubuh Sang Adipati
terkulai dan mendesah kepanasan, Tejolaksono lalu meringkusnya dan tanpa
diperintah Jarot lalu maju membawa tali dan mengikat kedua pergelangan tangan
Adipati Menak Sampar sehingga dia tidak mampu berkutik lagi. Setelah melihat
para pimpinan sudah dikalahkan semua para pasukan Blambangan menjadi kecut
hatinya dan semangat perlawanan merekapun membuyar. Pada saat itu Ki Patih
Tejolaksono berseru nyaring.
“Adipati Menak
Sampar telah menyerah! Kalian yang melawan akan dibunuh yang menyerah akan
diampuni!"
Mendengarr
bentakan yang amat nyaring itu, sebagian besar pasukan Blambangan lalu membuang
senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut, menyerah! Ki Patih Tejolaksono
lalu menggiring Adipati Menak Sampar memasuki kadipaten yang sudah dikuasai
oleh para perwira Panjalu dan para prajurit pengawal. Di tengah ruangan itu
telah berkumpul keluarga Sang Adipati, lengkap dengan semua isteri dan
selirnya. Juga hadir Dyah Ayu Kerti, puteri Sang Adipati yang cantik jelita.
Melihat puteri ini, hati Jarot berdebar dan dia memandang penuh pesona, akan
tetapi karena hatinya telah terlebih dulu terpikat kepada Retna Wilis, maka
diapun menghilangkan perasaannya yang hanyut oleh kejelitaan puteri Adipati
Menak Sampar itu.
"Bagaimana,
Sang Adipati Menak Sampar? Apakah andika sudah takluk sekarang?" tanya Ki
Patih Tejolaksono.
"Hemm,
pasukanku telah hancur, aku telah kalah bertanding. Apa lagi yang dapat
kulakukan selain menyerah? Aku menyerah terhadap kekuasaan kerajaan Jenggala
dan Panjalu."
"Bagus
kalau begitu. Anakmas Jarot, lepaskan ikatan tangan Sang Adipati”, perintah
Tejolaksono dan Jarot segera melaksanakan perintah itu.
Tejolaksono
meninggalkan para perwira pembantu dan lima ribu pasukan Panjalu dan Jenggala
untuk menjaga dan mengatur ketenteraman di Kadipaten Blambangan, kemudian
menggiring Sang Adipati Menak Sampar berikut semua keluarganya menuju ke
Jenggala. Rombongan pasukan yang menang perang ini singgah di Nusabarung untuk
mengambil tawanan Adipati Martimpang dari Nusabarung sekeluarganya untuk juga
dibawa sebagai tawanan ke Jenggala. Ki Patih Tejolaksono singgah di istana
Jenggala, melaporkan tentang kemenangannya dan bahwa kedua orang adipati yang
memberontak itu telah dijadikan tawanan dan dibawa menghadap. Akan tetapi Sang
Prabu di Jenggala menolak dan berkata,
<<< Bagian 67 Bagian 69 >>>
No comments:
Post a Comment