Sepasang Garuda Putih ; Bagian 68


Kalau dilihat dari jauh, yang tampak hanyalah gulungan sinar tongkat kepala naga yang bergelombang dan berlenggang-lenggok seolah-olah seekor naga yang bermain di angkasa, mengejar sesosok bayangan yang bergerak seperti awan. Penglihatan yang menakjubkan! Tiba-tiba tongkat bertemu dengan kebutan kain pengikat kepala yang berwarna putih itu.
"Plakk ....!" Hebat sekali pertemuan antara dua tenaga sakti yang tersalur lewat dua senjata ampuh itu dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah!
Maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan pemuda itu dengan ilmu sihir atau mengadu senjata, Wasi Shiwamurti lalu mencoba untuk mengeluarkan senjata pamungkasnya. Dia menancapkan tongkatnya di atas tanah, lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya sampai tampak asap mengepul di antara kedua telapak tangannya. Setelah itu, dalam jarak belasan langkah itu dia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Bagus Seta. Pemuda ini sudah menduga serangan apa yang akan dilakukan lawannya. Begitu melihat Wasi Shiwamurti menancapkan-tongkatnya lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya, dia sudah menduga bahwa lawan hendak mempergunakan aji pukulan jarak jauh mempergunakan hawa sakti yang mungkin beracun. Maka diapun sudah menyimpan kain pengikat kepalanya dan diapun menekuk kedua lututnya, merendahkan tubuhnya dan membuka kedua tangan lalu menyambut serangan itu dengan dorongan kedua telapak tangannya yang putih ke arah depan. Dua tenaga sakti yang mujijat itu bertemu di tengah-tengah. Udara bagaikan tergetar dan terguncang hebat dengan adanya pertemuan dua hawa sakti yang amat kuat itu.
"Blarrrr.....!" Tubuh Bagus Seta bergerak-gerak terguncang akan tetapi kuda-kuda kedua kakinya masih tetap tegak, sedangkan tubuh Wasi Shiwamurti terhuyung ke belakang sampai beberapa langkah, mukanya berubah pucat dan dari kepalanya mengepul uap putih! Jelas bahwa dia masih kalah kuat setingkat dibandingkan murid Ki Tunggaljiwo dan Bhagawan Ekadenta yang sakti ini! Diapun menyadari kekalahannya, maka dengan suara agak terengah dia berkata.
"Bagus Seta, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi jagalah andika, tak berapa lama lagi aku akan mendatangimu di Panjalu mengajak seorang kakak guruku untuk menantangmu bertanding lagi satu lawan satu untuk menentukan pihak mana yang lebih unggul!"
Dengan tenang Bagus Seto menjawab,
"Aku selalu akan menunggu dan siap untuk menghadapimu, Paman Wasi Shiwamurti. Selama andika belum menyadari kekeliruanmu, aku akan selalu menentangmu."
“Bagus, tunggu saja pembalasanku!" Setelah berkata demikian, Wasi Shiwamurti mencabut tongkat kepala naga dari atas tanah, lalu dia melarikan diri dengan amat cepatnya ke balik bukit, tidak mau memperdulikan lagi perang campuh yang masih berlangsung di kaki bukit.

Pertandingan antara Wasi Karangwolo yang dikeroyok tiga tidak berlangsung lama. Biarpun Wasi Karangwolo adalah seorang yang sakti mandraguna, pandai pula berilmu sihir dan kerisnya amat berbahaya menyambar-nyambar, namun dia dikeroyok tiga oleh Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti yang ketiganya juga tidak asing dengan ilmu sihir. Semua ilmu sihir yang dikeluarkan oleh Wasi Karangwolo dapat dipunahkan tiga orang itu. Keris Nogo Ireng di tangan Jarot sudah hebat berbahaya, tombak di tangan Haryosakti juga ganas, terutama sekali golok besar di tangan Ki Bajramusti. Tiga orang pengeroyok ini membuat Wasi Karangwolo kewalahan dan terdesak hebat. Akhirnya, sebuah bacokan golok dari Ki Bajramusti menyambar dan mengenai pundaknya. Wasi Karangwolo berteriak kesakitan dan terhuyung ke belakang. Dia tidak mampu menangkis atau mengelak lagi ketika tombak di tangan Ki Haryosakti menusuk dan menembus lambungnya. Ketika tombak dicabut, tubuh Wasi Karangwolo jatuh nglumpruk (terkulai) dan dia tidak bergerak lagi, tewas seketika. Tiga orang itu lalu mengamuk, merobohkan banyak prajurit Blambangan yang berani menghadapi mereka. Amukan tiga orang yang gagah perkasa ini membuat pasukan Blambangan kocar-kacir.
Sementara itu, Retna Wilis juga sudah mendesak Ki Shiwananda yang memang sudah merasa jerih menandingi dara perkasa yang sakti mandraguna ini. Permainan ruyungnya yang berat itu mulai kacau berhadapan dengan Pedang pusaka Sapudenta di tangan Retna Wilis. Beberapa kali Ki Shiwananda mencoba untuk mempengaruhi dara ini dengan sihirnya. Namun Retna Wilis yang pernah menerima gemblengan dari Nini Bumigarbo tidak miris (gentar) menghadapi semua pengerahan sihir itu dan dapat menolaknya sehingga kembali mereka harus bertanding mengadu kedigdayaan dan ilmu kanuragan.
"Tran-cringg......!" Ruyung bertemu dengan Pedang Sapudenta dengan kerasnya dan karena Retna Wilis mengerahkan seluruh tenaganya ketika beradu senjata, ruyung itu patah menjadi dua potong! Wajah Ki Shiwananda menjadi pucat sekali, akan tetapi pada saat itu Retna Wilis sudah menggerakkan kaki kanannya menendang.
"Bukkkk!" Keras sekali tendangan itu sehingga tubuh Ki Shiwananda terpental dan dia terjatuh dekat para prajurit Panjalu yang menonton pertarungan itu. Tak dapat dicegah lagi, hujan senjata menimpa tubuh Ki Shiwananda yang tidak lagi mampu mengerahkan kekebalannya karena perutnya yang tertendang tadi merasa nyeri sekali dan melenyapkan tenaganya. Tubuhnya hancur di bawah hujan bacokan itu. Retna Wilis hanya menonton dan menahan napas. Berkat bimbingan kakaknya, ia tidak ingin membunuh lawan, akan tetapi lawannya terjatuh ke tangan para prajurit yang menghabisi nyawanya. Bagaimanapun juga, Ki Shiwananda maju berperang maka sudah lumrah kalau dia tewas dalam peperangan. Ia lalu membalikkan tubuh dan melihat Bagus Seta melangkah menuruni bukit, agaknya sudah ditinggalkan Wasi Shiwamurti. Dan dilihatnya pula bahwa Jarot, Ki Haryosakti dan Ki Bajramusti juga sedang mengamuk, agaknya sudah pula menewaskan Wasi Karangwolo yang tadi mereka keroyok.

Yang masih bertanding adalah Endang Patibroto melawan Ni Dewi Durgomala dan Ki Patih Tejolaksono sendiri yang masih bertarung melawan Adipati Menak Sampar yang masih gigih membuat perlawanan sungguhpun dia terus terdesak mundur. Endang Patibroto juga mendesak Ni Dewi Durgomala yang kelihatan sudah merasa jerih. Akan tetapi tempat itu terkepung ratusan prajurit sehingga ia tidak melihat kesempatan untuk melarikan diri lagi. Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melawan Endang Patibroto.
Retna Wilis yang kini sudah berdekatan dengan Bagus Seta, hanya menonton saja dan tidak mau membantu karena mereka maklum bahwa ayahnya dan ibunya tidak akan kalah.
"Di mana Wasi Shiwamurti?" tanya Retna Wilis.
"Dia sudah melarikan diri." jawab Bagus Seta lirih. Biarpun dia tidak bertanya, Retna Wilis menerangkan.
"Ki Shiwananda tewas di bawah puluhan senjata para prajurit setelah aku merobohkannya. Aku tidak sengaja membunuhnya."
Bagus Seta menyentuh lengan adiknya.
"Engkau tidak bersalah. Memang sudah tiba saatnya dia tewas dikeroyok banvak senjata. Agaknya itulah karmanya," kata Bagus Seta seperti hendak menghibur adiknya.
"Ibu tentu akan dapat mengalahkan Ni Durgomala," kata Retna Wilis sambil menuding ke arah Endang Patibroto yang mendesak lawannya dengan hebat.
Bagus Seta menghela napas panjang.
"Kanjeng Ibu Endang Patibroto memang seorang wanita yang sakti mandraguna pilih tanding. Beliau pantas untuk menjadi seorang panglima perang wanita."
"Dan kanjeng romo juga tidak akan kewalahan menandingi sang Adipati Menak Sampar," kata pula Retna Wilis sambil memandang kepada ayahnya yang masih bertanding melawan adipati Blambangan itu.
"Kanjeng romo jelas tidak akan membunuh sang adipati, melainkan hendak menawannya dan beliau bertindak benar. Sebaiknya kalau adipati Blambangan ditangkap hidup-hidup untuk dihadapkan kepada Gusti Prabu di Panjalu, atau Jenggala."

Apa yang dikatakan Retna Wilis dan kakaknya memang benar adanya. Tak lama kemudian Ni Dewi Durgomala mengeluarkan suara melengking, mirip tangis bercampur tawa dan tangan kirinya memukul dengan jari-jari terbuka dan kukunya membentuk cakar. Dari ke lima jari tangannya itu menyambar sinar menghitam dan hal ini membuat Retna Wilis terkejut dan mengkhawatirkan ibunya karena ia tahu bahwa yang dikeluarkan Ni Dewi Durgomala itu adalah ilmu yang keji dan jahat sekali. Memang Ni Dewi Durgomala telah mengeluarkan aji pamungkasnya. Aji ini kalau dikerahkan, dapat membunuh lawan dalam jarak jauh, karena angin yang menyambar dari pukulan itu membawa hawa beracun yang amat jahat. Namun Endang Patibroto juga sudah waspada dan maklum bahwa lawan mengajak mengadu nyawa dengan mengerahkan semua aji pamungkas yang dimilikinya. Maka iapun menyambut dengan Aji Gelapmusti yang digabung dengan Aji Pethit Nogo. Tangan kanannya menyambut pukulan jarak jauh Ni Dewi Durgomala itu dengan aji Gelap Musti, sedangkan tangan kirinya membalas dengan hantaman Aji Pethit Nogo.
"Bresssss ... auugghhh ....!" Tubuh Ni Dewi Durgomala terlempar sampai lima meter jauhnya dan ia terbanting roboh muntah darah dan tewas seketika. Akan tetapi Endang Patibroto juga terhuyung dan mukanya menjadi pucat sekali.
Bagus Seta cepat menghampiri Endang Patibroto dan mengambil bunga cempaka putih dari rambut kepalanya. Dengan bunga cempaka di tangan, dia mendekati ibunya dan mendekatkan bunga itu di depan hidung Endang Patibroto.
"Sedotlah, kanjeng ibu. Hawa beracun itu akan tersapu bersih." Endang Patibroto menurut. Ia menyedot aroma bunga itu dengan hidungnya dan seketika napasnya terasa lega dan sesaknya menghilang.
Mereka lalu memandang ke arah Ki Patih Tejolaksono yang masih bertanding melawan Adipati Menak Sampar. Tejolaksono bertangan kosong dan Adipati Menak Sampar menggunakan sebatang keris yang besar dan panjang.
"Mampuslah engkau, Tejolaksono!" bentaknya dan untuk kesekian kalinya keris itu meluncur dan menusuk ke arah dada Tejolaksono. Ki Patih Panjalu ini miringkan tubuhnya. Keris menancap di bawah lengannya, lalu dikempitnya dan tangannya menebak ke arah dada lawan. Tubuh Menak Sampar terjengkang dan keris itu terlepas dari tangannya. Tejolaksono membuang keris itu dan melangkah maju.
"Menyerahlah, Adipati Menak Sampar!" katanya tegas.

Akan tetapi Adipati Menak Sampar mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau terluka dan dia sudah menubruk maju seperti seekor biruang menerkam mangsanya. Kedua lengan yang besar dan panjang itu menerkam dari kanan kiri untuk meringkus tubuh Ki Patih Tejolaksono yang terbilang kecil kalau dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa. Namun Ki Patih Tejolaksono bergerak cepat dan sudah mengelak, kemudian dari samping dia menampar dengan Aji Bajra Dahono, mengenai pundak Sang Adipati.
"Plakkk ..... aduuuhhh ...!" Terkena pukulan Aji Bajra Dahono, tubuh Sang Adipati terkulai dan mendesah kepanasan, Tejolaksono lalu meringkusnya dan tanpa diperintah Jarot lalu maju membawa tali dan mengikat kedua pergelangan tangan Adipati Menak Sampar sehingga dia tidak mampu berkutik lagi. Setelah melihat para pimpinan sudah dikalahkan semua para pasukan Blambangan menjadi kecut hatinya dan semangat perlawanan merekapun membuyar. Pada saat itu Ki Patih Tejolaksono berseru nyaring.
“Adipati Menak Sampar telah menyerah! Kalian yang melawan akan dibunuh yang menyerah akan diampuni!"
Mendengarr bentakan yang amat nyaring itu, sebagian besar pasukan Blambangan lalu membuang senjata mereka dan menjatuhkan diri berlutut, menyerah! Ki Patih Tejolaksono lalu menggiring Adipati Menak Sampar memasuki kadipaten yang sudah dikuasai oleh para perwira Panjalu dan para prajurit pengawal. Di tengah ruangan itu telah berkumpul keluarga Sang Adipati, lengkap dengan semua isteri dan selirnya. Juga hadir Dyah Ayu Kerti, puteri Sang Adipati yang cantik jelita. Melihat puteri ini, hati Jarot berdebar dan dia memandang penuh pesona, akan tetapi karena hatinya telah terlebih dulu terpikat kepada Retna Wilis, maka diapun menghilangkan perasaannya yang hanyut oleh kejelitaan puteri Adipati Menak Sampar itu.
"Bagaimana, Sang Adipati Menak Sampar? Apakah andika sudah takluk sekarang?" tanya Ki Patih Tejolaksono.
"Hemm, pasukanku telah hancur, aku telah kalah bertanding. Apa lagi yang dapat kulakukan selain menyerah? Aku menyerah terhadap kekuasaan kerajaan Jenggala dan Panjalu."
"Bagus kalau begitu. Anakmas Jarot, lepaskan ikatan tangan Sang Adipati”, perintah Tejolaksono dan Jarot segera melaksanakan perintah itu.
Tejolaksono meninggalkan para perwira pembantu dan lima ribu pasukan Panjalu dan Jenggala untuk menjaga dan mengatur ketenteraman di Kadipaten Blambangan, kemudian menggiring Sang Adipati Menak Sampar berikut semua keluarganya menuju ke Jenggala. Rombongan pasukan yang menang perang ini singgah di Nusabarung untuk mengambil tawanan Adipati Martimpang dari Nusabarung sekeluarganya untuk juga dibawa sebagai tawanan ke Jenggala. Ki Patih Tejolaksono singgah di istana Jenggala, melaporkan tentang kemenangannya dan bahwa kedua orang adipati yang memberontak itu telah dijadikan tawanan dan dibawa menghadap. Akan tetapi Sang Prabu di Jenggala menolak dan berkata,

<<< Bagian 67                                                                                         Bagian 69 >>>

No comments:

Post a Comment