"Kakang Patih Tejolaksono, sesungguhnya yang menggerakkan pasukan untuk menaklukkan kedua orang adipati yang memberontak adalah Panjalu, dan kami dari Jenggala hanya membantu belaka. Oleh karena itu, kedua orang tawanan ini dan sekeluarganya kami pasrahkan kepada andika untuk dibawa menghadap Paman Prabu di Panjalu dan terserah kepada beliau untuk memutuskannya. Juga sampaikan salam hormat dan terima kasihku kepada beliau yang telah menenteramkan daerah Jenggala yang dilanda pemberontakan."
Karena
penolakan ini, Ki Patih Tejolaksono terpaksa membawa dua rombongan tawanan itu
terus ke Panjalu. Kedatangan pasukan yang menang perang ini disambut meriah oleh
rakyat Panjalu. Gamelan dibunyikan dimana-mana dan rakyat menyambut dengan
sorak sorai di sepanjang jalan. Sang Prabu di Panjalu juga menyambut kedatangan
Ki Patih Tejolaksono dan para senopati dengan gembira. Ketika mendengar
pelaporan Ki Patih Tejolaksono tentang kemenangan di kedua kadipaten itu, dan
betapa Sang Prabu di Jenggala menyerahkan pengadilan terhadap para tawanan
kepada Sang Prabu di Panjalu, beliau mengangguk-angguk senang.
"Hei,
Adipati Menak Sampar, benar benarkah andika sekarang telah menyadari kesalahan
andika dan benar-benar telah takluk kepada Panjalu dan Jenggala?" tanya
Sang Prabu Panjalu kepada adipati itu yang menghadap sambil menundukkan
kepalanya.
Sang Adipati
Menak Sampar yang sudah tidak berdaya itu lalu menyembah dan berkata lirih,
"Hamba
telah menyadari kesalahan hamba, dan hamba telah menyatakan takluk, terserah
kepada kebijaksanaan paduka untuk menjatuhkan pidana terhadap hamba sekeluarga,
Kanjeng Gusti."
"Dan
bagaimana dengan andika, Adipati Martimpang dari Nusabarung?" tanya pula
Sang Prabu kepada Adipati Martimpang.
"Hambapun
sudah menyadari kesalahan hamba, kalau diperkenankan hamba mohon pengampunan
dan selanjutnya terserah kepada kebijaksanaan paduka, Kanjeng Gusti."
"Bagus,
kalau andika berdua sudah mengakui kesalahan, kamipun dapat mempertimbangkan.
Akan tetapi sebelum kami memperoleh keputusan dari musyawarah yang akan kami
adakan dengan para nayaka-praja, kalian menjadi tawanan terhormat dan akan
diperlakukan dengan baik-baik. Kakang Patih Tejolaksono terserah bagaimana
andika akan mengaturnya untuk menawan kedua keluarga bekas adipati ini.
Pilihkan tempat pengasingan di daerah istana dan suruh awasi mereka."
"Sendiko
dawuh, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih Tejolaksono dan dia segera membawa
pasukan pengawal untuk mengawal dua keluarga tawanan itu menuju kebagian
belakang istana dan menahan mereka di dua bagian ruangan belakang, lalu
memerintahkan para pengawal untuk menjaga mereka, akan tetapi juga agar mereka
diperlakukan dengan hormat dan baik sesuai dengan kehendak Sang Prabu.
Setelah
memberi pujian dan hadiah kepada semua orang yang berjasa, persidangan lalu
dibubarkan. Ki Patih Tejolaksono lalu mengundang semua orang yang telah
membantunya dalam peperangan itu untuk singgah di gedungnya. Ki Patih
Tejolaksono dan dua orang isterinya mengadakan pesta makan bersama. Perjamuan
itu selain untuk merayakan kemenangan, juga untuk menghormati mereka yang telah
membantunya. Semua berkumpul di situ. Jarot, Ki Haryosakti, Ki Bajramusti yang
dijamu oleh Ki Patih Tejolaksono, Endang Patibroto, Ayu Candra, Retna Wilis,
dan Bagus Seta serta para senopati Panjalu. Pada awal perjamuan itu, datanglah
beberapa orang tamu yang segera diundang untuk duduk bersama ikut dalam
perjamuan. Mereka itu adalah Saroji dan Sarmini, putera dan puteri Ki
Haryosakti yang menyusul ayahnya ketika mendengar kemenangan di pihak Panjalu
dan Jenggala yang dibantu ayah mereka. Muncul pula Harjadenta, pemuda Gunung
Raung yang pernah membantu Bagus Seta dan Retna Wilis, dan datang pula Adipati
Kertajaya dari kadipaten Pasisiran yang datang menyusul puteranya Jarot dan
untuk memberi selamat atas kemenangan Panjalu. Lalu yang terakhir muncul
Jayawijaya seorang diri. Diapun mendengar akan kemenangan Panjalu dan datang
untuk berkunjung dan memberi selamat. Semua tamu ini dipersilakan masuk dan
ikut dalam perjamuan karena mereka semua pernah membantu ketika Endang
Patibroto, Retna Wilis dan Bagus Seta melakukan penyelidikan ke Nusabarung dan
Blambangan. Setelah perjamuan selesai, mereka bercakap-cakap di ruangan depan yang
luas. Sekali ini, para senopati mengundurkan diri dan yang hadir hanyalah
tamu-tamu kehormatan. Dalam kesempatan ini, Adipati Kertajaya dari kadipaten
Pasisiran berkata sambil memandang kepada Ki Patih Tejolaksono yang duduk
diapit kedua orang isterinya, sedangkan di sebelah kiri Endang Patibroto duduk
Retna Wilis berjajar dengan Bagus Seta.
"Kakangmas
Patih Tejolaksono, kedatangan saya di sini pertama-tama untuk menghaturkan
selamat atas kemenangan pasukan Panjalu yang kakangmas pimpin."
"Hasil
kemenangan kami juga karena dukungan putera andika, adimas Adipati
Kertajaya," jawab Ki Patih Tejolaksono merendah.
"Adapun
maksud kunjungan saya yang kedua kalinya, sebelum saya matur mohon terlebih
dulu kakangmas Patih memberi maaf yang sebesar-besarnya kalau pembicaraan saya
lancang dan menyinggung perasaan."
Ki Patih
Tejolaksono tersenyum.
"Adimas
Adipati, mengapa bicara dengan sungkan-sungkan? Kita berada di antara golongan
sendiri yang mengabdi kepada Panjalu dan Jenggala, tidak ada yang perlu disembunyikan.
Kalau ada persoalan, kemukakanlah saja terus terang, kami berjanji tidak akan
menyalahkan andika dan andaikata ada yang perlu dimaafkan, kami senantiasa
bersedia untuk memaafkan."
"Begini
maksud saya, kakangmas Patih. Mengenai anak saya yang bodoh, yaitu Jarot yang
sekarang telah berusia duapuluh dua tahun dan belum memiliki calon pasangan
hidup. Kami ditangisi anak kami Jarot yang kasmaran terhadap puteri kakangmas,
anak mas ayu Retna Wilis. Oleh karena itu, saya memberanikan diri berlancang
mulut untuk mengajukan pinangan terhadap puteri kakangmas Patih. Sekali lagi
maafkan kelancangan saya."
Ki Patih
Tejolaksono tersenyum dan memandang kepada Jarot dengan penuh perhatian.
"Kami
telah menyaksikan kemampuan dan kegagahan puteramu, adimas Adipati Kertajaya.
Murid siapakah puteramu ini?'
"Jarot,
engkau ditanya oleh Uwa Patih, jawablah." Kata Adipati Kertajaya kepada
puteranya.
Jarot
menyembah lalu menjawab dengan muka tunduk penuh hormat.
"Hamba
menerima petunjuk ilmu dari Bapa Bhagawan Dewondaru, pertapa di lereng Semeru,
Uwa Patih."
"Jagad
Dewa Bathara ...!" Ki Tejolaksono mengucap kagum.
"Jadi
gurumu adalah Kakang Bhagawan Dewondaru yang sakti mandraguna itu? Pantas
engkau memiliki kemampuan yang tinggi, anak mas Jarot." Kemudian dia
menoleh lagi kepada Adipati Kertajaya dan berkata,
“Adimas
Adipati Kertajaya, puteramu berkenan dihatiku, akan tetapi karena urusan
perjodohan bagi kami tergantung kepada anak yang hendak menjalani, maka kami
harus berunding lebih dulu dengan segenap keluarga dan juga dengan anak kami
Retna Wilis."
"Pendapat
kakangmas Patih itu memang tepat sekali dan memang seharusnya demikian. Maka
saya persilakan kakangmas untuk memperbincangkan urusan penting ini dengan
keluarga kakangmas yang kebetulan sekarang berkumpul semua di sini."
Ki Patih
Tejolaksono lalu menoleh kepada Endang Patibroto dan tersenvum lalu bertanya
"Bagaimana
pendapatmu, diajeng Endang Patibroto? Anakmu si Retna Wilis agaknya sekarang
sudah dewasa benar dan sudah dipinang orang! Engkau sudah mendengar sendiri
pinangan yang diajukan oleh adimas Adipati Kertajaya, bagaimana pendapatmu,
diajeng?"
Endang
Patibroto memandang kepada suaminya dengan alis berkerut, lalu menoleh kepada
Retna Wilis. la melihat betapa puterinya itu juga mengerutkan alis dan
puterinya melirik ke arah Jayawijaya yang duduk bersila sambil menundukkan
mukanya. Ia tahu bahwa melihat gelagatnya suaminya condong untuk menerima
pinangan Adipati Kertajaya, menjodohkan Retna Wilis dengan Jarot. Ia sendiri
suka kepada pemuda yang gagah perkasa, tampan, dan baik budi itu, akan tetapi
pilihan hatinya jatuh kepada Jayawijaya, pemuda yang tidak digdaya akan tetapi
memiliki daya yang mujijat dan luar biasa.
"Bagaimana,
diajeng?" desak Tejolaksono ketika melihat Endang Patibroto diam saja.
Terpaksa Endang Patbroto menjawab.
”Terus terang
saja, kakangmas. Aku sendiri sangat suka kepada anakmas Jarot. Dia seorang
pemuda yang baik dan gagah perkasa. Akan tetapi sebetulnya aku sudah mempunyai
pilihan seorang pemuda lain untuk menjadi calon jodoh Retna Wilis."
"Ibu
......!" Retna Wilis berseru dengan nada memrotes.
"Begitukah,
diajeng? Nah, katakan siapa pilihanmu yang kaucalonkan menjadi jodoh anak kita
itu."
"Orangnya
berada di sini, dialah itu, anakmas Jayawijaya," kata Endang Patibroto
sambil menunjuk ke arah Jayawijaya.
Bagus Seta
tersenyum melihat ulah ibunya. Dan aneh sekali, Retna Wilis yang tadinya
seperti hendak membantah, kini menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan dan
diam seribu bahasa! Kini Tejolaksono yang mengerutkan alis sambil menatap ke
arah pemuda yang menunduk itu dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Akan
tetapi, ketika terjadi perang, dia tidak membantu. Putera siapakah andika,
anakmas Jayawijaya?"
"Ayah
saya adalah Pertapa Panji Kelana yang bertapa di bukit Tengger, paman Patih,"
jawab Jayawijaya sederhana.
"Dan
siapa gurumu yang mengajarkan ilmu kanuragan dan kadigdayaan kepadamu?"
"Tidak
ada, paman Patih. Saya tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan."
"Ahh,
kalau begitu....."
Pada saat itu,
seorang pengawal datang menghaturkan sembah dan melapor bahwa di luar datang
seorang tamu yang katanya merupakan ayah dari Jayawijaya dan mohon menghadap
Sang Patih. Mendengar ini, Ki Patih Tejolaksono tertegun. Orang yang baru saja
dibicarakan muncul! Kebetulan sekali, urusan dapat segera diselesaikan dengan
orang tua yang bersangkutan.
"Persilakan
dia masuk!" katanya kepada pengawal yang melapor, sedangkan Jayawijaya
menoleh keluar dengan heran.
Tak lama
kemudian pengawal mengantarkan seorang yang usianya sekitar limapuluh tahun,
bertubuh tegap sedang dengan punggung lurus dan wajahnya masih tampak muda dan
tampan. Mulutnya dihias senyuman yang ramah dan pandang matanya sedemikian
lembutnya sehingga Tejolaksono cepat mempersilakan tamunya duduk di atas sebuah
bangku yang disodorkan oleh pengawal. Pengawal itu atas isarat Ki Patih lalu
meninggalkan ruangan itu.
"Selamat
datang di kepatihan, Ki Sanak. Siapakah andika yang memberi kehormatan dengan
kunjungan ini?" tanya Ki Tejolaksono dengan sikap hormat karena
kepribadian orang itu sungguh mendatangkan rasa hormat dalam hatinya.
Orang itu
tersenyum lebar dan memandang kepada Ki Tejolaksono dengan sinar mata kagum.
"Sudah
lama mendengar akan nama besar Ki Patih Tejolaksono sebagai seorang yang
bijaksana, dan sekarang baru saya dapat melihat buktinya! Ki Patih, nama saya
adalah Panji Kelana, seorang pertapa di bukit Tengger dan saya adalah ayah dari
Jayawijaya yang sekarang hadir di sini. Karena mendengar bahwa Ki Patih telah
berhasil memadamkan pemberontakan di Nusabarung dan Blambangan, juga mencegah
penyebar luasan agama sesat, maka saya sengaja datang menyusul anak saya untuk
menyampaikan rasa kagum dan ucapan selamat kepada Ki Patih."
"Kebetulan
sekali andika datang berkunjung, Sang Pertapa Panji Kelana. Justeru kami sedang
memperbincangkan tentang putera andika, anak mas Jayawijaya. Benarkah puteramu
mempunyai niat untuk mempersunting puteri kami, Si Retna Wilis?"
Panji Kelana
menoleh kepada puteranya dan tersenyum.
"Demikianlah
dia pernah menyatakan kepada saya, Ki Patih, bahwa antara dia dan anak mas ayu
Retna Wilis terjalin saling Kasih."
"Tidak
mungkin! Benarkah itu, Retna Wilis?'' tanya Ki Patih Tejolaksono sambil menoleh
dan memandang kepada puterinya. Retna Wilis balas memandang kepada ayahnya,
kemudian dengan hati tabah ia mengangguk.
"Tidak
mungkin ini terlaksana! Puteriku harus memperoleh jodoh seorang satria yang
sakti mandraguna, bukan seorang pemuda lemah!" bentak Tejolaksono dengan
suara nyaring.
"Kanjeng
romo ....!" seru Retna Wilis.
"Kakangmas
....!" Endang Patibroto juga memrotes.
Akan tetapi
pada saat itu terdengar suara lantang sekali yang datangnya dari luar gedung.
"Ki Patih
Tejolaksono! Endang Patibroto Bagus Seta dan Retna Wilis! Keluarlah kalian,
kami datang untuk membuat perhitungan!" Suara itu begitu lantang sampai
menggetarkan seisi gedung ruangan gedung itu sehingga tentu saja membuat semua
orang menjadi terkejut bukan main.
Seorang
perwira pengawal berlari-larian dari luar dan menghaturkan sembah kepada Ki
Patih Tejolaksono dan langsung melapor.
<<< Bagian 68 Bagian 70 >>>
No comments:
Post a Comment