Sepasang Garuda Putih ; Bagian 69


"Kakang Patih Tejolaksono, sesungguhnya yang menggerakkan pasukan untuk menaklukkan kedua orang adipati yang memberontak adalah Panjalu, dan kami dari Jenggala hanya membantu belaka. Oleh karena itu, kedua orang tawanan ini dan sekeluarganya kami pasrahkan kepada andika untuk dibawa menghadap Paman Prabu di Panjalu dan terserah kepada beliau untuk memutuskannya. Juga sampaikan salam hormat dan terima kasihku kepada beliau yang telah menenteramkan daerah Jenggala yang dilanda pemberontakan."

Karena penolakan ini, Ki Patih Tejolaksono terpaksa membawa dua rombongan tawanan itu terus ke Panjalu. Kedatangan pasukan yang menang perang ini disambut meriah oleh rakyat Panjalu. Gamelan dibunyikan dimana-mana dan rakyat menyambut dengan sorak sorai di sepanjang jalan. Sang Prabu di Panjalu juga menyambut kedatangan Ki Patih Tejolaksono dan para senopati dengan gembira. Ketika mendengar pelaporan Ki Patih Tejolaksono tentang kemenangan di kedua kadipaten itu, dan betapa Sang Prabu di Jenggala menyerahkan pengadilan terhadap para tawanan kepada Sang Prabu di Panjalu, beliau mengangguk-angguk senang.
"Hei, Adipati Menak Sampar, benar benarkah andika sekarang telah menyadari kesalahan andika dan benar-benar telah takluk kepada Panjalu dan Jenggala?" tanya Sang Prabu Panjalu kepada adipati itu yang menghadap sambil menundukkan kepalanya.
Sang Adipati Menak Sampar yang sudah tidak berdaya itu lalu menyembah dan berkata lirih,
"Hamba telah menyadari kesalahan hamba, dan hamba telah menyatakan takluk, terserah kepada kebijaksanaan paduka untuk menjatuhkan pidana terhadap hamba sekeluarga, Kanjeng Gusti."
"Dan bagaimana dengan andika, Adipati Martimpang dari Nusabarung?" tanya pula Sang Prabu kepada Adipati Martimpang.
"Hambapun sudah menyadari kesalahan hamba, kalau diperkenankan hamba mohon pengampunan dan selanjutnya terserah kepada kebijaksanaan paduka, Kanjeng Gusti."
"Bagus, kalau andika berdua sudah mengakui kesalahan, kamipun dapat mempertimbangkan. Akan tetapi sebelum kami memperoleh keputusan dari musyawarah yang akan kami adakan dengan para nayaka-praja, kalian menjadi tawanan terhormat dan akan diperlakukan dengan baik-baik. Kakang Patih Tejolaksono terserah bagaimana andika akan mengaturnya untuk menawan kedua keluarga bekas adipati ini. Pilihkan tempat pengasingan di daerah istana dan suruh awasi mereka."
"Sendiko dawuh, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih Tejolaksono dan dia segera membawa pasukan pengawal untuk mengawal dua keluarga tawanan itu menuju kebagian belakang istana dan menahan mereka di dua bagian ruangan belakang, lalu memerintahkan para pengawal untuk menjaga mereka, akan tetapi juga agar mereka diperlakukan dengan hormat dan baik sesuai dengan kehendak Sang Prabu.

Setelah memberi pujian dan hadiah kepada semua orang yang berjasa, persidangan lalu dibubarkan. Ki Patih Tejolaksono lalu mengundang semua orang yang telah membantunya dalam peperangan itu untuk singgah di gedungnya. Ki Patih Tejolaksono dan dua orang isterinya mengadakan pesta makan bersama. Perjamuan itu selain untuk merayakan kemenangan, juga untuk menghormati mereka yang telah membantunya. Semua berkumpul di situ. Jarot, Ki Haryosakti, Ki Bajramusti yang dijamu oleh Ki Patih Tejolaksono, Endang Patibroto, Ayu Candra, Retna Wilis, dan Bagus Seta serta para senopati Panjalu. Pada awal perjamuan itu, datanglah beberapa orang tamu yang segera diundang untuk duduk bersama ikut dalam perjamuan. Mereka itu adalah Saroji dan Sarmini, putera dan puteri Ki Haryosakti yang menyusul ayahnya ketika mendengar kemenangan di pihak Panjalu dan Jenggala yang dibantu ayah mereka. Muncul pula Harjadenta, pemuda Gunung Raung yang pernah membantu Bagus Seta dan Retna Wilis, dan datang pula Adipati Kertajaya dari kadipaten Pasisiran yang datang menyusul puteranya Jarot dan untuk memberi selamat atas kemenangan Panjalu. Lalu yang terakhir muncul Jayawijaya seorang diri. Diapun mendengar akan kemenangan Panjalu dan datang untuk berkunjung dan memberi selamat. Semua tamu ini dipersilakan masuk dan ikut dalam perjamuan karena mereka semua pernah membantu ketika Endang Patibroto, Retna Wilis dan Bagus Seta melakukan penyelidikan ke Nusabarung dan Blambangan. Setelah perjamuan selesai, mereka bercakap-cakap di ruangan depan yang luas. Sekali ini, para senopati mengundurkan diri dan yang hadir hanyalah tamu-tamu kehormatan. Dalam kesempatan ini, Adipati Kertajaya dari kadipaten Pasisiran berkata sambil memandang kepada Ki Patih Tejolaksono yang duduk diapit kedua orang isterinya, sedangkan di sebelah kiri Endang Patibroto duduk Retna Wilis berjajar dengan Bagus Seta.
"Kakangmas Patih Tejolaksono, kedatangan saya di sini pertama-tama untuk menghaturkan selamat atas kemenangan pasukan Panjalu yang kakangmas pimpin."
"Hasil kemenangan kami juga karena dukungan putera andika, adimas Adipati Kertajaya," jawab Ki Patih Tejolaksono merendah.
"Adapun maksud kunjungan saya yang kedua kalinya, sebelum saya matur mohon terlebih dulu kakangmas Patih memberi maaf yang sebesar-besarnya kalau pembicaraan saya lancang dan menyinggung perasaan."
Ki Patih Tejolaksono tersenyum.
"Adimas Adipati, mengapa bicara dengan sungkan-sungkan? Kita berada di antara golongan sendiri yang mengabdi kepada Panjalu dan Jenggala, tidak ada yang perlu disembunyikan. Kalau ada persoalan, kemukakanlah saja terus terang, kami berjanji tidak akan menyalahkan andika dan andaikata ada yang perlu dimaafkan, kami senantiasa bersedia untuk memaafkan."
"Begini maksud saya, kakangmas Patih. Mengenai anak saya yang bodoh, yaitu Jarot yang sekarang telah berusia duapuluh dua tahun dan belum memiliki calon pasangan hidup. Kami ditangisi anak kami Jarot yang kasmaran terhadap puteri kakangmas, anak mas ayu Retna Wilis. Oleh karena itu, saya memberanikan diri berlancang mulut untuk mengajukan pinangan terhadap puteri kakangmas Patih. Sekali lagi maafkan kelancangan saya."

Ki Patih Tejolaksono tersenyum dan memandang kepada Jarot dengan penuh perhatian.
"Kami telah menyaksikan kemampuan dan kegagahan puteramu, adimas Adipati Kertajaya. Murid siapakah puteramu ini?'
"Jarot, engkau ditanya oleh Uwa Patih, jawablah." Kata Adipati Kertajaya kepada puteranya.
Jarot menyembah lalu menjawab dengan muka tunduk penuh hormat.
"Hamba menerima petunjuk ilmu dari Bapa Bhagawan Dewondaru, pertapa di lereng Semeru, Uwa Patih."
"Jagad Dewa Bathara ...!" Ki Tejolaksono mengucap kagum.
"Jadi gurumu adalah Kakang Bhagawan Dewondaru yang sakti mandraguna itu? Pantas engkau memiliki kemampuan yang tinggi, anak mas Jarot." Kemudian dia menoleh lagi kepada Adipati Kertajaya dan berkata,
“Adimas Adipati Kertajaya, puteramu berkenan dihatiku, akan tetapi karena urusan perjodohan bagi kami tergantung kepada anak yang hendak menjalani, maka kami harus berunding lebih dulu dengan segenap keluarga dan juga dengan anak kami Retna Wilis."
"Pendapat kakangmas Patih itu memang tepat sekali dan memang seharusnya demikian. Maka saya persilakan kakangmas untuk memperbincangkan urusan penting ini dengan keluarga kakangmas yang kebetulan sekarang berkumpul semua di sini."
Ki Patih Tejolaksono lalu menoleh kepada Endang Patibroto dan tersenvum lalu bertanya
"Bagaimana pendapatmu, diajeng Endang Patibroto? Anakmu si Retna Wilis agaknya sekarang sudah dewasa benar dan sudah dipinang orang! Engkau sudah mendengar sendiri pinangan yang diajukan oleh adimas Adipati Kertajaya, bagaimana pendapatmu, diajeng?"
Endang Patibroto memandang kepada suaminya dengan alis berkerut, lalu menoleh kepada Retna Wilis. la melihat betapa puterinya itu juga mengerutkan alis dan puterinya melirik ke arah Jayawijaya yang duduk bersila sambil menundukkan mukanya. Ia tahu bahwa melihat gelagatnya suaminya condong untuk menerima pinangan Adipati Kertajaya, menjodohkan Retna Wilis dengan Jarot. Ia sendiri suka kepada pemuda yang gagah perkasa, tampan, dan baik budi itu, akan tetapi pilihan hatinya jatuh kepada Jayawijaya, pemuda yang tidak digdaya akan tetapi memiliki daya yang mujijat dan luar biasa.
"Bagaimana, diajeng?" desak Tejolaksono ketika melihat Endang Patibroto diam saja. Terpaksa Endang Patbroto menjawab.
”Terus terang saja, kakangmas. Aku sendiri sangat suka kepada anakmas Jarot. Dia seorang pemuda yang baik dan gagah perkasa. Akan tetapi sebetulnya aku sudah mempunyai pilihan seorang pemuda lain untuk menjadi calon jodoh Retna Wilis."
"Ibu ......!" Retna Wilis berseru dengan nada memrotes.
"Begitukah, diajeng? Nah, katakan siapa pilihanmu yang kaucalonkan menjadi jodoh anak kita itu."
"Orangnya berada di sini, dialah itu, anakmas Jayawijaya," kata Endang Patibroto sambil menunjuk ke arah Jayawijaya.

Bagus Seta tersenyum melihat ulah ibunya. Dan aneh sekali, Retna Wilis yang tadinya seperti hendak membantah, kini menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan dan diam seribu bahasa! Kini Tejolaksono yang mengerutkan alis sambil menatap ke arah pemuda yang menunduk itu dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Akan tetapi, ketika terjadi perang, dia tidak membantu. Putera siapakah andika, anakmas Jayawijaya?"
"Ayah saya adalah Pertapa Panji Kelana yang bertapa di bukit Tengger, paman Patih," jawab Jayawijaya sederhana.
"Dan siapa gurumu yang mengajarkan ilmu kanuragan dan kadigdayaan kepadamu?"
"Tidak ada, paman Patih. Saya tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan."
"Ahh, kalau begitu....."
Pada saat itu, seorang pengawal datang menghaturkan sembah dan melapor bahwa di luar datang seorang tamu yang katanya merupakan ayah dari Jayawijaya dan mohon menghadap Sang Patih. Mendengar ini, Ki Patih Tejolaksono tertegun. Orang yang baru saja dibicarakan muncul! Kebetulan sekali, urusan dapat segera diselesaikan dengan orang tua yang bersangkutan.
"Persilakan dia masuk!" katanya kepada pengawal yang melapor, sedangkan Jayawijaya menoleh keluar dengan heran.
Tak lama kemudian pengawal mengantarkan seorang yang usianya sekitar limapuluh tahun, bertubuh tegap sedang dengan punggung lurus dan wajahnya masih tampak muda dan tampan. Mulutnya dihias senyuman yang ramah dan pandang matanya sedemikian lembutnya sehingga Tejolaksono cepat mempersilakan tamunya duduk di atas sebuah bangku yang disodorkan oleh pengawal. Pengawal itu atas isarat Ki Patih lalu meninggalkan ruangan itu.
"Selamat datang di kepatihan, Ki Sanak. Siapakah andika yang memberi kehormatan dengan kunjungan ini?" tanya Ki Tejolaksono dengan sikap hormat karena kepribadian orang itu sungguh mendatangkan rasa hormat dalam hatinya.
Orang itu tersenyum lebar dan memandang kepada Ki Tejolaksono dengan sinar mata kagum.
"Sudah lama mendengar akan nama besar Ki Patih Tejolaksono sebagai seorang yang bijaksana, dan sekarang baru saya dapat melihat buktinya! Ki Patih, nama saya adalah Panji Kelana, seorang pertapa di bukit Tengger dan saya adalah ayah dari Jayawijaya yang sekarang hadir di sini. Karena mendengar bahwa Ki Patih telah berhasil memadamkan pemberontakan di Nusabarung dan Blambangan, juga mencegah penyebar luasan agama sesat, maka saya sengaja datang menyusul anak saya untuk menyampaikan rasa kagum dan ucapan selamat kepada Ki Patih."
"Kebetulan sekali andika datang berkunjung, Sang Pertapa Panji Kelana. Justeru kami sedang memperbincangkan tentang putera andika, anak mas Jayawijaya. Benarkah puteramu mempunyai niat untuk mempersunting puteri kami, Si Retna Wilis?"

Panji Kelana menoleh kepada puteranya dan tersenyum.
"Demikianlah dia pernah menyatakan kepada saya, Ki Patih, bahwa antara dia dan anak mas ayu Retna Wilis terjalin saling Kasih."
"Tidak mungkin! Benarkah itu, Retna Wilis?'' tanya Ki Patih Tejolaksono sambil menoleh dan memandang kepada puterinya. Retna Wilis balas memandang kepada ayahnya, kemudian dengan hati tabah ia mengangguk.
"Tidak mungkin ini terlaksana! Puteriku harus memperoleh jodoh seorang satria yang sakti mandraguna, bukan seorang pemuda lemah!" bentak Tejolaksono dengan suara nyaring.
"Kanjeng romo ....!" seru Retna Wilis.

"Kakangmas ....!" Endang Patibroto juga memrotes.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara lantang sekali yang datangnya dari luar gedung.
"Ki Patih Tejolaksono! Endang Patibroto Bagus Seta dan Retna Wilis! Keluarlah kalian, kami datang untuk membuat perhitungan!" Suara itu begitu lantang sampai menggetarkan seisi gedung ruangan gedung itu sehingga tentu saja membuat semua orang menjadi terkejut bukan main.
Seorang perwira pengawal berlari-larian dari luar dan menghaturkan sembah kepada Ki Patih Tejolaksono dan langsung melapor.

<<< Bagian 68                                                                                         Bagian 70 >>>

No comments:

Post a Comment