Sepasang Garuda Putih ; Bagian 70


"Gusti Patih, di luar gedung terdapat dua orang kakek yang menantang-nantang. Belasan orang pengawal yang mencoba untuk mengusirnya, dengan lambaian tangan saja dirobohkan semua oleh dua orang kakek itu!"
"Keparat!" bentak Ki Patih Tejolaksono dan tanpa banyak cakap lagi diapun bangkit dan melangkah keluar, diikuti oleh Endang Patibroto, Bagus Seta, Retna Wilis, Ayu Candra, dan semua tamu yang hadir di situ, semua lalu keluar untuk melihat siapa orangnya yang berani menantang keluarga Ki Patih Tejolaksono yang sakti mandraguna itu.
Para tamu itu adalah Adipati Kertajaya dan Jarot, Ki Haryosakti dan putera puterinya Saroji dan Sarmini, Ki Bajramusti, Harjadenta, kemudian paling akhir Jayawijaya melangkah keluar bersama ayahnya, Ki Panji Kelana. Mereka berdua ini keluar tanpa tergesa-gesa seperti yang lain, bahkan dengan senyum tersungging di bibir seolah tidak ada terjadi sesuatu yang hebat dan menegangkan.

Setelah tiba di luar, Ki Patih Tejolaksono dan rombongannya melihat para pengawal masih berserakan dan mulailah mereka bangun dengan wajah ketakutan. Di sana berdiri dua orang kakek yang seorang adalah Wasi Shiwamurti yang berjubah kuning, jenggot dan kumisnya yang panjang sudah putih semua, tangannya memegang tongkat kepala naga, dan usianya yang sudah enampuluh lima tahun itu.
"Siapakah andika berdua?" bentak Ki Patih Tejolaksono yang memang belum pernah bertemu dengan Wasi Shiwamurti.
"Dan apa sebabnya kalian datang menantang-nantang kami?"
Sang Wasi Shiwamurti memukul-mukulkan ujung tongkatnya ke atas tanah sehingga terdengar suara duk-dukduk dan tanah di sekitar tempat itu seperti tergetar.
"Ha-ha-ha, Ki Patih Tejolaksono. Andika memang belum mengenal aku, akan tetapi puteramu Bagus Seta sudah mengenalku. Aku adalah Wasi Shiwamurti dan ini adalah kakak seperguruanku yang berjuluk Wasi Shiwasakti dan yang sedang bertugas di Bali-dwipa. Kami berdua datang untuk membuat perhitungan dan kami menantang kalian untuk bertanding satu lawan satu untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara-kita!"
Kakek ke dua yang disebut Wasi Shiwasakti itu hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Dia lebih tua dari Wasi Shiwamurti, sedikitnya enampuluh delapan tahun, tangannya memegang sebatang tongkat bambu kuning yang sederhana, tubuhnya tinggi kurus dan tampaknya lemah, namun sepasang matanya mencorong seperti mata seekor naga!
"Hemm, andika berdua menantang mengadu kesaktian, dengan dasar dan maksud apa?" tanya pula Ki Patih Tejolaksono dengan lantang.
"Ha-ha-ha, Ki Patih Tejolaksono. Kami hanya hendak memperebutkan hak kami untuk menyebar luaskan agama kami. Kalau kami kalah bertanding dengan pihakmu, sudahlah kami tidak akan banyak cakap lagi dan akan kembali ke Cola dan tidak akan menyebar luaskan agama kami di daerah Nusa Jawa dan Bali Dwipa. Akan tetapi kalau pihakmu tidak mampu mengalahkan kami, kami berhak menyebar luaskan agama kami tanpa gangguan dari kalian. Bagaimana pendapatmu?" kata Wasi Shiwamurti dengan tidak kalah lantangnya.

Tiba-tiba Endang Patibroto melompat ke depan dan bertolak pinggang, telunjuk kirinya menuding ke arah dua orang pendeta dari Cola itu.
"Pendeta-pendeta cabul dan palsu! Bagaimana kami dapat membiarkan kalian menyebar agama yang cabul dan menyesatkan rakyat jelata kami. Hayo kalian cepat pergi dari sini sebelum kuhajar!"
"Ha-ha, Endang Patibroto! Sejak muda andika telah memusuhi kami yang datang dari negeri Cola. Andika bahkan memusuhi pula Paman Wasi Bagaspati. Sudah kami katakan. Kami akan mundur dan pergi kalau di antara kalian ada yang mampu mengalahkan kami dalam pertandingan satu lawan satu. Engkau sendiri lebih baik mundur saja, Endang Patibroto karena engkau tidak akan becus mengalahkan kami!"
Ucapan ini amat memanaskan hati Endang Patibroto. Seperti telah kita kenal, Endang Patibroto adalah seorang wanita gagah perkasa yang tidak pernah merasa gentar melawan siapa saja. Maka mendengar tantangan yang meremehkannya itu, wajahnya berubah merah dan kedua matanya bersinar kilat! Ia mengerahkan tenaga saktinya dan tiba-tiba ia membentak,
"Wasi palsu, sambutlah seranganku ini!" Dan ia lalu mengeluarkan pekik melengking panjang yang amat dahsyat. Itulah pekik Aji Sardulo Bairowo dan tubuhnya melayang ke atas lalu menerjang ke arah Wasi Shiwamurti dengan pukulan Gelap Musti yang hebat dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menghantam dengan jari-jari tangan yang diisi Aji Pethit Nogo! Hebat bukan main serangan Endang Patibroto ini. Udara di sekitar situ seolah tergetar dengan dikeluarkannya kedua aji pukulan yang amat ampuh ini.
Akan tetapi, Sang Wasi Shiwamurti dengan tenangnya menggerakkan tongkat kepala naga itu ke atas untuk menangkis pukulan Aji Gelap Musti dan Aji Pethit Naga itu.
"Wuuuuttt ..... bressss ....!!" Dua tenaga raksasa bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Endang Patibroto terpental ke belakang.
Akan tetapi wanita perkasa ini tidak roboh, melainkan berjungkir balik menjaga keseimbangan tubuhnya dan ia dapat hinggap di atas tanah dengan kedua kakinya. Endang Patibroto menjadi marah dan kembali tubuhnya mencelat ke udara. Ia menggunakan Aji Bayutantra seperti menunggang angin melayang kembali ke arah lawan dan sekali ini ia menyerang dengan menggunakan pukulan Aji Wisangmolo dan mengandung hawa beracun. Serangan ini bahkan lebih ganas dari pada tadi.
"Pergilah!" Wasi Shiwamurti membentak dan kini dia menancapkan tongkat kepala naga di atas tanah, lalu menggunakan kedua tangan yang terbuka untuk menerima serangan Endang Patibroto dengan dorongan kuat.
"Wuuuuttt.....desss ....!" Kembali tubuh Endang Patibroto terpental lebih keras daripada tadi dan kembali Endang Patibroto harus menggunakan kelincahannya untuk membuat salto jungkir balik sampai tiga kali sebelum ia hinggap kembali ke atas tanah. Sekali ini wajahnya agak pucat karena hawa pukulannya tadi membalik dan membuat pernapasannya agak sesak.
"Keparat!" Ki Patih Tejolaksono tidak dapat menahan kemarahannya ketika melihat isterinya dikalahkan sedemikian mudahnya oleh Wasi Shiwamurti. Kekalahan isterinya di depan orang banyak itupun membuatnya merasa terhina. Dalam kemarahannya Ki Patih Tejolaksono sudah mengerahkan Aji Triwikromo! Tubuhnya yang menjadi besar seperti raksasa itu menerjang ke depan dan dengan suara menggereng yang mengandung getaran kuat dia menyerang dengan pukulan Aji Bajra Dahono yang mengandung hawa panas membakar!

Itulah serangan yang amat dahsyat dan jarang ada orang yang akan mampu menahan serangan itu. Akan tetapi kembali Wasi Shiwamurti menyambut serangan dahsyat ini dengan dorongan kedua tangannya. Angin menyambar dahsyat dari kedua telapak tangannya itu, mengandung hawa dingin sekali.
"Wuuuutttt ...... desssss ....!" Tubuh Wasi Shiwamurti melangkah mundur tiga tindak, akan tetapi tubuh Ki Patih Tejolaksono terhuyung ke belakang sampai lima langkah dan mungkin dia akan terjengkang kalau saja tiba-tiba Retna Wilis tidak menahan punggung ayahnya itu dari belakang.
Ki Patih Tejolaksono tidak roboh, akan tetapi wajahnya juga pucat, tanda bahwa ia masih kalah kuat dibandingkan Wasi Shiwamurti.
"Wasi Shiwamurti jahanam, terimalah "kematianmu!" Retna Wilis sudah mencabut pedang Sapudenta dan sekali melompat tubuhnya sudah melayang ke atas lalu menukik ke arah di mana Wasi Shiwamurti berdiri.
Menghadapi serangan pedang ini, Wasi Shiwamurti mencabut tongkat yang tadi dia tancapkan di atas tanah dan diapun memutar tongkat kepala naga itu untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Trangggg ....!" Tampak bunga api berpijar-pijar dan tubuh Retna Wilis terpental ke belakang. Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, gadis perkasa ini sudah mencelat lagi ke atas dan kembali ia menyerang dengan pedangnya, sekali ini lebih hebat karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghantamkan pedangnya ke arah kepala kakek itu.
"Retna Wilis, pergilah engkau!" Wasi Shiwamurti membentak dan tongkat kepala naga itu menangkis lagi dengan gerakan memutar.
"Cringggg ....!" Beradunya kedua senjata sekali ini lebih dahsyat lagi dan akibatnya tubuh Retna Wilis terpental semakin jauh. la berjungkir balik sampai jauh dan ketika hinggap di atas tanah ia hendak menerjang lagi dengan nekat.

Akan tetapi sebuah tangan memegang lengannya. Ia menoleh dan melihat Bagus Seta yang memegang lengannya.
"Diajeng Retna Wilis, dia terlampau sakti untukmu. Biarkan aku yang maju menghadapinya." kata Bagus Seta dengan sikap tenang.
Retna Wilis mengangguk. Memang dari semula dara ini sudah maklum bahwa Satu-satunya orang yang akan mampu menandingi Wasi Shiwamurti hanyalah kakaknya ini. Dengan langkah tenang Bagus Seta maju menghampiri Wasi Shiwamurti. Dia memandang tajam wajah sang wasi dan berkata dengan sikap berwibawa namun lembut.
"Paman Wasi Shiwamurti, mengapa andika masih saja hendak membuat kekacauan? Apakah andika pikir bahwa perbuatan andika ini layak dan patut dilakukan seorang wasi seperti andika? Harap andika menyadari kesalahan dan pergi meninggalkan Nusa Jawa, kembali ke tempat asalmu dan menyudahi permusuhan yang tidak ada artinya ini." Sepasang alis yang putih itu berkerut dan sepasang mata Wasi Shiwamurti mengeluarkan sinar berapi-api. Dia pernah dikalahkan pemuda ini dan di dasar hatinya dia masih belum mau menerima kekalahan itu. Walaupun kini dia memiliki orang andalan, yaitu kakak seperguruannya, namun dia masih penasaran dan ingin mencoba lagi mengadu kesaktian melawan pemuda berpakaian serba putih ini.
"Bagus Seta, hari ini aku datang untuk membalas kekalahanku terdahulu! Sambutlah tongkat kepala nagaku!" Berkata demikian, Wasi Shiwamurti lalu menyerang dengan tongkatnya. Terdengar suara bersiutan ketika tongkat itu menyambar ganas. Bagus Seto mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan kembali terulang pertandingan seperti yang terjadi di bukit daerah Blambangan itu. Tongkat itu berubah menjadi sinar melayang-layang seperti seekor naga terbang, namun tubuh Bagus Seta seperti berubah menjadi bayang-bayang atau awan di mana naga itu bermain-main dan tidak pernah naga itu mampu menjamahnya. Bagus Seta sudah melolos kain pengikat kepalanya dan kini kain putih itu menyambar-nyambar bagaikan kilat yang keluar dari awan mendung.
"Tar-tar-tarrr ....!" Kain pengikat kepala itu meledak-ledak dan Wasi Shiwamurti terhuyung-huyung ke belakang. Dia melompat jauh ke belakang dan tiba-tiba melontarkan tongkat kepala naga itu ke arah tubuh Bagus Seta yang masih melayang di atas. Bagus Seta menangkis dengan kain ikat kepalanya.
"Darrr ....!" Tongkat itu membalik seperti anak panah menuju ke arah dada Wasi Shiwamurti sendiri.
Sang wasi terkejut, cepat menangkap tongkatnya, akan tetapi dia terbawa terpelanting saking kuatnya luncuran tongkat itu. Bagus Seta sudah turun lagi ke atas tanah, berdiri dengan tenang dan waspada memandang lawannya.
"Adi Wasi Shiwamurti, mundurlah. Bocah ini harus aku yang menandinginya!" terdengar suara yang kecil tinggi seperti suara wanita dan Sang Wasi Shiwasakti sudah melangkah maju membawa tongkat bambu kuningnya. Telunjuk tangan kirinya menuding ke arah muka Bagus Seta dan diapun berkata.
"Orang muda, semuda ini andika telah memiliki kesaktian yang memadai. Katakan lah siapa yang menjadi gurumu?"
"Paman Wasi Shiwasakti, guruku bernama Ki Tunggaljiwo dan Bhagawan Ekadenta," jawab Bagus Seta dengan sejujurnya.

Kakek itu tampak terkejut.
"Wah, dia adalah adi seperguruan dari Ki Satyadarma? Pantas! Pantas andika memiliki ilmu yang tinggi dan sakti mandraguna. Akan tetapi sekali ini andika berhadapan dengan Wasi Shiwasakti! Maka, demi kebaikanmu sendiri, mundurlah dan jangan berani menandingi aku, Bagus Seta!"
"Paman Wasi Shiwasakti, bukan aku yang mencari permusuhan. Melainkan andika yang datang mencari keributan. Demi membela keluarga ayah bundaku, terpaksa aku memberanikan diri untuk menandingi andika!"
"Babo-babo, Bagus Seta. Kalau begitu, waspada dan bersiaplah untuk menerima Aji Suryo Dahono dariku!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba kakek itu menancapkan tongkat bambu kuningnya di atas tanah di sebelah kirinya, kemudian dia mengembang kan kedua tangannya dari kanan kiri, menyembah ke atas lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Bagus Seta.
Terdengar suara gemuruh dan tampak api keluar dari kedua telapak tangan itu, berkobar-kobar dan semakin membesar menerjang ke arah Bagus Seto. Dan di dalam kobaran api itu seperti tampak bentuk-bentuk yang mengerikan dari binatang-binatang aneh menyeramkan dan muka-muka raksasa berambut api! Dahsyat sekali serangan ini sehingga Retna Wilis, Endang Patibroto dan Tejolaksono memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang. Melihat serangan yang luar biasa ini, Bagus Seta tidak berani berlaku lengah. Cepat dia mengeluarkan setangkai bunga cempaka dari rambut kepalanya dan menimpuk ke arah api berkobar-kobar itu dengan bunga cempaka putih.

<<< Bagian 69                                                                                          Bagian 71 >>>

No comments:

Post a Comment