"Gusti Patih, di luar gedung terdapat dua orang kakek yang menantang-nantang. Belasan orang pengawal yang mencoba untuk mengusirnya, dengan lambaian tangan saja dirobohkan semua oleh dua orang kakek itu!"
"Keparat!"
bentak Ki Patih Tejolaksono dan tanpa banyak cakap lagi diapun bangkit dan
melangkah keluar, diikuti oleh Endang Patibroto, Bagus Seta, Retna Wilis, Ayu
Candra, dan semua tamu yang hadir di situ, semua lalu keluar untuk melihat
siapa orangnya yang berani menantang keluarga Ki Patih Tejolaksono yang sakti
mandraguna itu.
Para tamu itu
adalah Adipati Kertajaya dan Jarot, Ki Haryosakti dan putera puterinya Saroji
dan Sarmini, Ki Bajramusti, Harjadenta, kemudian paling akhir Jayawijaya
melangkah keluar bersama ayahnya, Ki Panji Kelana. Mereka berdua ini keluar
tanpa tergesa-gesa seperti yang lain, bahkan dengan senyum tersungging di bibir
seolah tidak ada terjadi sesuatu yang hebat dan menegangkan.
Setelah tiba
di luar, Ki Patih Tejolaksono dan rombongannya melihat para pengawal masih
berserakan dan mulailah mereka bangun dengan wajah ketakutan. Di sana berdiri
dua orang kakek yang seorang adalah Wasi Shiwamurti yang berjubah kuning,
jenggot dan kumisnya yang panjang sudah putih semua, tangannya memegang tongkat
kepala naga, dan usianya yang sudah enampuluh lima tahun itu.
"Siapakah
andika berdua?" bentak Ki Patih Tejolaksono yang memang belum pernah
bertemu dengan Wasi Shiwamurti.
"Dan apa
sebabnya kalian datang menantang-nantang kami?"
Sang Wasi
Shiwamurti memukul-mukulkan ujung tongkatnya ke atas tanah sehingga terdengar
suara duk-dukduk dan tanah di sekitar tempat itu seperti tergetar.
"Ha-ha-ha,
Ki Patih Tejolaksono. Andika memang belum mengenal aku, akan tetapi puteramu
Bagus Seta sudah mengenalku. Aku adalah Wasi Shiwamurti dan ini adalah kakak
seperguruanku yang berjuluk Wasi Shiwasakti dan yang sedang bertugas di
Bali-dwipa. Kami berdua datang untuk membuat perhitungan dan kami menantang kalian
untuk bertanding satu lawan satu untuk menentukan siapa yang lebih unggul di
antara-kita!"
Kakek ke dua
yang disebut Wasi Shiwasakti itu hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Dia
lebih tua dari Wasi Shiwamurti, sedikitnya enampuluh delapan tahun, tangannya
memegang sebatang tongkat bambu kuning yang sederhana, tubuhnya tinggi kurus
dan tampaknya lemah, namun sepasang matanya mencorong seperti mata seekor naga!
"Hemm,
andika berdua menantang mengadu kesaktian, dengan dasar dan maksud apa?"
tanya pula Ki Patih Tejolaksono dengan lantang.
"Ha-ha-ha,
Ki Patih Tejolaksono. Kami hanya hendak memperebutkan hak kami untuk menyebar
luaskan agama kami. Kalau kami kalah bertanding dengan pihakmu, sudahlah kami
tidak akan banyak cakap lagi dan akan kembali ke Cola dan tidak akan menyebar
luaskan agama kami di daerah Nusa Jawa dan Bali Dwipa. Akan tetapi kalau
pihakmu tidak mampu mengalahkan kami, kami berhak menyebar luaskan agama kami
tanpa gangguan dari kalian. Bagaimana pendapatmu?" kata Wasi Shiwamurti dengan
tidak kalah lantangnya.
Tiba-tiba
Endang Patibroto melompat ke depan dan bertolak pinggang, telunjuk kirinya
menuding ke arah dua orang pendeta dari Cola itu.
"Pendeta-pendeta
cabul dan palsu! Bagaimana kami dapat membiarkan kalian menyebar agama yang
cabul dan menyesatkan rakyat jelata kami. Hayo kalian cepat pergi dari sini
sebelum kuhajar!"
"Ha-ha,
Endang Patibroto! Sejak muda andika telah memusuhi kami yang datang dari negeri
Cola. Andika bahkan memusuhi pula Paman Wasi Bagaspati. Sudah kami katakan. Kami
akan mundur dan pergi kalau di antara kalian ada yang mampu mengalahkan kami
dalam pertandingan satu lawan satu. Engkau sendiri lebih baik mundur saja,
Endang Patibroto karena engkau tidak akan becus mengalahkan kami!"
Ucapan ini
amat memanaskan hati Endang Patibroto. Seperti telah kita kenal, Endang
Patibroto adalah seorang wanita gagah perkasa yang tidak pernah merasa gentar
melawan siapa saja. Maka mendengar tantangan yang meremehkannya itu, wajahnya
berubah merah dan kedua matanya bersinar kilat! Ia mengerahkan tenaga saktinya
dan tiba-tiba ia membentak,
"Wasi
palsu, sambutlah seranganku ini!" Dan ia lalu mengeluarkan pekik
melengking panjang yang amat dahsyat. Itulah pekik Aji Sardulo Bairowo dan
tubuhnya melayang ke atas lalu menerjang ke arah Wasi Shiwamurti dengan pukulan
Gelap Musti yang hebat dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menghantam
dengan jari-jari tangan yang diisi Aji Pethit Nogo! Hebat bukan main serangan
Endang Patibroto ini. Udara di sekitar situ seolah tergetar dengan dikeluarkannya
kedua aji pukulan yang amat ampuh ini.
Akan tetapi,
Sang Wasi Shiwamurti dengan tenangnya menggerakkan tongkat kepala naga itu ke
atas untuk menangkis pukulan Aji Gelap Musti dan Aji Pethit Naga itu.
"Wuuuuttt
..... bressss ....!!" Dua tenaga raksasa bertemu di udara dan akibatnya,
tubuh Endang Patibroto terpental ke belakang.
Akan tetapi
wanita perkasa ini tidak roboh, melainkan berjungkir balik menjaga keseimbangan
tubuhnya dan ia dapat hinggap di atas tanah dengan kedua kakinya. Endang Patibroto
menjadi marah dan kembali tubuhnya mencelat ke udara. Ia menggunakan Aji
Bayutantra seperti menunggang angin melayang kembali ke arah lawan dan sekali
ini ia menyerang dengan menggunakan pukulan Aji Wisangmolo dan mengandung hawa
beracun. Serangan ini bahkan lebih ganas dari pada tadi.
"Pergilah!"
Wasi Shiwamurti membentak dan kini dia menancapkan tongkat kepala naga di atas
tanah, lalu menggunakan kedua tangan yang terbuka untuk menerima serangan
Endang Patibroto dengan dorongan kuat.
"Wuuuuttt.....desss
....!" Kembali tubuh Endang Patibroto terpental lebih keras daripada tadi
dan kembali Endang Patibroto harus menggunakan kelincahannya untuk membuat
salto jungkir balik sampai tiga kali sebelum ia hinggap kembali ke atas tanah.
Sekali ini wajahnya agak pucat karena hawa pukulannya tadi membalik dan membuat
pernapasannya agak sesak.
"Keparat!"
Ki Patih Tejolaksono tidak dapat menahan kemarahannya ketika melihat isterinya
dikalahkan sedemikian mudahnya oleh Wasi Shiwamurti. Kekalahan isterinya di
depan orang banyak itupun membuatnya merasa terhina. Dalam kemarahannya Ki
Patih Tejolaksono sudah mengerahkan Aji Triwikromo! Tubuhnya yang menjadi besar
seperti raksasa itu menerjang ke depan dan dengan suara menggereng yang
mengandung getaran kuat dia menyerang dengan pukulan Aji Bajra Dahono yang
mengandung hawa panas membakar!
Itulah
serangan yang amat dahsyat dan jarang ada orang yang akan mampu menahan
serangan itu. Akan tetapi kembali Wasi Shiwamurti menyambut serangan dahsyat
ini dengan dorongan kedua tangannya. Angin menyambar dahsyat dari kedua telapak
tangannya itu, mengandung hawa dingin sekali.
"Wuuuutttt
...... desssss ....!" Tubuh Wasi Shiwamurti melangkah mundur tiga tindak,
akan tetapi tubuh Ki Patih Tejolaksono terhuyung ke belakang sampai lima langkah
dan mungkin dia akan terjengkang kalau saja tiba-tiba Retna Wilis tidak menahan
punggung ayahnya itu dari belakang.
Ki Patih
Tejolaksono tidak roboh, akan tetapi wajahnya juga pucat, tanda bahwa ia masih
kalah kuat dibandingkan Wasi Shiwamurti.
"Wasi
Shiwamurti jahanam, terimalah "kematianmu!" Retna Wilis sudah
mencabut pedang Sapudenta dan sekali melompat tubuhnya sudah melayang ke atas
lalu menukik ke arah di mana Wasi Shiwamurti berdiri.
Menghadapi
serangan pedang ini, Wasi Shiwamurti mencabut tongkat yang tadi dia tancapkan
di atas tanah dan diapun memutar tongkat kepala naga itu untuk menangkis sambil
mengerahkan tenaga saktinya.
"Trangggg
....!" Tampak bunga api berpijar-pijar dan tubuh Retna Wilis terpental ke
belakang. Akan tetapi begitu kakinya menginjak tanah, gadis perkasa ini sudah
mencelat lagi ke atas dan kembali ia menyerang dengan pedangnya, sekali ini
lebih hebat karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghantamkan
pedangnya ke arah kepala kakek itu.
"Retna
Wilis, pergilah engkau!" Wasi Shiwamurti membentak dan tongkat kepala naga
itu menangkis lagi dengan gerakan memutar.
"Cringggg
....!" Beradunya kedua senjata sekali ini lebih dahsyat lagi dan akibatnya
tubuh Retna Wilis terpental semakin jauh. la berjungkir balik sampai jauh dan
ketika hinggap di atas tanah ia hendak menerjang lagi dengan nekat.
Akan tetapi
sebuah tangan memegang lengannya. Ia menoleh dan melihat Bagus Seta yang
memegang lengannya.
"Diajeng
Retna Wilis, dia terlampau sakti untukmu. Biarkan aku yang maju menghadapinya."
kata Bagus Seta dengan sikap tenang.
Retna Wilis
mengangguk. Memang dari semula dara ini sudah maklum bahwa Satu-satunya orang
yang akan mampu menandingi Wasi Shiwamurti hanyalah kakaknya ini. Dengan
langkah tenang Bagus Seta maju menghampiri Wasi Shiwamurti. Dia memandang tajam
wajah sang wasi dan berkata dengan sikap berwibawa namun lembut.
"Paman
Wasi Shiwamurti, mengapa andika masih saja hendak membuat kekacauan? Apakah
andika pikir bahwa perbuatan andika ini layak dan patut dilakukan seorang wasi
seperti andika? Harap andika menyadari kesalahan dan pergi meninggalkan Nusa
Jawa, kembali ke tempat asalmu dan menyudahi permusuhan yang tidak ada artinya
ini." Sepasang alis yang putih itu berkerut dan sepasang mata Wasi
Shiwamurti mengeluarkan sinar berapi-api. Dia pernah dikalahkan pemuda ini dan
di dasar hatinya dia masih belum mau menerima kekalahan itu. Walaupun kini dia
memiliki orang andalan, yaitu kakak seperguruannya, namun dia masih penasaran
dan ingin mencoba lagi mengadu kesaktian melawan pemuda berpakaian serba putih
ini.
"Bagus
Seta, hari ini aku datang untuk membalas kekalahanku terdahulu! Sambutlah
tongkat kepala nagaku!" Berkata demikian, Wasi Shiwamurti lalu menyerang
dengan tongkatnya. Terdengar suara bersiutan ketika tongkat itu menyambar
ganas. Bagus Seto mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan kembali
terulang pertandingan seperti yang terjadi di bukit daerah Blambangan itu.
Tongkat itu berubah menjadi sinar melayang-layang seperti seekor naga terbang,
namun tubuh Bagus Seta seperti berubah menjadi bayang-bayang atau awan di mana
naga itu bermain-main dan tidak pernah naga itu mampu menjamahnya. Bagus Seta
sudah melolos kain pengikat kepalanya dan kini kain putih itu menyambar-nyambar
bagaikan kilat yang keluar dari awan mendung.
"Tar-tar-tarrr
....!" Kain pengikat kepala itu meledak-ledak dan Wasi Shiwamurti
terhuyung-huyung ke belakang. Dia melompat jauh ke belakang dan tiba-tiba
melontarkan tongkat kepala naga itu ke arah tubuh Bagus Seta yang masih
melayang di atas. Bagus Seta menangkis dengan kain ikat kepalanya.
"Darrr
....!" Tongkat itu membalik seperti anak panah menuju ke arah dada Wasi
Shiwamurti sendiri.
Sang wasi
terkejut, cepat menangkap tongkatnya, akan tetapi dia terbawa terpelanting
saking kuatnya luncuran tongkat itu. Bagus Seta sudah turun lagi ke atas tanah,
berdiri dengan tenang dan waspada memandang lawannya.
"Adi Wasi
Shiwamurti, mundurlah. Bocah ini harus aku yang menandinginya!" terdengar
suara yang kecil tinggi seperti suara wanita dan Sang Wasi Shiwasakti sudah
melangkah maju membawa tongkat bambu kuningnya. Telunjuk tangan kirinya
menuding ke arah muka Bagus Seta dan diapun berkata.
"Orang
muda, semuda ini andika telah memiliki kesaktian yang memadai. Katakan lah
siapa yang menjadi gurumu?"
"Paman
Wasi Shiwasakti, guruku bernama Ki Tunggaljiwo dan Bhagawan Ekadenta,"
jawab Bagus Seta dengan sejujurnya.
Kakek itu
tampak terkejut.
"Wah, dia
adalah adi seperguruan dari Ki Satyadarma? Pantas! Pantas andika memiliki ilmu
yang tinggi dan sakti mandraguna. Akan tetapi sekali ini andika berhadapan
dengan Wasi Shiwasakti! Maka, demi kebaikanmu sendiri, mundurlah dan jangan
berani menandingi aku, Bagus Seta!"
"Paman
Wasi Shiwasakti, bukan aku yang mencari permusuhan. Melainkan andika yang
datang mencari keributan. Demi membela keluarga ayah bundaku, terpaksa aku
memberanikan diri untuk menandingi andika!"
"Babo-babo,
Bagus Seta. Kalau begitu, waspada dan bersiaplah untuk menerima Aji Suryo
Dahono dariku!" Setelah berkata demikian, tiba-tiba kakek itu menancapkan
tongkat bambu kuningnya di atas tanah di sebelah kirinya, kemudian dia
mengembang kan kedua tangannya dari kanan kiri, menyembah ke atas lalu
mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Bagus Seta.
Terdengar
suara gemuruh dan tampak api keluar dari kedua telapak tangan itu,
berkobar-kobar dan semakin membesar menerjang ke arah Bagus Seto. Dan di dalam
kobaran api itu seperti tampak bentuk-bentuk yang mengerikan dari
binatang-binatang aneh menyeramkan dan muka-muka raksasa berambut api! Dahsyat
sekali serangan ini sehingga Retna Wilis, Endang Patibroto dan Tejolaksono
memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang. Melihat serangan yang luar
biasa ini, Bagus Seta tidak berani berlaku lengah. Cepat dia mengeluarkan
setangkai bunga cempaka dari rambut kepalanya dan menimpuk ke arah api
berkobar-kobar itu dengan bunga cempaka putih.
<<< Bagian 69 Bagian 71 >>>
No comments:
Post a Comment