Sepasang Garuda Putih ; Bagian 71


"Syuuuuttt ..... wirrrr ....!" Api yang berkobar dan bergulung-gulung itu tertahan, tidak dapat maju dan bunga cempaka putih terpental kembali ke tangan Bagus Seta.
"Aji Surya Candra!" terdengar kakek itu berseru lagi dengan suara yang mengandung getaran penuh wibawa. Dia mendorongkan kedua tangannya dan kobaran api itu maju lagi, kini tampak dua cahaya yang menyilaukan mata, merah dan kuning mendorong kobaran api itu, seperti cahaya matahari dan cahaya bulan, dua inti tenaga yang dikerahkan oleh Wasi Shiwamukti!
Bagus Seta yang maklum akan kehebatan lawan, juga merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lututnya, kemudian diapun mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan itu, menggunakan Aji Mego Gemulung sehingga dari kedua telapak tangannya tampak awan bergulung-gulung menyambut kobaran api itu.
"Wuuuuttt .... bressss.....!" Tubuh Bagus Seta terpental ke belakang. Dia tidak roboh, melainkan jatuh berdiri di dekat Ki Tejolaksono. Wajahnya agak pucat dan napasnya agak terengah.
"Bagaimana kulup?" tanya Ki Tejolaksono kepada puteranya.
Bagus Seta menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Kanjeng Romo, dia terlalu tangguh untuk dapat saya tundukkan."

Ki Tejolaksono menjadi bingung. Kalau Bagus Seta saja kalah, lalu siapa lagi yang dapat diajukan sebagai jago untuk menanggulangi Wasi Shiwasakti itu? Wasi Shiwasakti tertawa, suara tawanya juga seperti suara tawa wanita.
"Hi-hi-hik, begitu saja kesaktianmu, Bagus Seta! Hayo, orang Panjalu, siapa lagi yang dapat menandingi aku Wasi Shiwasakti? Majulah!"
Ditantang begitu, Ki Patih Tejolaksono menjadi semakin gugup dan dia teringat sesuatu.
"Siapa yang mampu mengalahkan dia, pinangannya terhadap puteriku akan kupertimbangkan!"
Mendengar ini, Harjadenta yang sejak tadi hanya menonton dan mendengarkan, hendak mencari jasa dan dia sudah mencabut keris pusakanya, yaitu Ki Mengeng dan dia berseru,
”Paman Patih, perkenankan saya menandinginya!" Tanpa menanti jawaban, pemuda itu meloncat ke depan dengan keris di tangan.
Ki Tejolaksono tidak mencegah, namun dari sikap dan tindakan pemuda ini diapun tahu bahwa Harjadenta ternyata juga mencinta puterinya, Retna Wilis. Hal ini tentu saja sudah diketahui oleh Retna Wilis karena pemuda itu pernah menyatakan cinta kepadanya walaupun tidak ia tanggapi. Kini dara itu memandang dengan penuh kekhawatiran, la tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda itu. Kalau ia sendiri dan kakaknya tidak mampu menandingi Wasi Shiwasakti, apa pula pemuda dari Gunung Raung itu.
"Wasi jahat, akulah lawanmu!" Harjaden ta membentak dan melompat ke depan kakek itu. Melihat gerakan ini, Wasi Shiwasakti terkekeh.
"Hl-hi-hik, bocah kemarin sore berani maju? Apakah hendak mengantar nyawa?"
"Terimalah pusakaku Ki Mengeng!" Harjadenta lalu menerjang dan menusukkan keris Ki Mengeng ke arah dada kakek itu. Akan tetapi Wasi Shiwasakti tidak mengelak atau menangkis sama sekali. Dia menerima tusukan keris itu dengan dadanya.
"Tukkk!" Keris itu seperti mengenai dinding baja, bahkan tangan Harjadenta yang terpental dan terguncang hebat.
Wasi Shiwasakti mengebutkan lengan baju tangan kirinya dan ujung lengan baju itu menyambar ke arah dada Harjadenta.
"Wirrr .... bukkk!" Tubuh pemuda itu terlempar sampai lima meter jauhnya dan jatuh terbanting keras ke atas tanah.

Masih untung baginya bahwa Wasi Shiwasakti tidak ingin membunuh, maka dia hanya terkejut saja, tidak mengalami luka parah. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani maju lagi. Kini Jarot melompat ke depan. Melihat Harjadenta berani maju melawan kakek itu, Jarot yang tadi mendengar ucapan Ki Patih Tejolaksono, lalu menjadi nekat. Dia harus memperlihatkan dirinya sebagai seorang satria sejati yang tidak takut menghadapi lawan tangguh, tidak takut mati. Karena dengan demikian barulah pantas dia menjadi pasangan Retno Wilis, dara perkasa itu. Dengan gerakan ringan sekali dia melompat ke depan Wasi Shiwasakti.
"Wasi Shiwasakti, akulah lawanmu!" katanya dengan sikap gagah.
Wasi Shiwasakti melihat betapa gerakan pemuda ini berbeda dengan gerakan Harjadenta. Dia memandang penuh perhatian, lalu bertanya,
"Orang muda, siapakah andika dan murid siapakah andika?"
"Namaku Jarot dan aku adalah murid Bapa Bhagawan Dewondaru dari Gunung Semeru."
"Hemm, bagus! Pernah aku mendengar tentang Bhagawan Dewondaru yang kabarnya memiliki kesaktian yang cukup tinggi. Nah, majulah, Jarot dan perlihatkan kemampuanmu kepadaku!"
Jarot mencabut senjata kerisnya yang bernama Nogo Ireng. Sinar kehitaman tampak ketika keris itu dicabut.
"Jaga seranganku, Wasi Shiwasakti!" kata Jarot yang mulai menyerang dengan kerisnya. Serangannya cukup kuat dan cepat dan agaknya sekali ini Wasi Shiwasakti ingin menguji kepandaian silat pemuda itu. Diapun mengelak dan tongkat bambu kuning ditangannya membalas, menyambar dari samping dengan tusukan ke arah lambung Jarot. Akan tetapi pemuda ini dengan gesitnya dapat pula mengelak lalu menubruk maju lagi dengan kerisnya, menusuk kearah perut lawan. Gerakannya licin bagaikan belut dan Wasi Shiwasakti terkekeh.
"Hi-hi-hik, andika boleh juga, Jarot!" katanya sambil memutar tongkat bambu kuningnya untuk menghalau keris Jarot yang menyerang secara bertubi-tubi.
"Trang-trang-cring ....!"
Jarot terkejut bukan main. Tigakali beradu senjata itu membuat tangan kanannya seperti lumpuh karena tergetar hebat sekali, dan sebelum dia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, tiba-tiba kaki Sang Wasi Shiwasakti mencuat dan tak dapat dihindarkannya lagi tubuhnya terkena tendangan.
"Bukkk ....!" Tubuh Jarot terlempar jauh dan terbanting ke atas tanah. Akan tetapi seperti juga halnya Harjadenta, dia tidak menderita luka parah karena agaknya Wasi Shiwasakti memang sengaja tidak mau membunuhnya.

Melihat betapa semua orang telah kalah oleh Wasi Shiwasakti, Ki Patih Tejolaksono mulai merasa gelisah. Siapa lagi yang akan mampu menandingi wasi yang sakti mandraguna itu? Sebetulnya sejak tadi, setelah melihat kekalahan Bagus Seta, dia sudah putus asa.
"Adimas Jayawijaya, hanya andikalah tumpuan harapan kami. Harap andika suka maju menghadapi Wasi Shiwasakti!" tiba-tiba Bagus Seta mendekati Jayawijaya dan berkata dengan suara lembut.
Jayawijaya memandang kepadanya dan sejenak dua pasang mata bertemu pandang, dua pasang mata yang penuh pengertian dan Jayawijaya tersenyum mengangguk.
"Mohon doa restu, kakangmas Bagus Seta," bisiknya.
"Majulah dan jangan ragu, adimas." Jayawijaya lalu menghampiri ayahnya dan menyembah,
"Kanjeng Romo, hamba mohon doa restu untuk menghadapi Wasi Shiwasakti."
Ayahnya tersenyum, mengangguk.
"Sang Hyang Widhi melindungimu, kulup," katanya.
Jayawijaya menghampiri Ki Patih Tejolaksono dan berkata lirih,
"Kanjeng Paman, hamba mohon doa restu untuk menghadapi Wasi Shiwasakti."
Ki Tejolaksono terbelalak heran, tak dapat berkata-kata saking herannya dan hanya mampu mengangguk. Setelah itu, Jayawijaya menghampiri Endang Patibroto dan berkata hormat.
"Kanjeng Bibi Endang Patibroto, hamba mohon doa restu."
Endang Patibroto yang sudah mendengar ucapan Jayawijaya kepada suaminya tadi, tersenyum mengangguk.
"Berhati-hatilah, anakmas Jayawijaya."
Paling akhir Jayawijaya menghampiri Retna Wilis dan berkata,
"Diajeng, aku mohon doa restumu."
"Kakang Jaya, jaga dirimu baik-baik," kata Retna Wilis sambil mencoba untuk menahan kegelisahannya. Kekasihnya hendak menandingi Wasi Shiwasakti yang sakti madraguna itu. Pada hal ia sendiri dan kakaknya sudah kalah! Kekasihnya sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan. Biarpun ia juga tahu bahwa kekasihnya itu mempunyai sesuatu yang luar biasa, namun tetap saja ia merasa khawatir sekali.

Kini Jayawijaya melangkah maju dengan tenang, langkahnya perlahan-lahan, menghampiri Wasi Shiwasakti yang masih menanti tanding. Melihat seorang pemuda yang berwajah terang dan bersikap lemah-lembut menghampirinya, dia merasa heran. Akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata pemuda itu, dia terkejut bukan main. Dia merasa seolah olah sinar matanya yang tajam amblas dan tenggelam ke dalam samudera ketenangan yang terkandung dalam sepasang mata pemuda itu.
"Hati-hati, kakang Wasi. Pemuda ini memiliki kelebihan," dia mendengar Wasi Shiwamurti berbisik di belakangnya.
Akan tetapi Wasi Shiwasakti adalah seorang sakti mandraguna yang jiwanya tersesat. Karena dia memiliki kedigdayaan yang linuwih, maka timbul kesombongan dalam hatinya. Dia merasa bahwa di dunia ini tidak ada seorangpun yang akan mampu menandingi kesaktiannya. Apa lagi hanya seorang pemuda seperti ini! Maka dia tertawa cekikikan ketika melihat Jayawijaya menghadapinya.
"Hi-hi-hi-hik, bocah yang masih berbau kencur! Mau apa engkau datang menghadapi aku?"
Jayawijaya bersikap sabar dan dia mengangkat mukanya, memandang kepada wajah kakek itu dengan tenang. Lalu katanya, dengan suara yang lemah lembut pula.
"Paman Wasi Shiwasakti, masihkah andika belum juga mau menyadari kesalahan andika sendiri? Ingat, Paman Wasi, kejahatan kalau dilanjut-lanjutkan akhirnya akan menjerat leher sendiri. Permusuhan dan kebencian kalau dibiarkan akan menjadi racun bagi bathin sendiri. Hentikan lah semua ini, Paman Wasi, dan kembalilah ke tempat asalmu, hidup dengan aman tenteram penuh damai. Bukankah hal itu akan menjadi baik sekali?"
"Hi-hi-hi-hik! Bocah masih berbau pupuk berani berkhotbah di depanku! Aku melihat engkau seorang pemuda yang masih bersih, hanya itu kelebihanmu. Dengan apa engkau hendak melawanku? Lebih baik engkau mundur, aku tidak tega untuk mencelakai orang seperti engkau."
"Nah, hati nuranimu sudah bicara, Paman Wasi. Turutilah suara hati nuranimu itu, larutkan kebencian dan permusuhan ini. Yang kalah atau menang akan sama saja, tidak ada artinya memperebutkan kemenangan karena akhirnya akan kalah juga pada saatnya. Biarkan Kekuasaan Hyang Widhi yang akan mengatur segalanya. Andika tidak perlu mencampuri pekerjaan Hyang Widhi."
"Heh, bocah lancang! Bagaimana mungkin aku tidak mencampuri pekerjaan Hyang Widhi? Penyebar luasan agama kalau tidak kubantu, bagaimana Hyang Widhi dapat bekerja sendiri?" kata Wasi Shiwasakti yang tadinya tertunduk akan tetapi lalu membantah.
"Memang menjadi tugas kita setiap orang manusia untuk membantu pekerjaan Sang Hyang Widhi. Akan tetapi membantu bukan berarti mencampuri, karena mencampuri itu bersifat menentang, sedangkan membantu bersifat mendukung! Yang andika lakukan adalah menentang kehendak Sang Hyang Widhi, Paman Wasi. Andika mengajarkan agama yang sesat, yang membawa manusia menjadi hamba nafsu yang akan menyeret mereka ke lembah duka. Karena itu insaflah, Paman Wasi, dan hendaknya andika suka mundur dan tidak melanjutkan pekerjaan yang tidak benar itu, sebelum terlambat."
"Sebelum terlambat? Bocah sombong, apa yang akan dapat kaulakukan terhadap diriku kalau aku tidak mau mundur?"
"Aku tidak dapat berbuat apa-apa, Paman Wasi Shiwasakti, akan tetapi aku yakin bahwa Kekuasaan Sang Hyang Widhi yang akan bekerja untuk menghentikan tindakan yang menyimpang dari kebenaran."
"Babo-babo, Jayawijaya! Ucapanmu semakin lancang dan engkau menantang aku! Apa engkau kira akan mampu untuk melindungi dirimu sendiri terhadap serangan aji kesaktianku?"
"Aku tidak mampu melindungi diriku sendiri, akan tetapi aku bersandar kepada Kekuasaan Sang Hyang Widhi, Paman Wasi."
"Engkau tidak takut mati?"
"Mati atau hidup berada di tangan Sang Hyang Widhi. Kalau Sang Hyang Widhi tidak menghendaki aku mati, bahkan engkau sekalipun tidak akan mampu membunuhku, Sang Wasi! Kalau Sang Hyang Widhi menghendaki kematianku di tanganmu, akupun akan menerimanya dengan ikhlas dan penuh penyerahan, tidak akan menyesal seujung rambut sekalipun!"
"Hati-hati, kakang Wasi. Bocah ini mengerikan," bisik Wasi Shiwamurti di belakang kakak seperguruannya.
"Biar aku membinasakannya, Adi Wasi!" Wasi Shiwasakti berseru dan dia menancapkan tongkat bambu kuningnya di atas tanah, kemudian kedua tangannya berkembang, membentuk sembah lalu dibuka lagi, mulutnya mengeluarkan pekik menggetarkan.
"Aji Suryo Dahono........!"

Seperti tadi ketika menyerang Bagus Seta, tampak api keluar dari sepasang telapak tangan itu, api yang makin lama semakin berkobar, di sebelah dalam kobaran itu terdapat bentuk-bentuk yang menggiriskan, seperti binatang-binatang buas dan kepala-kepala setan, semua hendak menyergap berikut kobaran api ke arah Jayawijaya! Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak tampak gentar. Dengan tabah dia malah maju menghampiri dan menyambut kobaran api itu, kedua lengannya bersedekap, matanya dipejamkan dan dari mulutnya terdengar ucapan yang jelas dan lembut.

<<< Bagian 70                                                                                          Bagian 72 >>>

No comments:

Post a Comment