"Syuuuuttt ..... wirrrr ....!" Api yang berkobar dan bergulung-gulung itu tertahan, tidak dapat maju dan bunga cempaka putih terpental kembali ke tangan Bagus Seta.
"Aji
Surya Candra!" terdengar kakek itu berseru lagi dengan suara yang
mengandung getaran penuh wibawa. Dia mendorongkan kedua tangannya dan kobaran
api itu maju lagi, kini tampak dua cahaya yang menyilaukan mata, merah dan
kuning mendorong kobaran api itu, seperti cahaya matahari dan cahaya bulan, dua
inti tenaga yang dikerahkan oleh Wasi Shiwamukti!
Bagus Seta
yang maklum akan kehebatan lawan, juga merendahkan tubuh dengan menekuk kedua
lututnya, kemudian diapun mendorongkan kedua tangannya menyambut serangan itu,
menggunakan Aji Mego Gemulung sehingga dari kedua telapak tangannya tampak awan
bergulung-gulung menyambut kobaran api itu.
"Wuuuuttt
.... bressss.....!" Tubuh Bagus Seta terpental ke belakang. Dia tidak
roboh, melainkan jatuh berdiri di dekat Ki Tejolaksono. Wajahnya agak pucat dan
napasnya agak terengah.
"Bagaimana
kulup?" tanya Ki Tejolaksono kepada puteranya.
Bagus Seta
menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Kanjeng
Romo, dia terlalu tangguh untuk dapat saya tundukkan."
Ki Tejolaksono
menjadi bingung. Kalau Bagus Seta saja kalah, lalu siapa lagi yang dapat
diajukan sebagai jago untuk menanggulangi Wasi Shiwasakti itu? Wasi Shiwasakti
tertawa, suara tawanya juga seperti suara tawa wanita.
"Hi-hi-hik,
begitu saja kesaktianmu, Bagus Seta! Hayo, orang Panjalu, siapa lagi yang dapat
menandingi aku Wasi Shiwasakti? Majulah!"
Ditantang
begitu, Ki Patih Tejolaksono menjadi semakin gugup dan dia teringat sesuatu.
"Siapa
yang mampu mengalahkan dia, pinangannya terhadap puteriku akan
kupertimbangkan!"
Mendengar ini,
Harjadenta yang sejak tadi hanya menonton dan mendengarkan, hendak mencari jasa
dan dia sudah mencabut keris pusakanya, yaitu Ki Mengeng dan dia berseru,
”Paman Patih,
perkenankan saya menandinginya!" Tanpa menanti jawaban, pemuda itu
meloncat ke depan dengan keris di tangan.
Ki Tejolaksono
tidak mencegah, namun dari sikap dan tindakan pemuda ini diapun tahu bahwa
Harjadenta ternyata juga mencinta puterinya, Retna Wilis. Hal ini tentu saja
sudah diketahui oleh Retna Wilis karena pemuda itu pernah menyatakan cinta
kepadanya walaupun tidak ia tanggapi. Kini dara itu memandang dengan penuh
kekhawatiran, la tahu sampai di mana tingkat kepandaian pemuda itu. Kalau ia
sendiri dan kakaknya tidak mampu menandingi Wasi Shiwasakti, apa pula pemuda
dari Gunung Raung itu.
"Wasi
jahat, akulah lawanmu!" Harjaden ta membentak dan melompat ke depan kakek
itu. Melihat gerakan ini, Wasi Shiwasakti terkekeh.
"Hl-hi-hik,
bocah kemarin sore berani maju? Apakah hendak mengantar nyawa?"
"Terimalah
pusakaku Ki Mengeng!" Harjadenta lalu menerjang dan menusukkan keris Ki
Mengeng ke arah dada kakek itu. Akan tetapi Wasi Shiwasakti tidak mengelak atau
menangkis sama sekali. Dia menerima tusukan keris itu dengan dadanya.
"Tukkk!"
Keris itu seperti mengenai dinding baja, bahkan tangan Harjadenta yang
terpental dan terguncang hebat.
Wasi
Shiwasakti mengebutkan lengan baju tangan kirinya dan ujung lengan baju itu
menyambar ke arah dada Harjadenta.
"Wirrr
.... bukkk!" Tubuh pemuda itu terlempar sampai lima meter jauhnya dan
jatuh terbanting keras ke atas tanah.
Masih untung
baginya bahwa Wasi Shiwasakti tidak ingin membunuh, maka dia hanya terkejut
saja, tidak mengalami luka parah. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani maju
lagi. Kini Jarot melompat ke depan. Melihat Harjadenta berani maju melawan
kakek itu, Jarot yang tadi mendengar ucapan Ki Patih Tejolaksono, lalu menjadi
nekat. Dia harus memperlihatkan dirinya sebagai seorang satria sejati yang
tidak takut menghadapi lawan tangguh, tidak takut mati. Karena dengan demikian
barulah pantas dia menjadi pasangan Retno Wilis, dara perkasa itu. Dengan
gerakan ringan sekali dia melompat ke depan Wasi Shiwasakti.
"Wasi
Shiwasakti, akulah lawanmu!" katanya dengan sikap gagah.
Wasi
Shiwasakti melihat betapa gerakan pemuda ini berbeda dengan gerakan Harjadenta.
Dia memandang penuh perhatian, lalu bertanya,
"Orang
muda, siapakah andika dan murid siapakah andika?"
"Namaku
Jarot dan aku adalah murid Bapa Bhagawan Dewondaru dari Gunung Semeru."
"Hemm,
bagus! Pernah aku mendengar tentang Bhagawan Dewondaru yang kabarnya memiliki
kesaktian yang cukup tinggi. Nah, majulah, Jarot dan perlihatkan kemampuanmu
kepadaku!"
Jarot mencabut
senjata kerisnya yang bernama Nogo Ireng. Sinar kehitaman tampak ketika keris
itu dicabut.
"Jaga
seranganku, Wasi Shiwasakti!" kata Jarot yang mulai menyerang dengan
kerisnya. Serangannya cukup kuat dan cepat dan agaknya sekali ini Wasi
Shiwasakti ingin menguji kepandaian silat pemuda itu. Diapun mengelak dan
tongkat bambu kuning ditangannya membalas, menyambar dari samping dengan
tusukan ke arah lambung Jarot. Akan tetapi pemuda ini dengan gesitnya dapat
pula mengelak lalu menubruk maju lagi dengan kerisnya, menusuk kearah perut
lawan. Gerakannya licin bagaikan belut dan Wasi Shiwasakti terkekeh.
"Hi-hi-hik,
andika boleh juga, Jarot!" katanya sambil memutar tongkat bambu kuningnya
untuk menghalau keris Jarot yang menyerang secara bertubi-tubi.
"Trang-trang-cring
....!"
Jarot terkejut
bukan main. Tigakali beradu senjata itu membuat tangan kanannya seperti lumpuh
karena tergetar hebat sekali, dan sebelum dia dapat mengatur keseimbangan
tubuhnya, tiba-tiba kaki Sang Wasi Shiwasakti mencuat dan tak dapat
dihindarkannya lagi tubuhnya terkena tendangan.
"Bukkk
....!" Tubuh Jarot terlempar jauh dan terbanting ke atas tanah. Akan
tetapi seperti juga halnya Harjadenta, dia tidak menderita luka parah karena
agaknya Wasi Shiwasakti memang sengaja tidak mau membunuhnya.
Melihat betapa
semua orang telah kalah oleh Wasi Shiwasakti, Ki Patih Tejolaksono mulai merasa
gelisah. Siapa lagi yang akan mampu menandingi wasi yang sakti mandraguna itu?
Sebetulnya sejak tadi, setelah melihat kekalahan Bagus Seta, dia sudah putus
asa.
"Adimas
Jayawijaya, hanya andikalah tumpuan harapan kami. Harap andika suka maju menghadapi
Wasi Shiwasakti!" tiba-tiba Bagus Seta mendekati Jayawijaya dan berkata
dengan suara lembut.
Jayawijaya
memandang kepadanya dan sejenak dua pasang mata bertemu pandang, dua pasang
mata yang penuh pengertian dan Jayawijaya tersenyum mengangguk.
"Mohon
doa restu, kakangmas Bagus Seta," bisiknya.
"Majulah
dan jangan ragu, adimas." Jayawijaya lalu menghampiri ayahnya dan
menyembah,
"Kanjeng
Romo, hamba mohon doa restu untuk menghadapi Wasi Shiwasakti."
Ayahnya
tersenyum, mengangguk.
"Sang
Hyang Widhi melindungimu, kulup," katanya.
Jayawijaya
menghampiri Ki Patih Tejolaksono dan berkata lirih,
"Kanjeng
Paman, hamba mohon doa restu untuk menghadapi Wasi Shiwasakti."
Ki Tejolaksono
terbelalak heran, tak dapat berkata-kata saking herannya dan hanya mampu mengangguk.
Setelah itu, Jayawijaya menghampiri Endang Patibroto dan berkata hormat.
"Kanjeng
Bibi Endang Patibroto, hamba mohon doa restu."
Endang
Patibroto yang sudah mendengar ucapan Jayawijaya kepada suaminya tadi,
tersenyum mengangguk.
"Berhati-hatilah,
anakmas Jayawijaya."
Paling akhir
Jayawijaya menghampiri Retna Wilis dan berkata,
"Diajeng,
aku mohon doa restumu."
"Kakang
Jaya, jaga dirimu baik-baik," kata Retna Wilis sambil mencoba untuk
menahan kegelisahannya. Kekasihnya hendak menandingi Wasi Shiwasakti yang sakti
madraguna itu. Pada hal ia sendiri dan kakaknya sudah kalah! Kekasihnya sama
sekali tidak pernah mempelajari ilmu kanuragan. Biarpun ia juga tahu bahwa
kekasihnya itu mempunyai sesuatu yang luar biasa, namun tetap saja ia merasa
khawatir sekali.
Kini
Jayawijaya melangkah maju dengan tenang, langkahnya perlahan-lahan, menghampiri
Wasi Shiwasakti yang masih menanti tanding. Melihat seorang pemuda yang
berwajah terang dan bersikap lemah-lembut menghampirinya, dia merasa heran.
Akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata pemuda itu, dia
terkejut bukan main. Dia merasa seolah olah sinar matanya yang tajam amblas dan
tenggelam ke dalam samudera ketenangan yang terkandung dalam sepasang mata
pemuda itu.
"Hati-hati,
kakang Wasi. Pemuda ini memiliki kelebihan," dia mendengar Wasi Shiwamurti
berbisik di belakangnya.
Akan tetapi
Wasi Shiwasakti adalah seorang sakti mandraguna yang jiwanya tersesat. Karena
dia memiliki kedigdayaan yang linuwih, maka timbul kesombongan dalam hatinya.
Dia merasa bahwa di dunia ini tidak ada seorangpun yang akan mampu menandingi
kesaktiannya. Apa lagi hanya seorang pemuda seperti ini! Maka dia tertawa
cekikikan ketika melihat Jayawijaya menghadapinya.
"Hi-hi-hi-hik,
bocah yang masih berbau kencur! Mau apa engkau datang menghadapi aku?"
Jayawijaya
bersikap sabar dan dia mengangkat mukanya, memandang kepada wajah kakek itu
dengan tenang. Lalu katanya, dengan suara yang lemah lembut pula.
"Paman
Wasi Shiwasakti, masihkah andika belum juga mau menyadari kesalahan andika
sendiri? Ingat, Paman Wasi, kejahatan kalau dilanjut-lanjutkan akhirnya akan
menjerat leher sendiri. Permusuhan dan kebencian kalau dibiarkan akan menjadi
racun bagi bathin sendiri. Hentikan lah semua ini, Paman Wasi, dan kembalilah
ke tempat asalmu, hidup dengan aman tenteram penuh damai. Bukankah hal itu akan
menjadi baik sekali?"
"Hi-hi-hi-hik!
Bocah masih berbau pupuk berani berkhotbah di depanku! Aku melihat engkau
seorang pemuda yang masih bersih, hanya itu kelebihanmu. Dengan apa engkau hendak
melawanku? Lebih baik engkau mundur, aku tidak tega untuk mencelakai orang
seperti engkau."
"Nah,
hati nuranimu sudah bicara, Paman Wasi. Turutilah suara hati nuranimu itu,
larutkan kebencian dan permusuhan ini. Yang kalah atau menang akan sama saja,
tidak ada artinya memperebutkan kemenangan karena akhirnya akan kalah juga pada
saatnya. Biarkan Kekuasaan Hyang Widhi yang akan mengatur segalanya. Andika
tidak perlu mencampuri pekerjaan Hyang Widhi."
"Heh,
bocah lancang! Bagaimana mungkin aku tidak mencampuri pekerjaan Hyang Widhi?
Penyebar luasan agama kalau tidak kubantu, bagaimana Hyang Widhi dapat bekerja
sendiri?" kata Wasi Shiwasakti yang tadinya tertunduk akan tetapi lalu
membantah.
"Memang
menjadi tugas kita setiap orang manusia untuk membantu pekerjaan Sang Hyang
Widhi. Akan tetapi membantu bukan berarti mencampuri, karena mencampuri itu
bersifat menentang, sedangkan membantu bersifat mendukung! Yang andika lakukan
adalah menentang kehendak Sang Hyang Widhi, Paman Wasi. Andika mengajarkan agama
yang sesat, yang membawa manusia menjadi hamba nafsu yang akan menyeret mereka
ke lembah duka. Karena itu insaflah, Paman Wasi, dan hendaknya andika suka
mundur dan tidak melanjutkan pekerjaan yang tidak benar itu, sebelum
terlambat."
"Sebelum
terlambat? Bocah sombong, apa yang akan dapat kaulakukan terhadap diriku kalau
aku tidak mau mundur?"
"Aku
tidak dapat berbuat apa-apa, Paman Wasi Shiwasakti, akan tetapi aku yakin bahwa
Kekuasaan Sang Hyang Widhi yang akan bekerja untuk menghentikan tindakan yang
menyimpang dari kebenaran."
"Babo-babo,
Jayawijaya! Ucapanmu semakin lancang dan engkau menantang aku! Apa engkau kira
akan mampu untuk melindungi dirimu sendiri terhadap serangan aji
kesaktianku?"
"Aku
tidak mampu melindungi diriku sendiri, akan tetapi aku bersandar kepada
Kekuasaan Sang Hyang Widhi, Paman Wasi."
"Engkau
tidak takut mati?"
"Mati
atau hidup berada di tangan Sang Hyang Widhi. Kalau Sang Hyang Widhi tidak
menghendaki aku mati, bahkan engkau sekalipun tidak akan mampu membunuhku, Sang
Wasi! Kalau Sang Hyang Widhi menghendaki kematianku di tanganmu, akupun akan
menerimanya dengan ikhlas dan penuh penyerahan, tidak akan menyesal seujung
rambut sekalipun!"
"Hati-hati,
kakang Wasi. Bocah ini mengerikan," bisik Wasi Shiwamurti di belakang
kakak seperguruannya.
"Biar aku
membinasakannya, Adi Wasi!" Wasi Shiwasakti berseru dan dia menancapkan
tongkat bambu kuningnya di atas tanah, kemudian kedua tangannya berkembang,
membentuk sembah lalu dibuka lagi, mulutnya mengeluarkan pekik menggetarkan.
"Aji
Suryo Dahono........!"
Seperti tadi
ketika menyerang Bagus Seta, tampak api keluar dari sepasang telapak tangan
itu, api yang makin lama semakin berkobar, di sebelah dalam kobaran itu
terdapat bentuk-bentuk yang menggiriskan, seperti binatang-binatang buas dan
kepala-kepala setan, semua hendak menyergap berikut kobaran api ke arah
Jayawijaya! Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak tampak gentar. Dengan
tabah dia malah maju menghampiri dan menyambut kobaran api itu, kedua lengannya
bersedekap, matanya dipejamkan dan dari mulutnya terdengar ucapan yang jelas
dan lembut.
<<< Bagian 70 Bagian 72 >>>
No comments:
Post a Comment